Langit senja memerah ketika sebuah mobil hitam memasuki halaman kediaman keluarga Atmadja. Nyonya Ratna turun dengan langkah penuh amarah, membawa tas tangan yang segera dilemparkannya ke sofa begitu masuk ke ruang tamu.
Wajahnya memerah, napasnya memburu. "Sialan! Dasar wanita miskin tidak tahu diri!" teriak Nyonya Ratna.
Tuan Dion Atmadja yang sedang membaca koran di ruang makan, mendengar suara gaduh itu. Ia meletakkan kacamatanya di meja, bangkit, dan berjalan keluar.
“Ada apa ini?” tanyanya dengan nada tenang, melihat istrinya yang tampak kesal. "Kenapa kamu teriak-teriak gitu sih, Ma?"
Nyonya Ratna memutar tubuh, menatap suaminya dengan mata menyala. “Irene! Gadis itu benar-benar tidak tahu malu. Dia masih saja tinggal di rumah Darrel. Sudah berapa kali aku bilang, dia hanya benalu!”
Tuan Dion menghela napas panjang. "Ada apa lagi dengan Irene? Kamu nggak capek apa, ributin masalah ini?"
"Pa, aku nggak akan berhenti sebelum wanita miskin itu pergi dari kehidupan putraku. Wanita miskin itu benar-benar mecoreng nama keluarga kita!"
Tuan Dion memutar bola matanya malas. Ia berjalan mendekat, melipat tangannya di depan d**a. “Kamu membesar-besarkan masalah lagi, Ratna. Irene tinggal di sana karena dia menjaga Nala. Itu juga karena wasiat Irena."
“Itu alasan yang dibuat-buat!” tukas Nyonya Ratna sambil menunjuk-nunjuk udara. “Aku tahu dia hanya memanfaatkan Nala untuk tetap bertahan di sana. Dia ingin menjadi Nyonya Muda di keluarga Atmadja dan mengambil posisi Irana!”
“Posisi apa?” tanya Tuan Dion sambil mengerutkan kening. “Ratna, Irana sudah tidak ada. Irene juga selama ini tidak pernah meminta apa pun, dan dia hanya melakukan yang terbaik untuk Nala.”
“Jangan membela dia, Dion! Irene itu gadis miskin, tidak punya keluarga, dan asal-usulnya saja tidak jelas! Apa pantas dia menjadi bagian dari keluarga kita?”
Tuan Dion mendekat, menatap istrinya dengan tajam. “Apa bedanya Irene dengan Irana, yang dulu kamu sambut dengan tangan terbuka sebagai menantu? Bukankah mereka saudari kembar? Darah mereka sama.”
“Itu berbeda!” seru Nyonya Ratna, matanya menyipit. “Irana diadopsi oleh keluarga Tan yang terhormat. Dia memiliki latar belakang yang jelas dan keluarga yang mendukung. Sedangkan Irene? Dia bahkan tidak punya siapa-siapa.”
Tuan Dion menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya. “Kamu terlalu keras kepala, Ratna. Bukankah selama ini Irene sudah menunjukkan bahwa dia gadis yang baik? Dia mengurus Nala seperti anaknya sendiri, tanpa mengeluh. Lalu kamu, neneknya? Apa yang kamu lakukan untuk Nala?”
“Itu hanya pura-pura!” balas Nyonya Ratna dengan nada meninggi. “Kamu tidak tahu bagaimana perempuan seperti itu berpikir. Semua tindakannya penuh dengan kepura-puraan untuk mendapatkan simpati Darrel.”
“Ratna, kamu tidak adil,” kata Tuan Dion tegas. “Darrel sudah dewasa. Dia bisa memutuskan sendiri siapa yang pantas untuknya. Bukankah dulu kamu juga yang memisahkan Darrel dari Irana ketika mereka bertengkar? Dan lihat apa yang terjadi, mereka akhirnya bersama. Kalau sekarang jalannya berbeda, mungkin itu memang kehendak takdir.”
Mata Nyonya Ratna berkobar. “Jangan bicara tentang takdir! Irene tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga kita. Aku akan memastikan itu!”
Tuan Dion menatap istrinya dengan kecewa. “Kamu selalu begitu, Ratna. Menutup mata pada kenyataan yang ada. Irene tidak pernah melakukan apa pun yang salah, tetapi kamu terus saja memandangnya rendah.”
“Karena dia memang rendah!” teriak Nyonya Ratna. “Dia tidak pantas untuk Darrel, dan aku akan melakukan apa pun untuk menyingkirkannya!”
“Kamu benar-benar keterlaluan,” kata Tuan Dion sambil menggelengkan kepala. “Jangan sampai kebencianmu malah menghancurkan hubungan dengan anakmu sendiri.”
Nyonya Ratna tidak menggubris ucapan suaminya. Dia hanya memandang Tuan Dion dengan penuh tekad. “Kita lihat saja, Dion. Irene tidak akan bertahan lama di rumah itu. Aku akan memastikan dia pergi untuk selamanya.”
Tuan Dion hanya bisa menghela napas panjang, menyadari bahwa istrinya sudah menutup semua pintu diskusi.
"Kamu terlalu menutup mata."
***
Keesokan harinya, Tuan Dion duduk sendirian di ruang keluarga, menikmati secangkir kopi hitam. Nyonya Ratna turun dari lantai atas, masih dengan raut wajah yang masih terlihat kesal.
“Kamu mau ke mana?” tanya Tuan Dion ketika melihat istrinya membawa tas.
“Aku akan bertemu dengan keluarga Livia. Kita harus segera menyelesaikan rencana perjodohan ini sebelum Irene menghancurkan segalanya,” jawab Nyonya Ratna dengan nada tajam.
Tuan Dion meletakkan cangkir kopinya. “Ratna, apakah kamu tidak sadar bahwa sikapmu hanya akan membuat Darrel semakin menjauh darimu?”
Nyonya Ratna berhenti sejenak, lalu memandang suaminya dengan mata menyipit. “Aku melakukan ini untuk Darrel. Aku tahu apa yang terbaik untuk anakku.”
“Kamu yakin itu yang terbaik untuknya, atau hanya terbaik menurutmu?” tanya Tuan Dion dengan tenang. “Kamu tahu, kalau Darrel sampai merasa kamu memaksakan kehendakmu, dia mungkin tidak akan pernah memaafkanmu.”
“Biarkan saja dia marah. Aku tidak peduli. Selama Irene pergi dari hidupnya, itu sudah cukup untukku,” jawab Nyonya Ratna dingin.
Tuan Dion menghela napas panjang, merasa percuma untuk berdebat lebih lama.
Sementara itu di kediaman Darrel. Ia sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja ketika Irene datang menghampirinya.
“Kamu punya waktu sebentar?” tanya Irene.
Darrel mengangguk. “Ada apa?”
Irene mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Kamu tidak lupa pembicaraan kita kemarin kan? Aku ingin meminta izin untuk mengantar Nala ke sekolah setiap hari. Aku pikir itu akan membantu mengurangi rasa irinya pada teman-temannya.”
Darrel menatap Irene. “Kamu yakin? Itu... itu juga akan merepotkanmu.”
“Tidak masalah,” jawab Irene dengan senyum. “Aku hanya ingin Nala bahagia. Itu saja.”
Darrel terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah. Kalau itu yang kamu mau, aku tidak akan melarang.”
Irene tersenyum lega. “Terima kasih, Darrel.”
Darrel memandang Irene dengan lembut. “Kamu tahu, Irene, kamu tidak harus melakukan semua ini. Tapi aku sangat menghargainya.”
“Aku tahu,” jawab Irene singkat. "Aku akan melakukan apapun selama Nala bahagia. Kedatanganku ke rumah ini adalah membuatnya merasakan itu. Seperti yang diinginkan oleh Irana."
Mereka saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya Irene berlalu, meninggalkan Darrel yang masih termenung di tempatnya.
Setelah Irene berlalu, Darrel tersenyum. "Irana tidak salah memilih pengganti. Kamu masih sama... seperti Irene yang ku kenal dulu."