Bab 6: Mama Pura-pura

1035 Words
Darrel dan Irene saling tatap ketika Nala mulai menangis tersedu-sedu. Tubuh mungilnya bergetar, tangannya mengepal, dan wajahnya terlihat begitu kecewa. "Kalian semua jahat," ucap Nala dengan suara bergetar. "Nala cuma pengen punya mama kayak teman-teman yang tiap hari diantar jemput. Nala iri!" Darrel memutar bola matanya dengan malas. Ia merasa situasi ini akan menjadi panjang. "Kemarin ada calon mama malah dikerjain, sekarang tantrum," gumamnya. Namun, Nala dengan cepat menjawab. "Tapi bukan nenek sihir itu! Nala maunya mama Nala itu Tante Irene." Darrel terdiam. Ia melirik Irene, yang hanya tersenyum bodoh mendengar pernyataan Nala. "Tante Irene 'kan punya pacar, jadi nggak bisa," ujar Darrel sambil berusaha terdengar kesal. "Bohong! Tante Irene kan jomblo akut," balas Nala, matanya yang basah mulai menyipit. "Papa sendiri yang bilang kalau Tante Irene masih gamon sama mantan pacarnya." Darrel menggembungkan pipinya kesal mendengar ucapan putrinya. Ia melirik Irene, yang ternyata menatapnya dengan tajam. Irene jelas tidak terima disebut "jomblo akut" meski, di sisi lain, ia merasa geli dengan situasi ini. "Papamu minta ditabok pakai talenan, Nala," kata Irene penuh penekanan. Darrel tersenyum canggung mendengar ancaman dari Irene itu. "Tante Irene, pokoknya Nala maunya Tante Irene jadi mama Nala," rengek Nala, meraih tangan Irene sambil mengguncangnya. "Nala nggak peduli Tante Irene punya pacar atau nggak. Nala janji nggak akan nakal, Nala juga janji kalau Nala nggak akan naruh kaus kaki di meja makan lagi." Irene berusaha menenangkan Nala, tapi sulit baginya untuk berkata sesuatu yang tepat di tengah rengekan keras itu. "Sayang, Nala tahu kan, Tante Irene cuma tante, bukan mama. Lagipula, jadi mama itu tanggung jawab besar. Tante Irene takut nggak bisa melakukannya dengan baik." "Tapi Tante Irene selalu baik sama Nala!" balas Nala dengan mata berbinar. "Tante Irene mau main sama Nala, dengerin cerita Nala, bahkan suka masakin makanan favorit Nala. Kenapa nggak mau jadi mama Nala?" Darrel menyandarkan tubuhnya di sofa, memandangi interaksi keduanya dengan geli. Melihat Irene kewalahan menghadapi rengekan Nala adalah hiburan tersendiri baginya. "Nala, sayang," Irene mencoba memberi pengertian, menatap anak itu dengan penuh kasih sayang. "Mama itu bukan cuma soal perhatian atau masakin makanan. Ada banyak hal yang harus Tante Irene pikirkan dulu." "Tante Irene bisa belajar!" balas Nala dengan mantap. "Kalau Tante Irene janji, Nala nggak akan iri lagi sama teman-teman. Nala cuma mau mama yang baik kayak Tante Irene!" Irene menarik napas panjang, melirik Darrel seolah meminta bantuan. Namun, Darrel hanya mengangkat bahu, menahan senyum. Irene akhirnya mengelus kepala Nala, berusaha mencari jalan keluar agar anak itu tenang. "Baiklah," ujarnya akhirnya. "Tante Irene akan antar jemput Nala ke sekolah mulai sekarang. Supaya Nala nggak iri lagi." Nala langsung menghapus air matanya dan menatap Irene dengan mata berbinar. "Benar, Tante Irene? Janji ya?" "Tapi Tante Irene bukan mama," sela Darrel dari sofa, nada suaranya terdengar menggoda. Irene menatap Darrel tajam, lalu tanpa pikir panjang mencubit pinggang pria itu. "Yang penting perempuan. Kalau perempuan, pasti bisa pura-pura jadi mama," ujarnya kesal. Darrel terkekeh sambil mengusap pinggangnya. "Pura-pura jadi mama? Itu ide menarik." Nala, yang sudah kembali ceria, bertepuk tangan kegirangan. "Tante Irene bakal jadi mama pura-pura Nala? Serius?" Irene mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Tante Irene janji. Mulai sekarang, Tante Irene akan bersikap seperti mama buat Nala. Tapi hanya mama pura-pura ya." Nala melompat kegirangan, memeluk Irene dengan erat. "Nala janji bakal jadi anak yang baik! Terima kasih, Tante Irene!" Melihat kebahagiaan di wajah putrinya, Darrel tidak bisa menahan senyum kecil. Meski awalnya merasa situasi ini konyol, ia tidak bisa memungkiri bahwa Irene memiliki peran besar dalam hidup Nala. Irene mengusap kepala Nala lembut. "Oke, sekarang ayo kita mandi dulu dan makan siang bersama. Tante Irene mau dengar cerita Nala hari ini." "Tapi Nala nggak sabar besok pagi. Tante Irene harus jemput Nala tepat waktu, ya!" seru Nala penuh semangat sambil berlari ke kamarnya. Saat Nala menghilang dari pandangan, Irene menoleh ke Darrel. "Lihat apa yang anak kamu buat. Sekarang aku terikat dengan janji ini." Darrel mengangkat bahu, wajahnya tetap penuh dengan ekspresi menggoda. "Kamu sendiri tadi bilang, yang penting perempuan, bisa pura-pura jadi mama." Irene mendengus, lalu beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Sementara itu, Darrel hanya duduk di sofa, merasa lega melihat senyum di wajah Nala kembali. *** Irene menggerutu di dapur. "Bisa-bisanya dia nggak bereaksi apa-apa. Gimana kalau Nala nyaman terus nggak mau sama ibu tirinya. Ngeselin," ujarnya. Irene mengambil piring kotor lalu mencucinya dengan bibir yang terus mengoceh. "Irana juga ada-ada aja. Dia bikin aku terjebak di sini. Nggak enak banget ada di situasi kayak gini. Belum lagi nenek sihir itu." Menghela napas pelan, Irene melirik Darrel yang asik memainkan ponselnya di ruang tengah itu. "Bisa-bisa Irana tahan punya mertua kayak emaknya si Darrel!" "Ibu juga betah banget dengar omelan Nyonya Ratna." Irene terlonjak kaget mendengar suara Linda yang tiba-tiba. Ia mendengus menatap asisten rumah tangga itu. "Udah kayak dedemit aja kamu tiba-tiba di situ," omel Irene. Linda terkekeh. "Bu Irene ngapain jam segini di dapur? Laper?" "Gara-gara kamu nggak cuci piring," sewot Irene. "Itu piring baru saya sama yang lain makan. Makasih loh Bu Irene mau nyuciin itu," jawab Linda, membuat Irene melotot kesal. "Ini harusnya kerjaan kamu loh, Lin!" "Bu Irene yang ngambil job saya 'kan? Tau gini saya duduk santai di belakang," goda Linda. "Lagian, Bu. Kalau salah tingkah tuh ke kamar aja, jangan ke dapur. Keliatan banget," sambungnya. "Apa-apaan itu?" ujar Irene kesal. "Siapa juga yang salah tingkah." "Bu Irene lah. Kita denger ucapan Nala loh, Bu. Lagian, Nala nggak salah pilih kayaknya. Dari semua pacar Tuan, kayaknya memang Bu Irene kandidat terbaik." Linda berkata dengan mengacungkan jempol ke arah Irene. Irene mendengus sinis. "Apa kata orang kalau saya nikah sama Darrel? Yang ada aku dikatain naik ranjang ipar." "Ibu belum nonton film di bioskop? Sekarang lagi ngetren soal ipar adalah maut, Bu." Irene menatap Linda. "Saya bukan pelakor. Saya tuh maunya diperjuangkan dari nol, bukan cuma jadi pengganti." Linda tersenyum jahil. "Bu, kalau cinta jangan gengsi." "Siapa yang cinta? Nggak ada!" "Tapi, Bu. Emang bener kalau Tuan itu dulu mantan pacar Bu Irene?" tanya Linda yang sontak membuat Irene menghentikan aktifitasnya. "Dulu... iya. Kurang lebih lima belas tahun lalu." "Terus putusnya kenapa?" Irene menghela napas. "Karena nggak jodoh." Linda kemudian mendekati Irene. "Ibu tahu nggak, dulu Tuan Darrel pernah mau lari dari pernikahan karena nyariin pacarnya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD