Rindu bukan sekedar tentang ingin berjumpa, namun perasaan yang selalu teringat tentang segala kenangan indah saat saat bersama.
.
.
.
2020, Jakarta.
Drrrrrtttt... Drrrrrttt...
Sebuah ponsel berwarna hitam legam tergeletak di atas meja nakas terus saja bergetar sejak tadi. Nampak di layar menampilkan sebuah panggilan masuk dari seseorang.
Sinta is calling.
Begitulah kira-kira nama yang tertera pada layar tersebut.
Namun, sampai detik ini. Pemilik ponsel tidak terlihat batang hidungnya sekalipun, sepertinya enggan untuk menerima panggilan tersebut. Cukup lama dering ponsel itu terus memenuhi seisi ruangan. Hingga, panggilan itu berhenti seolah lelah memanggil. Dalam layar menampilkan 5 panggilan tidak terjawab, kemudian disusul oleh sebuah notip pesan di layar dengan nama yang sama.
Satu jam kemudian.
Sinta baru saja sampai di sebuah Apartemen sederhana, segera bergegas turun dari mobil yang terparkir di area yang sudah disediakan. Perasaan Sinta saat ini, sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya sejak panggilan pertamanya diabaikan, dengan langkah besar kakinya menuju ke arah kotak besi canggih, membawanya ke lantai yang dituju.
Ting...
Kotak besi canggih itu telah berhasil membawanya ke lantai empat, langkahnya di percepat melewati pintu yang berjejer dengan warna yang sama yang membedakan adalah sebuah angka yang menempel di dinding pintu, hingga akhirnya Sinta telah sampai didepan pintu yang dimaksud, Pintu single door berwarna putih tulang bertuliskan angka sepuluh.
Tok tok tok...
Berulang kali Sinta mengetuknya cukup keras dengan rasa kesal di dadanya. Namun nihil, sepertinya pemilik rumah tidak mendengarnya sama sekali. Tidak menyerah, Sinta lalu mencobanya sekali lagi.
TOK TOK TOK...
Kali ini berbeda, Sinta dengan sengaja menggedor pintu cukup keras dengan kedua tangannya, membuat kegaduhan, hingga para penghuni apartemen lain merasa terganggu. Berharap sang pemilik segera membuka pintunya, malah mendapat teguran keras dari salah satu tetangga. Benar-benar membuat amarah Sinta membara, berasa kobaran api yang disiram oleh banyak minyak bensin. Semakin berkobar hebat.
Jangan salahin gue, kalau pintu loe rusak batin Sinta akhir dari segala solusi.
Sinta melangkah mundur, berlari kencang seperti banteng sedang mengamuk dengan segala kekuatan yang dimilikinya, dengan cepat dan penuh tekad.
BRUK...
Pintu berhasil di dobrak. Benar-benar Sinta wanita kuat dan tangguh. Meski wajah dan penampilannya seperti wanita feminim kekuatannya boleh di adu dengan lelaki berotot.
"Safira, Gue tau Loe dari tadi nggak tidur, kan?" teriak Sinta dengan suara cemprengnya, langsung menyelonong masuk, melangkah cepat menyusuri ruangan yang sudah hafal betul titik letak denahnya.
"Astaga... Berantakan banget, apa Loe betah dengan keadaan seperti ini?" Sinta melihat keseluruh ruangan dengan keadaan yang gelap gulita tanpa pencahayaan sedikitpun. Sinta langsung menuju jendela, segera membuka gorden dan jendela yang masih tertutup rapat agar cahaya dan udara dengan leluasa masuk.
"Apa ini rumah seorang gadis? Hah... bau banget, dan ini... Dan itu... Kyaaaaa... kenapa tidak diletakan ditempatnya, Kambing aja ogah kayak nya buat tinggal sama loe. " Sinta mengomel meluapkan kekesalannya ditambah keadaan sekitar yang berantakan seperti kapal pecah. Ia belum merasa puas, terus saja mengomel.
"Sampai kapan loe bakalan kaya gini terus, semenjak Loe balik dari London, udah 3 bulan masih ajah ngurung diri, mewek kerjaannya, menyesali semua yang udah terjadi." Sinta langsung menyibakan selimbut yang menutupi seluruh tubuh Safira. Terlihat tubuhnya yang sedang meringkuk diatas kasur king size dan berpura-pura sedang tidur.
"Bangun Safira, kerja, waktunya tinggal 1 jam lagi, bangun... Cepetan. " tanpa aba-aba Sinta menarik kaki Safira dengan paksa, Safira pasrah menerima perlakuan Sinta, Safira hanya diam tanpa memberontak sama sekali.
"kamu makan apaan sih Safira, berat banget udah kaya kebo tau?" Sinta yang mengangkat tubuh Safira agar berdiri terlihat kesusahan dan hampir oleng. Dengan mengerahkan segala kekuatan yang ada, lalu mendorong Safira ke arah toilet yang berada di sebelah kamar.
"Nggak usah mandi, cepetan cuci muka, udah telat, Gue tungguin loe di bawah, titik. " Sinta mengambil baju dan melempar asal pada Safira. Baju itu berhasil mendarat di kepala Safira.
Sinta ini adalah sahabat Safira dari jaman masih putih abu abu. Namun terpisah saat Kuliah, penampilannya sangat seksi, riasan yang sedikit menor, dengan rambut sebahu. Ia bekerja sebagai Asisten Manager. Jabatannya Asisten Manager, tapi pekerjaannya bukan itu saja, lebih dari itu, seolah seperti pengasuh, lebih tepatnya sebagai IBU pengganti yang harus ngurusin dan bangunin Safira seperti anak kecil setiap akan berangkat bekerja.
Safira merapikan rambut panjangnya yang acak-acakan menutupi wajahnya. Safira memandang dirinya sendiri di pantulan cermin besar. Terlihat kusut dan matanya sembab akibat kegiatan yang menguras hati dan emosi "menangis". Ya wanita memang suka menangis jika merasakan hal yang memang perlu ditangisi. Wanita memang makhluk tuhan yang sangat rapuh dan berperasaan, plus sensitip. Setiap kejadian yang menimpanya akan menangis sebagai solusi meluapkan perasaannya, entah karena bersedih atau saat merasa bahagia. Begitulah wanita, terkadang bingung dengan segala tingkahnya, harus mengerti dan memahami tingkat tinggi soal perasaan wanita. Memang begitulah, tapi tetap wanita sangat istimewa.
Safira menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya secara kasar, diulanginya lagi hingga merasa dirinya rileks dan lega.
Safira diam membisu, dan merenungi dirinya sendiri, hatinya kini mulai tergerak oleh kata kata yang dilontarkan oleh sahabatnya, tidak sekali atau dua kali, sudah sering kali. Secara tidak langsung Sinta sudah mengatai bahwa Safira adalah wanita yang bodoh, malah sangat bodoh.
Tujuh tahun Safira masih mengharapkan seseorang, yang memang tidak perduli sama sekali dengan dirinya. Tujuh tahun guys bayangkan saja, kalau di habiskan untuk Kuliah sudah pasti akan lulus dua kali, dan mendapatkan gelar S2. Anggap saja, selama tujuh tahun ini Safira seolah kuliah di sebuah Universitas, tapi jurusannya adalah berusaha melupakan mantan, dan sudah menyandang gelar S2, kepanjangan dari Susah Sekali. Ckck
Kalau Cinta pertama memang sulit untuk dilupakan, Cinta satu-satunya yang diberikan Safira pada lelaki itu, lelaki yang tega meninggalkan safira tanpa alasan, dan sialnya Lelaki itu masih betah untuk bersemayang di hati dan juga fikiran Safira.
Bayang-bayang senyumnya masih terasa manis di ingatannya, pelukannya yang hangat masih terasa membekas di tubuhnya, dan aroma wangi parfum di tubuhnya yang selalu menenangkan jiwa Safira. Namun kenyataannya, Semua hanyalah tinggal kenangan, saja.
Biarlah rindu ini menggrogoti perasaan Safira. Rindu yang membuat Safira merana, merana akan rasa cinta yang tak pernah ada balasnya. Namun sialnya, Safira masih bertahan sampai detik ini.
Seharusnya, masa lalu biarlah menjadi kenangan, Safira harus pasrah dengan keadaan, untuk meminta protes pada Tuhan sungguh lah tidak mungkin, itu sangat kufur. Safira harus mencoba terus dan berusaha menjalani kehidupan yang lebih layak, menghargai dirinya sendiri, bagaimana bisa dikatakan mencintai seseorang tapi menyiksa diri sendiri. Jadi, cinta macam apakah itu?
Seharusnya meski cinta itu kuat jangan sampai memperbudak diri sendiri, seharusnya cinta itu membuat pribadi lebih baik. Lebih baik menjalani hidup ini. Apakah ini saatnya untuk memulai hidup baru yang lebih layak?
Ya, jika bukan sekarang. Besok? Besok dan besok lagi sampai tidak sama sekali. Maka, saai ini adalah waktu yang tepat.
Saatnya untuk memulai hidup baru, wajah baru, dan membuat kenangan baru.
"I am Back".
Safira bertekad dalam hatinya, serius mencoba nya, mencoba berusaha, dari pada tidak sama sekali.
Memulai hidup baru dengan tampilan baru juga, dan wajib mandi. Biarlah Sinta mengomel karna sudah telat, Safira masa bodo, Safira menganggap itu semua kepedulian sang sahabat padanya. Ia suduh bersyukur ada Sinta sahabatnya yang berada disisinya, karna kini Safira hanya sebatang kara.
"Oh ya, Aku Indah Safira, biasa orang-orang memanggilku dengan sebutan Safira. Nama yang diberikan oleh ayahku tercinta yang sudah tenang disana. Yang artinya Batu permata Safir yang Indah. Ayahku mengatakan bahwa aku adalah permata ayah, kesayangan ayah, baginya aku adalah putri kecilnya yang manja dan sangat menggemaskan. Padahal waktu itu aku sudah beranjak dewasa, 19 tahun, dan kini diriku sudah dewasa 26 tahun. Apakah aku masih putri kecil mu Ayah? Aku sangat rindu padamu Ayah? "
Safira sudah siap dengan penampilan barunya, Ia terlihat lebih feminim dan kadar kecantikannya semakin bertambah. Safira memakai dress berwarna baby blue dengan lengan panjang, dipadukan dengan sepatu Ankle Boots hitam yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai indah dan sedikit ikal di ujungnya, wajahnya dipoles dengan make-up natural, sentuhan terakhir menyemprotkan parfum untuk menambah kepercayaan diri.
Sinta menunggu Safira cukup lama, sampai tidak sadarkan diri, ketiduran di mobil. Sudah telat 2 jam dari waktu yang ditentukan. Namun, saat terbangun Sinta seolah sedang bermimpi, dirinya bertemu dengan sosok bidadari, wajahnya mirip sekali dengan wajah Safira, tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya.
"Wow... Ini beneran loe apa Bidadari, yang baru turun dari empang? Ehehehe... " Mata Sinta berbinar melihat perubahan instan sahabatnya, Safira.
"Gitu dong, baru ini Safira sahabat gue. " Puji Sinta bangga dengan mengacungkan kedua jempolnya, sekalian dua jempol kakinya juga. Sinta merasa bahagia, tidak sia sia dirinya mengomel dan membangunkannya secara ekstrim.
"Giliran Gue cantik Loe puji-puji, tadi aja ngomel kaya emak-emak rempong kehilangan taperwer (tupre ware)." Safira memutar bola matanya dan diakhiri tawa kecil.
"Haha... Ya harus bagaimana lagi, Gue terpaksa. So, are you ready? lets go." ajak Sinta.
Safira mengangguk tanda siap, dan memberikan sebuah senyuman manis untuk Sinta.
Tanpa basa-basi lagi Sinta menekan pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, seperti berada di arena balapan bersama Valentina Rossi. Eh, salah ya. Biarlah, soalnya Sinta nge-fansnya sama Rossi.