Bab 2 : Dia, Siapa?

1087 Words
Bukan Hal yang mudah untuk melupakan dan menata hati kembali, apalagi membuka hati, luka lama saja belum sembuh dan aku masih berusaha membiasakan diri tanpa bayang bayang nya. . . . Cafe Green Sky 18:00 WIB Jakarta Sore ini suasana cafe sudah ramai dan meriah, dipenuhi dengan pengunjung dari berbagai kalangan usia. Di Indonesia kebiasaan malam minggu sangat spesial dan mendarah daging apalagi dikalangan anak muda atau pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta. Ditambah suasana cafe yang sangat romantis dan estentik, areanya yang sangat luas, ada private room yang berada di lantai paling atas, menyuguhkan pemandangan kota metropolitan yang ramai, ada area outdoor atau indoor yang langsung melihat langit gelap hitam yang dipenuhi banyak bintang dan cahaya rembulan jika di malam hari, tak lupa lampu lampu kecil dan pajangan lainnya yang sangat instagrammable, menambah pengunjung betah dan ingin berlama lama di sana. Di Cafe tempat bekerja, Safira tidak bekerja sebagai manager, atau koki yang handal, sungguh tidak ada bakat sama sekali, jadi pasti tidak mungkin, atau sebagai waiters yang suka bersih bersih, jauh lebih tidak mungkin lagi, karna dirumahnya saja berantakan tak terurus seperti hatinya yang masih ada sisa-sisa kenangan masa lalu. Jadi, di sini di tempat cafe ini, Safira bekerja sebagai seorang penyanyi tetap di acara Live Musik, Keren ya. Tugasnya menghibur para pengunjung cafe dengan suara emasnya, sangat lucu bukan? Bisa menghibur semua orang sedangkan Safira sendiri saja sering bersedih, butuh penghibur hatinya yang duka lara akibat kenangan-kenangan masa lalu yang sekarang berperang dengan dirinya, mencoba dan berusaha untuk menata ulang hidupnya. Safira sudah siap di panggung kecil tapi mewah, duduk di kursi dengan senyaman mungkin, ada sebuah gitar berwarna hitam dipangkuannya siap untuk dipetik oleh jari-jarinya yang lentik, microfon di depannya siap menerima suara indah Safira, jika di padukan dengan nada yang sesuai, maka jadilah sebuah lagu yang enak didengar dan siap menghibur para pengunjung Cafe. Safira memulai nyanyiannya, terdengar syahdu dengan suara khasnya yang lembut. Respon dari penonton sangat positif mereka bertepuk tangan kagum pada sosok Safira yang nyaris Sempurna, Cantik dan pintar bernyanyi, sudah banyak sekali fans atau pengagum rahasia, atau yang diam-diam memandang dari ujung ruangan tempatnya Ia duduk. Jadi penyanyi adalah salah satu impian Safira, dari kecil ia sudah hoby bernyanyi, Ayahnya tidak melarangnya malah mendukung dengan memberikan les privat di rumahnya. Namun, jadi penyanyi bukannlah sebagai prioritas utama kata Ayahnya, Safira harus mau menjadi Penerus Perusahaan Ayahnya, karena Safira adalah putri satu satunya. Makanya, dulu ia dikirim Ayahnya untuk melanjutkan Kuliah di London jurusan Bisnis Management. Tapi sayang, Safira tidak bisa memenuhi keinginan Ayahnya, Safira telah mengecewakan Ayahnya, hanya penyesalan pada akhirnya. Jam kerja Safira sebagai penyanyi sudah selesai hanya sampai jam 10 malam, sedangkan kelanjutannya digantikan dengan musik DJ sampai jam 12 malam khusus untuk malam minggu. Safira dan Sinta sedang siap siap untuk pulang, rasanya hari ini sangat letih, namun Safira teringat sesuatu di rumah stok bahan makanan sudah habis, bagaimana besok akan sarapan, tadi saja hanya sarapan dengan sisa roti dan segelas s**u. Siangnya tidak makan, dan sempat makan saat sore di cafe tadi. "Sinta, sekalian anterin aku ke super market Mamayana ya? aku mau belanja bulanan, stok di rumah udah pada habis." Pinta Safira yang sudah berada di dalam mobil secepat kilat. "Weww... Tumben gercep banget(gerak cepat), udah ada di mobil aja, biasanya harus gue susul mulu, lelet kaya keong racun." sindir Sinta dengan kekehan tawa. Lalu, ia masuk ke dalam mobil tepat di kursi kemudi. Safira memanyunkan bibirnya "mau gak nih nganterin?" "Iya, iya, Gue anterin, santai aja dong kaya di pantai, slow kaya di pulau." goda Sinta dengan kekehan kecil. Tak lama, Sinta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan Ibu kota yang sudah biasa dengan kemacetan. Menuju ke Super Market Mamayana yang tak jauh dari Cafe Green sky. Di dalam mobil mereka berdua mengobrol tentang apa saja, Sinta orangnya memang Cerewet dan Ceplas-ceplos sangat pas dengan Safira yang pendiam, dulu Safira tidak se-pendiam sekarang, mungkin karna sudah berada di fase yang berbeda, fase dewasa. Sedangkan dulu Safira muda sangat ceria dan agak bar-bar sama seperti Sinta sahabatnya. "Safira?" Panggil Sinta pelan, namun matanya masih fokus ke arah jalan di depannya. "hmmm." jawab safira tanpa menoleh, matanya fokus menatap ponsel yang ia mainkan di tangannya. "Kayanya Pak Hari, suka deh sama Loe." tebak Sinta dengan segala ramalannya. "Siapa dia? " Ucap Safira datar dan tidak terkejut, masih fokus menatap ponsel yang ada di tangannya. "Masa kamu gak tau, Pak Hari yang ganteng banget itu, pelanggan VVIP cafe tempat kita kerja, katanya dia tajir melintir, Pemilik Hotel Royal bintang lima!" ucap Sinta antusias. "Oh... " ucap Safira masa bodo. "Ah, gak seru, Loe!" Sinta cemberut. "Tau gak, Safir? Dia datang ke cafe setiap jadwal loe manggung doang tau, liatin Loe terus tanpa berkedip, apalagi pas Loe tampil nyanyi." Lanjutnya terdengar berlebihan di telinga Safira. "Sinta, semua pengunjung liatin aku nyanyi, apa itu berarti mereka suka sama aku. Jangan ngaco deh." ucap Safira mengelak. "Tatapannya beda banget kalau lihat Loe, seperti melihat bidadari syurga. Dan dugaan Gue itu nggak pernah salah, 99% fakta." Jawab sinta percaya diri. "Masih sisa 1%, kemungkinan tidak." Safira masih mengelak dan mengabaikannya. Perkataan Sinta memang ada benarnya, Safira sering menangkap basah mata Hari secara terang-terangan menatap kearahnya. Namun, Safira pura-pura tidak tahu. Sejujurnya, Safira tak merasakan apa-apa jika ditatap oleh laki-laki yang bernama Hari atau laki-laki lainnya, rasanya seperti sudah mati, menggantikan posisi masa lalunya tidak segampang memetik gitar dipangkuannya, itu semua butuh proses untuk membuat api cintanya berkobar kembali. "Safira... Sampai kapan sih Loe kaya gini terus? Masih mengharapkan cowo b******k itu? Ya, meskipun gue nggak tau yang mana orangnya atau upilnya sekalipun, gue dengernya aja enek, apalagi kalau sampai ketemu, nggak perduli. Loe itu udah dewasa, dan sekarang udah 7 tahun berlalu. Come on Baby, move on Safira, jangan jadi cewe bodoh, Lemah, kalau Loe gini terus bakalan jadi perawan tua, loe nggak akan menikah, dan tidak akan merasakan nikmat surga dunia, hehe..." guraunya. "Sebenarnya, Gue sedih liat Loe gini terus, setidaknya cobalah kasih cowo lain kesempatan buat deket sama Loe safira, buka hati loe, pelan-pelan aja. " ucap Sinta Jujur, iba melihat keadaan sahabatnya. Safira bisa mendengarnya dengan jelas, namun merespon dengan kebisuannya. Mengatakannya memang mudah, namun jika di posisi Safira sungguh berat dengan ini semua, Safira hanya berusaha, dan terus berusaha, mencoba untuk tegar dan kuat. Safira tidak bisa melupakan nya sampai saat ini, bayangannya hanya dia, diotaknya hanya dia, di hatinya hanya ada dia, cuma dia, dia, dan dia. Dan dia siapa ? Ya, Dia laki laki Yang selalu terbayang-bayang di fikiran seorang Indah Safira.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD