Irene merasa perutnya mulai keroncongan. Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah keluar menuju dapur. Membuka kulkas, ia termenung sejenak. "Makan apa, ya?" pikirnya.
Matanya melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang terbangun, terutama Nala. "Aman," gumamnya seraya tersenyum licik. "Peraturan dibuat untuk dilanggar."
Ia membuka laci dapur yang terkunci, mengeluarkan sebungkus mi instan, lalu mencium aroma kemasan plastik itu dengan mata berbinar. “Ah, sudah lama aku tidak makan mi instan. Rasanya hidupku hambar tanpa ini,” ujarnya, tertawa lirih.
Mengambil panci kecil, ia mengisinya dengan air, lalu menyalakan kompor. Irene menambahkan daun bawang, irisan cabai, dan satu butir telur. Aroma gurih mi instan mulai memenuhi ruangan, membuatnya bergumam, “Mana ada makanan seenak ini? Mi instan tetap jadi juara!”
Setelah matang, ia menuangkannya ke piring, mencuci panci, lalu membawa makanannya ke halaman belakang. Irene menoleh ke sekeliling, memastikan lagi tidak ada yang melihat. Ia berjalan menuju meja taman, duduk, dan mulai menyantapnya dengan lahap.
“Makan apa kamu?”
Suara berat itu membuat Irene terlonjak. Ia menoleh dengan ekspresi panik, mendapati Darrel berdiri di belakangnya, tatapan matanya tajam. “Hehe, makan soto, Tuan,” jawab Irene canggung.
Darrel mendekat dan berusaha merebut mangkuk itu, tetapi Irene menahannya erat. “Tuan, plis. Ini cuma satu bungkus,” katanya memelas.
“Satu bungkus atau sepuluh, sama saja. Kau tahu ini dilarang.”
“Tuan, ayolah. Aku sudah lama tidak makan mi instan, sejak ... sejak aku merawat Nala.”
Darrel mendesah panjang. “Irene, tidak boleh, ya, tetap tidak boleh.”
“Tuan, sekali ini saja. Tolonglah,” Irene mencoba merayu.
Namun Darrel menatapnya dengan sorot serius. “Irene Larasati, kau lupa pernah operasi usus buntu?”
Meskipun ditegur, Irene tetap melanjutkan makannya dengan cepat. Tak lama, mangkuk itu pun kosong. Ia mengusap bibirnya dengan tisu, lalu tersenyum tanpa rasa bersalah. “Satu bungkus mi instan untuk amunisi setahun ke depan,” katanya santai.
“Dasar congek,” gumam Darrel, duduk di depannya sambil mengeluarkan rokok.
Irene memerhatikan gerak-geriknya. “Tumben merokok lagi. Ada masalah?”
Darrel menggeleng. “Cuma frustrasi dengan tingkah Nala. Anak itu benar-benar ....”
“Benar-benar apa?” potong Irene, menaikkan alisnya.
Darrel menghela napas. “Benar-benar nakal.”
Irene terkekeh. “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Tuan. Apa kau pikir dulu kau anak yang penurut? Tidak mungkin.”
Darrel tersenyum samar. “Apa aku sedang menghadapi diriku sendiri?” Ia mengisap rokoknya, menghembuskan asap ke udara. “Sekarang aku paham kenapa Ayah mengirimku ke panti asuhan saat aku sulit diatur. Ternyata memang sefrustrasi itu menghadapi anak-anak.”
Irene meletakkan dagunya di tangan. “Tuan, Nala anak yang baik. Dia hanya belum tahu cara menyampaikan keinginannya dengan benar.”
“Mungkin kau benar.”
“Anak-anak pasti punya keinginan mereka sendiri. Kau hanya perlu memberi pengertian. Dia pasti mengerti, meskipun butuh waktu. Nala itu anak yang cerdas.”
Darrel menghela napas panjang. “Mungkin Nala mengerti, tapi aku yang tidak. Dia punya keinginan yang tak bisa aku kabulkan.”
"Anak-anak terkadang—"
"Apa kamu tidak bisa memikirkannya?"
Irene tersenyum tipis. “Seperti janjiku, Tuan. Saat Nala sudah mendapatkan ibu, aku akan pergi.”
Perkataan Irene membuat Darrel terdiam. Ia memandangi langit malam yang bertabur bintang. “Apa menurutmu Irana tidak mengizinkanku menikah lagi?” tanyanya tiba-tiba. "Rasanya sulit sekali mendapatkan penggantinya. Padahal aku tampan, kaya dan tentu saja baik."
Irene menggeleng. “Jika dia tidak mengizinkan, mungkin dia akan mencekikmu,” jawabnya sambil tertawa kecil.
Darrel ikut tertawa. “Kau benar. Aku jadi ingat saat kami akan melangsungkan pernikahan. Irana bilang, suatu saat nanti kalau dia pergi lebih dahulu, aku harus mendapatkan wanita yang baik karena takut jika anak kami mendapatkan ibu tiri seperti ibunya Cinderella. Waktu itu aku pikir dia bercanda. Ternyata ... hal sebesar itu dia sembunyikan.”
Irene menunduk, suaranya melembut. “Irana memang tidak pernah membagi kepedihannya pada siapa pun. Dia selalu menuliskannya dalam buku harian itu. Kau tahu, aku sering mencurinya diam-diam saat dia terlihat murung. Dari situ, aku baru paham apa yang dia rasakan.”
Darrel tertegun mendengar cerita itu. Irene dan Irana adalah saudara kembar tak identik. Mereka tumbuh bersama di panti asuhan yang dikelola keluarga Darrel. Hubungan mereka erat sejak kecil.
“Sejak Irana diadopsi keluarga Tan, kami jarang bertemu. Kau juga tidak pernah datang sejak saat itu,” Irene melanjutkan, suaranya dipenuhi emosi. “Lalu kita bertemu lagi saat SMA. Kau tahu, seperti apa bahagiaku? Rasanya seperti menemukan kembali separuh hidup yang lama hilang.”
Darrel tersenyum tipis, mengingat masa lalu.
“Anak nakal yang dulu kukenal tumbuh menjadi remaja berandal,” tambah Irene sambil terkekeh.
“Sampai perjodohan itu terjadi. Kita... kembali seperti orang asing,” sahut Darrel dengan nada getir.
Irene memalingkan wajahnya. “Itu takdir. Aku bukan siapa-siapa untuk menentangnya.”
“Irene,” Darrel menatapnya lekat. “Sepertinya Nala dan Irana menginginkan hal yang sama. Aku ....”
“Aku tidak bisa,” potong Irene tegas.
“Irene!”
“Aku datang ke sini untuk merawat Nala, putrinya Irana, bukan untuk menikahi suaminya.”
Irene berdiri, meninggalkan Darrel yang terdiam terpaku di tempatnya.
Darrel memandang punggung Irene yang menjauh, pikirannya dipenuhi keraguan dan rasa bersalah. Hubungan mereka terlalu rumit untuk dijelaskan. Irene adalah bagian penting dalam hidupnya, tapi apakah ia berhak memintanya tinggal lebih lama?
Di sisi lain, Irene merasa hatinya berat. Ia mencintai Nala seperti anak sendiri, tapi tanggung jawabnya hanya sampai di situ. Ia tahu, keberadaannya di rumah ini hanyalah bayang-bayang masa lalu yang seharusnya dilepaskan.
Irene berlari menuju kamar, menutup pintu dan menguncinya dengan segera. Wanita itu berjalan menuju meja nakas dan mengeluarkan sebuah buku iseng berwarna hitam.
"Irana. Kenapa kamu menempatkanku pada posisi yang sulit?" katanya dengan suara serak. Ia kemudian duduk di atas ranjang dan membuka buku tersebut.
Halaman terkahir ia buka. Sebuah memo Irene keluarkan dari dalamnya. Sebuah tulisan tangan dari sosok yang ia rindukan.
Irene, adikku.
Aku tahu, suatu saat kau akan menemukan ini. Kamu selalu ingin tahu, bukan?
Hari itu, aku menyesal menerima lamaran keluarga Atmadja. Aku pikir, kami sudah saling mengenal, jadi tidak masalah jika kami memulai sebuah hubungan. Siapa sangka, aku menghancurkan perasaan adikku?
Irene. Jika aku tahu, aku mau kita bertukar posisi supaya kau bisa mendapatkan cintamu. Sayangnya, aku tahu saat semuanya sudah terlambat. Maafkan aku.
Aku tahu, maaf ku mungkin tidak akan cukup. Tapi aku ingin memberi tahu mu satu hal. Saat nanti kamu membaca ini, aku mungkin sudah berada di antara bintang karena kanker yang setiap hari terus menggerogoti tubuhku. Saat itu terjadi, bisakah aku merepotkanmu?
Aku ingin kamu menjadi ibu untuk Nala dan pendamping yang baik untuk Darrel. Tidak ada yang bisa aku percaya selain cintamu padanya, Irene.
Irene terisak. Surat usang yang ditulis beberapa tahun lalu, masih ia simpan sebagai kenangan terkahir dari kembarannya. "Aku tidak bisa, Irana. Kami ... aku dan Darrel ... tidak ditakdirkan untuk bersama, tapi aku janji. Aku akan menemani Nala sampai dia mendapat ibu yang baik, seperti yang kamu inginkan."