Pagi hari telah menyapa kembali. Kali ini terik matahari enggan menampakan sinarnya. Diluar sana rintik-rintik hujan mengambil alih untuk memberi dekapan pada bumi pertiwi. Membuat manusia merasa hawa dingin menelusup pada kulit. Sangat nyaman rasanya untuk meringkuk di dalam selimut tebal dan membenamkan wajah pada bantal empuk.
Seperti yang dilakukan Reynard yang masih terlelap di tempat tidur. Seakan menikmati hari akhir pekan itu.
Sayup-sayup benturan High Heels terdengar ditelinga Reynard. Langkah kaki perlahan mendekati lelaki itu. Namun, Reynard masih enggan untuk membuka mata. Membiarkan suara langkah kaki itu hilang saat di dekatnya.
Jari-jemari dengan kuku yang setengah panjang bermain di punggung Reynard. Lelaki itu bergidik geli atas sentuhan itu. Ia pun berbalik badan namun, matanya masih terpejam.
Wanita itu tersenyum manis. Tatapan mata bermanik hitam, mendambakan lelaki yang tengah terlelap itu. Dengan badan kekar seperti roti sobek, menggiur hasrat di dalam tubuhnya. Saliva yang berusaha ia tahan, sebelum tersalur dengan baik nantinya. Kini, dia harus bermain-main dulu untuk membangunkan lelaki itu.
Tidak puas di punggung Reynard sekarang jari nan panjang itu bermain di wajah tampan lelaki itu. Menurunkan tangannya pada dahi Reynard. Terus menelusuri alis, lalu berlanjut pada hidung dan menuruni hingga menyentuh bibir nan seksi itu.
Tidak puas juga pada wajah, kini jari itu menyentuh d**a bidang Reynard yang terdapat rambut-rambut halus. Hingga bermain di pusar lelaki itu.
Sentuhan itu membuat Reynard mengerutkan alis. Siapa yang berani mengganggu tidurnya? Apa lagi di akhir pekan ini. Tidak ada seorangpun yang berani mengganggunya, terlebih di rumahnya sendiri. Kecuali--
Reynard terperanjak dari tidurnya. Hingga sempat menjauhkan tubuh dari wanita di hadapannya saat ini yang tengah terkekeh melihat terkejutnya Reynard.
"Astaga, Rey!" umpat Alena.
"A-Alena, sa-sayang kapan kau pulang? Ah...kau mengagetkan aku saja!" celetuk Reynard. Tangannya bergerak memijit sela alis.
"Rey, Rey..." Alena menggelengpelan kepalanya. Ia berucap."Aku merindukanmu, sayang."
Alena mengelus lembut pipi Reynard yang terdapat rambut halus itu. Menambah tampan lelaki itu di mata Alena.
Cuupp...
Satu kecupan di bibir ranum Alena untuk Reynard. Namun, Reynard memegangi bahu Alena. Ia melontarkan pertanyaan pada wanita itu, tapi belum di jawab olehnya.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, Alena! Kapan kau pulang dan mengapa tidak memberitahukan ku, ha?" tanya Reynard dengan suara khas bangun tidur.
"Rey!" bentak Alena. Bola mata Alena berputar. Disertai hembusan nafas yang terdengar berat."Mungkin kau bisa menemukan jawaban melalui ponselmu, sayang! lihatlah, sudah berapa pesan yang aku kirimkan padamu dan panggilan? tapi sayang, panggilan itu tidak masuk."
Alena beranjak dari tempat tidur. Melangkah menuju meja riasnya. Lalu menaruh tas jinjing itu. Satu persatu anting yang ia pakai, terlepas di telinga. Serta perhiasan kalung dan gelang dilepaskan juga.
Seketika Reynard meraih ponsel di sisi bantal yang ia tidurkan itu. Menekan tombol untuk menghidupkan layarnya. Namun tak kunjung nyala.
"s**t! baterainya habis sayang. Maaf!!" kesal Reynard. Ia lupa semalam ponselnya kehabisan baterai. Dan langsung memejamkan mata setelah pulang dari rumah sang mama.
"Apa kau sengaja sayang, melakukan itu padaku? Atau jangan-jangan--"
Belum selesai ucapan Alena, Reynard telah melingkarkan tangannya di perut ramping Alena dari belakang.
"Jangan-jangan apa sayang, humm..? Ya, aku akan selingkuh dengan seorang wanita dalam dekapan aku ini. Dan tidak akan aku lepaskan!" ucapan Reynard dengan deru nafas hangat penuh gairah di telinga Alena. Suara yang serak basah, mendayu gemulai menyentuh kulit wanita itu
Cup...
Satu kecupan dari bibir Reynard menyentuh lembur leher Alena. Wanita itu membalikan tubuhnya. Membalas tatapan rindu sang suami yang telah lama ia tinggalkan tanpa belaian selama ini.
Tangan Alena dengan jari jemari panjang melingkar di leher Reynard."Aku akan menebus semuanya, Rey! dan kita akan menikmatinya bersama. Kau mau kan?"
Rey tersenyum menyeringai. Perkataan yang menjanjikan kenikmatan dalam ruangan itu, begitu manis yang ia dengar.
Tapi sesaat tersamarkan, begitu bisakah seorang wanita yang sudah nikah tidak merindukan di pergauli oleh suaminya sendiri? Begitu baik 'kah selama ini ia menjaga?
"Aku harap, kau menjaga gairah mu di saat tidak denganku, Alena! Seperti halnya, aku menjaga semuanya dengan baik di sini. Hanya untukmu seorang!" ucap Rey. Dengan raut wajah memohon.
Bak tertampar ucapan Reynard. Wajah lelaki itu seraya memohon, membuat Alena terdiam sejenak. Namun, cukup baik wanita itu mengendalikan suasana. Ia tidak ingin mimik wajahnya terbaca oleh Reynard.
Tawa Alena berderai."Rey, aku hanya untukmu seorang, percayalah!"
Reynard membalas dengan senyuman. Setiap kata yang terlontar di mulut Alena, Reynard memperhatikan setiap bibir yang bergerak itu. Membuat sensasinya mulai menjalari pusar, hingga menyeruak pada d**a.
Tidak dapat terbendung lagi, Reynard langsung menangkap bibir Alena yang sedari tadi sangat menggoda. Mempugatnya, hingga mendominasi permainan itu. Merasa belum puas, tangan Reynard memegangi tengkuk Alena menekan kepalanya. Hingga hisapan itu semakin mendalam.
Alena tidak kalah juga dalam membalas pugatan itu. Semakin Rey memainkan bibirnya, semakin ia menyukai dan membalas dengan rakus.
Sesaat mereka berhenti. Saling melepaskan untuk mengisi nafas yang hampir kosong di rongga d**a masing-masing. Saling menatap dan tersenyum manis menghiasi pagi ini.
"Kau tidak pernah berubah, Alena. Dan aku suka," ujar Reynard. Nafas yang tersenggal saling beradu dengan nafas sang istri. Alena juga terlihat mengisi penuh rongga d**a dengan udara. Sentuhan antar kulit itu membangkitkan sesuatu yang tersimpan rapat.
Bahkan aroma khas lelaki itu menyeruak di indera pencium Alena. Aroma yang cukup lama ia tinggalkan. Dan dia tahu, lelaki itu merasakan hal yang sama dengannya.
"Aku bahkan bisa lebih dari ini, kau mau?" tawar Alena. Ia tersenyum menyeringai. Dia tahu, bahwa Reynard menyukai tawaran yang ia buat dengan sengaja. Sudah lama ia tidak bertatapan sedekat ini, nyaris tanpa jarak bersama Reynard.
Lelaki itu masih memperlakukan dia dengan baik. Dengan begitu mesra, tanpa ada melihat celanya. Keputusannya untuk pulang saat ini ia rasa tepat. Untuk mengurai rindu yang telah terpendam.
"Apa kau mau membayar mahal, atas selama ini kau meninggalkan aku?" Reynard melempar kembali pertanyaan itu.
"Maksudnya?" dahi Alena berkerut menampakan garis halus di sela alis.
"Berapa kali yang kau inginkan, sayang?"Reynard tergelak. Saat muka Gresya tak mengerti maksudnya."Aku setuju dengan tawaranmu, sayang! kita akan melakukannya sebanyak mungkin, bagaimana?
"Iiihhhhh... Emangnya kau mau sampai berapa kali? Yang ada tubuhku pada remuk, sayang!!" Alena cukup terperangah. Melihat sang suami sampai menanyakan "berapa kali."
'Begitu rindunya 'kah dia? hingga ia memintanya sebanyak mungkin.' Batin
Alena.
Reynard tergelak."Aku akan minum obat perangsang. Agar kita seharian menghabiskan waktu di dalam kamar ini."
"Jangan, maksudku jangan pakai obat itu. Itu mempunyai efek buruk jika pemakaian dalam jangka waktu panjang," sanggah Alena. Ia menggeleng tegas melarang lelaki itu.
"Ok! Kalau gitu mari kita lakukan segera. Aku ingin mencicipi kue apem miliki ku yang sudah lama membeku! pasti rasanya enak dan legit," celetuk Reynard. Senyuman mengembang di raut wajah tampannya.
'Astaga, Rey!" Sentak Alena." Dasar m***m!"
" Kenapa kau membuatku tersudutkan begini?' batin Alena.
"Kau yakin?! Kita melakukan sekarang ini juga? Apa kau tidak mau mandi dulu,hemmm...?" selanya.
"Nanti saja, sekalian kita sudah lama tidak mandi bersama. Dan aku sangat merindukan aroma mu." Reynard mengedipkan mata telanjangnya itu.
Bersambung...