Kenyataan yang pahit namun itulah kebenarannya, lebih berani itu penting dari pada hanya diam penuh bayangan.
.
.
.
Safira sejak tadi terhanyut dalam hayalan fananya. memikirkan si dia. katanya mau berubah, nyatanya masih memikirkan dia.
"Woyy, Udah sampai. Woyy...." Teriak Sinta beberapa kali, yang akhirnya membuyarkan lamunan Safira.
Safira tersadar, Ia melihat keluar kaca mobil, Ini bukan di depan Super Market tapi berada di depan Apartemennya. Ia memandang Sinta dengan Kedua alis yang dikerutkan, bingung.
"Loe pasti bingung kan? Makanya, kalau ngelamun tuh jangan lama-lama, tadi gue udah berhenti di depan Mamayana, eh ternyata udah tutup. Jadi besok pagi aja deh sekalian joging yah, olahraga di hari minggu, lihat yang bening-bening, biar seger, hihi... Selamat malam ya, Safira." Cerocos Sinta tanpa jeda, diakhiri senyuman manis yang di buat-buat.
Safira hanya terdiam dan memutar bola matanya, dasar banyak alasan!!! Kemudian, mengangguk, ia sedikit terhibur dengan tingkah laku Sinta yang bar-bar, tidak pernah berubah dari dulu. Lalu, Safira segera keluar dari mobil.
"Jangan lupa besok gue jemput loe jam setengah tujuh pagi, jangan telat, Ok." teriak Sinta. Lalu, melambaikan tangan tanda salam perpisahan, dengan segera Sinta tancap gas, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Safira membalas lambaian tangan tanda salam perpisahan, sampai mobil itu samar-samar dari pandangan, seolah ditelan kegelapan.
Safira segera masuk ke apartemennya, rasanya ingin segera istirahat, dan menyapa ranjang empuk kesayangannya.
...
Cuaca pagi hari ini sangat cerah, langit yang biru, dan matahari mulai malu-malu untuk memancarkan sinarnya. Rencana untuk joging pagi ini benar-benar niat, Safira sudah bangun dari pagi buta, ia sudah membereskan rumahnya. Lumayan, ada kemajuann, salah satu bentuk usaha untuk mengubah diri.
Safira dan Sinta sudah lengkap dengan pakaian joging. Safira memakai setelan joging panjang berwarna baby blue, dengan gaya rambut dijalin, dan sepatu sport berwarna putih.
Sedangkan, Sinta memakai setelan joging yang sangat minim dengan warna favorite, pink menyala, ia sengaja memakai itu untuk mencari perhatian lawan jenis, berharap ada yang kecantol, siapa tahu kan, jika ada niat disitu pasti ada jalan, namanya juga usaha.
Mereka berdua pergi ke taman kota dengan mobil milik Sinta, tepat pukul tujuh WIB mereka sudah sampai dan langsung memarkirkan mobil di tempat yang sudah tersedia.
Safira turun dari mobil. Lalu, disusul dengan Sinta, sebelum mulai lari pagi mereka berdua melakukan pemanasan olahraga terlebih dahulu untuk meregangkan otot-otot yang kaku. Bahkan, Safira lupa kapan terakhir olahraga. Setelah selesai mereka mulai joging.
Di taman kota memang di sediakan untuk olahraga, lapangan yang luas serta banyak tanaman bunga dan pohon-pohon besar, menambah suasana udara terasa segar. Karena hari ini adalah hari minggu juga, jadi lebih ramai dari hari biasanya, semua orang berdatangan untuk tujuan yang sama.
Tak terasa, Satu jam Safira joging cukup jauh, istirahat sejenak di bawah pohon besar, tenggorokannya mulai kering, Safira meminum air botol yang sengaja ia bawa untuk menghilangkan haus dahaganya.
"Sinta, kamu mau minum?" Tanya Safira, namun tidak ada jawaban, Safira menengok kesamping, tidak ada, kebelakang pun sama tidak ada, ia mencari ke sekeliling pun sama tidak ada juga.
safira menghela nafas. Kebiasaan!!!
Safira tampak tenang, sebenarnya ia sudah menduga akan seperti ini, seperti yang sudah-sudah, kebiasaan Sinta kalau joging cuma namanya saja, sebenarnya ia tebar pesona untuk mencari berondong tua.
Sedikit kisah tentangnya, Sinta selalu gagal dengan masalah asmaranya, alasannya berpareasi, ada yang ketahuan karna sudah punya istri, atau laki laki itu hanya memanfaatkan uangnya saja, dan hanya sekedar pelarian para duda yang baru cerai. Namun, Sinta bersikap biasa, dengan mudahnya mencari lagi, anggap semua kejadian itu dengan santai kaya di pantai, slow kaya di pulau, katanya. Berbanding terbalik dengan diri Safira yang sangat rapuh.
Biarlah urusan pencarian Sinta ditunda dulu, urusan perut lebih penting, karna soal perut tidak bisa kompromi, jika perut kenyang pencarianpun menjadi gampang, semangat 45.
Safira keluar dari taman kota untuk mencari rumah makan. Namun, belum ada yang buka, cacing di dalam perutnya sejak tadi sudah menari-nari minta segera di isi, tak jauh di depannya pedagang Bubur Ayam sedang mangkal yang nampak ramai oleh pembeli.
"Bubur Ayam Spesial Rasa Mamah Muda"
Bawa Pacar diskon 20%
Bawa Istri diskon 50%
Bawa Pacar + Istri Diskon 100%
(Jika ada cedera dan patah tulang, Pihak kami tidak bertanggung jawab) selamat mencoba. Wkwkwkwk
Safira segera masuk, lalu memesan satu mangkuk bubur kepada seorang bapak paruh baya tapi masih terlihat bugar. Safira menunggu dengan duduk di bangku yang terbuat dari kayu sederhana dengan saung terpal berwarna biru. Tak jauh dari tempat duduk Safira. tepatnya di ujung, Sinta sedang enak-enakan makan bubur bersama berondong.
Apakah ini seperti dalam pribahasa?
Menyelam sambil minum air.
Masalah isi perut terselesaikan dan pencarian Sinta pun terpecahkan.
Asik... Asik... Bersuka ria dalam hati.
Safira sengaja tidak ingin mengganggu sahabatnya, biar mereka lebih dekat dan leluasa. Semangkuk bubur sudah tersedia di atas meja yang diantarkan oleh satu pelayan, tak lupa satu gelas besar teh manis hangat sebagai oendamoing sarapan pagi ini.
Safira segera menikmati sarapan bubur dengan lahap, di rasa perutnya sudah kenyang ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam kantong celananya, Ia memainkan benda pipih itu, Mengirim pesa via chat pada Sinta.
Sinta : "Aku pulang duluan ya, kamu gak usah khawatir, Selamat berjuang kawan, nikmati hari ini, semoga berhasil."
Sinta mengambil ponselnya yang berdering, dibacanya pesan dari Safira, lalu matanya menyapu keseluruh tempat, akhirnya menemukan Safira di sana, keduanya saling menatap dari kejauhan, keningnya mengkerut dan memanyunkan bibirnya berkspresi memelas, bermaksud meminta maaf dan berterima kasih sudah pengertian. Mmmmmuah Kiss jauh dari Sinta yang manis melebihi gula di warung.
Safira hanya tersenyum mengangguk. Ia berdiri lalu membayar pesanannya, dengan Segera pergi keluar.
Safira berdiri di pinggir jalan, lalu menaiki taksi on line yang sudah di pesannya tadi. Ia segera masuk karena cuaca di jalan sudah sangat panas. Sinar matahari berubah terik.
"Mbak, sesuai aplikasi ya, ke super market Mamayana." tanya supir memastikan.
"Iya." ucap Safira singkat.
"Iya, mohon maaf mbak, mbak ini artis ya? cantik banget mirip kaya Citra Kirana, tapi cantikan mbak sih." ucap supir melihat dari pantulan kaca depan dengan jujur bukan gombal semata.
Safira hanya tersenyum "Bukan pak. Hmmm, tapi makasih. " jawab Safira singkat.
Dua puluh menit perjalanan, akhirnya sampai di tempat yang dituju. Safira turun dan langsung memberikan selembar uang untuk ongkos.
Ia langsung masuk ke dalam bangunan besar dengan tinggi 2 lantai itu bertuliskan MAMAYANA yang berwarna merah.
Safira langsung mengambil troli dorong, ia akan belanja banyak sekali hari ini, karena semua stok di rumah juga sudah habis, Safira akan mencoba hidup lebih baik, dengan cara menikmati hidup ini.
Safira berkeliling mencari dan mengambil bahan bahan yang memang di perlukan dari rak-rak yang berjejer rapi dengan display macam macam makanan atau keperluan lainnya, seperti Beras, sayuran, buah-buahan, sabun, pengharum ruangan, dan lain-lainnya.
Setelah selelsai Safira mendorong trolinya ke arah cemilan, ia mengambil banyak sekali camilan, Karna Safira sangat suka ngemil, Ia melihat sebuah Coklat salah satu cemilan favoritnya, ia akan memakannya dikala sedih.
Seketika, terbesit wajah seseorang mengingatkan akan masa lalunya jika melihat coklat ini.
Tak terasa trolinya sudah penuh, Safira berjalan ke arah kasir hendak akan membayar, di tengah perjalanan mata Safira menyapu keseluruh ruangan, namun tak sengaja matanya menangkap seseorang yang tidak asing, ada di balik tumpukan botol minuman yang menjulang tinggi dengan rapi.
Deg...
Detak jantung Safira berubah-ubah, Lambat cepat lambat cepat tak karuan, hatinya merasa gelisah, wajahnya berubah memucat. Ada rasa tak percaya.
Apakah ini mimpi?
seseorang yang sangat Safira rindukan, yang selalu terbayang-bayang, kini berada tidak jauh dari hadapannya.
Daffin Faaz...
Nama yang selalu dipuja di setiap katanya.
Tapi, Kenapa Rasanya sakit sekali hati ini melihat Daffin tidak sendirian. Dia tengah duduk berdua sedang tertawa bahagia, tersenyum lepas bersama wanita itu, Yasmin.
Oh, wanita itu sangat cantik sekali, berubah menjadi wanita dewasa yang sempurna. Semua orang yang melihat mereka berdua akan memuji bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Yang pria tampan dan yang wanita cantik, perpaduan yang sempurna, perfect couple.
Safira hanya diam mematung, tak terasa bulir bening jatuh dari sudut mata begitu saja di pipinya yang mulus.
Dasar Safira cengeng.
Safira harus bagaimana tentang perasaannya sendiri, antara bahagia karena akhirnya bisa berjumpa dengan Daffin, atau hatinya kini tak bisa di pungkiri, sedih, terasa perih bagai di iris-iris karena Dia sudah tak sendiri lagi.
Safira tersadar. Bukankah Safira akan move-on. Ia langsung menghapus air matanya dengan kasar, Ia berniat untuk pergi dari sini atau kalau bisa menghilang dari tempat ini dengan benda ajaib Doraemon. Namun, tidak akan berhasil Karena Doraemon hanya ada di dunia fantasi.
Tangannya bergetar hebat, rasanya kebas dan lemah, safira mundur ingin memutar balik ke arah belakang dan akan mengumpat saja di balik rak-rak tinggi itu sampai mereka pulang.
Berniat ingin secepatnya pergi. Safira malah tak sengaja trolinya menyenggol beberapa tumpukan botol minuman yang ada didepannya, seketika runtuh berantakan dan mengeluarkan Suara cukup gaduh, sontak jadi pusat perhatian seluruh orang yang ada diruangan ini. Mungkin debu yang ada disini pun menatap sembari menertawakan atas kecerobohan Safira.
Safira benar-benar kaget dengan kejadian memalukan ini, rasanya ingin menutup wajahnya dengan snack berukuran besar yang ia masukan ke dalam trolinya.
Dasar Safira ceroboh.
Safira refleks berjongkok memungut botol yang berjatuhan kemana-mana, tidak lupa ia juga terus meminta maaf pada kepala toko dan satu karyawan yang menghampirinya dan membereskan semuanya.
Safira mengabaikan omelan fasih manager toko tersebut, ia sedang berusaha menutupi wajahnya dengan menunduk agar terhindar dari pandangan yang tidak jauh di depannya.
Dari jauh, Daffin dan Yasmin melihat ke arah kejadian sekilas. Daffin memilih tidak perduli. Sedangkan, Yasmin menyadari kehadiran Safira yang berada tak jauh darinya.
Yasmin sangat mengenal wajah yang berusaha menunduk itu, sontak tidak percaya apa yang di lihatnya saat ini.
Tatapan mata Yasmin menangkap sorot mata Safira penuh ketakutan. Kini keduanya sama sama saling menatap cukup lama. Yasmin spontan berdiri dari duduknya, lalu diikuti oleh Daffin yang mengira Yasmin mengajaknya pulang.
Namun, Yasmin hanya berdiam diri di tempat dengan tatapan mengunci ke arah Safira, Daffin yang bingung, lalu matanya mengikuti arah yang di tatap Yasmin.
Safira menyadarinya langsung berdiri dan menatap ke arah Daffin.
Safira batin Daffin.
Deg Deg Deg...
Kini keduanya saling menatap, awalnya Daffin terkejut dengan apa yang di lihatnya, matanya membulat sempurna rasa tidak percaya, mereka saling memandang cukup lama. Namun, sorot mata Daffin berubah seketika menyadari yang ada didepannya adalah Safira.