Setelah mengemudikan mobilnya satu jam lebih, Reynard telah sampai di kediaman keduanya. Rumah yang ia tempati bersama wanita yang di cintai. Disepanjang perjalanan ia lalui, guratan di sela alis yang bertaut selalu menyimpan rasa kekesalan. Wajah Yuna menjadi alasan disepanjang perjalanan Reynard melampiaskan pada pedal gas. Membuat mobilnya menderu kencang. Rahang yang mengeras, mempertegas ukiran wajah nan tampan itu. Reynard merasakan dirinya sebagai boneka dalam permainan Nyonya Delusa , sang mama dan Alena, istrinya. Mengapa harus istri kedua? Sesulit inikah dia memiliki anak? Rasanya hidup yang ia jalani dengan gelimang harta, ternyata menghadirkan seorang anak, membuat dia berada di situasi yang konyol ini. Belum juga apa-apa, dalam satu kamar dengan wanita yang baru saja ia nikah

