Ayah Dimana?

1520 Words
Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang hendak menyambar tubuh Erwin. "Awas, Pak!!!" Bruuggg… Erwin terlempar ke rerumputan setelah salah satu warga menarik tubuhnya yang hampir tertabrak oleh mobil yang melaju kencang itu. "Bapak tidak apa-apa?" "Sial sekali, sih, nasib Bapak ini. Tadi mobilnya nabrak pohon, sekarang hampir mati lagi ketabrak mobil." Erwin mengusap-ngusap wajahnya shock sembari beranjak dari posisinya yang terjerembab di rerumputan. Di bantu oleh beberapa warga. Refan yang melihat kejadian itu langsung turun dari mobilnya. "Ya ampun?" Refan terlihat panik. "Kita harus buru-buru ke apartement Zahra," ucap Erwin yang langsung dibopong oleh Refan masuk ke mobil. Refan memang adalah orang yang paling dipercaya Erwin, Refan selalu tau tentang Erwin. Bahkan saat Erwin menikah lagi dengan Zahra, itu adalah ide yang didapat dari Refan. "Memangnya kenapa Bapak buru-buru ke sana?" tanya Refan sambil fokus mengemudi mobilnya. "Dapurnya kebakaran." Erwin mengusap-usap wajahnya gusar. "Bapak tenang dulu, tidak perlu terburu-buru sampai-sampai mobil Bapak nabrak pohon." "Astagfirullah, semua di luar kendali saya, Fan." Erwin menghela napas. "Saya tidak tau kenapa remnya blong, sepertinya ada orang yang berniat membunuh saya," lanjut Erwin dengan suara lemah dan lemas. "Termasuk orang yang hampir nabrak Bapak tadi?" "Mungkin," angguk Erwin sambil menghempaskan kepalanya ke kursi mobil yang terbuat dari busa itu. Teriakan histeris, dan juga kepulan asap tebal membuat suasana semakin mencekam. Sudah banyak orang yang bergerumul di depan gedung apartemen yang ditinggali Zahra. Dua mobil pemadam kebakaran mencoba memadamkan kobaran api yang melalap gedung itu. Erwin dan Refan mencari keberadaan Zahra di kerumunan orang yang panik itu, namun sosok itu tidak ada di sana. Erwin juga sudah beberapa kali menelpon Zahra, tapi ponselnya sudah tidak aktif. "Apa ada penghuni yang masih berada di dalam?" tanya salah satu petugas pemadam kebakaran. "Sepertinya semua penghuni sudah keluar, kecuali penghuni kamar nomor 129. Saya tidak tau karena kebakarannya berasal dari kamar itu." Erwin langsung menoleh. "Apa kita bisa mengeceknya?" "Oh, tidak. Itu sangat beresiko, karena di dalam apinya sudah membesar." Erwin sudah mulai gemetar, membayangkan nasib Zahra di dalam sana. "Tenang, Pak." Refan memegang pundak Erwin. Namun Erwin malah menepisnya, lalu berlari memasuki apartement yang gedung atasnya sudah dipenuhi dengan asap. "Pak Erwin!" "Tuan, jangan masuk!!!" "Itu berbahaya!!!" Erwin tidak peduli dengan orang-orang yang meneriakinya. Lelaki yang masih mengenakan jas kantornya itu menerobos masuk ke apartement. Liftnya rusak, terpaksa Erwin harus berlari lewat tangga. Refan mengacak-ngacak rambutnya frustasi melihat Erwin nekad masuk ke dalam gedung. Matanya melirik ke arah Rustam, selingkuhan Viola, yang ternyata juga berada di situ dengan senyum liciknya. "Bagus, semoga dia mati bersama istri mudanya di sana," gumam Rustam yang masih bisa didengar oleh Refan. Refan mengepalkan tangannya geram. Andai saja situasinya tidak genting, mungkin Refan sudah menghajar Rustam detik itu juga. Refan yakin Rustam adalah dalang di balik rentetan bahaya yang dialami Erwin. Refan menelpon seseorang dengan pandangan yang masih belum lepas dari gedung itu. Ia khawatir dengan keselamatan bosnya yang baik hati tersebut. "Hellykopter, Tuan Erwin berada dalam masalah." *** "Apa? Mas Erwin hangus terbakar?" Viola begitu shock setelah mendapatkan kabar dari Rustam. "Kenapa kamu kaget begitu, Sayang, bukannya ini yang kita inginkan," ucap Rustam di seberang sana, dengan nada yang begitu tenang. Entah kenapa Viola merasa sedih, padahal ia yang merencanakan ini semua. Viola dan Rustam lah yang menyuruh beberapa orang untuk mencampurkan racun ke minuman Erwin, merusak rem mobil Erwin, berupaya menabrak Erwin, sampai mengkonsletkan aliran listrik yang mengarah ke kamar Zahra hingga terbakar. Tapi, kenapa Viola tampak tidak tenang. "Sayang?" panggil Rustam di seberang sana. "Ah, iya," jawab Viola kikuk, terbangun dari lamunannya. "Kamu nggak seneng?" "Eh, ehmm… aku… iya, aku seneng, kok," jawab Viola terpaksa. "Ya udah, kamu pura-pura tidak tau saja, biar polisi yang mengabari kedua orangtua kamu, dan juga orangtua Erwin. Udah, ya, aku matiin dulu teleponnya, love you." Tut. Viola menghela napas gusar, sambil mengusap-usap wajahnya. Haruskah dia membunuh Erwin, hanya karena ingin bahagia bersama Rustam? Pantaskah ia melakukan ini kepada Erwin, laki-laki yang selalu bersikap lembut kepadanya? "Mama…" Rena berlari menghampiri Viola yang duduk di sofa ruang keluarga. "Apa, Sayang?" tanya Viola menahan tubuh Rena yang melompat ke pangkuannya. Rena mengenakan piama dengan rambut yang dikuncir ekor kuda, terlihat begitu imut, mirip seperti Erwin. Tanpa sadar Viola kembali teringat dengan nasib Erwin. Bagaimana ekspresi Rena nanti jika tau ayahnya sudah meninggal. Viola tidak sanggup membayangkan itu. "Besok, Mama sama Papa datang, ya, ke sekolah, Rena ikut lomba nyanyi lho," ucap Rena manja sambil memainkan rambut panjang Viola. "Kok, mendadak banget?" "Biar supreise, Rena lupa-lupa terus mau ngomong," Rena terkikik. "Pokoknya Mama sama Papa harus dateng. Semua Mama sama Papa temen-temen Rena juga dateng. Ini sebenarnya sama ngrayain ulang tahun sekolah, ada banyak lomba, tapi Rena cuma ikut lomba nyanyi." "Mama aja, ya, yang datang, Papamu lagi ada urusan keluar kota soalnya." Viola memejamkan matanya pedih, harus membohongi Rena. "Pokoknya Papa juga harus datang, TITIK." Rena cemberut. "Tapi…" Viola meneguk ludahnya dengan susah payah. "Emangnya kamu mau nyanyi lagu apa?" "Rena mau nyanyi lagu Ibu kita Kartini. Rena nggak semangat kalau nggak ada Mama sama Papa." "Iya besok pasti dateng, kamu tidur dulu, ya, udah malem." Viola mengusap-usap puncak kepala Rena lalu mengecupnya. Rena mengangguk. "Awas kalau Mama sama Papa nggak dateng," ancam Rena sebelum berlari menuju ke kamarnya. Semalaman suntuk Viola tidak bisa tidur, gelisah memikirkan nasib Erwin. Entah kenapa ia begitu khawatir, setidaknya ia ingin tau kabar terakhir tentang Erwin. Tapi Rena? Arrggghhh… Viola begitu pusing. *** Dengan mata yang membengkak Viola menonton pertunjukkan yang ditampilkan di sekolah Rena. Sebentar lagi lomba bernyanyi akan segera di mulai, itu artinya Rena akan tampil di atas panggung. Rena mendongak menatap ibunya. "Kok, Papa belum datang, sih, Ma?" "Udah kamu siap-siap…" "Rena nggak pengen tampil kalau Papa nggak dateng," rengek Rena sambil memukul-mukul tangan Viola. " Rena pengen Papa liat kalau Rena itu pinter, Ma." "Sstttt… jangan berisik, ah," Viola mencoba menenangkan Rena, walaupun hatinya sendiri tidak tenang. Ia juga merasa sedih karena sebentar lagi pasti akan ada kabar duka dari Erwin. Tentu saja hal itu akan membuat Rena semakin hancur. "Ma, Papa mana, sih, Ma?" Rena menghentak-hentakkan kakinya ingin menangis dipangkuan Viola. Viola mendongak sambil memejamkan mata. Kesedihan mulai menggrogoti hatinya. "RENATA ZIVILIA." Suara dari microfon itu membuat Rena menatap Viola dengan mata berkaca-kaca. "Papa beneran nggak dateng?" Viola tersenyum, sambil mengusap-ngusap wajah Rena yang murung. "Nanti Mama rekam, biar Papa bisa lihat rekaman kamu nyanyi." "Tapi Rena pengen Papa dateng." "Rena. Kamu harus semangat, Papa pasti seneng, kok, liat rekaman kamu di atas panggung." Papamu sudah tenang di alam sana, lanjut Viola dalam hati. "RENATA ZIVILIA!!!" Suara itu kembali menggema, membuat seluruh orang celingak-celinguk mencari pemilik nama yang belum juga maju ke depan. "Cepetan, Sayang, ditungguin gurunya itu." Viola menghapus air mata Rena yang menatap ke arahnya. Rena mendesis, kemudian berjalan menuju panggung. Sia-sia saja usahanya selama ini, diam-diam berlatih bernyanyi tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, hanya untuk memberi suprise. Karena nyatanya, ayahnya tidak hadir menjadi salah satu penonton yang bertepuk tangan atas penampilannya. "Rena kamu udah siap?" tanya Bu Maudy tersenyum ke arah Rena. Rena hanya terdiam. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, melihat semua teman-temannya duduk bersama ayah dan ibunya. Bola matanya jatuh pada sosok ibunya yang mengacungkan jempolnya memberi semangat. "Rena ayo cepetan nyanyi," pinta Bu Maudy, yang sudah tidak sabar menunggu penampilan Rena. Rena memberengut, ia sudah tidak punya hasrat lagi untuk bernyanyi karena ayahnya tidak hadir. Senyum di bibir Viola memudar melihat wajah masam putri kesayangannya itu. Rasa bersalah mulai menggrogoti hatinya. Benar kata mas Erwin, perceraian hanya akan membunuh senyuman yang selalu terlukis indah di wajah Rena. Rena menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia lebih baik menangis di kamar mandi daripada harus bernyanyi. Ia sudah tidak punya semangat lagi. "Rena… ayo!" Rena tak menggubris ucapan Ibu guru. Semua penonton juga tampak mendengus karena Rena tak kunjung bernyanyi. Rena berniat untuk turun dari panggung, karena percuma saja ia menampilkan yang terbaik kalau ayahnya tidak menyaksikan suara indah dari buah hati kebanggaannya. Baru saja satu langkah Rena melangkah, tiba-tiba pintu aula terbuka menampilkan sosok gagah lelaki tampan mengenakan kemeja biru dongker yang dimasukkan ke celana, lengkap dengan dasi kupu-kupunya. Lelaki itu tampak ngos-ngosan karena terburu-buru. Wajahnya dibalut perban, tapi Rena tau betul kalau itu adalah sosok ayahnya. Wajah Rena yang tadinya murung berubah ceria. Gadis kecil itu tersenyum ketika melihat Erwin tersenyum manis ke arahnya. Viola sedikit terkejut saat melihat perubahan raut wajah Rena. Rena kembali berdiri di depan microfone, bersiap-siap bernyanyi. Viola kemudian menoleh ke arah objek yang membuat Rena berubah ceria. Mas Erwin? Viola tidak percaya, ketika melihat Erwin sudah berjongkok di dekat panggung menyaksikan aksi Rena. Rasa gelisah yang diderita Viola sejak tadi malam tiba-tiba memudar, Viola lega karena Erwin selamat. "Ibu kita Kartini, putri sejati… Putri Indonesia, harum namanya…" Suara merdu dari Rena membuat seluruh penonton terpukau, tak terkecuali Erwin, ayah yang sangat menyayangi anaknya lebih dari siapapun. "Ibu kita Kartini, pendekar bangsa… Pendekar kaumnya, untuk merdeka…" "Wahai Ibu kita Kartini, putri yang mulia… Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia… Bagi Indonesia…" Tepuk tangan meriah langsung menggema ke seluruh penjuru aula, tatkala Rena mengakhiri pertunjukkan. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD