Erwin mencium aroma nasi goreng yang baru saja dimasak Zahra. Terlihat begitu lezat. Rasanya laki-laki itu sudah tidak sabar untuk melahapnya.
"Tabungan kita menipis, Mas?" tanya Zahra sambil menuangkan air putih ke dalam gelas untuk Erwin. Beberapa hari belakangan ini Zahra memang khawatir dengan kondisi keuangannya. Mengingat kalau suaminya sekarang sudah tidak memiliki pekerjaan.
Erwin tersenyum di tengah-tengah kunyahannya. "Masih banyak, kok."
Ah, iya … bodoh, Zahra lupa kalau sebelumnya Erwin berprofesi sebagai CEO di perusahaan Viola, selain itu laki-laki tersebut juga mengelola beberapa toko butik yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Walaupun sekarang Erwin tidak bekerja. Tentu saja tabungan Erwin tidak akan habis, jika Erwin menganggur selama sepuluh tahun. Namun, tetap saja Zahra merasa tidak tenang, cepat atau lambat pasti uang itu akan terkuras habis jika tidak segera diinvestasikan atau dipakai untuk modal menjalankan bisnis baru.
Karena semenjak perceraiannya, nampaknya Erwin terlihat seperti tidak b*******h melakukan apa-apa. Erwin lebih sering berdiam diri di rumah, seolah masih betah meratapi perpisahannya dengan Viola dan Rena.
Drrttt… Drrrtttt…
Ponsel Zahra yang berada di dalam kamar berbunyi nyaring. Zahra meneguk air putih kemudian beranjak dari tempat duduk untuk mengangkat telepon. "Aku mau angkat telepon dulu, Mas." Erwin mengangguk lalu melahap sesendok nasi gorengnya.
Sesampainya di dalam kamar. Zahra meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Dahinya mengernyit ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. "Ibu?" Zahra sedikit ragu untuk mengangkat panggilan dari ibunya. Tapi, karena tidak tega akhirnya jarinya tergerak untuk menyentuh simbol berwarna hijau.
"Ha… halo, Bu?"
"Zahra kamu sudah lupa? Tanggal berapa ini?"
Zahra menyipitkan mata mendengar suara ibunya yang menggelegar seperti petir. "I… iya, Bu, nanti aku transfer."
"Bagus, Ibu tunggu!"
"Ta… tapi 10 juta, ya, Bu?"
"Apa? Kenapa tidak 50 juta seperti bulan kemarin? Gimana ini perjanjiannya?"
Zahra menghela napas. "Ibu!!! Mas Erwin sekarang tidak bekerja. Ibu sudah tau, kan, kalau sekarang Mas Erwin sudah cerai sama istrinya, otomatis Mas Erwin tidak punya wewenang untuk mengelola bisnis mertuanya. Jadi, Ibu kasih kami keringanan, dong! Karena sekarang Mas Erwin tidak sekaya raya dulu," ucap Zahra dengan nada yang naik satu oktaf.
"Tidak bisa, perjanjian tetap perjanjian. Suami kamu yang menjanjikkannya."
"Ibu ini pikirannya cuma uang, uang, dan uang. Ibu nggak mikir apa sama kehidupan aku kedepannya? Uang yang aku setorkan ke ibu sangat berharga bagi aku, Bu, harusnya Ibu ngertiin itu!!! Tiap kali nelpon cuma nanyain uang, nggak pengen apa nanyain kabar?" Zahra terengah-engah kehabisan napas saat mengucapkan uneg-unegnya dengan penuh emosional.
"Kamu…"
"Oke, aku ngerti kalau aku cuma anak pungut, dan aku harus membalas jasa-jasa Ibu. Tapi, kasih Zahra keringanan dikit, lah, Bu. Suami Zahra bukan orang kaya lagi, Bu." Zahra menangis meratapi kekejaman Ibu angkatnya.
"Ya, ya, ya, terserah kamu Zahra. Tapi, jangan salahin Ibu kalau terjadi sesuatu kepada anak-anak panti."
Zahra mengacak-ngacak rambutnya frustasi lalu menjatuhkan bokongnya ke kasur. "Ibu!!! Ya, ampun!"
"Bilang saja, aku akan transfer 50 juta hari ini juga."
Suara bariton itu mengalihkan fokus Zahra. Perempuan itu mendongak. "Mas Erwin?"
"Aku akan transfer 50 juta."
"Tapi, Mas, kebutuhan ekonomi kita sebulan tidak sampai segitu. Harusnya Ibu ngertiin itu," lirih Zahra menjauhkan ponselnya agar ibunya tidak mendengar apa yang diucapkannya kepada Erwin.
"Demi keselamatan anak-anak panti." Erwin yang masih berdiri di ambang pintu tersenyum.
Zahra menghela napas. "Huh, yaudah, Bu, nanti aku kirim 50 juta."
Tut.
Zahra mematikkan ponselnya lalu melemparnya asal ke atas kasur.
Erwin kembali tersenyum kemudian duduk di sebelah Zahra. "Nggak usah sedih gitu, dong," goda Erwin.
"Huh, nanti uang kita habis gimana?"
"Kalau kamu khawatir besok nggak bisa makan, berarti kamu sudah menghina Tuhan," ucap Erwin lembut.
Zahra mendongak menatap Erwin.
"Kalau kamu khawatir dengan susahnya hidup, berarti kamu sudah menghina Tuhan secara tidak langsung."
"Tuhan nggak pernah tidur, selalu ada untuk membantu kita. Semua yang kita alami itu ujian dari Tuhan. Selama kamu menjalani hidup, hidup ini tidak akan ada tenangnya. Tapi, percayalah Tuhan selalu berada di dekat kita." Erwin mengusap-ngusap air mata di pipi Zahra dengan jempolnya.
"Di mana kebahagiaan kita nanti? Tentu saja di surga nanti. Makanya kita perlu sabar menjalani hidup, menjalankan segara perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya."
"Surga itu diibaratkan adzan magrib saat bulan puasa. Nikmat bukan berbuka puasa setelah menahan lapar dari subuh sampai magrib? Kenikmatan itu memang perlu ditahan agar lebih terasa nikmat lagi."
Zahra mengangguk. Erwin benar, semua yang ada di dunia ini hanya tipuan. Seperti fatamorgana, semakin kau kejar semakin kau rakus, semakin kau telan semakin kau haus, tidak akan ada puasnya. Pada akhirnya kita akan tetap mengeluh, walaupun apa pun yang semuanya kita mau sudah terwujud.
"Nggak usah sedih, kita main ke panti asuhan, yuk!" Erwin memegang kedua pundak Zahra.
Zahra menoleh dengan antusias. "Benaran, Mas? Ayo! Aku udah lama juga nggak pernah ke sana." Zahra langsung beranjak dari duduknya untuk mandi.
***
"Ya ampun Zahra sekarang kamu berhijab?" sambut bu Anti, pengurus yayasan panti asuhan, saat menyambut kedatangan Zahra yang mengenakan gamis berwarna hitam bercorak pink, bersama Erwin yang mengenakan kemeja hitam polos dengan celana formal sisa-sisa peninggalannya kerja di kantor.
"Alhamdulilah, Bunda," jawab Zahra tersenyum kemudian memeluk bu Anti yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Hmm, ini pacar kamu?" tanya bu Anti setelah melepas pelukannya sambil menatap Erwin penuh rasa kagum.
"I… ini suamiku, Bunda." Zahra tersenyum kikuk. Ia merasa bersalah karena tidak mengabari orang-orang panti asuhan kalau dirinya menikah dengan Erwin. Lagipula waktu itu semua terjadi begitu mendadak, walau pada akhirnya Zahra tau kalau Erwin menikahinya hanya untuk menyaingi istrinya yang selingkuh.
Bu Anti terlihat kaget. "Kenapa nggak kabar-kabar?"
"Hmm, ceritanya panjang, nanti aku ceritain. Eh, anak-anak mana, Bun?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
"Owh, sebentar, ya, Bunda panggilin dulu." Bu Anti bisa mengerti keadaan Zahra yang mungkin berada pada posisi yang sulit untuk dihadapi, sehingga dia tidak melanjutkan pertanyaan yang sangat ia ingin tau jawabannya.
"Anak-anak, Kak Zahra pulang!!!" teriak Bu Anti.
Sesaat kemudian ada banyak anak-anak kecil dan beberapa anak-anak yang seumuran dengan Zahra berhamburan keluar untuk memeluk Zahra. Mereka terlihat ceria ketika menyambut kedatangan Zahra.
Erwin tersenyum, mungkin jika ia masih menjadi orang kaya. Ia pasti akan membawakan banyak mainan dan makanan untuk mereka. Sayangnya ia telat berkunjung ke sini, dan sama sekali tidak membawa apa-apa sekarang ini.
"Zahra anak baik."
Erwin menoleh saat Bu Anti membuka suaranya. Wanita paruh baya itu terlihat tersenyum saat melihat anak-anak menarik Zahra untuk bermain bersama mereka.
"Saya menemukan bayi Zahra tergletak tak berdaya di depan gerbang panti. Dia dibuang oleh ibu kandungnya, mungkin, dia hadir karena hasil dari hubungan pergaulan bebas dari kedua orangtuanya."
Erwin mencermati cerita Bu Anti dengan seksama. Ada rasa iba yang muncul di hatinya.
"Zahra tumbuh di dalam keluarga yang bernasib sama dengannya. Makannya dia sangat menyayangi teman-temannya, baik yang masih kecil maupun yang seumuran." Bu Anti menghela napas.
"Sampai pada akhirnya kami kehilangan para donatur yang satu-persatu mulai berhenti menyumbangkan hartanya kepada kami, membuat anak-anak di panti ini tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya. Saat itu ayah angkat Zahra datang dan meminta seluruh anak-anak panti untuk ikut dengannya. Tapi saya menolak mentah-mentah, karena saya curiga kalau ayah angkat Zahra adalah salah satu dari komplotan perdagangan manusia."
"Dia sedikit memaksa, saya sempat cekcok dengan Ayah angkat Zahra. Bahkan Ayah angkat Zahra mengancam akan menggusur panti asuhan ini jika tidak menyerahkan semua anak-anak panti dengan alasan panti asuhan ini sudah tidak layak untuk dihuni. Saya akhirnya kalah adu mulut. Saya memohon agar jangan membawa semua anak-anak panti. Ayah angkat Zahra akhirnya menyatakan kalau dia ingin mengadopsi Zahra dan kedua temannya yang waktu itu masih kelas 3 SMA. Aneh saja, bagaimana mungkin seorang yang sudah berumur mau mengadopsi anak gadis yang sudah menginjak masa remaja kalau tidak punya niatan yang aneh-aneh."
"Saya kembali menolak. Namun Zahra dengan lantangnya mengiyakan tawaran itu. Demi teman-temannya di panti. Akhirnya Zahra dan kedua temannya diboyong oleh Ayah angkat Zahra untuk diadopsi. Tapi, ternyata…" Bu Anti menangis.
Erwin hanya terdiam dengan tangan yang terkepal dingin.
"Ayah angkat Zahra menawarkan Zahra, Vina, dan Sari kepada para pejabat untuk menjadi selingkuhan mereka atau istri gelap mereka, dengan imbalan setoran uang perbulan kepada Ayah angkat Zahra."
"Vina sudah berhasil diboyong oleh anggota DPR, dan Sari menjadi istri simpanan seorang Pilot. Sementara Zahra belum juga mendapat tawaran dari klien b***t Ayah angkat Zahra. Sehingga Zahra dijadikan babu berbulan-bulan dan akhirnya dipaksa menjadi kupu-kupu malam untuk mengalirkan pundi-pundi uang untuk mereka."
Erwin terhenyak, hatinya seperti tersentil mendengar cerita itu. "Tapi Zahra selalu bilang ke saya, kalau Ayah angkatnya membesarkan Zahra dengan penuh kasih sayang sehingga Zahra ingin sekali membahagiakan Ayah angkatnya untuk balas budi?"
Bu Anti mengambil tissue di sakunya untuk mengelapi hidungnya yang memerah. "Zahra juga selalu bilang begitu ke saya. Tapi saya tau kalau Zahra berbohong. Menurut cerita dari Vina, salah satu teman Zahra yang juga diadopsi oleh Ayah angkat Zahra. Kalau dia mengancam akan menculik anak-anak panti jika Zahra, Vina, dan Sari ngomong yang aneh-aneh kepada saya."
"Karena Vina sekarang sudah hidup enak bersama DPR, akhirnya ia mau berterus terang kepada saya. Mungkin kamu juga mendapat surat perjanjian senada saat membeli Zahra. Saya rasa kamu cukup paham dengan cerita ini."
"Maaf…" Bu Anti menggigit bibir bawahnya. "Saya berbicara seperti ini karena saya ingin kamu menjaga Zahra baik-baik." Bu Anti menepuk-nepuk pundak Erwin yang masih terdiam dengan tatapan kosong.
Erwin melirik ke arah jam tangannya. Kemudian mendongak menatap Bu Anti. "Saya mau keluar sebentar, Bu, bilang sama Zahra saya akan segera kembali."
Bu Anti mengangguk sembari mengamati Erwin yang akan berlalu dari hadapannya. Bu Anti yakin Erwin adalah laki-laki yang baik.
***
Erwin sudah mengambil uang satu miliyar dari dalam tabungannya. Ia berniat untuk memandikan Ayah angkat Zahra dengan uang tersebut.
Brugg…
Erwin menghempaskan koper kecil berisi uang tersebut ke atas meja. Tak apa jika uang tabungannya terkuras separuh, asalkan dia bisa hidup tenang bersama Zahra.
"Saya ingin anda berhenti mengusik hidup Zahra, hentikan ancaman-ancaman yang anda berikan kepada Zahra. Dan, biarkan seluruh anak-anak panti hidup dengan tenang."
Ayah angkat Zahra terpukau saat melihat isi di dalam koper tersebut. "Gampang, itu bisa diatur."
"Saya tidak akan segan-segan melaporkan anda ke polisi, jika anda melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada anak-anak panti."
Ayah Zahra terkekeh. "Ya, ya, ya, baik, lah."
Erwin beranjak dari duduknya. "Semoga hidup anda menyenangkan."
Bersambung…