Bab 2. Tante Irene Saja yang Jadi Mama Nala

1045 Words
Malam itu terasa sunyi. Darrel baru saja selesai mengganti pakaian dan bersiap tidur ketika langkah kecil terdengar mendekat ke kamarnya. Pintu kamar terbuka perlahan, dan di sana berdiri Nala, dengan kepala tertunduk dan raut wajah bersalah. Darrel menatapnya sejenak sebelum berbalik merapikan bantal. “Kenapa, Nala?” tanyanya datar. Nala mendekat perlahan, tangannya meremas ujung kaus tidurnya. “Papa marah?” Darrel menghela napas panjang, tidak segera menjawab. Dia memalingkan wajahnya, mencoba menenangkan diri. Melihat ayahnya diam, Nala semakin cemas. Dia melangkah lebih dekat, menyentuh tangan pria itu dengan ragu. “Papa... maafin Nala, ya. Nala janji nggak akan ulangi lagi. Jangan marah, Papa.” Darrel menatapnya lama, lalu berkata dengan suara yang berat, “Papa nggak marah, Nala. Papa cuma kecewa.” “Kenapa kecewa?” tanya Nala dengan suara kecil. “Karena Papa nggak pernah ajarin kamu untuk bersikap seperti itu. Papa ngerasa gagal jadi orang tua.” “Papa jangan bilang gitu.” Nala menundukkan kepala lebih dalam, hatinya terasa berat mendengar nada sedih di suara ayahnya. Darrel mengembuskan napas keras, berjongkok hingga sejajar dengan putrinya. “Papa nggak ngerti, Nala. Kenapa kamu selalu bertingkah seperti ini? Tahun lalu, Tante Rena masuk rumah sakit gara-gara kacang almond yang kamu taruh di makanannya. Enam bulan lalu, Tante Ketty marah besar karena tas Hermes-nya kamu gunting. Sekarang Tante Livia pergi karena ulahmu di kamar mandi. Kamu mau Papa harus apa, Nala?” Nala menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. “Papa, Nala pengen punya mama. Tapi bukan mereka...” “Kenapa bukan mereka? Mereka semua perempuan baik.” “Nala nggak kenal mereka, Papa. Kalau nanti mereka jadi ibu tirinya Nala, gimana kalau mereka jahat kayak ibu tiri di Cinderella? Nala takut, Papa...” Darrel mengusap wajahnya, berusaha meredam kelelahan emosional yang dirasakannya. “Nala, itu cuma cerita dongeng. Papa nggak akan biarin siapa pun menyakiti kamu. Nggak akan pernah.” “Tapi mereka nggak sayang sama Nala, Papa,” kata Nala, suaranya terdengar seperti rengekan kecil. “Dari mana kamu tahu?” Nala mengangkat wajahnya, menatap ayahnya langsung. “Tante Irene nggak pernah marah sama Nala. Nggak pernah bentak Nala, walaupun Nala nakal. Bahkan waktu Nala gunting tasnya, Tante Irene nggak teriak-teriak kayak Tante Ketty.” Darrel tersenyum tipis, mencoba menahan tawa. “Itu beda, Sayang. Tasnya Tante Irene nggak semahal tas Hermes.” “Tapi waktu itu Papa ganti tasnya Tante Irene sama tas Hermes juga, kan?” Nala berbicara dengan polos, membuat Darrel terbatuk kecil karena gugup. “Sudahlah. Papa cuma mau kamu tahu, perempuan yang Papa pilih nggak sembarangan. Mereka semua baik, Nala.” Nala memeluk lututnya, menggeleng pelan. “Mereka baik sama Papa, bukan sama Nala.” Darrel menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari cara untuk menjelaskan tanpa membuat putrinya semakin sedih. “Terus, kalau bukan mereka, siapa yang kamu mau jadi mama kamu?” Wajah Nala tiba-tiba berubah cerah, senyum kecil mengembang di bibirnya. “Kalau Nala boleh pilih, Nala mau Papa nikah sama perempuan yang Nala suka.” Darrel tertawa kecil. “Oh ya? Dan siapa itu?” Nala mendekat, menggenggam tangan ayahnya dengan antusias. “Tante Irene!” Darrel tertegun. Hatinya seperti berhenti berdetak sejenak mendengar nama itu keluar dari mulut putrinya. “Tante Irene? Kenapa Tante Irene?” tanyanya, mencoba menutupi rasa kaget. “Karena Tante Irene baik. Dia selalu sabar sama Nala, selalu masak makanan enak, dan selalu bantu Nala kalau lagi sedih. Tante Irene juga nggak pernah marah, bahkan waktu Nala bikin ulah.” Darrel terdiam, matanya memandang putrinya dalam-dalam. Sebagian hatinya ingin tertawa, tapi sebagian lagi... merasa ada sesuatu yang menggugah. “Nala, Tante Irene itu pekerja di rumah kita. Dia nggak akan pernah jadi mama kamu.” “Kenapa nggak, Papa? Tante Irene kan perempuan. Kalau Papa suka sama Tante Irene, kenapa Papa nggak nikah aja sama dia?” Darrel tidak langsung menjawab. Dia tahu putrinya tidak sepenuhnya mengerti kompleksitas hubungan orang dewasa. Tapi di balik kepolosan itu, ada kebenaran yang tidak bisa dia pungkiri. Irene memang seseorang yang sangat berarti, tidak hanya bagi Nala, tapi juga bagi dirinya. “Nala, hal seperti ini nggak semudah yang kamu pikirkan. Tante Irene itu pekerja Papa. Hubungan kita hanya sebatas itu.” “Tapi Papa suka kan sama Tante Irene?” desak Nala, matanya berbinar penuh harap. Darrel menghela napas lagi, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Papa menghormati Tante Irene. Dia sudah banyak membantu kita. Tapi menikah itu keputusan besar. Papa nggak bisa asal-asalan.” Nala menunduk lagi, kecewa dengan jawaban ayahnya. “Kalau Papa nggak mau, ya sudah. Tapi Nala tetap nggak suka kalau Papa bawa perempuan lain. Mereka semua nggak seperti Tante Irene.” Darrel tersenyum tipis, lalu mengusap kepala putrinya. “Papa akan pikirkan ini, Nala. Tapi kamu juga harus janji, nggak bikin ulah lagi.” Nala mengangguk kecil, meski hatinya masih berat. *** Di dapur, Irene berdiri sambil mencuci piring, tetapi pikirannya melayang ke percakapan yang tak sengaja ia dengar. Dia tidak bisa menahan senyum kecil saat mendengar Nala menyebut namanya sebagai calon mama. Namun, Irene tahu posisinya. Dia adalah seorang pekerja yang dipekerjakan untuk mengurus Nala, bukan bagian dari keluarga Darrel. Meski dia peduli pada mereka, Irene tidak ingin membuat situasi menjadi rumit. Sebuah suara kecil tiba-tiba membuyarkan lamunannya. “Tante Irene.” Irene menoleh dan melihat Nala berdiri di pintu dapur dengan wajah bingung. “Kenapa, Nala?” tanya Irene lembut. “Papa bilang, kalau nikah sama Tante Irene itu keputusan besar. Artinya Papa mikirin Tante, 'kan?” Irene tersenyum samar. “Mungkin saja. Tapi Tante dan Papa kamu hanya teman kerja. Nggak ada yang lebih dari itu.” “Tapi Tante sayang kan sama Papa?” Irene tertegun. Pertanyaan itu membuat dadanya bergetar. “Tante sayang kamu dan Papa sebagai keluarga, Nala. Kamu tahu itu.” “Kalau gitu, kenapa nggak jadi mama Nala aja?” Irene menghela napas panjang, lalu berjongkok hingga sejajar dengan gadis kecil itu. “Nala, ada banyak hal yang harus dipikirkan orang dewasa sebelum menikah. Itu bukan hal yang mudah.” “Tapi Nala ingin Tante jadi mama...” Irene tersenyum, lalu memeluk gadis kecil itu erat. Dia tidak mengatakan apa pun, tetapi hatinya terasa hangat dengan harapan sederhana yang diucapkan Nala. "Nala, ada masalah dewasa yang tidak bisa Tante jelaskan sama kamu. Yang jadi alasan papa nggak bisa nikah sama Tante."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD