Darrel duduk di kursinya dengan raut wajah dingin, menatap pria berusia sekitar enam puluh tahunan yang duduk di hadapannya dengan salah tingkah. Tatapan tajam Darrel seolah menusuknya hingga tak nyaman. “Tuan Kusuma,” Darrel memulai dengan suara tenang tapi sarat akan ketegasan. “Meskipun kita adalah keluarga, saya tidak akan membantu perusahaan Anda. Sepak terjang perusahaan ini sangat kotor. Mana mungkin saya mau mengalirkan dana ke tempat seperti itu. Apalagi, kita bukan siapa-siapa. Kenapa Anda berharap saya akan menggelontorkan dana?” Jawaban itu membuat Tuan Kusuma mengepalkan tangannya di atas paha, berusaha menahan amarah. "Karena kamu calon menantuku," katanya dengan tak tahu malu.. “Anda tahu, kan, saya menolak perjodohan dengan Livia?” tambah Darrel, sorot matanya semakin

