Ayo Diet, Sha!

1930 Words
Alarm terus-terusan berbunyi, nyaring seperti teriakan emak-emak yang anaknya kebanyakan jajan. Khansa yang merasa terganggu buru-buru bangun. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul enam. Di luar terlihat belum begitu terang, matahari belum sepenuhnya terbit. Akhir-akhir ini tidurnya kembali nyenyak. Khansa merasa bahagia, klarifikasi dan permintaan maafnya di media sosial membuat channelnya kembali. Khansa turun dari lantai dua, melihat wanita dengan kulit seperti sawo matang, rambut di atas bahu sedikit dan tubuh yang langsing—kadang Khansa iri dengan bentuk tubuh itu—sedang menyiapkan sarapan pagi. Sepasang mata bulat perempuan itu melotot kala melihat anak perempuannya sudah membawa tas yang biasa dia gunakan untuk nge-vlog di luar studio. Khansa berhenti di depan meja makan dan buru-buru melahap nasi goreng udang. “Gak nunggu Papi sama Radit dulu?” “Sha – sa, mau ke car mmplli day,” jawab Khansa dengan mulut penuh dengan makanan. “Sendirian?” tanya Nina. “Iya, mau nge-Vlog. Udah lama kosong, banyak yang nunggu update-an.” Nina menuangkan segelas s**u kedelai pada gelas yang ada di hadapan sang Putri. Khansa buru-buru meneguk cairan putih itu sesudahnya. Saat dia beranjak dari tempat duduknya, Radit turun dari kamarnya. “Wuiih, sarapan di depan lagi?” goda lelaki itu, Khansa mendengkus kesal. Dia tidak peduli dengan pertanyaan yang lebih seperti ledekan. Masih teringat dengan jelas menu masakan yang hanya mengotori gigi saja. “Kayaknya dia kapok makan di sana,” ungkap Nina. Dia menepis tangan Radit yang hendak mencomot udang. “Jangan digado-in. Papi belum kebagian.” “Lah, kan katanya senang sama si Zyan itu. Aku heran, apa sih yang dia suka dari Zyan.” “Gue denger loh, Bang.” Khansa berteriak, dia yang sedang memakai sepatunya di ujung tangga tidak terima dengan omongan Radit. “Katanya makanannya seuprit, kamu tahu, kan adikmu kalau makan porsinya segimana?” “Heran deh, mau pada gibah tapi yang digibahin ada di sini. Udah ah, Shasa berangkat.” Setumpuk barang bawaan, dia masukkan ke dalam mobil. Setiap hari minggu saat Wisnu Wardana atau Radit tidak bekerja, Khansa bebas menggunakan mobil mereka. “Gue ikut, Sha,” susul Radit. “Pake piyama gitu?” protes sang adik. “Kalau gue ganti baju atau mandi pasti lo tinggalin, anggap aja gue Cuma sopir, gak ikut keliling, tapi nanti beliin es durian, boleh?” Khansa berpikir sejenak, sebenarnya ada untungnya juga menjadikan Radit sebagai sopir, selain dia tidak akan kesepian, Radit juga pandai mencari tempat untuk parkir. “Ya udah buruan, keburu panas.” Khansa mendorong gerbang hingga terbuka lebar, dari rumah depan kediaman Zyan, dia bisa melihat lelaki itu sedang olahraga ringan depan rumah. Saat keduanya bersitatap, Zyan buru-buru memutus kontak mata dan masuk ke rumah. Tingkahnya ketakutan mirip seperti seorang anak kecil yang takut melihat badut. “Kedemenan lo sombong amat, sumpah.” “Iya namanya juga aktor, Bang. Kudu jaga image, iya, kan?” “Pas kita ngobrol kemarin, ketahuan banget kalau itu cowok arogan. Mereka hanya ramah depan kamera doang, Sha, dan gue ingetin. Rumah berhadapan bukan berarti dia bisa digapai dengan mudah. Lo harus nyadar diri juga.” “Iya gue sadar gue gendut.” Khansa duduk dengan tenang. Setiap hari bukannya tidak menyadari kekurangan dalam dirinya. Khansa hanya sedang bingung apa yang harus dia lakukan pertama kali. Karena sejauh ini usaha Khansa untuk mengurangi berat badan selalu berakhir dengan kekecewaan. “Bukan gitu maksud gue, gimana, ya. Bukan maksud gue untuk bikin lo sedih atau tersinggung. Ayo diet, gue temenin. Gue sayang sama lo dan gue kepengen lo panjang umur. Kita menua bersama dengan pasangan masing-masing.” “Konten gue gimana?” Radit tidak menjawab, dia berusaha keluar dari komplek perumahannya dan menyebrangi jalanan. Lalu menuju sebuah jalan alternatif baru yang selalu ditutup di hari minggu dan dijadikan car free day. “Gak mau sekalian jadi kameramen?” “Enggak, gila aja, gue pake piyama.” Khansa mengangkat bahu, dia mengambil tripod dan ponselnya. Tak lupa membawa dompet lalu berbaur dengan banyaknya pengunjung yang berjubel ke car free day. Jangan pernah berpikir car free day di kota ini sama seperti car free day yang ada di Ibu Kota. Tidak ada yang datang secara khusus untuk berolahraga di sana. Karena car free day ini lebih ke pasar kaget mingguan. Berbagai bahan makanan, pakaian, bahkan ikan mentah di jual di jalanan ini. Yang paling digemari anak-anak muda adalah long potato, minuman berperisa dengan es batu super banyak dan juga bakso ikan. Iya, bakso ikan yang aromanya benar-benar menyengat. Sesuka-sukanya Khansa makan, bakso ikan adalah salah satu makanan yang dia hindari. Alasannya? Jangan di beberkan di sini, Khansa takut apa yang dia katakan akan mematikan usaha orang lain. Stand makanan pertama yang Khansa kunjungi adalah kerang-kerangan. Sebagai penyuka seafood stand makanan ini adalah salah satu stand yang tidak boleh dia lewatkan sama sekali. “Kerangnya satu porsi, ya, Pak.” Sembari menunggu pesanannya selesai dibuat, Khansa menyalakan kamera. Lalu mulai merekam sekeliling. Rencana dia akan mukbang di mobil, jadi sekarang mengumpulkan seluruh belanjaan yang mau dia beli sambil merekam tipis-tipis suasana di car free day. Usai mendapatkan pesanannya di stand kerang, dia beralih menuju stand lain. Kali ini ada Awug, makanan khas sunda yang terbuat dari tepung beras. Tepung beras yang diolah sedemikian rupa, diberi gula merah dan kelapa parut. Khansa suka jajanan ini sejak dia kecil. “Punten, permisi,” ucap Khansa pada kerumunan orang yang menghalangi untuk menuju stand Awug. Orang-orang itu hanya berdiri, mereka tidak sedang berbelanja atau apa pun. “Badak lewat ... badak lewat!” gumam salah seroang pria, dia bergeser sedikit memberi jalan kepada Khansa. Bukan tidak mendengar ejekan itu, Khansa terlalu sering mendengar hinaan seperti itu dan dia lebih baik diam karena dilawan pun pada akhirnya tetap dirinya yang akan kalah. “Jir lebar bener, yak. Kalian tahu motor Xmax? Nah kalau di kendaraan dia seperti itu” celetuk lelaki yang satunya lagi. “Tapi setidaknya motor Xmax bodynya bagus kebentuk. Lah ini, jir empuk, perutnya udah kayak muffin aja.” “Kok muffin?” “Iya, muffin nya ngembang jadi tumpah ke luar.” Tawa mengakhiri percakapan penuh ejekan. Bukan sekali dua kali Khansa mengalami hal ini, ke mana pun dia pergi, ejekan semacam ini rasanya selalu ada dan membuatnya sakit hati. Hingga lama kelamaan sakit hati itu menumpuk dan membuat hatinya membatu. Disebut sakit, sudah tidak apa-apa, dibilang tidak sakit hatinya sedikit berdenyut. Kuping Khansa panas, dia hanya bisa memejamkan mata, merasakan uap panas yang keluar dari kukusan awug beras di hadapannya. Hinaan itu terus terdengar diikuti dengan tawa sumbang. Mereka mungkin tidak pernah merasakan bagaimana rasanya diejek dan dicemooh. Menyingkir dari stand awug beras setelah mendapatkan seporsi makanan itu, kemudian dia membeli long potato, dimsum ayam, sosis jumbo, tutut, es kuwut, boba, dan banyak makanan lain sampai tangannya penuh. Tidak lupa membeli eskrim durian pesanan Radit. “Buset, Sha! Lo gak salah mau makan itu semua?” “Namanya mukbang, gue kudu review semua makanan ini.” “Hah! Di mana?” “Ya di mobil sini, lah.” “Gue ogah kalau kudu keluar mobil, masa iya cowok cakep keluyuran hanya pake piyama. Mending kalau piyamanya piyama satin, elegan begitu. Lah ini piyama gambar gajah.” “Yang nyuruh lo ke luar siapa, diem aja di situ, gak bakalan aku syut juga. Tapi diem jangan bersuara.” “Oke maniskuu, duh aroma eskrim ini bener-bener menggugah selera gue banget.” Radit mencium aroma lezat durian, dia memakannya perlahan. Jika saja maminya tahu kalau Radit makan eskrim durian pasti akan kena omel karena menganggap masih terlalu pagi untuk makan eskrim. Khansa mulai review satu per satu makanan yang dia beli. Sambil berbicara dengan atraktif di depan kamera, Radit mau tidak mau jadi orang yang menerima sisaan dan menyimpannya dengan rapi di kantong belanjaan agar tidak mengotori mobil Wisnu Wardana. Blag! Segerombol pemuda tertawa dan membuat kekacauan persis di depan mobil sebagian dari mereka tidak tahu malu mengotori bagian depan mobil. Radit kesal, bukan pada orang itu melainkan pada dirinya sendiri yang terjebak piyama gambar gajah sampai-sampai tidak berani keluar dan melarang pemuda-pemuda itu. Khansa sendiri tertegun melihatnya, orang-orang itu sungguh tidak asing baginya, mereka adalah orang yang menghina Khansa habis-habisan. “Sha, lo turun, bilang sama mereka mobilnya jadi kotor begitu.” Radit dengan santai meminta Khansa melakukan hal itu. Dia tidak tahu kalau Khansa malas berhadapan dengan mereka. Tetapi, mau bagaimana lagi? Khansa sendiri bingung, dibiarkan mereka menjadi-jadi, bisa-bisa Khansa tidak dipinjami mobil lagi oleh Wisnu. Namun, kalaupun dia turun, Khansa pasti akan mendengarkan bulan-bulanan lelaki itu lagi. Khansa sama sekali tidak siap, dia sudah cukup sabar menangani hinaan yang selama ini dia terima dari berbagai pihak. Saat ini dirinya sedang mengumpulkan mood agar ngonten dengan bagus. “Sha, lo nunggu apaan, sih. Liat tuh, mereka seenaknya aja tanpa menghiraukan kita ada di sini.” “Coba nyalakan klakson atau mesinnya.” Radit menuruti Khansa, klakson dibunyikan. Hanya pemuda berambut plontos yang menoleh, lalu kembali berbalik dan tertawa-tawa lagi. Memang saat ini pengunjung car free day di depan sana sudah membludak tidak tertahan, sebagian mereka menyeret sampai ke lahan parkir yang sudah disediakan panitia padahal tempatnya cukup jauh dari lokasi. “Khansa turun gak, lo?” Radit bertanya dengan nada suara yang meninggi, Khansa mau tidak mau turun. Dia menghampiri lima orang pemuda itu dengan rasa kesal, “Maaf, mobil saya kotor, tolong jangan buang sampah di situ.” “Oh ... si Xmax, keren juga dia punya mobil. Eh tadi lihat tidak, dia beli makanan banyak banget, njir itu perut atau karet ban?” Tawa mengiringi lontaran hinaan itu. Khansa kesal lalu maju dua langkah, perempuan itu berusaha meraih baju si plontos. Dari dalam mobil Radit melihat waspada, sepertinya urusan bukanlah urusan sepele. “Lo gak puas hina gue?” tanya Khansa. “Heh gembrot, badak bercula satu! Lo emang pantas di hina, cewek macam apa yang bodynya kayak begini. Minggir lo jangan sok jagoan, meski berat badan lo satu ton pun gue gak bakalan pernah kalah sama lo!” Lelaki itu balas mencengram baju Khansa. Mereka dalam posisi siap untuk bertarung. Khansa memegang baju lelaki itu makin kuat, Radit siap-siap untuk keluar dari mobil, dia kali ini tidak peduli dengan piyama gajah yang digunakan. Khansa dalam bahaya. “Heh, lepasin tangan lo dari adek gue!” bentak Radit. Teman si plontos maju, dia bergerak cepat dan entah mengapa melayangkan bogem mentah pada Radit. Untung menghindar, kepalan tangan lelaki itu tidak sampai melukai wajahnya melainkan kena bahu. Radit tidak tinggal diam, ilmu bela diri yang dia miliki akhirnya digunakan untuk membela dirinya, membela khansa. Sampai akhirnya mereka lari dan hanya menyisakan si plontos yang masih saling cengkeram dengan Khansa. “Bayangin yang lo hina adek sama nyokap lo, gimana rasanya, Hah!” Khansa membentak lebih berani, sekarang dua lawan satu. Lelaki itu diam, lalu meraih tangan Khansa dan berusaha melepaskan pegangan eratnya. Tidak bicara apa-apa, lelaki itu hanya meludah di hadapan Khansa. Radit hendak mengejar dan menghajarnya, sontak dihadang oleh Khansa. Mereka sudah jadi tontonan di sana. Beberapa gadis berteriak dan berkata, “Lucu.” Mungkin mereka pikir Khansa Radit adalah pasangan. “Lo sering banget, ya, dihina begitu?” “Udah biasa, Bang,” jawab Khansa. “Ayo diet, Sha. Gue dukung lo. Setidaknya lo sehat, lo enggak perlu denger omongan orang tentang penghinaan fisik lo.” “Gue diet pun percuma, Bang. Orang sini tuh pasti ngeliat fisik. Gak kurus, gak gemuk pasti aja ada celah buat mengkritik dan julidin orang.” “Apa lo gak bosan? Ayo kita diet Sha, buktikan kalau lo itu cantik.” Khansa tercenung, dia akan memikirkan ajakan kakaknya, tetapi saat ini, Khansa tidak bisa melewatikan setumpuk makanan di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD