Jika Itu Bang Zyan, Khansa Rela!

1913 Words
“Gemoykuuuu, ada camilan?” Radit kalau kelaparan malam-malam pasti datang ke kamar Khansa. Baginya, kamar sang adik adalah lumbung harta karun di saat akhir bulan dirinya tak mampu membeli makanan. “Biasa juga gak bilang kalau mau. Ambil aja, jangan yang di rak atas, belum gue review.” Beberapa hari ini Khansa lemas sekali, dia hanya ngerjain endors di i********: itu pun terpaksa. Gak ada gairah untuk ngonten. Selain rebahan dan stalking sepuasnya tentang Zyan Alex Khansa tidak melakukan apa pun. Sesekali sebelum masuk kamar mandi yang ada di kamarnya, Khansa bicara ketus dengan poster Zyan. Dia kesal karena kejadian tempo hari. Harapannya benar-benar dijatuhkan. Coba bayangkan saja, dirinya sudah melambung hingga ke awan tiba-tiba kudu jatuh nyusruk ke aspal. Hatinya potek-potek. “Keripik salak? Ini enak gak?” tanya Radit. Kakak kandung Khansa mengguncang-guncang kemasan alumunium foil dengan label keripik salak dari Banjarnegara. “Gak usah banyak tanya, deh, lo. Pusing gue, Bang.” “Lagi dapet, ya, lo? Sensi amat.” Khansa bangun tiba-tiba. Gerakannya membuat tempat tidurnya bergoyang persis seperti ketika ada gempa. Radit hanya memutar bola matanya, tidak berani berkomentar takut sang adik tersinggung. Dia membuka kemasan keripik salak, dari ukuran sebesar itu isi dari keripiknya hanya beberapa keping tapi begitu dia masukkan ke dalam mulut, rasanya enak. Manis, asam dan renyah. “Sayang isinya dikit.” Khansa merebut kemasan keripik salak, lalu dia pegang kedua tangan sang Kakak. Radit sampai bingung dengan kelakuan sang adik. Entah kenapa seperti ini, seperti sedang kesurupan saja. “Sehat, Sha?” tanya Radit. “Bang, sebagai cowok, lo pernah gak sih PHP in cewek?” Radit menghentikan kunyahannya. Dia melihat tanda-tanda kegalauan sang adik disebabkan oleh PHP dari makhluk yang bernama cowok. Meski dirinya juga cowok, tidak akan pernah ada dalam kamusnya PHPin cewek. “Gak usah ngeliatin segitu amat, gue Cuma nanya, pernah gak sih, lo, PHPin cewek?” “Bilang sama gue, siapa yang berani-berani PHPin adek gue yang gemoy ini, hmm?” Khansa memijat keningnya, sedari kecil Radit dan dirinya memang jarang sekali akur karena ada saja hal yang jadi perdebatan, tetapi jangan salah. Lelaki ini akan ada di barisan depan saat adiknya disakiti orang lain. Khansa terharu, kemudian dia memeluk Radit dengan kencang, “Bang Zyan, dia PHPin gue, Bang. Sakit hati ini, Bang, sakit!” Radit melotot dalam pelukan Khansa, pandangannya pas sekali dengan poster Zyan Alex yang berpose tanpa pakaian. Hanya celana jeans yang menggangtung di pinggulnya. Pria itu yang membuat galau sang adik, pria itu yang membuat perempuan di seluruh Indonesia menjerit heboh. Radit mendengkus, ini bukan tandingannya, tidak! Tidak bisa! Buru-buru dia melepas pelukan itu, “Halu anjir, gue udah anggap serius.” “Tapi ini serius, aku sakit hati. Untung sayang, kalau enggak itu Babang Zyan udah aku laporin ke Fansite, biar fans tahu kalau rumahnya Zyan di sini.” Radit mengambil beberapa snack dari rak paling bawah, memasukannya dengan paksa ke dalam kantong celananya, menjejalkannya sampai penuh sesak. Kemudian berlalu meninggalkan sang adik yang sudah tak berbentuk lagi rupanya. “Telat, Sha, Fans sudah tahu kalau Zyan di sini.” “Sok tahu!” “Lo makanya keluar, lihat dunia, baru digituin sama idol aja udah kayak mau kiamat. Tuh udah banyak yang foto bareng kemarin.” “Hah di mana?” “Gak taulah, males ngomong sama lo, lama nyambungnya, kayak pake internet 3G. Lola!” Khansa berusaha menangkap dan mencerna sepotong informasi dari Radit. Dia lalu berdiri dari tempat tidurnya memeriksa diri di cermin. Alangkah kagetnya ketika melihat tampilan diri yang mengerikan. Bergegas Khansa mencuci mukanya, lalu perempuan itu melihat ke luar dari jendela kamarnya. Sungguh pemandangan luar biasa. Sekelompok perempuan bergerombol di depan rumah Zyan. Mereka terlihat begitu cantik dan sangat luar biasa. Khansa hanya bisa mematut diri dari pantulan kaca jendela, samar-samar dia bisa melihat cantiknya diri di balik balutan lemak dalam tubuhnya. *** “Ke mana, Sha?” “Liat rumah Bang Zyan. Cari tahu juga dari mana mereka tahu rumahnya, di Fansite sudah heboh banget tuh, di grup-grup sss juga. Aku gak mau ketinggalan, Pi.” Khansa melihat wajah-wajah fans yang terlihat lelah, dia tebak Zyan sama sekali tidak keluar, bahkan Pak Sakur dan Pak Satpam sama sekali tidak keluar. Khansa menerobos kerumunan dengan penuh percaya diri. “Woi, jangan asal terobos, dong.” Seorang perempuan kurus tinggi dengan mengenakan rok mini dan kaus tanpa lengan menghardik Khansa. “Maaf, lo yang halangin jalan gue.” “Heh, apa lo bilang? Jalan gue?” “Mbak, maaf, ya, gak sengaja,” ucap Khansa terpaksa, perempuan itu tidak mau imagenya jelek di mata Brian, dia tidak mau meladeni perempuan tadi. “Gak sadar body, udah kayak buldozer masih aja menerobos mau paling depan. Saadar diri, dong, lo itu gak pantes jadi Fans Zyan, yang ada dia bakalan ilfeel liat cewek kayak lo. Dasar buntelan!” Khansa yang sudah jauh lebih tenang akhirnya tersulut lagi, siapa pun boleh marah, boleh. Tapi Khansa tidak terima jika ada orang yang body shaming. Dia memang gendut, dia memang berbadan besar, lantas mengapa orang gendut seperti dirinya tidak boleh ngefans sama Zyan? “Gue gendut gini setidaknya punya attitude, gak kayak lo yang gak punya sopan santun.” “Sudah, Mbak. Duh ini Mbak Shasa, Kan, dari Channel Mari Makan?” “Oh, channel yang rakus itu, ya? Segala di makan, lama-lama taik kambing juga dia makan.” Khansa sudah habis kesabaran, perempuan kurus itu didorong hingga jatuh. Padahal dia yakin hanya mendorong sedikit saja, tidak kencang. Khansa yakin, orang ini hanya mengada-ngada. Dia terlihat meringis kesakitan, lalu oasang tampang seperti ingin menangis. “Mbak, tanggung jawab, Mbak. Ih ... liat temen aku kesakitan.” Lelaki kemayu yang membawa goodie bag maju ke arah Khansa. Dia terus memojokkan sampai Khansa tidak bisa berkutik. Tidak hanya gadis yang berlutut dan temannya saja yang memojokkan Khansa, tetapi teman-temannya yang lain juga menyerang Khansa. Mereka menyerang secara verbal. Melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati sampai perempuan itu benar-benar terpojok. Hinaan dan cacian membuat Khansa merasa sangat terluka. Entah itu badak, gajah, dan ujaran-ujaran kebencian terus bergaung sampai terjadi sorakan keributan di depan rumahnya dan juga rumah Zyan. Derit gerbang membuat keriuhan di sana seketika menjadi sepi, Radit keluar dari rumah mereka sedangkan dari rumah Zyan muncul Pak Sakur, Pak Satpam dan jug Zyan. “Zyaaaaannnn!” Semua menjerit. Mengabaikan Khansa yang gemetaran dalam pelukan Radit. *** Sudah setumpuk tisu bekas menghapus air mata teronggok di bawah meja. Tidak ada yang berani mendekat selain Radit. Nina memilih untuk memasak membuat makanan lezat sebagai obat badmoodnya sang putri. Wisnu Wardana memilih untuk menyiram tanaman meski sudah malam dan biasanya ini adalah pekerjaan yang paling dia hindari. “Shasa besok mau diet, Shasa capek dihina terus. Astaga, masa orang gendut gak boleh ngefans sama Zyan. Abang liat sendiri, kan, dia ramah banget sama si cungkring kurus kering itu?” “Lo juga itu body shaming,” tukas Radit. “Iya habisnya Shasa kesel. Orang kalau mau menghina fisik orang tuh sebaiknya lihat dulu fisik sendiri. Bang Zyan lagi, baik banget sama mereka. Shasa sama dia semobil boro-boro ngobrol apa senyum, noleh juga enggak. Shasa segede ini masa gak kelihatan, Shasa merasa terhina banget. Bang, gimana ini Bang!” Tangisan Khansa terus mengganggu, Radit akhirnya menyerah. Dia mundur alon-alon memilih untuk pergi dari sana dan menenangkan diri di kamar, setelah waujud dari Radit tidak terlihat lagi, Khansa semakin sedih. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Sementara itu di tempat lain, Zyan tampak sangat kesal kepada Khansa, kalau bukan karena si gendut yang penuh percaya diri itu, semua Fans tidak akan datang menyerbu ke tempat ini. Dia juga habis marah sama penjaga keamanan depan komplek dan mengancam akan melapor jika besok-besok masih ada serangan fans ke depan rumahnya. Kepala sekuriti sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Zyan melihat tumpukan sampah pemberian fans, sebagian dipilih oleh Bi Tita untuk anaknya yang masih SD, seperti boneka dan cokelat-cokelat. Bunga juga diambil untuk disimpan di dapur. Ada beberapa barang berharga seperti jam tangan dan perhiasan, barulah Zyan ambil dan simpan sendiri. Dari dalam ruangan di lantai dua, Zyan melihat tetangga depan yang bernama Wisnu sedang siram tanaman. Memang keluarga depan terlihat sangat aneh, Pak Wisnu yang selalu sok akrab sementara anaknya membuat dia muak. “Setidaknya jika mau jadi fans Zyan Alex kalian harus cantik dulu.” Lelaki itu bergumam serius. Dia tidak bisa menerima Fans seperti Khansa. Terlalu memalukan untuk ditampilkan jika pada suatu ketika terpaksa harus tampil dalam satu frame. *** “Arrrrgggghhhhh!” Dari yang tadinya tangisan sedih, kini berubah jadi tangisan putus asa, hanya dalam hitungan jam, rumor miring tentang influencer yang berantem depan rumah Zyan Alex beredar begitu saja. Banyak postingan yang ngetag dirinya dan juga Zyan Alex. Citra baik yang sudah dia bangun bertahun-tahun harus cemar gara-gara kasus menyebalkan dengan fans Zyan. Khansa memikul banyak beban mental, ya serangan verbal, ya serangan via media sosial. “Sha, Papi masuk boleh?” tanya Wisnu. “Gak! Pergi, Shasa pengen sendiri.” Wisnu tidak memaksa, dia pergi dari depan kamar Khansa. Raditlah yang terkena imbasnya, Nina dan Wisnu tahu kalau Radit selalu akan diterima Khansa apa pun yang terjadi. Raditlah yang selalu bisa menghibur adiknya dalam berbagai keadaan. Sampai beberapa menit setelah Wisnu meninggalkan depan kamar Khansa, kini giliran Radit yang ketuk-ketuk pintu. “Sha, lo tahu sendiri gue lagi sibuk bawa lemburan ke rumah. Plis buka pintunya sebentar, gue mau ngomong. Abis ini, lo bebas deh mau ngurung diri di kamar juga. Gue gak peduli.” Benar saja, Khansa akhirnya berdiri dan menyeret langkahnya. Dia buka pintu itu lalu membiarkan sang Kakak menerobos masuk ke dalam kamar. “Ini kamar atau tempat pembuangan akhir, Sha?” “Kalau kesini mau nambahin beban gue mending lo keluar aja sana. Gue sendirian lebih baik daripada ada manusia k*****t macam lo yang gak punya empati.” “Selow, Sist. Gue ke sini mau bantuin lo. Anggap aja gue admin media sosial lo, gue izin gitu setidaknya buat meredam gejolak para fans Zyan yang mojokin lo. Nah, gue udah dapet rekaman CCTV kejadian waktu lo dan cewek itu ribut. Dalam rekaman itu, lo emang dorong itu cewek. Setidaknya lo bikin surat terbuka berisi permintaan maaf. Syukur-syukur permintaan maaf melalui video. Mau, kan, lo? Ini satu-satunya cara buat menyelamatkan periuk lo yang gemblung ini, juga biar bisa tetep jajanin gue bakso mercon di bundaran Suci.” “Masa gue yang minta maaf,” keluh Khansa, suaranya sudah serak seperti bebek. “Dan lo juga bisa narik simpati Zyan dengan begini. Oh iya, tadi gue ketemu sama Pak Sakur, katanya kalau bisa Khansa menemui Zyan.” “Sekarang?” “Ya gak tahu.” “Guenya jelek begini.” Tangis perempuan itu terdengar lagi. Antara senang karena Zyan minta bertemu, dan sedih karena dia tidak mungkin bertemu dengan Zyan dengan keadaan seperti ini. “Lo adalah cewek yang cantik di mata gue, cuma kelebihan lemak aja. Pokoknya, gue temenin lo ketemu Zyan, nanti kalau dia ngapa-ngapain lo, gue yang ngadepin.” “Tapi gue rela diapa-apain sama Zyan, Bang.” “Plis, deh, Sha. Serius dikit!” “Urusan Zyan, Shasa selalu serius, Bang.” “Gak ada waktunya bucin. Sekarang waktunya selamatkan reputasi lo, reputasi channel Mari Makan.” “Jadi kenapa Bang Zyan pengen ketemu gue?” “Mana gue tau, lima belas menit, perbaiki tampilan lo. Gue tunggu di bawah.” Radit meninggalkan kamar Khansa, semantara Khansa buru-buru menyambar handuk dan pergi mandi. Lima belas menit terlalu sedikit untuk bersiap-siap ketemu Zyan, tetapi daripada tidak sama sekali ini lebih baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD