"Hayoo, kamu harus bayar uang sewa!"
"Nggak mau, ah." Rena melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Nggak boleh curang, kamu, kan, udah berhenti di tanah milik papa."
"Papa, kan, udah jadi pejabat bank, kenapa masih minta uang rakyat?"
Rustam menggeleng. "Ini sudah peraturan, Rena!"
"Bodo amat!"
"Cepet bayar uang sewanya. Itu Papa udah bangun hotel di situ."
"Papa di penjara dulu tapi," Rena terkikik.
"Oh, no. Papa nggak dapet kartu masuk penjara, papa juga nggak berhenti di petak 'masuk penjara', Papa nggak nglakuin pelanggaran." Rustam mendengus.
"Wussss, ada gempa!" Rena mengacak-ngacak monopoli di hadapannya hingga berserakan. Kemudian berlari kabur sebelum Rustam menangkapnya.
"Ini, anak kalau main selalu curang!" dengus Rustam mengejar Rena yang melemparinya dengan bantal yang terdapat di sofa sambil terkekeh.
Rustam ikut tertawa, saat mereka saling melempar pukulan dengan bantal yang ada di sofa. Tentu saja Rustam memelankan pukulannya untuk Rena. Tidak seperti Rena yang memukulinya sekuat tenaga.
"Iyaakkk, aku kutuk Papa jadi monyet!!!" jerit Rena saat bantal yang ada di tangannya melayang ke udara setelah ditepis Rustam.
Rustam menyeringai, kemudian menangkap tubuh mungil Rena lalu menggelitikinya.
"Ah, aduh, ampun, Pa, geli, ih." Rena meronta-ronta, ingin melepaskan diri dari Rustam yang menggelitiki tubuhnya sambil tertawa.
"Mama pulang!!!"
Suara itu menghentikkan tawa mereka berdua. Rena melepaskan diri dari cengkraman Rustam kemudian melompat turun dari sofa dan berlari menghampiri Viola.
"Mama!" teriak Rena melompat ke pelukan Viola. Viola baru saja pulang dari arisan. Rena selalu berubah manja jika bersama Viola.
"Main apa tadi sama, Papa?" tanya Viola sambil membelai rambut Rena.
"Main tikung-tikungan," jawab Rena ketus. Kemudian menggeliyat manja digendongan Viola.
Viola mengernyit kemudian tersenyum. "Ada-ada aja kamu ini," ucapnya gemas. Rustam merasa tersindir dengan ucapan Rena barusan.
"Udah makan belum, Mas?" tanya Viola kepada Rustam yang masih terduduk di sofa.
"Belum, laper banget, nih." Rustam menepuk-nepuk perutnya.
"Ya udah makan di luar aja, yuk! Di restoran."
Rustam menggangguk. "Boleh."
"Sayang, kamu mandi, ya?" ujar Viola kepada Rena.
"Emangnya Mama baru menang arisan, ya?" tanya Rena sambil memainkan rambut panjang Viola.
"Menang, nggak menang kita juga bisa ke restoran kapan aja, Sayang." Viola menggendong Rena menaikki tangga untuk menuju ke kamarnya.
"Dulu waktu sama Papa Erwin, Mama nggak pernah ngajak ke resteron?" tanya Rena polos.
Viola terdiam. Entah kenapa pertanyaan Rena membuat Viola teringat dengan sosok tersebut.
"Aku kangen sama Papa, Ma," rengek Rena sambil memukul-mukul pundak Viola.
Hmm, kumat. Viola menghela napas. Porsi bertemu Erwin seminggu sekali memang sangat tidak memuaskan untuk Rena. Viola juga tidak mungkin mengizinkan Rena ikut Erwan, karena ia tau Zahra masih di bawah umur untuk mengurusi Rena yang bandelnya minta ampun.
"Rena, pengen ketemu sama Papa, Ma." Rena menutupi wajahnya dengan telapak tangan sambil terisak.
"Rena!" tegur Viola. "Cepetan mandi sana, kita mau jalan-jalan." Tidak ada cara lain bagi Viola membujuk Rena, selain melakukan hal-hal yang disenangi anaknya itu. Rena memang sering sekali rewel jika rindu dengan ayahnya.
"Rena nggak mau, kalau nggak ketemu Papa." Rena menggeleng sambil menyeka ingus yang ada di hidungnya.
"Nanti kita mampir ke timezone, gimana?"
Rena menggeleng.
"Nonton bioskop?"
Rena menggeleng.
"Kita beli mainan yang banyak?"
Rena menggeleng.
"Besok nggak usah sekolah liburan ke pantai?"
