Masa ospek sudah berakhir, Safira resmi sebagai Mahasiswi baru. Ia bertemu dengan Alexa saat masa ospek, menjadi teman dekat dan satu jurusan juga, yakni Jurusan Bisnis Management.
Sejak kejadian itu, Safira sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Daffin, Seniornya. Yang ternyata namanya sangat populer di Kampus, Ia adalah Mahasiswa cerdas dan juga sangat Kompoten, Ia juga mahasiswa kesayangan para Dosen. Bahkan, berturur-turut mendapatkan Beasiswa.
Safira tidak menyerah untuk mendekati Daffin Faaz. Ia tidak kehabisan akal, stok seribu cara untuk menaklukan hati Seniornya itu. Selalu saja banyak cara dengan menggunakan banyak alasan agar bertemu Daffin Faaz, alasan tugas dari Kakak Senior-lah, salah satunya itu. Padahal, Masa Ospek telah berakhir, benar-benar ini Safira, sebuah alasan yang klise.
Di mana ada Daffin Faaz, di sana ada Safira, Safira selalu membuntuti Daffin Faaz kemana saja seperti anak ayam pada induknya
Daffin Faaz tidak bodoh, ia sangat peka. Hanya saja Ia bersikap cuek, tidak menunjukannya karena sikap dingin dan kakunya yang sangat mendominasi.
Suatu hari, Safira tampak mengejar Daffin Faaz yang baru saja keluar dari kelasnya. Selalu tersenyum riang, cerewet adalah ciri khasnya.
"Aku tidak berniat untuk menjalin hubungan, apalagi pacaran." Ucap Daffin tiba-tiba dengan nada dingin, karena risih terus di ikuti oleh Safira kemanapun.
"Aku juga sama, nggak suka pacaran." jawab Safira terus terang, "tapi, Aku bisa nunggu sampai Kakak lulus, terus langsung ngajak nikah deh. Atau, Aku juga mau nungguin kakak dengan setia sampai kapan pun, Aku bersedia walau sampai Kakak jadi Om-om dengan perut buncit." lanjut Safira dengan kejujuran dan ketulusannya tanpa malu. Namun, sangat absrud.
Daffin wajahnya tampak memerah, menahan senyum karena kata-kata yang baru saja Safira ucapkan. Ia sedikit kikuk. Namun, dengan cepat kembali ke mode dingin.
"Aku sibuk, masih ada jadwal masuk kelas lain. Dan panggil aku Daffin saja." Dengan langkah cepat, Daffin segera meninggalkan Safira yang berada di belakang.
"Aku juga mau masuk kelas kok, Kak." Ucap Safira sambil tersenyum atas reaksi Daffin.
Kakinya kemudian mengikuti langkah Daffin hingga berpisah di Koridor kelas, dan masuk kelas yang berbeda.
Pada suatu hari, hari yang berbeda, mungkin puluhan hari yang telah dilewati. Kampus gempar dengan berita yang sangat menghebohkan, membuat para gadis penggemar Daffin memperingati hari patah hati, bahkan Safira sendiri merasa bingung, karena mendadak di teror oleh para penggemar Daffin.
Safira mencari keberadaan Daffin dimana-mana. Lalu, akhirnya Ia menemukannya di dalam Perpustakaan, sedang asyik membaca, sedangkan Safira tengah panik dengan keadaannya sekarang.
"Ka Daffin? Aku mau bicara." ujar Safira setengah berbisik. Ia sadar sedang berada di mana.
Daffin yang sedang fokus membaca, hanya melirik sekilas dengan wajah datarnya.
"Ka Daffin, jangan salah paham. Aku bukan pelakunya. Aku tidak tau apa-apa. Sumpah, Aku memang menyukaimu. Tapi, Aku nggak nyebarin gosip kalau kita pacaran." Ucap Safira dengan wajah khawatir. Meski suka, Safira tidak akan melakukan hal demikian.
"Aku tau." jawab Daffin singkat, padat, dan terdengar santai, berbanding terbalik dengan Safira.
"Lalu?" Safira mengerutkan dahinya, bingung. Karena terlihat Daffin biasa saja dengan berita ini. Safira kira Daffin akan marah.
"Aku pelakunya! Aku yeng menyebarkan semua berita itu." Ucap Daffin berbisik lebih dekat di telinga Safira.
"Apa?" Teriak Safira karena terkejut. Dengan cepat Ia menutup mulut yang menganga lebar dengan tangannya sendiri. kemudian diam membisu.
"Sepertinya, Aku mulai jatuh cinta sama Kamu, entah sejak kapan, aku tidak tau." Jawab Daffin sederhana, namun mampu membuat Safira merasakan jantungnya berdegub lebih kencang dari biasanya.
"Aku juga mengambil keputusan ini dengan banyak pertimbangan, tidak ada salahnya mencoba, dan menjalani hubungan ini sampai lulus atau bila beruntung sampai seterusnya." Daffin berbisik kembali pada Safira.
Safira kini memandang Daffin tak percaya, sukses menjadi patung, patung pancoran atau patung selamat datang. Karena pernyataan Daffin baru saja, rasanya terasa seperti mimpi, tak menyangka cintanya kini terbalas.
Safira yang cerewet kini diam membisu, kedua bibirnya terbuka lalu menutup kembali, pandangan matanya fokus pada satu titik arah, entah memandang apa.
Daffin melihatnya merasa gemas ia mengambil ponsel jadulnya dan langsung memotret Safira.
Cekrek...
Terlihat kentara dari bibir Daffin, sebuah senyuman bahagia. Daffin luluh juga dengan kegigihan Safira yang pantang menyerah mengejar cintanya.
Usaha tidak akan pernah menghianati hasil, Jika keteguhan dan Keyakinan maka pencapaian itu ada di depan mata. Entah itu mengejar Cinta atau mengejar Impian. Bagaimana situasi yang anda capai.
...
Kejadian kemarin, saat terakhir kali bertemu dengan Daffin tidak membuat Safira baik-baik saja. Hari inipun begitu. Namun, jika Safira seperti ini terus, kapan akan melanjutkan hidupnya, bukankah sudah tekad dalam hati kemarin-kemarin, akan berubah, dan membuang perasaannya jauh-jauh, jika yang dirindukan tidak menginginkannya, harus apa? Kalau tidak melupakannya, bukankah ini yang Daffin inginkan, dan Safira harus siap menerimanya.
Safira seperti biasa, ia harus tetap fokus dalam pekerjaannya, anggap saja Safira meluapkan kesedihannya melewati lagu-lagu yang ia nyanyikan. Bukankah kejadian ini sudah biasa bagi dirinya, berlangsung tujuh tahun lamanya. Bagi Safira patah hati adalah sudah seperti teman abadi.
Hari ini, Sinta tidak masuk kerja, biasanya dia akan menghibur di kala Safira bersedih, Ibunya sedang sakit dan Sinta sebagai anak yang berbakti harus siap merawat ibunya, orang tua satu-satunya. Karena ibu adalah jalan pintu menuju surga bagi anaknya. Maka harus berbakti selagi diberi kesempatan masih ada.
Untuk saat ini, Safira benar-benar membutuhkan Sinta, tanpa di minta Sinta akan memberikan bahunya sebagai sandaran, atau sebagai pendengar setia dengan keluh kesah cerita Safira yang isinya selalu sama. Tapi Sinta tak pernah bosan, bahkan dengan mudahnya memberikan saran untuk melupakan dan segera mencari pengganti yang lain. Tentu saja, Safira akan bereaksi diam, memangnya semudah membalikan telapak tangan, semuanya butuh proses Cyin.
Jam menunjukan pukul sepuluh malam. Safira tengah bersiap-siap untuk pulang, berharap masih ada taksi on-line yang bersedia mengantarkannya untuk pulang. Begini, nasib jika tidak bisa bawa mobil, mau kemana-mana susah, pulang pun susahkan.
Tampak seorang laki-laki sedang duduk, menunggu Safira di meja paling depan dekat panggung sedari tadi. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok Safira yang sedang sibuk sendiri, Dia adalah penggemar yang tak pernah ketinggalan untuk mendengarkan suara indah Safira.
Safira menyadarinya, dari tadi sepasang mata laki-laki itu terus mengawasi dirinya, rasanya sangat tidak nyaman. Safira kenal siapa laki-laki itu, yang pernah Sinta bicarakan saat di mobil menuju arah pulang.
Safira pura-pura tidak tahu, ia menghiraukannya, Safira dengan cepat segera melangkah meninggalkan Cafe tempat ia bekerja, dan benar saja laki-laki itu pun mengikutinya sampai depan Caffe.
Namun, tak lama kemudian, Laki-laki itu telah menghilang saat Safira memeriksanya menengok kebelakang, entah kemana, Safira tidak perduli.
Syukurlah, ada perasaan lega, ia menarik napas perlahan. Akhirnya, dari tadi Safira merasa ketakutan dengan tingkah lakunya yang mencurigakan, tatapannya yang tajam, dan bibirnya tersenyum lebar seperti orang gila saja, entah apa maksudnya, Safira tak tahu.
Safira mengambil ponsel miliknya dari dalam ransel untuk memesan taksi on-line. Namun, tiba-tiba dikejutkan oleh suara lakson mobil mewah berwarna hitam pekat. Lalu, berhenti tepat di sisi kiri Safira, Safira yang menyadarinya menolah dengan banyak pertanyaan.
Baru saja Safira memesan taksi on-line. Namun, kini sudah ada di depan. Fikirnya, mungkin pesanan orang. Ia memilih untuk mengabaikannya. Namun tetap saja mobil itu masih diam enggan untuk melaju dan memberi lakson.
Tak lama, kaca mobil depan perlahan terbuka. Di dalam mobil menampilkan sosok laki-laki yang tadi mengikutinya. Safira terkejut bukan kepalang, ternyata orang ini masih mengikutinya dan berniat memberinya tumpangan.
"Boleh saya mengantarkan Nona untuk pulang? " Ucap Hari tersenyum ramah. Ya laki-laki itu namanya adalah Hari, Hari Hadijaya, Pemilik Hotel Royal. Safira sudah tahu dari Sinta. Sinta memang update jika tentang laki-laki.
Safira pura-pura tuli, dan lagi-lagi mengabaikannya, menghiraukan ajakan dari Hari dengan tetap fokus pada ponselnya.
Tentu saja, Hari menyadari sikap yang ditunjukan Safira, mungkin gerak-geriknya tadi sedikit menakuti wanita incarannya itu.
"Santai, nggak usah takut, saya bukan buaya yang suka gigit dan diam-diam merayap kaya cicak. " Celetuk Hari dengan tatapan canda. Ia berniat mencairkan suasana agar ketakutan Safira sedikit menghilang.
Safira masih dengan kebisuannya, bahkan tidak menggubris perkataan Hari sedikitpun. Apalagi sampai tergoda hanya karena dengan tumpangan gratis. Di jaman sekarang, harus berhati-hati. Ya kan? Haruslah. Itu bagian dari pertahanan seorang wanita.
"Saya tidak seperti yang Nona fikirkan, Saya laki-laki terhormat, dan sangat menghormati wanita, jika tidak mau, Saya tidak akan memaksa. Cuman, Saya takut jika terjadi sesuatu kepada Nona. Maklum waktu hampir malam dan ini kota Metropolitan, saya tidak bisa menjamin keselamatan Nona, kalau pulang dengan Saya, Saya jamin selamat sampai depan rumah." Ucap Hari menjelaskan seolah tahu apa yang ada di dalam fikiran Safira.
Safira spontan menoleh ke arah Hari, "Kenapa dia tau apa yang aku fikirkan, macam cenayang saja!!!" batinnya.
Kini Safira tampak berfikir cukup lama, "Bisa sajakan itu memang siasat laki-laki. Tapi ada benarnya juga yang diucapkan oleh Hari jika terjadi sesuatu." Dalam fikirannya, Safira membayangkan hal yang tidak-tidak. Ia bergidig ngeri sendiri, "Ya Tuhan jangan sampai, jauhkan... Jauhkan." Batinnya lagi jadi khawatir.
Dari dalam mobil, Hari membukakan pintu depan, bermaksud mempersilahkan dan memberi penawaran kepada Safira.
"Baiklah." Akhirnya, Safira menyetujui ajakan Hari untuk mengantarnya pulang. Namun, bukannya tinggal masuk ke dalam mobil bagian depan yang sudah dibukakan khusus oleh Hari, Safira malah membuka pintu belakang sendiri, Ia memilih akan duduk di belakang saja, layaknya seperti penumpang taksi on-line. Yang jadi perbedaannya adalah mobil mewah dengan supir yang super tampan.
Hari tampak tersenyum, ia tidak merasa tersinggung sama sekali, Hari memakluminya. Ia menutup kembali pintu mobil dari dalam.
"Benar-benar wanita berbeda." batin Hari sembari meliriknya dari kaca depan.
Biasanya, kebanyakan wanita akan langsung masuk saja. Bahkan, ketika kaca mobil terbuka. Sedangkan Safira harus diyakinkan terlebih dahulu, baru setuju, dan itu-pun duduk di belakang.
Tidak apa-apa, semuanya butuh proses. Hari akan menikmati setiap proses itu. Perumpamaannya, 'Jika menginginkan mutiara yang indah, harus menyelam ke dasar laut bukan?' begitu pun dengan menginginkan seorang wanita bernama Safira, butuh extra kesabaran dan juga perjuangan.
Se-tau Hari, Safira memang tidak pernah sekalipun terlihat dengan lelaki manapun, bahkan banyak laki-laki yang mendekatinya dia abaikan, alasannya pun Hari tidak tahu.
"Saya konfirmasi dulu Nona, untuk memastikan agar tidak ada kesalahan, dengan Nona siapa namanya?" Hari pura-pura tidak tahu nama Safira, bertanya layaknya supir taksi on-line. Ia masih setia menatap penuh kagum dari balik kaca depan sambil tersenyum penuh makna.
Safira tersenyum hambar dengan perlakuan Hari. Tidak seburuk yang Safira fikirkan, dan Ia pun mulai mencoba bersikap biasa.
"Indah Safira, panggil saja saya Safira." jawab Safira singkat, akhirnya memperkenalkan dirinya sendiri.
"Baik, Nona Safira alamatnya di mana? Agar tidak tersesat di jalan dan selamat sampai tujuan." lanjut tanya Hari lagi, masih menatap Safira sejak tadi, seolah tak ada bosannya.
"Apartemen Cempaka Putih City."
"Baiklah Nona. Siap-siap, jangan lupa pasang sabuk pengamannya." Detik itu juga, Hari segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan area Cafe menuju tempat tujuan.
Di dalam mobil, awalnya kedua orang itu sama-sama diam. Hari fokus dengan kemudinya, sesekali melirik Safira yang tengah sibuk menatap ke arah luar jendela, fokus menatap jalanan yang padat di penuhi kotak besi canggih, berjalan perlahan karena keadaan macet, sesekali terdengar suara lakson seperti nada yang merdu, dipadukan dengan suasana yang gelap malam penuh dengan cahaya lampu jalan, dan lampu dari mobil ataupun dari gedung pencakar langit. Bagi Safira ini adalah pemandangan kota malam yang indah.
Hari berdehem untuk mencairkan suasana yang sepi. Safira tampak terkejut dari lamunannya. Kemudian, tatapannya beralih ke arah Hari sekilas.
"Suara kamu indah, seindah nama dan parasnya." Hari mengawali pembicaraannya dengan kata pujian.
"Apa?" tanya Safira memang tidak mendengar jelas, karena suasana bising dari bunyi lakson yang saling menyahut karena jalanan macet.
Hari tampak gugup atas reaksi Safira, "Maksudku, saat kamu kecil, kamu suka makan apa, soalnya suara kamu bagus banget, buat aku merinding?" tanya Hari mengubah ucapannya dengan suara bergetar.
Seulas senyum terukir di bibir Safira sebagai jawabannya, "Merinding? kaya film horor aja." celetuknya tak sedingin seperti tadi.
Ternyata Safira tidak sekaku itu, bisa bercanda juga. Fikir Hari membalas dengan tersenyum hangat.
"Makaudku, merinding di sini sampai menyentuh hatiku." Gombalnya, dan Safira malah diam.
"Oh ya, Safira, sepertinya kamu orang baru di sini? Soalnya, Aku baru lihat kamu akhir-akhir ini, itupun hanya di Cafe." tanya Hari menyelidiki tentang Safira, memang pertemuan pertamanya baru saja kemarin satu bulan yang lalu, tak sengaja ia melihat Safira sedang manggung dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Hmmm, tidak juga. Aku baru kembali, dan baru 3 bulan tinggal di Indonesia, dan Aku memang jarang kemana-mana, kecuali bekerja." ucap Safira dengan jujur.
"Oh gitu. Jadi, maksudnya Kamu pernah tinggal di luar negri, di mana kalau boleh tahu?" tanya Hari dengan antusias.
"Di London." jawab Safira singkat.
"Wow London, Kota berkembang dan sangat maju jauh berbeda kehidupannya dengan yang di sini. Kenapa kamu kembali ke Indonesia ?sudah bosan tinggal di luar negri, atau lari dari seseorang atau kembali untuk seseorang? " Tanya Hari mulai berani mengorek hal pribadi Safira.
Safira terdiam cukup lama, hingga akhirnya Ia menjawab, "Kangen sama tanah air dan ingin menjenguk Ayah juga." alasannya.
"Hmmm, sejauh-jauh kita melangkah, tetap tanah air yang menjadi tempat kembali, setuju?"
Safira menganggukan kepalanya pertanda setuju.
Ternyata, Hari tidak seburuk yang Safira fikirkan. Kesan pertemuan pertama, orangnya baik dan juga ramah, tipe mudah bergaul dengan orang, ada saja pembahasan atau pertanyaan yang Hari lontarkan, bahkan sepertinya Hari punya list pertanyaan yang lainnya, jika Safira terus menjawab tidak akan ada ujungnya.
Tanpa terasa mobil yang Safira tumpangi sudah terparkir di depan Apartemen Safira. Safira segera keluar dari mobil, Hari yang masih di dalam tidak ikut turun, ia hanya membuka full jendela mobil depannya.
"Terimakasih sudah mengantarkan saya pulang." ucap Safira tulus, Ia sedikit menundukan kepalanya agar bisa terlihat oleh Hari yang berada di dalam mobil.
Hari tersenyum mengangguk, lalu memberikan ponsel miliknya pada Safira "Tulis nomor kamu, sebagai ucapan terimakasih." Ucapnya di akhiri dengan kekehan jahil.
Safira memutar bola matanya kesamping. Mau tidak mau, Safira meraih ponsel yang diberikan oleh Hari. "Baiklah, asal tidak ada yang lain." ia menekan beberapa angka asal. Setelah selesai diberikan kembali pada pemiliknya, Hari.
"Aku mengerti, lagian tidak baik jika bertamu selarut ini, takut di gerebeg, nanti di suruh nikah, sebenarnya aku maulah." celetuk Hari tanpa malu sama sekali.
Safira hanya menatapnya tajam, menulikan apa yang dikatakan oleh Hari.
"Sampai Jumpa." sindir Safira secara halus agar Hari segera pergi.
Hari tertawa, betapa judesnya Safira, tapi membuatnya gemas. Padahal ucapannya hanya candaan semata. "Sampai berjumpa lagi." jawaban sekaligus harapan Hari.
Hari sengaja melajukan mobilnya perlahan, agar bisa memandang Safira meski dari jarak jauh, semakin lama semakin jauh, terlihat Safira masuk ke dalam Apartemennya.
Segera membuka pintu, lalu bersandar di baliknya dengan perasaan gundah, Apa yang sudah Kamu lakukan Safira??? Setelahnya, menarik nafas panjang.