Tujuh Cara Menurunkan Berat Badan Dengan Cepat. Tips Diet Tanpa Merasa Lapar. Dan berbagai artikel seputar diet Khansa baca dengan saksama. Perempuan itu mencari cara paling mudah dan tidak menyiksa hidupnya saat harus mengurangi makan.
Setelah membaca artikel satu-persatu yang mana isi di dalamnya menurut dia sama saja. Intinya sama. Mirip. Hanya beda penyampaian dan gaya bahasa penulis saja, Khansa membaca seluruh komentar serta testimoni pembaca.
Sayangnya, ada yang ujung-ujungnya jual suplemen diet dilengkapi dengan testi menjanjikan. Radit sudah wanti-wanti jangan untuk tidak menggunakan obat-obatan karena tidak baik untuk tubuh. Belum mulai, Khansa sudah mau menyerah, terlebih saat perempuan itu melihat menu sarapan yang disediakan Nina Suryani.
“Bu Nina gak tahu anaknya hari ini mulai diet?” Khansa sudah menyindir Sang Ibu.
Wisnu yang sedang mencelupkan roti bakar ke dalam segelas milo kontan berhenti. Antara mimpi atau kenyataan tidak bisa dia bedakan. Jadinya hanya nepuk-nepuk pipi kalau-kalau perkataan anaknya barusan bukanlah khayalannya saja.
“Semalam kan pesan telur rebus, sama salad sayuran. Sudah Mami sediakan, tenang aja. Ini sarapan yang di meja buat yang gak diet. Shasa jangan tergoda.”
Kan, bener, kan? Belum apa-apa godaannya udah luar biasa. Pengen rasanya Khansa bilang kalau dietnya mulai besok aja. Namun, sepertinya Radit tidak akan ngasih toleransi. Segelas jus buah tanpa gula rasanya begitu hambar, duh, kalau saja ditambah dengan gula dan krimer kental manis.
“Telan, Sha. Untuk mendapatkan sesuatu yang bagus itu kita harus berkorban. Jangan menyerah hanya karena liat Papi minum milo.”
“Iya,” jawabnya. Gak kuat dengan makanan lezat di meja makan gadis tambun itu memilih sarapan di dapur. Dua butir telur, jus sayur dan salad sayur adalah menu sarapan yang sudah dia pilih dan dibuatkan oleh Maminya.
Sekarang yang Khansa rasakan itu seperti seorang b***k yang melihat majikannya makan enak sementara dia harus menerima keadaan makan seadanya di pojokan dapur. Tidak terasa air matanya menetes, sedih tidak terkira.
Sore harinya, Khansa mulai melakukan rutinitas, rutinitas yang sama sekali tidak pernah dia lakukan belakangan ini. Olahraga. Ya Khansa berolahraga, bahkan Wisnu Wardana sang papi yang baru saja pulang kerja terheran-heran karenanya.
“Gak bakalan hujan angin, kan, Sha?”
Gadis itu hanya mendelik, lalu mengencangkan tali sepatu dan turun ke jalanan komplek. Mulai jalan santai mengitari perumahan yang berdiri megah di sekelilingnya.
“Duh, Neng Khansa, tumben amat nih jalan sore.”
“Iya, Pak.” Gadis itu menjawab ramah. Dia melanjutkan langkah, yang sebenarnya napasnya sudah terasa berat, dia lelah dan sesak. Kaki rasanya kesemutan.
Apalagi sepanjang jalan ada saja yang menyapa, ramah banget tapi pas Khansa menjauh mereka membicarakan Khansa. Dikiranya perempuan itu tidak mendengar. Salah satu contohnya Mbak Mi, yang ngontrak di Blok K, dia terang-terangan bilang, “percuma olahraga, gak akan bisa kurus dia, tuh.”
Atau ada juga yang berkomentar seperti ini, “Udah gede begini baru mikir olahraga, kemarin ke mana aja?”
Pokoknya Khansa sudah kena mental banget, untungnya dia selalu mengingat tujuan utama menurunkan berat badan. Siapa lagi kalau bukan Zyan Alex. Bicara soal Zyan, entah mengapa tiba-tiba itu orang muncul gitu aja. Bawa kantong sampah gede banget terus dibuang di bak sampah depan rumah dia dan rumah Pak Yono. Jadi, di komplek ini terdapat satu bak sampah karet ukuran besar per dua rumah.
“Bang Zyan!” panggil Khansa. Terengah, gadis itu mempercepat jalannya. Melihat Khansa mendekat, Zyan terlihat banget buru-buru meninggalkan tempat itu. Tapi, Khansa tak kalah cepat, dia berhasil mensejajarkan diri dengan Zyan.
“Bang Zyan buang sampah?”
“Iya, kenapa?” tanya Zyan.
“Aku gak salah liat, kan?”
“Ada apa dengan buang sampah sampai kamu heran begitu?” tanya Zyan.
“Masa Bang Zyan buang sampah.”
Zyan menatap Khansa dengan kesal, dia tidak sepenuhnya bisa lega karena terbebas dari fans kemarin. Ada fans menyebalkan si buruk rupa yang tidak tahu malu. Setidaknya begitulah pendapat Zyan mengenai Khansa kali ini.
“Saya juga manusia, memangnya gak boleh buang sampah?”
“Boleh, suami idaman baget.” Khansa senyum-senyum sambil bertingkah menggelikan, dia membayangkan rumah tangga impian di mana dia masak dan beresin rumah sementara Zyan membantunya membuang sampah.
“Jangan ngimpi!”
Suara gerbang yang ditarik paksa dan ditutup dengan kencang membuat Khansa sedikit terperanjat. Dia tidak tersinggung, ada kemajuan karena Zyan mau membalas sapaannya. Lelah karena olahraga bisa terobati dengan pertemuan singkat dengan Zyan Alex.
Hari pertama diet, Khansa sukses. Sukses lemas karena makan nasi pas makan siang saja, ditambah sore harus jalan keliling komplek. Perutnya meronta karena kelaparan minta makan. Minta nasi dengan martabak telor dan juga ayam goreng.
Menurut menu yang dia baca di panduan diet, sayur bening bagus untuk diet. Jadilah selai telur rebus, sayur bening adalah makanan pilihan lainnya yang Khansa jadikan menu diet.
Hari kedua, Khansa sarapan dua butir telur lagi, tapi karena belum sampai jam makan siang sudah kelaparan, pukul sepuluh dia sudah ngambil setangkup roti gandum yang dioles selai kacang.
“Jangan ditahan, diet bukan berarti gak makan sama sekali. Pelan-pelan aja, Sha.” Nina menuangkan air putih. Khansa seperti baru berbuka puasa, dia kalap hanya karena Nina mengizinkannya.
“Satu aja, Mi. Biar dietnya lancar,” ucap perempuan itu.
Nina senyum, lalu dia mengambil cucian kotor dan masuk ke laundry room meninggalkan Khansa yang menatap sisa roti gandum yang menadadak terlihat lebih enak dari biasanya.
“Satu lagi aja, deh. Kan Cuma roti, tidak berlemak.”
Penjepit plastik yang berfungsi merekatkan plastik kemasan roti dibuka perlahan. Roti yang telihat lezat itu terasa lembut di jarinya. Khansa kembali mengoles selai kacang dan menikmati roti itu dengan mata terpejam. Banyaknya rasa selai yang ada di meja makan membuat Khansa mencoba roti itu dengan olesan selai.
Mulai dari strawbery, cokelat, kacang dan nanas. Sampai tidak terasa, roti gandum tandas dari bungkusnya. Menyisakan remahan si sudut kemasan.
Hari ketiga, Khansa bertekad untuk tidak makan roti lagi, untuk tidak cheating lagi. Kini jarak tempuh jalan-jalannya dia tambah. Keliling tiga blok, tetap berjalan kaki seraya mengabaikan cibiran orang-orang di sana.
Kakinya terasa kesemutan lagi, sesekali langkahnya dia hentikan lalu beristirahat sambil minum air putih yang sengaja dia bawa.
Sepulang olahraga Khansa masuk ke kamar dan naik ke atas timbangan. Turun? Enggak, malah naik sekitar satu kilo.
Tiga hari tidak memuaskan hasil, Khansa akhirnya membuka ponsel dan mencari cara lebih cepat agar dia bisa mengetuk pintunya setiap hari. Khansa tersenyum saat melihat testimoni di postingan tersebut. Bodo amat dengan Radit, yang terpenting Khansa bisa buru-buru langsing. Kalau ada yang mudah, ngapain kudu susah?