"Nggak mau!" dengus Rena sebal. "Rena mau ketemu, Papa.
Viola menghela napas. Berbagai upaya selalu Viola lakukan untuk membujuk Rena agar tidak mengingat-ngingat lagi ayahnya. Sampai-sampai membuat Viola merasa frustasi dengan Rena yang keras kepala. Memangnya siapa yang bisa melawan rindu? Jangankan anak kecil, orang dewasa saja bisa gila gara-gara 'rindu'.
***
Sebelum tabungannya habis, akhirnya Erwin memutuskan untuk membuka gerai makanan kecil-kecilan dengan menyewa ruko kosong yang tak jauh dari rumahnya. Kebetulan Zahra memang ahli dalam bidang memasak.
"Rumah makanannya mau di kasih nama apa, Mas?" tanya Zahra yang tengah sibuk meracik bumbu-bumbu untuk dibuat sambal.
"Hmm, apa, ya?" Erwin yang sedang duduk sambil mengamati istri dan dua pegawainya yang sedang memasak tampak berpikir.
"Ayam bakar sederhana?"
"Jangan. Terlalu pasaran," tolak Erwin. "Bagaimana kalau kita namain ayam geprek selingkuh?"
Dua pegawai yang sedang menggoreng daging ayam langsung tergelak. Pun, juga dengan Zahra yang tidak bisa menahan tawanya agar tidak meledak.
Erwin mengernyit. "Kenapa? Lucu, ya?"
"Masa namanya ayam geprek selingkuh?" Zahra memegangi perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa.
"Emangnya kenapa? Bukannya itu keren?" Erwin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, karena menjadi bahan tertawaan.
"Mungkin maksudnya Bapak biar ayamnya aja yang selingkuh, Mbak Zahra jangan?" sahut salah satu pegawai sambil terkikik, kemudian meniriskan ayam di wajan penggorengan.
Zahra terkekeh. "Itu sih pengalaman kamu Mas, diselingkuhin. Jangan suka mengungkit-ungkit masa lalu gitu, dong," ledeknya.
"Oh, jadi Mbak Zahra pernah selingkuh?" tanya Fitri, salah satu pegawai Erwin.
"Bukan, dulu dia diselingkuhin sama istri tuanya." Zahra terkikik.
Erwin langsung menjewer telinga Zahra. "Jangan suka mengungkit-ungkit masa lalu."
"Oh, Mbak Zahra istri muda, ya?" ucap Fitri lagi. Vina langsung menginjak kaki Fitri, memberi kode bahwa Fitri sudah lancang kepada bosnya.
"Ayam geprek selingkuh, itu artinya dalem." Erwin kembali membuka suara.
"Njiir, dalem," sahut Vina.
"Nyleneh banget, Mas, kenapa nggak dinamain warung makan Renata Zivilia, aja? Nama anak kamu, Mas," timpal Zahra memberi saran.
"Kasihan Rena dijadikan nama warung." Erwin memberengut. "Mending ayam geprek selingkuh aja," lanjutnya sambil menyunggingkan seulas senyum.
"Emang artinya apa, sih, Mas?" Zahra penasaran.
"Hmmm, nggak ada artinya. Tapi, maksudnya ini akan menjadi perselingkuhan pelanggan paling indah dan paling halal. Kalau ada orang lapar tapi mau makan masakan istrinya males karena bosan atau sebagainya, solusinya adalah selingkuh di warung ini. Warung ini akan menjadi warung yang menghalalkan perselingkuhan. Bukan perselingkuhan antar pasangan, lho, ya, tapi perselingkuhan cita rasa pelanggan yang kurang pas dengan masakan rumah. Mereka harus mengajak keluarga mereka untuk menyelingkuhi menu masakan di rumah dengan makan di sini."
Fitri dan Vina melongo sambil bertepuk tangan.
"Kenapa kalian tepuk tangan?" Erwin mengernyit.
"Ah, enggak, Pak." Mereka tampak kikuk. Kemudian kembali bergegas melanjutkan pekerjaannya.
"Yaudah deh, terserah Mas aja," jawab Zahra yang masih sibuk memblender sambal.
"Aku pesen bannernya dulu." Erwin tersenyum.
Tak lama itu, ponsel Erwin berdering. Pria itu langsung buru-buru mengangkatnya. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsallam Mas, Rena kangen."
Tubuh Erwin langsung membeku. Rasa rindu yang sudah menggelayutinya perlahan berubah menjadi rasa sakit dan penyesalan. Erwin seolah tidak terima jika semua orang tersiksa dengan rasa itu.
"Aku akan ke sana nanti malam. Rena sekarang di mana? Aku mau ngomong."
Bersambung…