"Papa!!!" teriak Rena setelah turun dari panggung, melompat untuk memeluk Erwin.
Erwin meringis karena luka bakarnya tersenggol, tapi laki-laki itu tetap memaksakan seulas senyum.
"Padahal Rena udah nebak lho, kalau Papa nggak dateng," Rena mengeratkan pelukannya. "Eh, ternyata Papa dateng."
"Sekarang Papa tau, kan, kalau Rena pinter?" lanjut Rena sambil melepas pelukannya. Kemudian menatap Erwin dengan wajah ceria.
"Tapi kenapa wajah Papa banyak lukanya? Sampai diperban kayak gitu?"
"Papa nggak apa-apa, Sayang," Erwin mengelus-elus pipi Rena.
"Mas Erwin..."
Suara itu membuat Erwin menoleh ke belakang dan mendapati Viola sudah berdiri dengan tatapan nanar.
Viola tidak tau harus merespon bagaimana. Apakah dia akan pura-pura tidak tau tentang luka bakar di wajah Erwin. Atau... ahh, Viola bingung harus berkata apa pada Erwin, walau sejujurnya hatinya terasa lega karena Erwin selamat.
Erwin beranjak sambil menggendong Rena, lalu menatap Viola sambil tersenyum.
"Kamu habis kecelakaan, Mas?" tanya Viola kikuk. Walaupun dia tau kalau Erwin begitu karena menyalamatkan Zahra dari kebakaran.
"Nanti aku ceritain." Erwin berjalan menuju ke tempat duduk yang kosong di ujung sana, diikuti Viola yang mengekor di belakangnya. Menyaksikan aksi teman-teman Rena yang tampil di atas panggung.
***
"Aku nylametin Zahra dari kebakaran," Erwin meringis saat mencopot kemejanya, memperlihatkan tubuhnya yang dipenuhi dengan bekas luka bakar, namun tidak terlalu serius.
Viola yang duduk di atas ranjang ingin menjerit menatap luka di tubuh Erwin.
"Zahra pingsan, untung aku masih bisa dobrak pintunya dan membawa Zahra ke rofftoop untuk dijemput oleh hallykopter."
Viola hanya terdiam. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat Erwin curiga kalau dirinya lah dalang dibalik semua ini. Istri macam apa dia?
"Lalu, bagaimana keadaan Zahra sekarang?" tanya Viola, walaupun hatinya terasa perih menyebut nama itu. Apa mungkin dia cemburu?
Erwin menghela napas. "Dia di rumah sakit, keadaannya mulai membaik, dia hanya pingsan karena sesak napas."
Viola terdiam, tidak tau harus bagaimana sekarang. Rasa kehilangan yang ia rasakan kemarin sudah terobati. Viola jadi ingin memperbaiki hubungannya dengan Erwin, hanya saja ada satu hal yang membuat Viola menjadi ragu-ragu, mungkin karena teringat bahwa sekarang Erwin sudah beristri dua membuat hati Viola terasa sakit.
"Maafkan aku." Erwin menunduk. Membuat Viola langsung menoleh.
"Maafkan aku, karena aku nikah lagi. Maafkan aku, karena aku tidak bisa melindungimu sebagai orang yang aku cintai, padahal aku bisa melindungi orang lain."
Viola terdiam.
Erwin menghela napas. "Maafkan aku..." ucapnya lirih.
"Aku baik-baik saja, Zahra memang butuh pertolongan dan aku mengerti itu."
Sejenak Erwin tersenyum miris. "Membiarkanmu selingkuh dengan Rustam adalah bencana untukku di masa depan."
"Ma... maksudnya?" tanya Viola terbata.
"Aku sayang sama kamu, Vi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadikanmu pertama dan terakhir dalam hidupku. Tapi, kenyataannya? Aku malah nikah lagi." Erwin menatap Viola dengan tatapan sendu.
"Mungkin itu semua karena ulahku, aku yang salah, Mas. Jadi, aku yang akan menanggung semua dosa-dosa ini." Viola tampak mengakui kesalahannya.
"Tidak, aku adalah imammu. Jadi, aku yang menanggung semuanya. Jika nanti kamu masuk neraka karena kesalahanmu selingkuh dengan Rustam. Tentu saja aku akan ikut." Lebih tepatnya terseret, tambah Erwin dalam hati.
Viola terdiam seribu bahasa. Ia kini berada di tengah-tengah lautan bersama perahu kayu yang tak berdaya. Tinggal menunggu ombak untuk menghancurkannya. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Erwin, tapi sayangnya Erwin sudah punya rumah lagi untuk pulang, akankah hal itu bisa membuat hubungan mereka harmonis? Tentu tidak, rasa cemburu pasti akan menggelayuti. Sedangkan, di sisi lain Viola ingin hidup bersama Rustam, namun jika kata cerai belum terlontar dari bibir Erwin, apakah Viola akan tahan hidup di dalam dunia penuh dosa.
"Aku boleh tanya sesuatu nggak, Mas?" tanya Viola ragu-ragu.
"Apa?"
"Kalau seandainya orangtuaku ngizinin kita cerai, kamu bakalan ceraiin aku nggak?"
"Hmm, mungkin iya, walaupun berat." Erwin tersentak saat Viola memegang tangannya.
"Aku sadar, selama ini aku hanya menyiksamu. Kehadiranku hanya menghambat kebahagiaanmu. Aku memang laki-laki bodoh, membuatmu menderita karena ikatan ini. Sekarang aku sadar kebodohanku." Erwin tersenyum getir.
"Kamu mau ceraiin aku?"
"Asalkan kamu bahagia," lirih Erwin mengalihkan pandangannya ke arah lain, menyembunyikan air matanya agar tidak diketahui oleh Viola.
"Maafkan aku, Mas." Viola merangkul tubuh Erwin.
Cklekkk...
"Ihhhh, tumben Papa sama Mama romantis. Cieee..." ucap Rena setelah tiba-tiba masuk ke kamar mereka.
Ini adalah keromantisan Papa-Mamamu yang bisa kamu lihat untuk terakhir kalinya, Nak, gumam Erwin dan Viola.
***
"Erwin!"
Erwin berhenti melangkah saat Ibu mertuanya memanggil namanya.
"Kamu masih bisa panggil saya Ibu," ucap Ibu Viola dengan air mata yang sudah menggenangi pipinya.
Erwin tersenyum kemudian berbalik badan sambil menarik kopernya.
Rena meronta-ronta sambil menangis, menggigit tangan Viola yang sedari tadi mengurung tubuhnya. Viola terpekik, hingga Rena berhasil lolos dan berlari menghampiri Erwin.
"Papa!!!" teriak Rena yang membuat Erwin berhenti melangkah dan mematung di tempatnya.
Rena berlari menghampiri Erwin sambil menangis terisak-isak. "Papa jangan pergi..."
Erwin membungkuk dan memeluk Rena erat-erat.
"Rena nggak mau diledekin temen-temen karena Rena nggak punya Papa lagi."
Erwin ikut meneteskan air mata karena merasakan kesedihan yang dialami oleh putri semata wayangnya. Sejak talak pertama hingga sidang terakhir perceraian dalam proses yang cukup lama. Rena menjalani hari-harinya dengan menangis, sampai pada detik ini, pada detik paling mengerikan, di mana ia harus melihat Ayahnya benar-benar berpisah dengan Ibunya.
"Papa akan sering-sering datang untuk nengokin kamu." Erwin menarik tubuh Rena semakin dalam kepelukannya.
"Kenapa, sih, Papa sama Mama pisah?"
"Karena Papa pengen Mamamu bahagia," lirih Erwin.
"Tapi Rena sekarang nggak punya Papa," ucap Rena sesenggukan.
"Mamamu udah nyiapin Papa baru yang lebih keren daripada Papa."
"Sana kamu kembali ke Mama kamu. Jangan ikut Papa, nanti hidupmu susah. Tenang saja, Papa bakalan tiap hari nengok kamu." Erwin mengusap-usap pipi putri kecilnya itu.
Erwin pernah menyuruh beberapa pesuruhnya untuk memata-matai Viola dan juga Rustam. Tentu saja Erwin tau upaya pembunuhan yang dilakukan keduanya. Karena itu Erwin merengek-rengek kepada mertuanya untuk menyetujui perceraian. Dan mempercayai fakta, bahwa ia adalah penyakit untuk hidup Viola.
Bersambung...