Mama Tiriku Mirip Nissa Sabyan

1528 Words
Jujur. Mungkin jika waktu bisa diputar kembali, Erwin lebih suka bertengkar dengan Viola daripada harus berpisah seperti ini. Tapi ... nasi sudah menjadi bubur. Meskipun dia bisa kembali pada Viola pun rasanya Erwin akan tetap mengeluh. Mungkin sudah saatnya untuk merelakan. Sudah saatnya pula menjalani takdir yang sudah digariskan. Walaupun rasa sedih karena kehilangan itu masih menutupi kehidupan Erwin dari warna-warni keindahan dunia. Sekarang, di tempat ini. Tempat di mana kini dirinya tinggal. Tempat yang sederhana, kontrakan kecil berukuran sedang dengan segala kesederhanaan, jauh berbeda dari kemewahan yang selalu Erwin rasakan selama hidup bersama Viola. Akan menjadi awal baru bagi kehidupan Erwin selanjutnya. "Kamu masih muda, kalau kamu mau cari pasangan baru yang mungkin bisa membuatmu lebih bahagia tinggalkan saja aku," ucap Erwin sambil menyesap kopi s**u yang baru saja dibuatkan Zahra. Laki-laki itu sedang duduk di kursi ruang tamu dengan pakaian santai berupa kaos oblong abu-abu dan juga celana pendek, sangat berbeda dengan Erwin biasanya yang pagi-pagi seperti ini selalu sudah rapi dengan jas kantornya. Zahra yang masih memegang nampan menunduk di hadapan Erwin. "Kalau Mas ingin kita pisah karena Mas jijik sama aku, aku akan pergi. Tapi kalau Mas ingin kita pisah karena Mas merasa nggak bisa ngebahagiain aku, aku akan tetap di sini." Erwin terbelalak kemudian menatap Zahra dengan wajah sendu. "Mungkin aku masih menjadi wanita menjijikan di tempat itu, andai saja Mas enggak datang untuk membeliku dan akhirnya menikahiku." Zahra meneguk ludahnya dengan susah payah. "Mungkin aku sudah mati. Mungkin... jika saja Mas Erwin tidak menyelamatkan aku dari kebakaran... ah, kenapa aku harus pergi ninggalin kamu Mas, istri macam apa aku yang ninggalin orang yang sudah merubah hidupku yang tadinya sangat hina menjadi terhormat?" Erwin masih terbelalak mendengar penuturan Zahra. "Sekarang aku tidak punya apa-apa lagi, Ra," lirih Erwin lemah. "Kamu punya aku, Mas, kita berdua berjuang sama-sama. Dan, jangan memaksa aku menjadi penerus Mbak Viola, yang menyia-nyiakan laki-laki berharga seperti kamu, Mas." Erwin berdiri kemudian memeluk Zahra erat. "Besok aku akan cari kerjaan," ucap Erwin dengan suara serak. "Aku besok juga akan mencari kerjaan, Mas." "Tidak usah." "Kenapa?" Zahra melepaskan pelukannya kemudian menatap Erwin dengan dahi mengernyit. "Berat, kamu nggak akan kuat. Biar Dilan saja." Erwin tersenyum. Ya, tersenyum di tengah-tengah kesedihannya. Zahra mendengus kemudian mencubit lengan Erwin. "Dilan punya Milea, kalau Mas Erwin, kan, punya aku." "Terus?" Erwin terkekeh geli merasakan cubitan dari tangan mungil Zahra. "Hmm, ya, harusnya kita berkerjasama mengejar kebahagiaan kita, dong, harus dapet, nggak boleh enggak. Nggak usah nglarang aku kerja, karena aku mau bantu, Mas." Zahra melipat kedua tangannya di depan d**a. Laki-laki itu kembali menyunggingkan seulas senyum. Erwin bersyukur, masih punya Zahra di hidupnya. "Walaupun, umur kita terpaut 6 tahun?" "Yang penting Syekh Puji sama Ulfa masih langgeng." Erwin terkekeh. "Dan, kamu berharap kehidupan kita bakalan harmonis kayak mereka?" "Enggak!" jawab Zahra lantang dengan tatapan tajam. "Kok, enggak?" Erwin mengernyit. Zahra masih menatap Erwin dengan tatapan tajam, rambut panjangnya tergerai menutupi sebelah matanya. "Kita harus lebih bahagia dari mereka." Erwin sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi Zahra yang begitu cepat, gadis manis itu sekarang tersenyum. "Sekarang aku jadi tau sifat asli kamu yang sebenarnya." Erwin menyambar gemas tubuh Zahra lalu menggendongnya ala bridal style. Zahra memekik kencang karena terkejut dengan tindakan Erwin yang tiba-tiba. "Kamu mau bawa aku ke mana, Mas?" pekik Zahra digendongin Erwin. Erwin menyeringai. "Aku gemes, mau nyeburin kamu ke empang." "What???" "Hehe... bercanda." Erwin menjatuhkan tubuh mungil Zahra ke kasur. *** Erwin dan Zahra sudah duduk di dalam taksi menuju ke mension keluarga Viola, tempat di mana pesta pernikahan Viola dan Rustam dilangsungkan. Erwin juga ingin bertemu dengan Rena, ia begitu rindu dengan jagoan kecilnya itu. "Ihh, kenapa, sih, Mas, bengong lagi?" Zahra memukul pundak Erwin yang sedari tadi terdiam dengan tatapan kosong. "Ah? Enggak." Erwin menggeleng kikuk. "Kamu sedih, ya?" Erwin hanya terdiam, bingung mau menjawab apa. "Ya udah, kita pulang aja, nggak usah ke sana." "Eh, Jangan!" sergah Erwin. "Aku ingin ketemu Rena." "Tapi, kamu kelihatannya sedih banget, Mas?" Erwin menghela napas. "Aku hanya bingung mikirin uang untuk orangtua kamu yang selalu minta tagihan bulanan kayak kredit motor." Erwin beralasan. Karena sejujurnya ia tidak kuat melihat mantan istrinya akan resmi menjadi milik orang lain. Zahra menyadari alasan Erwin. Orangtua angkatnya memang kejam. Mungkin dulu, saat Erwin masih menjadi CEO di perusahaannya Viola, 50 juta perbulan terasa enteng. Tapi sekarang, uang segitu akan sulit didapatkan di tengah-tengah kebutuhan hidupnya yang terbilang susah. "Nanti kita negosiasi harga sama Ayah." "Emang kalian nikah pakai sistem kreditan, ya, kok ada tagihan perbulannya?" sahut sopir taxi yang ternyata sedari tadi menguping perbincangan Erwin dan Zahra. Sontak saja Erwin dan Zahra menoleh ke depan dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Iya, Pak, dulu waktu nikah mas kawinnya nggak dibayar kontan." Zahra terkikik. Erwin hanya melongo mendengar lelucon receh Zahra. Ia kini jadi mengerti sifat asli Zahra. Karena sebelumnya gadis itu selalu terlihat canggung di depannya. *** Pesta pernikahan tampak begitu mewah, walaupun tamu undangan hanya dihadiri keluarga dan juga para karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan Dendy, ayah Viola. Semua tamu undangan yang sebagian besar adalah karyawan-karyawan perusahaan langsung berbondong-bondong menghampiri Erwin dan Zahra, tatkala kedua pasangan itu melintas di hadapan mereka. "Gimana kabarnya, Pak?" "Wah, saya kangen banget sama senyuman Bapak." "Pak, kapan kita bekerja sama lagi?" Berondongan pertanyaan langsung ditujukan kepada Erwin selaku mantan boss mereka yang ramah dan bijaksana. Erwin hanya membalas pertanyaan mereka dengan seulas senyum. Erwin berhenti melangkah, tubuhnya membeku seketika melihat perempuan memakai gaun pengantin berwarna putih, digandeng oleh pria berjas hitam di depan sana. Ada rasa tidak iklash yang menggelayuti hatinya. "Mas Erwin?" panggil Zahra yang langkahnya sudah meninggalkan Erwin di belakang. Erwin terdiam. "Ayo, Mas!" Zahra yang gemas dengan Erwin langsung menarik laki-laki tersebut agar melanjutkan langkahnya. "Papa!!!" teriak Rena yang tiba-tiba muncul dibalik kaki kakeknya. Gadis kecil itu berhambur hendak memeluk Erwin. Erwin menangkap Rena yang berlari ke arahnya lalu mengangkat tubuhnya tinggi ke udara sebelum jatuh kepelukannya. "Rena kangen," ucap Rena menangis sesegukkan digendongan Erwin. "Papa lebih kangen." "Terus kenapa Papa nggak pernah jengukin Rena satu tahun?" Erwin terkekeh. "Rena, Papa cuma nggak ngliat kamu selama satu bulan." "Tapi, rasanya kayak satu tahun." Rena menggeliyat manja digendongan Erwin. "Ya udah Papa janji, bakalan sering-sering nengokin kamu." Erwin mengecup pipi Rena lalu tersenyum. Erwin menatap Rustam yang tersenyum menyapa para tamu undangan. "Kenapa, sih, Pa, sekarang kita tidak satu rumah lagi?" tanya Rena yang tidak mendapat respon dari Erwin. Erwin masih fokus menatap Rustam, ada rasa iri yang menggelayuti hatinya ketika melihat Viola lebih terlihat bahagia daripada bersama dirinya dulu. "Pa!" "Eh, iya," kikuk Erwin kemudian kembali menatap Rena. "Papa barumu keren," lanjut Erwin mengacungkan jempolnya. Rena memutar bola matanya. "Sekeren-kerennya Papa baru Rena, masih hebatan Papa original Rena," dengus Rena dengan suara cadelnya. "Kamu sekarang, kan, punya Papa dua sama Mama dua." Rena beralih menatap Zahra yang tersenyum ke arahnya. Ini pertama kalinya Rena bertemu Zahra. "Ini Bibi-Mama?" tanya Rena polos. Zahra terkikik. "Kok, ada Bibinya?" "Kalau Rena panggil Mama, kemudaan, deh. Kalau Rena panggil Bibi, tapi Bibi, kan, Mama muda Rena. Jadi, Rena panggil Bibi-Mama aja, ya?" Erwin tersenyum kemudian mencium puncak kepala Rena. "Terserah kamu, Sayang." "Mau Mama gendong?" tawar Zahra kepada Rena. "Emang Bibi-Mama kuat gendong Rena?" Zahra terkikik. "Gini-gini Mama tenaganya kayak badak." Zahra meraih tubuh Rena digendongan Erwin. "Aku suka Bibi-Mama pakai baju muslimah kayak gini. Hmm, mirip Nissa Sabyan." Rena mengacungkan jempolnya. "Nanti kalau kamu udah lulus Sekolah Dasar. Kamu harus pakai hijab." Erwin mengacak-ngacak rambut Rena. "Erwin Zamzami." Erwin menoleh ketika mendengar sebuah suara yang memanggil namanya. Sedetik kemudian Erwin tersenyum menyambut Papa mertuanya, Dendy. "Apa kabar kamu?" "Baik, Pak." Erwin mencium tangan Dendy. "Kakek, aku digendong Nissa Sabyan." Rena tersenyum digendongan Zahra. Dendy membalas senyuman Zahra, kemudian kembali menatap Erwin. "Sebelum acara dimulai, saya ingin bicara sebentar sama kamu, Win." Erwin dan Dendy pun berjalan menuju ke salah satu tempat duduk kosong paling ujung. "Bagaimana jika kamu kembali menjadi CEO di perusahaan saya." Ayah Viola langsung memulai pembicaraan. Erwin tersenyum. "Sepertinya Rustam lebih pantas daripada saya." "Apa kamu merasa tidak pantas menjadi pengelola perusahaan saya karena kamu bukan lagi menjadi suami Viola?" Dendy menaikkan sebelah alisnya. "Erwin, kamu sudah saya anggap menjadi anak sendiri." Erwin menghela napas. "Rasanya saya tidak pantas, Pak." Erwin menggeleng pelan. "Saya ragu menjadikan Rustam sebagai penerus perusahaan keluarga saya." "Saya yakin jika Rustam akan bertanggung jawab, demi keluarga kecilnya." Dendy termenung sejenak kemudian menghela napas lalu mengusap-ngusap pundak Erwin. "Saya akan merindukan orang seperti kamu, Erwin." "Seperti kata Bapak. Saya akan selalu menjadi anak Bapak." Erwin merasa tidak enak hati karena wajah Dendy berubah menjadi murung. Sesaat kemudian pesta pun di mulai. Para tamu undangan mengantri menyalami kedua mempelai. Anna, ibu Viola, menangis saat menatap Erwin, sementara Erwin terlihat canggung saat bersalaman dengan Viola. Acara dilanjutkan dengan pengumuman serah jabatan untuk Rustam yang akan menjadi pengelola separuh bisnis yang dijalankan oleh Dendy. Itulah akhir dari perselingkuhan, dan penghianatan, yaitu merelakan. Merelakan hidupnya hancur, juga merelakan orang yang ia cintai bersama laki-laki lain. Ya, detik itu juga Erwin harus siap merelakan Viola. Demi kebahagiaan Viola. Erwin merasa bersalah karena pernah menjadi tembok penghalang kebahagiaan Viola. Hingga Viola harus terjerumus pada lumbung dosa perzinahan atas nama selingkuh. Lalu siapa yang pantas disebut korban? Tentu saja Rena. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD