“Telat tiga menit, gue kesel nunggunya,” keluh Radit.
“Lima belas menit enggak cukup buat dandan, Bang. Lihat ini gue bahkan gak sempat catokin rambut. Eyeliner gak ketemu, cardigan oleh-oleh dari lo itu juga gak ada. Ini seadanya gini, cakep, gak?”
Khansa merentangkan tangannya, cakep baginya, cukup amburadul di mata Radit. Dia buru-buru memperbaiki kekacauan yang digunakan oleh sang adik. Outer yang membuat perempuan itu terlihat lima kali lebih gemuk.
“Kok dilepas, ini buat nutupin lipatan pinggang ini loh, Bang.”
“Kelihatan tambah Big. Mending lepas, terus tampil pake kaos sama celana ini aja udah lebih dari cukup. Lo cantik begini. Serius.”
Dari arah rumah terdengar Wisnu terkekeh, cepat-cepat Khansa menoleh ke arah pria tua itu, memicingkan mata. Wisnu buru-buru membungkam mulutnya, dia pura-pura melihat burung dalam sangkar yang disimpan di dapurnya.
“Ayo, hadapi. Zyan mungkin menunggu.”
Kakak beradik itu melewati deretan tanaman hias milik sang ibu, lalu membuka gerbang yang sudah terdengar halus suaranya karena diberi oli oleh Wisnu tadi sebelum magrib. Jalanan lengang, dia menyebrangi jalan selebar sepuluh meter itu dengan langkah semangat.
Masih teringat serangan-serangan fans Zyan yang membuat mentalnya jatuh. Dan sekarang Fans itu menambah penderitaannya dengan menyebar ujaran kebencian di media sosial. Follower Khansa berkurang. Beberapa Endors dibatalkan.
Melihat sang adik tertegun di tengah jalan, Radit menoleh, dia mundur dan meraih pergelangan tangan adiknya yang terasa dingin. Lelaki itu tahu, Khansa sedang gugup. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti sang Adik, itulah alasan mengapa dirinya ikut saat tahu Zyan ingin bertemu dengannya.
Pak Sakur membukakan pintu, Khansa dan Radit masuk kemudian duduk setelah dipersilakan. Denah rumah yang ditinggali oleh Zyan tidak jauh beda dengan rumah mereka. Karena satu tipe, yang membedakan hanya furniture yang mereka miliki. Khansa melihat foto keluarga, seorang pria tua berwibawa dan berwajah tampan didampingi perempuan cantik menggunakan pakaian khas Melayu.
Di antara orangtua itu ada enam orang lainnya, Khansa menebak itu adalah anak dan menantunya lelaki tua tadi. Pandangan Khansa pada foto itu teralihkan saat Zyan masuk. Dia memakai kemeja putih dengan kancing yang terbuka setengahnya. Di tangannya terdapat minuman bersoda.
“Selamat malam, maaf meminta kamu untuk datang ke sini.”
“Ah ... iya, iya gak apa-apa, kapanpun Bang Zyan minta Shasa—“
“Sha,” tegur Radit.
Khansa mingkem. Dia melihat Radit dan tersenyum gugup, dia bahkan tidak berani melihat ke arah Zyan.
Sementara Zyan sendiri melihat Khansa, dia m menunduk sesekali menatap lelaki di sebelahnya. Cewek centil yang kemarin nyaris menggodanya kini terlihat menciut. Sepertinya sudah tahu gelagat kalau Zyan akan marah.
“Saya sudah menutup rapat-rapat keberadaan saya di sini. Tapi kalian seenaknya membocorkan itu pada Fans. Lihat sendiri, kan, mereka langsung menyerbu ke sini dan membuat kekacauan. Selain itu, kamu juga menyerang mereka. Lihat,” ujar Zyan, dia melemparkan ponselnya ke atas sofa, seakan itu bukanlah barang berharga.
“Coba lihat berapa banyak notifikasi yang masuk ke ponsel saya?” tanya Zyan. Zyan memang kesal dengan meledaknya notifikasi yang terus-terusan berbunyi.
“Bentar-bentar, lo nuduh adek gue?” Radit mulai naik pitam jelas saja dia tidak terima dengan kenyataan ini.
“Bukan nuduh, jelas yang tahu keberadaan saya di sini hanya kalian. Ngaku fans tapi—“
“Enggak, Bang! Shasa berani bersumpah, jika tidak percaya lihat ponsel Shasa. Gak ada foto apa pun yang menunjukkan bahwa Abang di sini. Gak ada chat dengan pihak mana pun yang menunjukkan bahwa Abang ada di sini. Shasa nahan diri sekali pun Shasa kepengen.” Seperti biasa, jika gugup, gadis itu terus menerus memainkan jari-jarinya.
Radit menggenggam tangannya menenangkan. Khansa gemetaran melihat tatapan mata Alex yang menyeramkan.
“Khansa juga kena imbasnya, kemarin dia berniat melerai dan menenangkan Fans untuk tidak menyerang kediaman Bang Zyan, tapi dia malah kena Bully. Sebagai seorang influencer Khansa juga mengalami kerugian. Media sosial dia juga tidak baik-baik saja, dia kena serangan Verbal. Kami sudah menghubungi pengacara, memeriksa CCTV komplek, meski bukti menunjukkan bahwa Khansa yang mendorong Fans Abang. Khansa akan meminta maaf secara terbuka.”
“Jangan menyangkal, saya bicara sama dia, bukan kamu.”
“Kamu gak lihat adik saya tertekan begini?”
“Sejak awal saya sudah sangat terganggu, ditambah adanya kejadian ini. Saya harap tidak ada lagi fans yang datang ke sini dan tahu saya ada di mana. Jika tidak saya tetap akan menyalahkan dia.”
Zyan hendak pergi dari sana saat Khansa akhirnya berteriak dan berusaha untuk berkata, sebelumnya dia berusaha bangun dengan minta bantuan dari Radit.
“Apa buktinya kalau saya melakukan itu? Maksudnya, bilang sama Fans lain kalau Abang di sini?”
“Sudah gak penting lagi.”
“Adik saya butuh bukti, sudah cukup dia dituduh dan dipojokkan oleh fans kamu.” Radit berusaha membantu, seperti dulu saat mereka masih kecil. Radit selalu jadi jangkar untuk adiknya, selalu membela adiknya walau mereka berdua kadang tidak selalu akur.
Zyan berdecak. Dia benar-benar harus menghubungi managernya untuk mengurus segala keperluan dan hal-hal seperti ini. Dia lalu menyerahkan kembali ponsel dengan bukti foto Zyan dan semua Warga Komplek The Intan Village saat perkenalan. Meski dari kejauhan itu jelas Zyan.
“Bang, gak ingat apa, kalau Shasa duduk bareng Abang? Gimana mau foto Abang dari jarak segini sedangkan jarak kita gak ada semeter, kalau niat aku udah sebar foto abang dari jarak dekat. Nyatanya aku hanya bisa diam, gak bisa sembarangan fotoin Abang. Oh iya, satu lagi, Bang. Coba lihat, ini ada merk hp di fotonya. Dan ini hp saya.”
Khansa memberanikan diri untuk bersuara, karena dia berada di sisi yang benar. Radit menepuk punggungnya. Dia merasa bangga dengan sang adik.
“Saya gak terima Bang Zyan fitnah saya.” Khansa mencebik, mode ngambek dan ngancam mulai dilancarkan. Radit mencium aroma kelicikan dari sang Adik.
***
Khansa mengatur tripodnya di studio. Mengatur pencahayaan dan semua yang dibutuhkan untuk keperluan syuting klarifikasi yang harus segera dia laksanakan. Senandung kecil sesekali terdengar, dia sangat bahagia.
Tidak lupa untuk memastikan bahwa riasannya sudah sempurnya. Concealer menutup kantong mata yang serupa mata panda. Rambutnya dicatok kembali sehingga Khansa terlihat segar kembali. Tidak ada tanda-tanda kalau dirinya habis menangis sehari semalam.
“Halo semuanya, saya Khansa Aqila Kirania, dari Channel Mari makan ingin menyampaikan satu permintaan maaf kepada Fans Bang Zyan, dan Khususnya kepada Mbak Lastri yang tidak sengaja saya dorong. Jujur, saya refleks melakukan itu karena tidak tahan dengan hinaan dan bullyan kalian semua. Saya akui saya memang gemuk, tetapi saya tidak terima fisik saya dijadikan bahan olok-olok dan hinaan seperti itu makanya kemarin melakukan hal tercela seperti itu.”
Khansa diam sejenak, dia lalu mengingat perjanjian dengan Zyan malam kemarin. Mengingat ini live dan tidak bisa diedit Khansa sangat hati-hati dengan pernyataannya.
“Kemarin saya melihat kerumunan, saya yakin kunjungan Bang Zyan ke rumah Kakeknya pasti tercium oleh kalian semua. Saya kemarin turun untuk membantu, berusaha membuat semua pihak nyaman. Selain Bang Zyan, saya dan tetangga lain pun terganggu karena kerumunan itu. Saya tidak akan memperkarakan apa yang kalian lakukan kepada saya kemarin, saya akui saya salah dan sekali lagi saya minta maaf. Satu hal yang perlu kalian tahu, Bang Zyan sudah kembali ke kota asalnya. Dia merasa keberadaannya sudah tidak aman lagi di sini. Terima kasih juga kepada Bang Zyan, Pak Sakur, Bang Radit dan kedua orangtua saya. Dan juga terima kasih buat penonton setia Mari Makan yang selalu ada dan terdepan nonton channel ini.”
Khansa berdiri dan mematikan kamera. Dia tersenyum membayangkan semuanya, habis ini semua masalah tentang Fans dan dunia sosialnya akan segera berakhir. Sesuai perjanjian, Live tersebut akan disaksikan oleh Zyan, dan lelaki itu akan berkomentar mengiyakan serta berterima kasih kepada Khansa.
***
“Cerah bener anak Papi,” Wisnu baru berani berkomentar soal Khansa.
“Masalah udah beres, Pi. Tapi dia masih genit sama si aktor, pake ngancam segala. Mau gak mau Zyan iyain walau terpaksa.”
Nina tersenyum, dia memberikan masing-masing sepiring makanan kepada anggota keluarganya.
“Khansa gak makan hari ini,” ucapnya.
“Mau mukbang?” tanya Nina dan Wisnu bersamaan. Memang benar, jika mau syuting untuk mukbang, Khansa sama sekali tidak makan sampai syuting tiba.
“Bukan,” jawabnya. Dia melirik Radit yang sedang memandangnya jijik.
“Mau makan di rumah depan.” Radit buka suara, kemudian dia mengambil buah apel dan mengantonginya untuk bekal di kantor nanti.
“Dalam rangka apa, Sha?”
“Sarapan bareng, udah. Shasa takut telat.
Khansa mengayun langkah menuju rumah depan. Dia tersenyum kepada tukang bubur ayam yang lewat. Kemudian masuk area rumah setelah mengucapkan permisi pada penjaga keamanan di depan. Bi Tita, Asisten rumah tangga Zyan menyambut Khansa. Lalu membawa gadis itu ke ruangan makan.
Dari ruang tamu, Khansa harus melewati lorong menuju bagian belakang rumah. Dia berhenti sejenak saat Bi Tita masuk ke salah satu ruangan. Perempuan itu menunggu dengan sabar, menunggu Zyan untuk sarapan bareng dirinya.
“Silakan ikut saya, Neng. Aduh maaf, makanan di sini Cuma begini.”
“Gak apa-apa,” jawab Khansa.
Saat dia sudah duduk di mejanya, Zyan tiba. Memakai jubah tidur berbahan satin. Di tangannya terdapat sebuah tablet. Selain aktor, Zyan juga merupakan seorang pebisnis, dia harus tetap bekerja memeriksa laporan perkembangan usahanya.
Khansa menatap Zyan dengan kagum, perempuan itu bahkan seperti lupa bagaimana caranya berkedip. Dia menopang dagu dan membayangkan masa depannya bersama pria ganteng ini. Sarapan bersama setiap pagi, makan siang dan makan malam. Lalu keduanya memadu kasih di atas kapal pesiar.
Khansa menjadi salah satu perempuan beruntung yang bisa mengalahkan puluhan ribu saingan fans yang mengagumi Zyan Alex.
“Neng Khansa!”
“Eh ... iya, Bi.” Khansa melihat kursi Zyan sudah kosong. Piring di meja Zyan pun sudah habis.
“Makan dulu, keburu dingin.”
Sebutir telur setengah matang, satu ekor udang ukuran sedang dan juga pucuk asparagus. Khansa menelan ludah, bukan karena makanannya menggugah. Bagi orang yang biasa sarapan dua porsi bubur ayam, sarapan yang ada di hadapannya hanyalah nyemil doang. Sama sekali tidak bisa membuat dirinya kenyang.