Bab 8 : Janji

2036 Words
Sinar mentari pagi menyapa bumi dengan perlahan, memberikan sinar semangat untuk mengawali kegiatan hari ini. Seorang Pria tampan dan gagah turun dari mobil mewah. Langkahnya penuh percaya diri memasuki gedung D-Faaz Company Group yang tinggi bagaikan pencakar langit. Para bawahan yang melihat atasannya membungkukan setengah badannya, memberikan tanda hormat sampai masuk ke kotak besi canggih itu. Sesekali ada yang melirik betapa mengagumi Atasannya yang kelewat tampan nan gagah itu. Akhirnya, siang ini Daffin bisa santai setelah berkutat dengan berkas-berkas yang di berikan Sekretarisnya sejak tadi pagi. Ia duduk menyender di kursi kebesarannya, meregangkan otot-otot yang kaku agar terasa rileks, kepalanya dengan sengaja ia senderkan penuh di ujung kursi, lalu memejamkan mata untuk mengistirahatkan betapa sibuknya pagi ini. Entah mengapa wajah wanita itu terlintas dibenaknya begitu saja, seseorang yang sangat ia benci sekaligus sangat ia cintai, ingin menjauhinya namun sangat ia rindukan. Jika mengingat kenangan-kenangan itu sangat menyakitkan bagi Daffin, kemarin yang ia ucapkan pada Safira memang pantas untuk ia dengar, apa yang Daffin rasakan harus sama Safira rasakan, baru fair (adil). Seketika ujung matanya sudah basah oleh buliran bening kristal, betapa lemahnya diri ini, meski sudah berusaha. Terdengar suara langkah kaki dari dua orang pria yang sudah tak asing masuk ke ruangan Daffin tanpa izin, sukses mengejutkan lamunannya. Daffin segera mengusap jejak basah di sudut matanya dengan cepat. Tangannya mengambil balpoin, berpura-pura sibuk dan fokus dengan berkas didepannya, yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi. Selain pandai berbisnis ternyata Daffin pandai berakting juga. Akting menutupi kesedihannya. "Gimana perusahaannya nggak semakin maju, waktunya makan siang aja,masih sibuk dengan pekerjaan." ucap Mahendra yang baru saja datang, lalu duduk di sisi kanan meja kerja, langsung merecoki Daffin yang sedang akting sibuk. Daffin tidak menjawab, tetap fokus pada berkas yang ada didepannya. "Bos dari segala Bos, beri hormat gerak." ledek Matheo sahabatnya sekaligus tangan kanan Daffin, mengangkat tangan dekat kepala layaknya memberi hormat ala paskibra, tak ingin kalah dengan Mahendra, Matheo merecoki Daffin dari sisi kirinya. "Gue kesini mau nuntut loe, kenapa loe nggak datang di pesta bujang gue semalam?" ucap Mahendra dengan tatapan marah pada Daffin. Daffin lagi-lagi diam, tak menjawab, bahkan menoleh saja tidak. Seolah diamnya Daffin adalah emas, sepertinya. "Padahal semalam asyik banget, banyak cewek! Model kaya gimanapun ada, mulai dari yang seksi dan menggairahkan, ada juga yang sok anggun padahal liar!" timpal Matheo paling heboh membahas soal wanita, Ia tertawa puas. Lagi-lagi Daffin diam. mengabaikan kedua makhluk yang datang tanpa di undang ini. Jelangkung kali ya!!! "Loe hidup nggak sih Fifin? (Panggilan untuk Daffin, spesial dari Mahendra dan juga Matheo). Dari tadi di ajak ngomong diem aja." Mahendra memeriksa denyut nadi Daffin. "Hidup! tapi loe kaya zombi. Hidup tapi nggak ada semangat-semangatnya, datar banget hidup loe, kerja yang di urusin!" timpalnya asal. Mahendra pun tertawa puas. "Kaya nggak tau aja loe Mahen. Dia nggak doyan pesta. Doyannya tempe mendoyan, eh itu mendoan ya. Canda. Maksudnya, doyan menyendiri, nggak suka keramayan, di undang pesta sama rekan bisnis kerja aja nggak pernah datang, lebih parahnya pesta perayaan perusahaannya sendiri, datang sebentar, terus menghilang, tau-taunya ada di ruangannya. Gue heran!!! jangan-jangan loe udah nikah ni sama benda-benda yang ada di sini, demen banget menyendiri di kantor?" tutur Matheo yang bicaranya nyeroscos kaya cewek lagi datang bulan, heboh sekampung. lagi lagi Daffin masih diam. krik... krik... krik... hening, hanya ada suara jangkrik. Kacang garing... "Enggak asik loe." Tutur Mahendra kesal. Sebenarnya mereka berdua sudah tahu dengan keadaan Daffin yang seperti ini, mereka hanya berusaha menghibur dan selalu ada untuk Daffin. "Kalian saja, Gue nggak minat." jawab Daffin singkat. Akhirnya keluar juga suara emasnya. "Lo minat nya apa? Masa nggak minat apapun, sama cewe manapun juga?." tanya Mahendra. "Bianca yang cantiknya kebangetan dan seorang model loe tolak. Grecia rekan bisnis, udah cantik, mandiri plus tajir melintir seperti kelilit tali ari-ari ampe keluar dan lahir loe tolak juga. Belum cewe-cewe yang lainnya, semua loe tolak. Dan terakhir adek angkat loe Yasmin, cantik dan baik pula, loe tolak juga. Loe mau cewe kaya gimana? gue penasaran jangan-jangan loe??? " Ucapan Matheo terhenti saat Sekretaris Daffin datang dengan membawa sebuah paperbag kecil dan menaruhnya di atas meja kerja Daffin. "Pak Matheo, Pak Mahendra. " Senyuman yang diberikan Deri menyapa bergantian pada mereka berdua. "Ini ada kiriman dari seorang wanita yang sama di minggu kemarin." ucap Deri pada Daffin, lalu matanya teralih melihat cangkir di depannya dalam keadaan penuh dan juga kotak obat yang masih utuh berisikan obat. Mata Deri beralih menatap tajam Daffin, lumayan cukup lama, seolah memberikan isyarat tertentu. Daffin memahaminya, "Aku tau, aku akan meminum obatnya sekarang juga." ucap Daffin segera meraih gelas yang di maksud, hendak meminum. Namun, tangan Daffin dihentikan oleh tangan Deri. Sehingga, kedua tangan mereka saling bersentuhan cukup lama. Matheo dan Mahendra yang melihatnya saling bertatapan penuh curiga, mulut mereka berdua menganga besar karena syok, sepertinya hewan banteng pun bisa masuk. Keduanya sama-sama memikirkan hal yang serupa, menyambungkan dengan kata-kata Matheo tadi yang sempat terpotong. "Air ini sudah dingin, Aku ambilkan air hangat yang baru. Lain kali jangan sampai lupa." ucap Deri memperingati. Berlalu, ia meninggalkan mereka bertiga keluar, tidak lupa membawa cangkirnya. "Daffin, Jangan-jangan loe???" Matheo menelan salivanya dengan susah payah. Menatap Daffin lalu Mahendra bergantian. Sama seperti Mahendra, demikian. Matheo dan Mahendra kini saling memandang, merinding dan bergidig ngeri, repleks mereka menyilang menutupi d**a dan area bawah perut masing-masing dengan kedua tangannya. Daffin paham yang difikirkan mereka, ia menatap tajam keduanya bergantian seakan siap membunuh karena sudah berfikiran tak bermoral. "Nggak gitu! Maksud gue, Si Deri pinter yah merhatiin orang sakit." dalih Matheo, tertawa hambar. Begitupun Mahendra mengangguk membenarkan perkataan Matheo. Suasanan menjadi tegang, buru-buru Mahendra mengalihkan situasi dengan mengambil paperbag kecil dan membukanya dengan lancang, ternyata isinya sebuah kotak kecil. Daffin merebutnya cepat dari tangan Mahendra, penasaran dengan isinya, segera ia buka, ternyata banyak sekali permen coklat berukuran kecil dan satu lembar past foto yang di minta oleh Daffin pada Safira saat itu. Matheo dan Mahendra kepo, enggak kepo sebutannya kalau bukan mereka berdua. *Kepo adalah rasa ingin tahu, penasaran. Berasal dari bahasa anak gaul. "Ini kan fotonya Safira, loe udah ketemu?" tanya Mahendra yang diabaikan oleh Daffin, tanpa malu Mahendra dan Matheo nyomot permen coklat dan berebutan seperti bocah. "Coklat, gue suka." ucap Matheo meski tidak ada yang bertanya, ia memakan coklat dengan lahap. "Coklat ini?" tanya Mahendra memastikan. "Gue enggak suka, suka nyelip di gigi, rasanya ces,nyut-nyut gitu, kaya patah hati, bedanya ini nyut-nyutannya di gigi." jawab absrud Mahendra, segera ia menaruhnya kembali. Daffin mengabaikan komentar mereka yang menurutnya tidak penting. Yang penting adalah benda yang berada ditangannya. Ia melekatkan pandangannya bergantian pada coklat dan tentu pada sebuah foto. Safira benar-benar melakukannya, mengikuti permintaan Daffin saat itu. Dan coklat ini seolah Safira sengaja untuk mengingatkan Daffin ke masa lalu, saat masih bersama dulu. Kenangan itu berputar otomatis di fikiran Daffin, tanpa di minta persetujuan dahulu. Flashback. "Aku cari kemana-mana, taunya lagi baca di Perpus, rajin banget sih sayangku." ucap Safira gemas pada Daffin, ia baru saja datang dan menyubit pipi Daffin dari arah belakang. Segera, Safira duduk di samping Daffin, duduk di kursi yang disediakan oleh Perpustakaan yang letaknya berada paling ujung dekat jendela, terlihat halaman Kampus dari atas sangat kecil. Ini adalah tempat Favorit mereka berdua. Posisinya tertutup oleh rak-rak buku yang berjejer rapi dan teratur. Daffin hanya melirik Safira sebentar, fokus kembali pada buku bacaannya, sifat Daffin memang cuek, itu sudah biasa untuk Safira. "Aku punya sesuatu, kamu mau nggak?" tanya Safira mengeluarlan sebuah kotak terbuat dari kaleng dari dalam ranselnya, lalu memberikannya pada Daffin. Kegiatan membaca Daffin jadi terganggu, Ia alihkan fokusnya pada Safira. Lalu, ia mengambil kotak dari tangan Safira dan segera membukanya. "Apa ini?" tanya Daffi mulai membukanya. "Apa coba? tebak-tebak buah manggis." jawab Safira asal. "Ini bukan buah manggis, ini kaya-" Daffin mengambilnya satu lalu memakannya. "Coklat? "lanjutnya bertanya dan memastikan, bahwa yang dimakannya adalah demikian. "Iya coklat." jawab Safira membenarkan. Tampak Daffin mencari-cari dalam kaleng, berharap menemukan permen lain selain coklat, "Coklat semua?" cicitnya kecewa. Ia kurang suka dengan coklat. "Iya, emang coklat semua." Safira jahil sekali, dengan sengaja menepak kaleng dari arah bawah, seketika permen coklat yang banyak jumlahnya mengenai hidung Daffin, coklat pun berhamburan jatuh. Daffin menatap Safira tajam, Safira membalas menatapnya tanpa takut. Lalu, Ia tertawa puas yang di bungkam otomatis oleh kedua tangannya sendiri. Menyadari bahwa sedang berada di Perpustakaan. "Kenapa?" tanya Safira meledek. Daffin berdecak kesal "Jahat banget." memberikan ekspressi wajah marah. "Ih gitu ajah marah, kesel, nanti cepat tua loh?" jawab Safira enteng, sedikit menggoda. "Kalau aku cepat tua, kenapa? Nggak mau?" "Ih, nggak mau lah!!! Nanti, dikiranya pacaran sama om-om lagi, Hahaha." Safira hanya bercanda. "Lupa ya, sama kata-kata dulu, sampai om-om yang perutnya buncit, aku akan tetap mau!" Daffin meledek Safira habis-habisan. "Itu dulu, sekarang ogah, cari lagi yang lain." jawab Safira menahan tawanya. "Kamu mau cari yang lain? " tanya Daffin, sepertinya cemburu. "Iya." Safira semakin meledek, Ia tersenyum atas reaksi Daffin yang cemburu, terlihat dari ekspresi wajah Daffin. "Kamu, mau aku hukum? karena bicara seperti itu, hah?" Daffin menelisik wajah Safira. Safira dengan tatapannya seolah memang benar, ia siap menerima untuk di hukum. "Akan aku lakukan, sekarang juga!" Daffin dengan cepat menggelitiki perut Safira, keduanya menahan tawa. Hingga berakhir dengan wajah mereka berdua yang begitu dekat, bahkan sangat dekat. Ini adalah kali pertama mereka sedekat ini. Saking dekatnya, tanpa sadar hidung mancung mereka berdua beradu, keduanya saling memandang dari jarak dekat. Hingga, bisa merasakan nafas yang hangat saling bersahutan. Safira diam mematung. Ia menahan napas, lalu memejamkan matanya perlahan, ia tau apa yang akan Daffin lakukan. Safira tidak bisa berbohong, ia juga menginginkannya. Tak tau keberanian dari mana, Daffin mendekatkan bibirnya pada bibir Safira perlahan, satu kecupan singkat. Safira tidak menolak ataupun marah. Daffin ingin mencobanya sekali lagi. Kembali dengan kecupan lebih lama, menahanannya. Daffin bisa merasakan sensasi aneh, tidak tahu apa, ini untuk pertama kalinya, tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, bibir Safira sangat lembut seperti marshmellow dan juga rasanya manis sekali seperti coklat, membuatnya kecanduan seperti obat-obatan terlarang. Daffin tidak suka coklat. Namun, sejak hari ini Daffin mulai suka dengan coklat. Tangan Daffin refleks berada di leher Safira, ia memainkan ibu jarinya secara perlahan, menarik Safira agar Daffin bisa memperdalam ciumannya, melumatnya perlahan, terasa manis bibirnya, Safira hanya diam, Daffin semakin ingin lebih dalam, nafas keduanya saling beradu, memburu dalam hening, yang di lakukan mereka berdua menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan. Daffin menghentikan aksinya, menariknya dari Safira dengan lembut. Mata mereka berdua terbuka secara perlahan, saling memandang cukup lama hingga sebuah senyuman tersungging dari bibir mereka berdua. Daffin segera mengusap bibir Safira yang basah atas perbuatannya. Wajah Safira tertunduk malu, pipinya sudah semerah buah apel. Daffin dengan sengaja menggoda Safira dengan terus memandangnya, betapa menggemaskannya Safira. Saat dua pasang bola mata Daffin terus memperhatikannya, Safira menjadi semakin malu. Namun, hatinya terasa bahagia berbunga-bunga, sudah seperti taman bunga yang sedang bermekaran. Refleks tangan Safira meraih buku Daffin yang ada di meja untuk menutupi kegugupan dirinya. Ia mengintip dari celah buku, ternyata Daffin masih sama, setia memandang Safira dengan tatapan tajam khas Daffin, syahdu. Lagi-lagi Safira suka dengan tatapan manik mata coklat tersebut. Safira yang jahil mengambil coklat lalu memasukan ke dalam mulut Daffin dengan paksa. "Hmmmmppttt... " Respon Daffin kaget. "Jangan dibuang, makan!" titah Safira. Ternyata, Daffin menurut juga. Ia mengunyah permen coklat perlahan. "Kak Daffin, boleh aku bertanya sesuatu?" "Hmmmm." jawab Daffin masih memakan coklat. "Aku sangat mencintaimu Kak, aku takut suatu hari nanti Kakak akan meninggalkanku." pertanyaan Safira membuat Daffin tak percaya. "Kenapa bicara seperti itu?" bukannya menjawab. Daffin malah balik bertanya. Menurutnya itu sebuah pertanyaan yang konyol. "Bagaimana kalau kakak tau aku penyakitan, bisulan contohnya, atau aku terkena penyakit mematikan, gimana hayo? tapi amit-amit sih." "Pertanyaan apa? aneh banget!!!" Daffin menjentikan jarinya ke kening Safira. "Aw." Safira mengelus keningnya yang sakit secara perlahan. "Jangan pernah berfikiran hal konyol." Daffin memperingati Safira. "Baiklah. Aku nggak akan bicara hal konyol lagi." "Kau tahu Kak Daffin? Coklat ini rasanya manis dan aku sangat menyukainya." "Jika suatu saat kita berpisah dan tak lagi bersama, semoga coklat ini, Kakak akan mengingat ku, bahwa di dunia ini hanya Aku, Safira yang selalu mencintaimu." "Tapi, sampai kapanpun. Aku nggak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu." ucap Daffin, serius. "Janji?" "Janji!" Kenyataannya, hanya janji-janji manis yang sudah di ingkari, masa lalu memang membuatnya bodoh, segala sesuatunya di atas namakan cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD