Bab 5: Masih Masalah Nala

1836 Words
Pagi itu, Nala turun dari mobil dengan langkah santai. Sopir yang mengantarnya tersenyum, tetapi Nala hanya melambaikan tangan seadanya. Namun, belum jauh ia melangkah ke dalam area sekolah, langkahnya dihentikan oleh Shania, seorang anak perempuan sekelasnya yang terkenal judes. Di sebelah Shania, berdiri Sarah, sahabatnya, dengan senyum licik yang tampak siap menyudutkan Nala. "Eh, Nala," sapa Shania dengan nada mengejek. "Katanya hari ini kamu bakal diantar mamamu? Kok nggak ada? Cuma sama sopir aja?" Nala menoleh dengan alis terangkat. “Iya, kenapa?” jawabnya singkat. Shania mendengus. “Kamu kan kemarin bilang, hari ini mau diantar mamamu. Mana? Kamu itu pembohong, ya? Ngaku aja kalau kamu nggak punya mama. Makanya bikin alasan!” Sarah tertawa kecil, menambahkan, “Kasihan banget sih. Sok-sokan punya mama, padahal nggak ada. Iya kan?" "Aku punya mama kok," jawab Nala . "Oh, ya. Terus mana buktinya? Bohong terus!” Nala mulai mengepalkan tangan. “Aku nggak bohong! Mamaku lagi sibuk!” balasnya dengan nada lebih tinggi. “Sibuk apa? Sibuk nggak ada, kali!” ejek Shania dengan tawa sinis. "Kamu pasti nggak punya mama." Sarah melipat tangan di d**a, menatap Nala penuh ejekan. “Aku juga heran. Kalau memang punya mama, kenapa nggak pernah kelihatan? Jangan-jangan mamamu kabur gara-gara kamu nakal banget? Wajar sih. Nggak ada mama yang tahan sama kelakuan kamu itu ” Perkataan itu langsung menusuk hati Nala. Matanya membelalak marah. “Jangan ngomong sembarangan soal mamaku!” serunya sambil maju mendekati Shania. Namun Shania tidak mundur, malah semakin provokatif. “Kenapa? Nggak kuat denger kenyataan, ya? Anak nakal kayak kamu wajar aja ditinggalin mamanya!” Itu adalah batas terakhir kesabaran Nala. Ia langsung meraih rambut Shania dan menariknya dengan keras. “Aku bilang, jangan ngomongin mamaku!” “Aduh! Sakit, Nala! Lepasin!” jerit Shania, berusaha melepaskan diri. Sarah mencoba membantu Shania, tetapi Nala justru semakin agresif. Ia mendorong Shania hingga jatuh ke tanah dan memukul wajahnya dengan keras. “Berhenti, Nala!” jerit Sarah, tetapi Nala tidak peduli. Keributan itu menarik perhatian banyak murid di sekitar mereka. Beberapa mulai berteriak, sementara yang lain memanggil guru. *** Tidak butuh waktu lama, seorang guru datang melerai pertengkaran itu. Nala ditarik menjauh dari Shania, sementara Shania menangis keras dengan wajah merah karena pukulan Nala. “Semua ikut ibu ke ruang kepala sekolah sekarang!” perintah guru tersebut dengan nada tegas. Nala, Shania, dan Sarah digiring ke ruang kepala sekolah, sementara murid-murid lain berbisik-bisik melihat mereka lewat. Di ruang kepala sekolah, Pak Herman, kepala sekolah yang dikenal tegas, sudah menunggu mereka. Ia menatap ketiganya dengan pandangan tajam. “Apa yang terjadi di sini?” tanyanya dengan suara rendah, tetapi penuh wibawa. Guru yang membawa mereka menjelaskan kejadian di halaman sekolah. "Mereka bertengkar , Pak. Sepertinya, Nala memukul wajah Shania." Pak Herman mengalihkan pandangannya ke Nala. “Nala, apa yang membuatmu berpikir memukul temanmu adalah hal yang benar?” tanyanya serius. Nala menunduk, berusaha menahan emosi yang kembali membuncah. “Mereka yang mulai duluan, Pak. Mereka bilang aku nggak punya mama.” Shania yang masih menangis langsung menyela, “Dia bohong, Pak! Kami cuma bercanda soal itu. Lagipula, Nala memang tidak punya mama. Dia aja yang memang nakal dan kasar." Pak Herman mengetuk meja dengan jarinya, meminta semua anak untuk diam. “Tidak ada alasan untuk kekerasan di sekolah. Tapi, Shania, apa yang kamu katakan pada Nala itu juga tidak pantas.” Sarah, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara, “Tapi Pak, Nala memang suka bohong. Dia bilang mamanya mau antar dia hari ini, tapi nggak ada. Kan nggak salah kalau kami tanya.” Pak Herman menghela napas panjang. “Wajar bertanya, tapi tidak dengan cara mengejek atau mempermalukan teman. Apa kalian sadar bahwa ucapan kalian bisa menyakiti perasaan orang lain?” Shania dan Sarah hanya diam, tidak berani menjawab. Pak Herman kembali menatap Nala. “Nala, kamu harus belajar mengontrol emosimu. Apa pun yang mereka katakan, memukul teman adalah tindakan yang salah. Saya kecewa karena ini bukan pertama kalinya kamu terlibat masalah.” Nala menggigit bibirnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Ia ingin membela diri, tetapi ia tahu bahwa tindakannya memang tidak bisa dibenarkan. “Saya akan memberikan hukuman untuk kalian bertiga. Nala, kamu harus meminta maaf pada Shania dan Sarah karena menggunakan kekerasan. Shania dan Sarah, kalian juga harus meminta maaf pada Nala atas ucapan kalian yang tidak pantas.” Semua anak itu terdiam, tetapi mereka tahu tidak ada pilihan selain mengikuti perintah Pak Herman. “Selain itu,” lanjutnya, “saya akan memanggil orang tua kalian untuk membahas masalah ini lebih lanjut. Semua ini harus menjadi pelajaran bagi kalian untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.” "Nala nggak mau minta maaf!" balas Nala tegas. "Nala!" tegur Pak Herman. "Jangan keras kepala. Kamu sudah membuat temanmu terluka, Nala!" "Kalau mereka nggak ngejekin Nala, Nala juga nggak akan pukul mereka. Bapak juga ngapain bela mereka? Selalu saja seperti itu!" kata Nala dengan sinis. Ekspresi wajahnya jelas tak mau kalah. Anak berusia tujuh tahun itu seolah tak gentar dengan pendiriannya. *** Darrel sedang duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan laporan yang perlu diperiksa. Ia mengernyitkan kening saat telepon di mejanya berdering. Dengan enggan, ia mengangkat panggilan tersebut. "Selamat pagi, saya Darrel Melvano," jawabnya singkat. "Selamat pagi, Tuan Darrel. Saya Ibu Mira, wali kelas Nala. Saya ingin menginformasikan bahwa pagi ini terjadi insiden di sekolah. Kami berharap Anda bisa datang ke sini untuk membicarakannya lebih lanjut," suara di ujung telepon terdengar hati-hati. Darrel menghela napas panjang, menahan amarah yang mulai tumbuh. "Apa yang terjadi?" "Nala terlibat pertengkaran dengan dua teman sekelasnya. Kepala sekolah ingin membahasnya bersama Anda dan orang tua dari anak-anak lain," jelas Ibu Mira. Darrel menutup telepon tanpa banyak bicara. Ia mengenakan jas dan mengambil kunci mobilnya. *** Dalam perjalanan, pikiran Darrel penuh dengan kekhawatiran. Nala jarang terlibat masalah serius di sekolah. Apa yang sebenarnya terjadi? Ia tak sabar ingin mendengar penjelasan langsung dari putrinya dan pihak sekolah. Setibanya di sekolah, Darrel langsung menuju ruang kepala sekolah. Namun, sayup sayup ia mendengar suara yang membuat darahnya mendidih. "Bener, Pak Herman. Seperti memang dia nakal karena kurang kasih sayang," kata seseorang. "Dia jadi anak kurang ajar karena orang tuanya bodoh. Atau mungkin... anaknya saja yang i***t. Seharusnya dia disekolahkan di sekolah luar biasa." Terdengar, Pak Herman turut menimpali. "Nala, dengarkan itu!" Tak tahan, Darrel membuka pintu dengan kasar. Ketika pintu dibuka, suasana di ruangan itu tegang. Di sana ada Shania dan Sarah, yang tampak menunduk dengan wajah ketakutan. Di samping mereka, orang tua masing-masing tampak berdiri dengan wajah penuh amarah. Di sudut lain, Nala duduk dengan kepala tertunduk, sementara Pak Herman, kepala sekolah, berdiri di tengah mencoba menenangkan suasana. "Ah, Tuan Darrel, akhirnya Anda datang," sapa Pak Herman dengan nada canggung. Darrel menatap Nala sebentar, lalu beralih kepada Pak Herman dengan wajah memerah, menahan amarah. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Sebelum Pak Herman menjawab, Ibu Shania langsung memotong. "Anak Anda ini benar-benar tidak sopan! Dia memukul anak saya hingga menangis. Ini tidak bisa dibiarkan!" Ayah Sarah menambahkan dengan nada tinggi, "Betul! Anak Anda itu kasar. Kami menuntut tindakan tegas dari sekolah!" Darrel mengangkat tangannya, meminta mereka berhenti berbicara. "Saya tidak bertanya pada Anda. Saya bertanya pada kepala sekolah." Pak Herman meneguk ludah, terlihat sedikit gugup. "Baik, Tuan Darrel. Berdasarkan laporan guru yang menangani insiden ini, Nala terlibat pertengkaran dengan Shania dan Sarah. Pertengkaran itu dimulai karena ejekan dari Shania dan Sarah yang membuat Nala tersinggung. Sayangnya, Nala merespons dengan kekerasan." Darrel menatap Nala. "Nala, benar seperti itu?" Nala mengangguk pelan, air matanya mulai mengalir. "Mereka bilang aku nggak punya mama... Mereka ejek aku terus, Papa. Mereka bilang mama pergi karena aku nakal." Darrel mengepalkan tangan. Ia beralih menatap Ibu Shania dan Ayah Sarah dengan tatapan tajam. "Anak-anak Anda mengejek Nala sampai dia merasa terpojok. Apakah itu tidak Anda anggap sebagai masalah?" Ibu Shania mendengus. "Itu hanya candaan. Anak Anda yang terlalu sensitif." "Sensitif?" Darrel mengulang dengan nada dingin. "Anda menyebut mengolok-olok seseorang tentang ibunya yang tidak ada sebagai candaan?" Pak Herman mencoba menengahi. "Tuan Darrel, saya rasa semua pihak memiliki kesalahan. Kita perlu menyelesaikan ini dengan kepala dingin." Namun, Darrel tidak puas dengan jawaban itu. "Kepala dingin? Kepala sekolah seharusnya menjadi pengawas yang adil, bukan hanya diam membiarkan anak-anak dirundung, kemudian ikut menimpali. Apa integritas Anda cukup untuk memimpin sekolah ini?" Pak Herman tampak terkejut dengan tuduhan itu. "Tuan Darrel, kami selalu berusaha menangani situasi dengan sebaik mungkin." *** Darrel menatap orang tua Shania dan Sarah. "Daripada menyalahkan anak saya, kenapa Anda tidak fokus mendidik anak Anda agar tahu batasan? Ejekan seperti itu bisa berdampak buruk pada anak lain. Apakah Anda sadar dampaknya?" Ibu Shania membalas dengan ketus, "Masalahnya adalah anak Anda tidak tahu bagaimana mengontrol emosinya. Itu tanggung jawab Anda! Kenapa anak Anda itu tidak bisa menjaga emosinya? Apa dia tidak waras?!" Darrel menggebrak meja dan berkata dengan tegas, "Saya mendidik anak saya untuk melawan ketidakadilan, bukan untuk diam saat dirundung. Jika anak saya bereaksi keras, itu karena dia didesak sampai batasnya." Ayah Sarah mencoba menyela, tetapi Darrel memotongnya. "Dan Anda? Sebagai orang tua, bukannya mendukung tindakan introspeksi, Anda malah membela kesalahan anak Anda. Apakah itu contoh yang Anda ingin tunjukkan?" Kata-kata Darrel membuat ruangan sunyi sejenak. *** Darrel beralih pada Pak Herman. "Kepala sekolah, jika ini adalah cara Anda menangani masalah, saya rasa Anda tidak layak memimpin sekolah ini. Integritas Anda patut dipertanyakan." "Tuan Darrel, saya rasa Anda terlalu jauh menilai—" Pak Herman mencoba berbicara, tetapi Darrel memotongnya lagi. "Jauh? Saya salah satu donatur utama pembangunan sekolah ini. Jika Anda tidak bisa menjamin keadilan bagi setiap murid, saya akan memilih untuk menghentikan aliran dana saya. Saya tidak ingin uang saya mendukung sistem yang membiarkan bullying terjadi." Wajah Pak Herman langsung pucat. "Tuan Darrel, mohon jangan terburu-buru mengambil keputusan seperti itu. Kami akan memastikan situasi ini diselesaikan dengan adil." Darrel berdiri, merapikan jasnya. "Saya tidak main-main. Pastikan hal ini tidak terjadi lagi, atau saya akan mencari sekolah lain untuk Nala dan menarik dukungan saya dari institusi ini." *** Setelah membawa Nala pulang, Darrel duduk bersamanya di ruang keluarga. Irene datang dengan secangkir teh, wajahnya penuh kekhawatiran. "Apa yang terjadi, Tuan Darrel?" tanya Irene pelan. Darrel menghela napas panjang. "Nala terlibat pertengkaran di sekolah. Dia diprovokasi oleh dua temannya. Kayaknya dia ngegampar temannya." Irene menatap Nala dengan lembut. "Sayang, itu benar? Ada apa?" Nala menunduk. "Mereka bilang aku nggak punya mama. Aku marah, Tante." Irene memeluk Nala. "Tante tahu itu menyakitkan, tapi kamu tidak boleh menyelesaikan masalah dengan kekerasan." Darrel menatap Nala dengan serius. "Tapi, Nala. Papa bangga kamu melawan sesuatu yang salah, tapi Papa juga ingin kamu tahu ada cara yang lebih baik. Jangan biarkan kata-kata orang melukai kamu lebih dalam." "Tuan!" tegur Irene. "Itu benar. Jangan sampai anakku ditindas!" Nala menundukkan kepalanya semakin dalam. "Nala nggak suka dibilang nggak punya mama. Mereka bilang, Nala nakal jadinya mama pergi. Nala kan nggak nakal." Suara tangisan kencang dari Nala membuat Darrel dan Irene saling bertukar pandang, keduanya tahu betapa sulitnya situasi ini untuk Nala. "Nala, Sayang," panggil Irene. "Kenapa Tante Irene nggak mau jadi mama Nala juga? Apa Nala nakal? Kalau gitu, buang aja Nala ke panti asuhan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD