"Daffin!" Panggil Mahendra. Berhasil membuyarkan lamunan dari segala kenangan masa lalu Daffin. Daffin segera tersadar kembali ke dunia nyata, sekarang. Ia memasukan kembali foto itu ke dalam kotak kaleng di mana tempatnya berasal.
"Sebenarnya, gue sengaja kesini mau ngajak loe makan siang bareng!!!" lanjutnya. Tujuan Mahendra dan Matheo adalah demikian.
"Di larang nolak, hitung-hitung permintaan maaf loe atas kesalahan semalam, karena loe nggak hadir di pesta bujang gue, sekalian wajib telaktir." lanjut Mahendra, tanpa basa basi ia langsung menarik lengan kiri Daffin.
"Gue setuju banget Mahen, kuy ah." timpal Matheo, sama-sama menarik lengan kanan Daffin.
Daffin merasakan kedua lengannya di tarik berlawanan arah. Ia mendesah kesal dengan tingkah laku dua sahabat kentalnya semasa Kuliah yang kelewat konyol.
"Stop, gue bisa jalan sendiri." ucap Daffin, ia beranjak dari duduknya melangkah lebih dulu meninggalkan Matheo dan Mahendra dengan tampang wajah penuh kebingungan atas reaksi aneh Daffin yang tidak biasanya.
Tak lama, mereka berdua segera menyusul Daffin dari arah belakang, seperti dua anak ayam mengikuti induknya.
Mereka bertiga berangkat dengan menggunakan mobil Mahendra, kini mereka sudah sampai dan sudah duduk di meja berukuran besar dengan 6 kursi, sengaja memilih meja dengan ukuran besar, alasannya adalah Matheo dan Mahendra akan memesan banyak makanan, tentu saja karena di bayar oleh Daffin, kapan lagi kan makan makanan gratis. Absrud sekali duq pria ini, jika sudah berkumpul hilang image wibawa mereka.
Restaurant khas Nusantara menjadi pilihan mereka bertiga, sebenarnya harus ada perdebatan dahulu antara Mahendra dan Matheo, memang dua orang ini jika bertemu selalu berselisih, dan Daffin siaga sebagai penengahnya, begitulah pertemanan mereka dari masa kuliah sampai kini, sampai sukses di bidang bisnis masing-masing.
Ketiganya asyik mengobrol, membicarakan banyak hal, yang pasti paling heboh adalah Mahendra dan juga Matheo.
Sampai pesanan mereka akhirnya datang, segera mereka menyantap makan siang dengan lahap sekali, sebenarnya jam makan siang mereka sudah terlewat, akibat terlalu banyak drama.
Saat acara makan berlangsung, sepasang bola mata coklat Daffin tak sengaja menangkap dua sosok manusia tidak asing baginya yang sedang lewat dari pandangan jarak jauh, arahnya menuju keluar Restaurant. Sosok yang Daffin kenal. Mereka adalah Safira dan Hari, tak lain adalah rekan bisnisnya.
Mereka terlihat begitu akrab dan berjalan beriringan, meski bisa di lihat Safira banyak diam di banding Hari yang aktif mengajak Safira berbicara. Namun, dalam benak Daffin banyak sekali pertanyaan.
"Wanita itu benar-benar munafik, murahan." Umpat Daffin dalam hati.
Selera makan Daffin tiba-tiba hilang, saat melihat pemandangan baru saja ia saksikan, yang membuatnya mendadak panas, padahal suhu ruangan normal bahkan terbilang sangat sejuk, karena lengkap dengan sebuah AC.
...
Safira turun dari mobil Hari tepat di depan Apartemen Safira, tak lupa ia mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mengantarkannya pulang dan sudah mengajaknya makan siang juga.
Beruntungnya Hari tidak meminta untuk mampir masuk kedalam Apartemennya, kali ini Tuhan menyelamatkannya dengan Hari di telepon oleh salah satu Asistennya karena ada suatu urusan yang sangat penting.
Sebenarnya pertemuannya dengan Hari tidak di sengaja, bahkan berharap tidak bertemu lagi seperti ini.
Sepulang dari kantor Daffin tadi, Safira berniat langsung pulang saja, ia berdiri di pinggir jalan untuk menyetop taksi yang lewat, lagi-lagi mobil Hari datang dan memberikan tumpangan, dan memaksa mengajak makan siang, Safira tak enak hati untuk menolak, dengan terpaksa Ia mengiyakan permintaan Hari.
Bahkan saat di malam itu, saat Hari meminta nomor ponsel Safira, Ia sengaja memberikan nomor palsu. Namun, pertemuan tadi seolah menjadi kesempatan untuk Hari meminta ulang nomor ponsel Safira yang asli.
"Aku menghubungi nomor kamu dari pagi. Tapi, nomornya nggak aktif terus. Salah nomor atau memang nomor palsu?" tanya Hari selidik seperti detektif, "Kok, kaya lagu dangdut Ayu Ting Tong ya? Nomor palsu. ckckck." Bisa-bisanya Hari melucu di saat Safira merasa malu karena sudah memberikan nomor palsu. Apa yang harus Safira jawab, sebagai alasannya? Safira tersenyum hambar menutupi kebohongannya.
Safira lalu mengambil ponsel yang diberikan Hari, kali ini Safira memberikan nomor asli. Hari mengambilnya, lalu menekan panggilan agar tidak tertipu untuk kedua kalinya.
Ponsel Safira berdering, menampilkan dua belas digit angka nomor baru, sudah dipastikan nomor tersebut adalah milik Hari.
"Ok, Aku save nomor kamu. Kamu save nomor Aku juga ya, jangan sampai aku telepon kamu bilang salah sambung, Hahah." ucap Hari bercanda lagi, hatinya kelewat senang.
Safira hanya tertawa hambar, lagi, maksud Safira bukan seperti itu. Yang sebenarnya, Safira takut jika suatu saat ia menyakiti Hari dengan kedekatannya, memberi harapan palsu, bukannya geer, Safira tahu jelas sikap Hari pada dirinya seperti apa? jujur saja Safira tidak merasakan apa-apa, hanya perasaan tidak enak hati jika menolak ajakannya, itu saja tidak lebih.
Setelah sampai dalam Apartemen, pertama yang Safira lakukan adalah menyapa kamar mandi.
"Hai, badanku lengket dan lelah sekali hari ini, dan sepertinya butuh penyegaran, jika berendam air hangat sepertinya ide bagus." Safira berbicara pada dirinya sendiri.
Ia meraih handuk, lalu memasuki kamar mandi, dan mengurung diri untuk ritual berendam.
Hampir menghabiskan waktu selama satu jam, akhirnya Safira keluar.
Tubuh Safira merasa segar setelah berendam. Ia sudah lengkap memakai pakain santai, kaos putih yang kebesaran dibadannya dan celana pendek. Pendek sekali, seperti tidak terlihat pakai apa-apa. Fikirnya, di rumah hanya tinggal sendiri, tidak ada siapa-siapa selain dirinya, bebas cewek single, mau guling-guling ke, jungkir balik ke, atau salto sekalian, nggak akan ada yang merhatiin.
Kini Safira duduk santai di sovabad depan televisi, Ia meraih remot dan menyalakannya, nonton film Romance dan di temani cemilan, lengkap sudah waktu santai Safira sore hari ini.
Kegiatan Safira memang sangat membosankan setiap harinya, tidak ada kegiatan untuk jalan keluar, hanya di dalam rumahnya saja dengan barang-barang sebagai saksi bisu bagaimana kehidupannya, Gitar yang selalu menemani sepinya. Suara nyanyian menjadi kelengkapan kegundahan hatinya.
...
Pergantian Hari.
Cuaca siang ini sangat panas, terik matahari seakan menyorot pada sosok seorang wanita yang setengah berlari ke arah Rumah Sakit setelah ia turun dari taksi on-line yang ia pesan melalui sebuah aplikasi.
Safira berencana menjenguk Ibu Sinta yang sedang di rawat di Rumah Sakit yang ia pijaki saat ini. Ia melangkah dengan santai menuju salah satu ruang rawat inap yang telah Sinta beritahu lewat chat sebelumnya, dan Ia pun sudah memberitahu kedatangannya. Tidak lupa Safira membawa buah tangan berupa sekeranjang aneka macam buah-buahan.
Ruang pasien Cempaka satu, Safira segera membuka handle pintu untuk memastikan, apakah benar ini adalah ruang inap Ibunya Sinta. Dan benar saja, Sinta ada didalamnya. Safira segera masuk, Sinta yang menyadari kedatangan Safira langsung menyambut dengan pelukan hangat.
"Makasih Safira, jadi ngerepotin loe, macet nggak?" tanya Sinta setelah menerima keranjang buah dari Safira, dan menyimpannya di meja dekat ranjang pasien.
"Lumayan, Jakarta sudah biasakan macet, kapan nggak pernah macet?." jawab Safira terkekeh.
Lalu langkahnya mendekati Ibu Sinta yang sedang berbaring lemah di atas ranjang pasien, meski sedang sakit, Ibu Sinta menampakan wajahnya yang pucat tetap tersenyum panjang menyambut kedatangan Safira.
"Gimana keadaannya Bu, sudah lebih baik? " tanya Safira membalas senyuman Ibu Sinta, dengan lembut menyalami tangan beliau. Safira sudah mengenal Ibu Sinta dari jaman SMA, sangat baik dan perhatian. Sekian lama tidak berjumpa, baru kali ini berjumpa lagi.
Dulu, Safira juga punya Ibu yang baik dan sangat perhatian, meski bukan Ibu kandung. Namun, telah menganggap Safira sebagai putrinya sendiri. Jadi, saat Safira kecil Ayahnya telah menikah lagi dengan seorang janda, sedangkan Ibu kandung Safira telah lama meninggal saat melahirkan Safira. Dan kini, Ibu tiri Safira tanpa kabar, entah di mana. Setelah terakhir kali memberi kabar lewat sebuah telepon, bahwa Ayahnya telah tiada saat Safira tengah kuliah di London dulu, seolah menghilang tanpa jejak.
"Sudah lebih baik, tinggal banyak istirahat saja kata Dokter." jawab Ibu Sinta dengan nada masih lemah. "Kemana saja kamu Safira, sudah lama ya tidak bertemu? Kamu sudah dewasa, Kamu cantik sekali." lanjut Ibu Sinta, dengan suara lemahnya masih bisa memuji Safira saat ini.
Safira hanya membalas dengan tatapan lembut dan memberikan senyuman yang tulus. lalu memeluknya perlahan. "Ada saja, Safira baru pulang dari London Bu. Ibu istirahat saja ya, agar cepat sehat kembali." ucap Safira dengan tulus. Safira membiarkan Ibu Sinta agar kembali beristirahat.
Ibu Sinta mengangguk setuju, tak lama memejamkan matanya perlahan, mungkin karena pengaruh obat juga yang ia minum tadi, jadi cepat sekali tertidur.
Setelah itu, Safira pun mendekat ke arah Sinta yang sedang duduk di sova panjang yang tersedia di kamar rawat ini. Lalu duduk bersebalahan dengan Sinta.
Beberapa hari tidak bertemu, membuat dua sejoli ini di landa rindu, mereka berdua terhanyut pada perbincangan banyak hal. Ya, pastinya Sinta yang ingin tahu banyak tentang Safira, bagaimana selama dua hari ini tanpa ada Sinta.
"Baik-baik saja, bahkan aku berani kesini sendiri kan." jawab Safira santai, Jarang sekali Safira keluar tanpa Sinta, kecuali memang ingin berangkat sendiri itu juga.
Sinta mengerutkan dahi dan bibirnya bersamaan, semacam ekspresi marah manja, maunya Sinta, Safira tanpa Sinta akan kesusahan. Kenyataannya memang iya, Safira terlalu bergantung pada Sinta. Ya, hanya Sinta, orang yang paling dekat dengannya selama ini.
Safira pun paling tidak bisa berbohong pada Sinta, ia menceritakan bagaimana beberapa hari ini ia lewatkan. Apalagi ada Pria yang mendekatinya, siapa lagi? Kalau bukan Si Hari itu. Bukan Hari-hari dalam satu minggu. Tapi Hari Hadiwijaya, nama Orang.
"Apa? " pekik Sinta, Matanya membulat sempurna, melotot, bahkan hampir keluar jika tidak Safira kibaskan oleh tangannya. Sinta kaget atas pernyataan Safira yang sudah bertemu dengan Hari, bahkan sudah makan siang bersama dan mengantarkan Safira pulang. Ketinggalan informasi banyak ni Sinta.
"Tuh-kan!!! Prediksi gue selama ini nggak pernah meleset, cie... cie... " goda Sinta pada Safira. Safira diam saja hanya memberikan ekspresi wajah datar, ya sejujurnya Safira memang biasa saja.
"Tapi, Sin... Aku tuh, belum... " Safira tidak melanjutkan ucapannya, ada keraguan dalam hatinya.
"Belum apa? Gue itu cape ya ngasih tau loe. Belajar menerima keadaan, jangan kebanyakan mimpi. Untuk apa mengejar seseorang yang memang tidak pantas kamu kejar, ada Hari yang sudah ada di depan mata loe, melek dong matanya, loe kebanyakan merem dan menghayal sih. Tinggalkan masa lalu, mulai menata masa depan sekarang juga, bersama Hari, biar Hari-hari loe berwarna seperti pelangi." geram Sinta pada Safira yang menurutnya bodoh, apakah Cinta bisa membuat orang se-bodoh ini. Istilah itu bukan cinta buta saja tapi cinta yang membodohkan, versi Sinta.
Safira terdiam lagi. Sejenak kemudian. "Ya, aku takut memberi harapan palsu, yang akhirnya dia akan kecewa juga Sin." jawab Safira tetap sama seperti dulu. Ia takut mengecewakan pria yang mendekatinya, dan hatinya... Masih sama, sekejap berubah dengan yakin akan melupakan Daffin, sekejap kemudian susah untuk melupakan Daffin. Hatinya benar-benar masih plin-plan. Yang sebenarnya, hatinya belum bisa menerima kenyataan.
"Kamu itu penakut, takut hal yang baru, takut ini, takut itu. Kapan mau maju nya, hati kamu masih tertinggal di tujuh tahun yang lalu." geram Sinta lagi, yang mulai naik darah. Safira termasuk orang keras kepala, dan juga setia, jika sudah cinta maka cinta, titik.
Safira lagi-lagi diam, perdebatannya dengan Sinta memang seputar tentang masa lalu. Sinta yang geram dengan perasaan Safira yang gagal move-on, sedangkan Safira dengan hatinya yang sama. Mungkin, perasaannya yang tertinggal tujuh tahun lalu sudah membatu, diam tanpa ingin berubah.
Hari mulai sore, cuaca di luar berubah meredup, tidak sepanas tadi siang. Setelah makan bersama dengan Sinta di Kantin Rumah Sakit, Safira pamit untuk pulang, Sinta tidak mengantarkan Safira sampai depan, karena Ibu Sinta yang sudah bangun, dan membutuhkan keberadaan Sinta. Tidak lupa Safira mendo'akan Ibu Sinta agar segera sembuh dan bisa melakukan aktifitas seperti biasanya.