Malam itu, di sebuah restoran mewah di pusat kota, Nyonya Ratna bertemu dengan keluarga Kusuma, orang tua dari Livia, calon menantu pilihannya. Duduk di meja panjang yang dikelilingi lampu gantung kristal, Nyonya Ratna terlihat memancarkan senyum penuh percaya diri.
“Kami sangat senang bisa bertemu Anda lagi, Nyonya Ratna,” ucap Nyoman Kusuma sambil menuangkan teh untuk istrinya.
Nyonya Ratna mengangguk anggun. “Saya juga senang kita bisa melanjutkan pembahasan penting ini. Livia adalah pilihan yang sempurna untuk Darrel.”
Maria Kusuma, istri Nyoman, tersenyum kecil. “Kami juga merasa hubungan ini bisa membawa manfaat besar untuk kedua keluarga.”
"Anda benar, Nyonya Kusuma. Anak-anak kita harus mendapatkan pasangan yang setara. Apa kata orang jika anak kita mendapatkan jodoh yang tidak sebanding?" kata Nyonya Ratna sembari menyesap wine mahalnya.
Mereka berdua tertawa, begitu juga dengan Nyoman Kusuma. "Kenapa Tuan Dion tidak turut hadir?"
"Anda tahu bagaimana pria itu sangat menggilai pekerjaannya. Dia menyerahkan semuanya padaku," sahut Nyonya Ratna. "Bagaimana menurut Anda soal pernikahan anak-anak? Livia setuju, bukan?"
Namun, Nyoman Kusuma tampak ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, “Sebenarnya, Nyonya Ratna, kami ingin memastikan satu hal. Beberapa waktu lalu, Livia bercerita bahwa dia mengalami insiden yang membuatnya merasa... kurang diterima oleh Nala.”
Wajah Nyonya Ratna sedikit mengeras, namun ia segera menenangkan dirinya. “Ah, itu hanya insiden kecil. Anak-anak kadang-kadang bisa berkata atau bertindak tanpa berpikir panjang. Tapi saya jamin, itu tidak akan terjadi lagi.”
Maria memandang Nyonya Ratna dengan hati-hati. “Kami hanya tidak ingin Livia merasa tidak dihargai dalam hubungan ini.”
"Benar, Nyonya. Livia adalah putri kami satu-satunya. Saya tidak ingin dia terluka karena hal-hal yang seharusnya tidak menjadi masalahnya."
Nyonya Ratna tersenyum, kali ini dengan nada meyakinkan. “Tentu saja. Saya akan berbicara dengan Darrel dan Nala. Anak itu hanya butuh waktu untuk saling mengenal lebih baik.”
Nyoman mengangguk, namun raut wajahnya masih terlihat cemas. “Kami percaya pada Anda, Nyonya Ratna. Tapi kami berharap semuanya berjalan dengan baik, tanpa paksaan dari kedua belah pihak.”
“Tidak perlu khawatir,” sahut Nyonya Ratna tegas. “Saya akan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”
Diam-diam Nyonya Ratna tersenyum sinis. "Sekarang, wanita miskin itu tidak akan bisa jadi benalu dalam hubungan anakku. Aku akan segera menyingkirkannya sejauh mungkin!"
***
Sementara itu di sisi lain, Irene sedang duduk bersama Nala, mengajari gadis kecil itu penjumlahan. Irene duduk di lantai dengan buku-buku pelajaran matematika anak kelas 1 SD berserakan di sekitar mereka.
Nala, yang masih mengenakan piyama pink bergambar kucing, terlihat serius mengerutkan kening, mencoba memahami soal yang dijelaskan Irene.
“Kalau ada tiga apel di keranjang, lalu Tante Irene tambahkan dua lagi, ada berapa apel semuanya?” tanya Irene lembut sambil menggambar apel-apel kecil di buku tulis Nala.
Nala menggigit ujung pensilnya sambil berpikir keras. “Tiga ditambah dua... lima!” teriaknya penuh semangat.
“Pintar!” Irene tersenyum lebar, menepuk kepala Nala. “Nah, sekarang coba kerjakan soal ini.”
Sementara itu, di ambang pintu, Darrel berdiri diam, memperhatikan mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia melihat betapa telaten Irene mengajari Nala, bagaimana senyumnya membuat Nala merasa percaya diri.
Hatinya terasa hangat, seolah pemandangan itu melengkapi sesuatu yang hilang dalam hidupnya selama ini.
Namun, suasana itu terganggu oleh getaran halus di saku celananya. Darrel mengeluarkan ponselnya, melihat nama “Mama” muncul di layar. Ia menghela napas berat sebelum mengangkat panggilan itu.
“Halo, Ma,” sapanya dengan nada datar, berjalan menjauh dari kamar Nala agar tidak mengganggu.
“Darrel, besok pagi datang ke rumah,” suara Nyonya Ratna terdengar tegas di ujung telepon.
“Ada apa, Ma?” Darrel bertanya, meski ia bisa menebak alasan panggilan tersebut.
“Kita perlu membicarakan soal Livia,” kata Nyonya Ratna tanpa basa-basi. “Mama sudah bertemu keluarganya, dan mereka setuju melanjutkan rencana perjodohan ini.”
Darrel menghela napas panjang, berusaha menahan rasa frustrasinya. “Ma, aku sudah bilang, aku tidak tertarik. Kenapa Mama masih terus memaksakan hal ini? Aku sudah menolaknya sejak terakhir kali.”
“Tidak bisa, Darrel. Hanya ini yang terbaik untukmu, Darrel,” jawab Nyonya Ratna dengan nada penuh keyakinan. “Kamu butuh pasangan yang sepadan, yang bisa mendukungmu, bukan seseorang seperti...”
Darrel memotong cepat. “Seseperti siapa, Ma? Irene?”
Suara di seberang telepon terdiam sejenak sebelum Nyonya Ratna menjawab dengan nada dingin. “Kita tidak membahas itu sekarang. Besok pagi, jam sembilan. Jangan terlambat.”
Tanpa menunggu jawaban, panggilan itu terputus. Darrel menatap layar ponselnya, merasa amarah perlahan mendidih.
Darrel kembali ke kamar Nala. Ia melihat Nala yang tertawa kecil sambil menyelesaikan soal matematika terakhirnya, sementara Irene tersenyum lembut, menepuk-nepuk punggungnya sebagai bentuk dukungan.
“Nala sudah pintar banget, nih,” ujar Irene, menutup buku dengan bangga.
“Tante Irene memang guru terbaik,” balas Nala sambil memeluk Irene erat.
Darrel yang berdiri di pintu tidak bisa menahan senyum kecilnya. “Belajar apa, nih?” tanyanya, akhirnya masuk ke kamar.
Nala mendongak, wajahnya berseri-seri. “Papa! Aku lagi belajar matematika sama Tante Irene. Aku sekarang bisa hitung apel sama jeruk. Tante Irene ngajarinnya lebih enak daripada guru les.”
“Hebat, anak Papa.” Darrel mendekati mereka dan mengusap kepala Nala. Ia melirik Irene. “Terima kasih, sudah mau repot-repot ajarin Nala. Harusnya kamu nggak perlu dengerin dia, Irene. Dia sudah punya guru les sendiri.”
"Papa, ish! Nala nggak suka sama guru itu. Dia suka marah-marah." Nala melipat tangannya di depan d**a dengan bibir cemberut.
Irene tersenyum sambil mengangkat bahu. “Nggak masalah. Lagipula, Nala itu murid yang pintar.”
“Tante Irene mau ajarin lagi besok?” tanya Nala penuh harap.
Irene tertawa kecil. “Tentu saja. Tapi sekarang waktunya tidur, ya. Besok kamu harus bangun pagi.”
Nala mengangguk dan mulai membereskan buku-bukunya. "Mulai sekarang, Tante Irene jadi guru les privat aku juga!"
Irene terkekeh mendengar itu. "Selama kamu nurut, Tante nggak akan marahin kamu."
Nala kemudian mendekati ayahnya dan mencium pipi pria itu. "Nala mau tidur dulu, Papa. Besok kita jadi jalan-jalan ke taman kan?"
Darrel mengangguk. "Jadi, Sayang. Selamat tidur dan semoga mimpi indah."
Setelah Nala naik ke tempat tidur. Keduanya keluar dari kamar itu.
***
“Kelihatannya kalian berdua benar-benar akrab,” ujar Darrel ketika mereka berjalan di lorong menuju kamar Irene. "Dia tidak bisa sedekat itu dengan orang lain."
“Dia anak yang manis,” jawab Irene sambil tersenyum. “Aku senang menghabiskan waktu bersamanya.”
Darrel berhenti sejenak, memandang Irene dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Irene, terima kasih. Aku tahu ini semua bukan tanggung jawabmu, tapi kamu tetap melakukannya.”
Irene tertawa kecil, merasa sedikit canggung. “Darrel, aku tinggal di rumah ini untuk Nala. Rasanya aneh kalau aku tidak membantu.”
Darrel mengangguk, namun tetap memandang Irene dengan penuh penghargaan. “Aku tetap menghargainya.”
Irene hanya tersenyum kecil sebelum melangkah menuju kamarnya. “Selamat malam, Darrel.”
“Selamat malam, Irene.”
Darrel berdiri di lorong untuk beberapa saat, pikirannya penuh dengan kejadian malam itu. Namun, di sudut pikirannya, ia tahu pagi esok akan membawa konfrontasi baru dengan ibunya, dan ia harus siap menghadapi apa pun yang terjadi.
***
Pagi harinya, Nyonya Ratna duduk menunggu putranya dengan wajah tak ramah.
“Ada apa, Ma?” tanya Darrel, berjalan mendekatinya.
Nyonya Ratna memandang putranya dengan sorot mata penuh maksud. “Darrel, Mama ingin membahas sesuatu yang penting.”
Darrel duduk di sofa di hadapannya. “Kalau soal yang semalam, aku sedang sibuk, Ma.”
“Bukan hanya soal perjodohan saja, tapi soal masa depanmu,” ujar Nyonya Ratna dengan nada meyakinkan. “Mama ingin kamu mulai mempertimbangkan untuk menikah.”
Darrel mengangkat alis. “Ma, aku heran. Dari mana ide ini tiba-tiba muncul?”
“Mama sudah memilih beberapa calon yang tepat untukmu,” jawab Nyonya Ratna sambil tersenyum tipis. “Livia Kusuma adalah kandidat terbaik mama.”
Darrel langsung mendesah, mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Mama, aku sudah bilang. Aku tidak tertarik dijodohkan apalagi dengan Livia. Kami bertemu beberapa kali dan aku juga memperkenalkannya pada Nala, tapi sepertinya dia bukan ibu yang baik untuk putriku.”
“Darrel, dengarkan dulu. Livia itu gadis yang sopan, berpendidikan, dan latar belakang keluarganya sangat cocok dengan kita,” desak Nyonya Ratna.
“Ma,” ujar Darrel dengan nada datar. “Nala bahkan tidak suka dia. Beberapa hari lalu, Nala bilang sendiri kalau dia tidak mau Livia jadi mamanya.”
Nyonya Ratna menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. “Itu hanya masalah kecil. Anak-anak memang bisa berkata sembarangan.”
“Itu bukan masalah kecil, Ma,” tegas Darrel. “Kalau Nala tidak bahagia, aku juga tidak akan bahagia. Jadi, tolong hentikan semua ini.”
Wajah Nyonya Ratna memerah, namun ia menahan diri untuk tidak meluapkan amarah. “Darrel, kamu tidak bisa terus hidup tanpa pasangan. Kamu perlu seseorang yang bisa mendukungmu.”
Darrel berdiri, menatap ibunya dengan tajam. “Kalau Mama terus memaksakan ini, aku tidak akan pernah setuju. Dan kalau Mama mencoba mencampuri lebih jauh, aku akan mengambil keputusan yang Mama tidak suka.”
Setelah berkata demikian, Darrel berbalik dan pergi, meninggalkan Nyonya Ratna yang terpaku di tempatnya.
Melihat Darrel pergi tanpa menyetujui keinginannya, Nyonya Ratna sangat marah. Ia mengepalkan tangannya dengan emosi yang meluap. "Lihat ini, Irene! Putraku bahkan sudah berani menentangku! Tidak akan aku biarkan kau meracuni pikirannya lebih jauh!"