Bab 6 : Sudah Mati?

2139 Words
"Aku hanya mengambil apa yang menjadi milik-ku Daffin." Safira menatap dengan penuh. Daffin tersenyum miring. "Sekali lagi. Saya tidak ingin berdebat dengan Anda, Saya bisa saja membuat Anda menyesal karena masalah ini. Jadi, kembalikan foto itu sekarang juga!!!" jawab Daffin penuh penekanan. "Fotonya tidak Aku bawa " ujar Safira berbohong. Kini matanya menatap kesembarang arah. "Kalau begitu, kembalikan saja besok." Keinginan Daffin tidak ingin dibantah, Ia segera melangkah menuju arah pintu untuk meninggalkan ruangan yang membuatnya sesak di d**a. "Besok juga tidak bisa, Aku sibuk." ucap safira cepat, berhasil menghentikan langkah Daffin. Daffin memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, kembali menghadap Safira. Sorot matanya menatap tajam, tepat di manik mata hitam yang ada dihadapannya, "Safira, Saya rasa diantara kita tidak menginginkan hubungan ini semakin jauh. Masa lalu, sudah saya lupakan, dan perasaan ini sudah tidak ada sedikit pun, sudah lama mati." suara Daffin sedikit rendah namun terdengar sangat tajam menusuk ke ulu hati Safira. Safira menatap lemah Daffin, matanya sudah terasa panas, "Sudah mati?" Safira tersenyum miris, "lantas, kenapa Kamu sangat menginginkan fotoku, Daffin?" Sekali lagi Safira berani membalas tatapan Daffin lebih tajam. Keduanya sama-sama memberikan tatapan tajam seperti pedang yang siap untuk menghunus. "Saya sengaja menginginkan foto itu untuk saya simpan. Agar selalu mengingatkan bahwa betapa bodohnya diri Saya di masa lalu, karena sudah mengahabiskan waktu bersama dengan Anda." Dafin semakin menatap tajam dan mengucap penuh penekananan. Tanpa ingin mendengar jawaban dari Safira lagi, Ia langsung pergi cepat dari ruangan itu. Safira diam seribu bahasa. Ldahnya kelu tak mampu untuk menjawab perkataan Daffin. Kata-katanya, sungguh membuat hati Safira perih, dadanya tiba tiba saja pengap, sesak bagai di lilit tali kencang. Kini matanya mulai berkaca-kaca, mungkin ini matanya sudah membendung cairan. Bagaimana bisa Daffin mengatakan seperti itu dengan mudah. Tanpa berfikir dahulu, yang menyebabkan hati Safira semakin sakit. Kakinya mendadak lemas, tubuhnya seakan lemah tak berdaya. Rasanya sudah tidak kuat, sesak didadanya semakin parah, Safira cepat memegang ujung kursi untuk menopang tubuhnya yang sudah lemah tak berdaya, dengan segera Ia duduk di kursi sebelum tubuhnya tumbang menyentuh lantai. Tak terasa, hanya dalam satu kedipan saja, air mata jatuh dengan lancar dipipinya yang mulus. Bagaimana bisa saat-saat indah di masa lalu adalah sebuah kebodohan? Bagi Safira masa lalu itu terkenang indah dalam benaknya. Karena, Daffin adalah cinta pertamanya, dan faktanya sampai saat ini hanya Daffin yang ada dihatinya. Apakah kamu mendadak lupa? Bagaimana awal pertemuan pertama dan berakhir kita menjalin kasih? Apakah kamu memang ingin melupakannya, Daffin? Ok, kalau itu yang kamu mau, aku turuti. Batin Safira. ... Jakarta, 2013 Kampus Pelita Bangsa. Seorang gadis imut dengan rambut sebahu diikat dua dengan pita merah lengkap memakai atribut ala ospek berseragam putih dan hitam. Sebuah topi yang terbuat dari setengah bola ada hiasan rambut palsu terbuat dari tali rapia. Lalu, ditambah tali rapia dengan papan nama berukuran besar bertuliskan Bebek Monyong melingkar dilehernya, serta lengkap berukuran tulisan kecil nama asli dan asal sekolah, kemudian tas gendong yang terbuat dari kardus berwarna-warni. Hal seperti ini di ikuti oleh peserta ospek lainnya dengan berbagai nama panggilan, ada Ayam Genit, Kambing Berondong, Sapi Bohay, Buaya Darat, Burung pembinor, Cicak pelakor, dan masih banyak lainnya. Safira setengah berlari, ia melirik jam di tangan kirinya, waktunya tinggal 10 menit lagi menuju lapangan, acara ospek pun sebentar lagi akan di mulai. Kini langkahnya di percepat, berlari menuju gerbang kampus, akhirnya Ia bisa lolos melewati gerbang sebelum di tutup olah Mang Kardi, Pak tua Satpam Kampus. Tidak pernah ceroboh kalau bukan Safira namanya. Ia sering salah fokus. Fikiran, penglihatan, dan langkah kakinya kadang tak sejalan. Ia suka sekali menabrak sesuatu yang ada didepannya, entah itu barang, pohon, tong sampah atau seseorang pangeran tampan dalam khayalannya. husstt ... Dasar, Safira penghayal akut, mana ada? Brugh... tuhkan kejadian. Safira menabrak sesuatu. Ia tersungkur jatuh ke tanah dengan posisi berjongkok. Posisi ini sangat memalukan sekali. "Aww..." Safira mengaduh kesakitan, telapak tangan dan lututnya terasa sakit, akibat menahan bobot tubuhnya. Sosok tubuh tinggi yang di tabrak Safira kini ada dihadapannya, hanya diam seolah seperti patung dan bersikap dingin melebihi benua Antartika. Dengan cepat Safira bangun, membersihkan rok dan telapak tangannya yang sedikit kotor terkena tanah. "Ma-maaf Ka-kakak Se-senior" ucap safira terbata-bata dengan wajah tertunduk karena takut, ia hanya bisa melihat kaki seseorang yang ditabraknya. Tidak ada jawaban sama sekali, Safira fikir, apakah yang ditabraknya baru saja adalah orang tuna rungu atau tuna netra. Safira penasaran, Ia ingin melihat siapa pemilik tubuh tinggi yang ia tabrak. Safira mendongkakkan wajahnya ke atas untuk melihat wajah yang Ia tabrak. satu kata, Waw... Mata Safira membulat sempurna, bola matanya seolah meminta keluar dari kelopak matanya, akibat melihat yang tidak pernah ia lihat. Apakah ini namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Safira tengah menetralisirkan hatinya yang berdegub kencang dua kali lipat dari biasanya. Namun, si pemilik tubuh itu lagi-lagi hanya bisu tanpa menjawab sepatah katapun, bersikap dingin, dan tidak perduli sama sekali. Detik selanjutnya, langsung meninggalkan Safira yang masih dalam keadaan mematung. Safira hanya bisa memandang sosok tegap itu sampai menjauh tak terlihat. 5 menit sudah berlalu, Safira tersadar dari pemandangan indah itu, dirinya baru ingat, Ia sudah telat, langsung berlari menuju sekumpulan peserta yang berada di lapangan depan Gedung Universitas. "Heh, kamu yang tulisannya Bebek monyong, Sini! Kamu sudah telat 300 detik." teriak laki laki itu bernama Anggara dengan seragam almamater Kampus kepada Safira yang mengendap-ngendap seperti pencuri. Niat Safira ingin segera bergabung dengan peserta lain. Namun sial, Safira ketahuan, ia menundukan kepalanya ke bawah, ia melangkah dengan malu kedepan di mana senior itu berada. Dalam perasaan Safira sudah yakin pasti di hukum, dan ia hanya bisa pasrah. "Ma-maaf ka-kakak." ucap Safira terbata-bata, ketakutan. Peserta lainnya malah serempak menyorakinya, seperti tontonan yang sangat menarik. "Diam kalian semua, mau kalian saya hukum juga?" bentak salah satu senior wanita yang memang sangat galak diantara yang lainnya. Semua diam seketika. "Kenapa kamu telat, Bebek monyong?" Teriak Anggara dengan sengaja menakut-nakuti Safira, calon Mahasiswi baru. "Anu... Saya... Itu, apa ya?." Safira bingung sendiri bercampur rasa takut. Saking takutnya jadi bicara aneh. "Anu-anu apa? yang benar kalau ngomong. Ya, sudah-" belum selesai bicara, Safira sudah menyela perkataan seniornya. Alamat cari mati Safira. "Sudah... boleh saya kembali ke kelompok saya Kak maksudnya!" lancang Safira sambil cengengesan, mengira dirinya lolos kali ini. "Eh, enak aja. Udah telat, nggak sopan potong perkataan Saya. Dan sekarang minta bergabung dengan kelompok lain. Emangnya ini Kampus milik Bokap loe? Karena kamu telat, dan kesalahannya banyak sekali. Saya akan kasih kamu hukuman yang setimpal." ucap Anggara garang. Namun, tertawa puas dalam hati. "Baik Kak." jawab Safira dengan pasrah, sebenarnya dalam hati kesal sekali pada dirinya sendiri. Safira yang bodoh, bahkan Safira mengutuk dirinya sendiri. Dasar ceroboh, ini mulut nggak bisa kontrol bicara apa? Jadi kena batunya kan, nasib-nasib. "Hukumannya adalah Kamu harus cari Senior yang bernama D-Faaz Semester tujuh, kamu harus bikin dia tersenyum kalau bisa sampai tertawa terbahak-bahak, dan harus merekamnya sebagai tanda bukti." Titah Anggara dengan senyum yang di tahan, Ia sengaja akan mengerjai sahabatnya yang kaku seperti kanebo kering, dan dingin seperti kulkas kantin. "Sekarang Kak?" tampak wajah polos Safira bertanya. "Tahun depan." jawab asal Anggara. "Tahun depan saya udah nggak ikutan Ospek kak." Benar benar nih Safira bikin darah tinggi Senior dengan sikap kepolosannya. "Kamu cantik-cantik kurang se-ons ya. Ya iyalah sekarang, saya kasih waktu kamu satu jam. Mulai dari... sekarang." Titah Anggara dengan nada kesal. "Siap kak." Safira langsung berlari ke arah Bangunan yang berjajar dan tinggi, Ia menyusuri koridor Kampus mencari orang yang diperintahkan oleh Seniornya. Safira bertanya hampir ke setiap orang yang ada di sana untuk menanyakan keberadaan sang target. Mereka menjawabnya beragam, ada di sini, ada di sana, namun saat menghampirinya tidak ada, malah Safira hampir malu karena salah orang. "Ini orang di mana sih? Di sini nggak ada, di sana nggak ada, dimana-mana juga nggak ada, di Kayangan kali ya? gue cape, katanya di taman, nggak ada kan. Mana? Mana? boro-boro lihat batang hidungnya, upilnya aja nggak kelihatan." cerocos Safira sendiri yang duduk di bawah pohon rindang untuk mengistirahatkan kakinya yang pegal akibat berputar-putar kesana kemari seperti gangsing. Tangannya ia kibaskan seolah kipas otomatis, untuk mengeringkan keringat yang bercucuran. Dari belakang Safira, terdengar suara teriakan histeris gadis centil sedang asyik mengintip dari balik pohon, mereka saling berebutan mendapatkan posisi yang pas. Mengatakan sebuah nama yang Safira kenal. "Daffin Faaz" Daffin Faaz? Sama, Ada Faaz-Faaz nya. Kayanya ini orang yang sama. Safira bahagia seolah mendapat hujan di musim kemarau setelah bertahun-tahun. "Ih, nggak kuat, tampan-nya nggak ketulungan." ucap salah satu wanita dengan rambut panjang, badannya sungguh aduhay, bahenol pula. "Apalagi saat serius baca, ketampanannya semakin bertambah seribu persen, Aw.. Gemesin." timpal wanita dengan pakaian sedikit seksi. "Bener-bener Perfect, Tampan, Cerdas lagi, idaman gue banget, kapan ya... " ucap wanita satunya lagi, bermata sipit seperti cewe korea. "Mimpi loe, itu milik gue." potong gadis bertubuh aduhai dan bahenol itu "Milik gue." potong gadis bermata sipit tidak ingin kalah. "Gue..." potong gadis berpakaian seksi, sama tidak ingin kalah juga. Mereka meributkan orang yang sama sekali tidak perduli, bahkan tidak terganggu dengan kecentilan dan perkataan mereka. Safira penasaran, dan ikut-ikutan mengintip. Ah, itu-kan... Pria yang Aku tabrak tadi pagi. Oh namanya Daffin Faaz, Semesta benar-benar menakdirkan kita berdua untuk bersama. kebetulan kesempatan dong. Yeee... Batin Safira bersorak gembira, seolah takdir berpihak padanya. Dengan berani Safira melangkah dan mendekati ke arah Daffin Faaz yang sedang duduk manis di sebuah bangku taman, matanya sedang fokus membaca. Udah tampan sejagad raya, rajin pula, kali ini safira setuju dengan tiga gadis tadi. Safira pun beraksi, tidak lupa sebuah ponsel ditangannya untuk merekam aksinya sebagai tanda bukti, untuk diberikan pada Kakak Seniornya. Ia melangkah penuh percaya diri. "Permisi, Kak Faaz. Saya Bebek monyong, Peserta Ospek, ada tugas dari kakak senior bernama Kak Anggara, pasti kenal, kan?" ucap Safira memainkan kedua alisnya sebanyak tiga kali. (Kalian pasti peraktekin kan? Hayo ngaku?) Hihi... "Mau menghibur kakak yang sedang duduk manis di taman, Aku temani biar Kakak nggak kesepian. Jangan lupa kalau pulang beli semangka, aku siap jadi kekasih kakak, Upss... maksudnya Semoga Aku bernyanyi membuat semangat, Kakak." Safira dengan sikap konyol dan bar-barnya mulai beraksi. Daffin tetap fokus dengan buku bacaannya. Tak menghiraukan keberadaan Safira yang ada didepannya, menganggapnya sama seperti gadis lainnya. Tidak penting. Safira dengan kepercayaan penuh ia mulai bernyanyi dengan suara cempreng yang dibuat-buat, kan biar lucu, nanti targetnya bisa ketawa, semoga bisa. do'akan berhasil. Amiin... #Song Satu, dua, tiga, mulai... Kakak lah makhluk tuhan yang tercipta yang paling seksi. Cuma kakak yang bisa buat tugasku jadi selesai. Aw... Aw... Aw... Ah... Ah... Ah... ." (pasti dinyanyiin juga sama kalian kan, wkwkwk). Daffin yang sedang fokus membaca akhirnya terganggu oleh ulahnya Safira yang konyol. Safira tanpa tau, malah mengulang kembali nyanyiannya yang tidak berfaedah itu. "Kakak lah makhluk tu........" belum sempat melanjutkan nyanyiannya Daffin sudah kabur dari tempat duduknya. " Loh, loh, kakak mau kemana? Ini kan belum selesai nyanyinya, ketawa dulu biar aku nggak ditambah hukumannya." teriak Safira, mengejar Daffin. "Heh, dasar. Senyum dikit ke, nggak bakalan ilang itu bibir kalau di pake senyum. Sedekah senyum ke, apa susahnya!" lanjutnya keceplosan, Safira memanyunkan bibirnya tanda kekesalannya. Sudah jelas sekali, TUGAS GAGAL. Dari balik pohon, tiga wanita itu tertawa puas dengan penolakan Daffin pada Safira. "Sok-sok-an sih. Huh, rasain, mangga mamam... " ucap salah satu gadis tadi. #Mangga mamam (dari Bahasa Sunda) artinya 'silahkan makan' maksudnya, silahkan makan dengan kenyataan yang ada. Safira kembali pada Kakak Seniornya dengan raut muka sedih bercampur kesal. Sang Senior memberikan hukuman dua kali lipat sesuai perkataannya. Seperti pepatah mengatakan, Sudah jatuh dari tangga, tertimpa pula. Nasib, nasib. Safira akhirnya dihukum membersihkan halaman kampus belakang. Sangat luas dan dipenuhi oleh daun-daun yang sudah kering. Ditangannya sudah memegeng sapu lidi beserta pengeruknya, ia tampak kesusahan, dan bingung bagaimana cara menggunakannya, jujur saja Safira tidak pernah melakukan ini semua. Bukan. Tapi, memang Safira tidak pernah melakukan hal seperti ini dirumahnya, semuanya di lakukan oleh pelayan. Ya bagaimana lagi, Putri Sultan gituloh. Dan di Kampus ini. keinginannya sangat sederhana, menyembunyikan identitas yang sebenarnya, agar tidak merasa dirinya paling di istimewakan, hanya karena Safira terlahir dari orang berada. Begitulah Safira, lebih menyukai kehidupan pribadi sederhana, tepatnya menjadi diri sendiri. "Ah, tutorial di youtub aja kali ya. Cara menyapu halaman dengan sapu lidi." dia membuka aplikasi dari ponsel miliknya. Video yang di cari pun keluar. Lalu, menontonnya dengan serius. "Ini sih gampang." Tak lama Safira langsung mempraktekannya. Cukup lama. Akhirnya pekerjaannya akan selesai sedikit lagi. Namun, tiba-tiba datang angin kencang, dan menerbangkan dedaunan kering yang sudah terkumpul, sehingga berserakan kembali. Aaaaa... Teriak Safira, benar-benar prustasi. Ia berdecak kesal. Dan harus mengulanginya lagi. "Semangat empat lima." Safira menyemangati diri sendiri, tidak ada kata menyerah dalam kamus seorang Safira. Terlihat Daffin Faaz memandang kearah Safira dari kejauhan, tak sengaja ia sedang lewat. Terukir senyum yang sangat tipis, tapi manis dari ujung bibirnya. Melihat tingkah konyol gadis bernama Safira yang sangat aneh tapi menggemaskan. Tidak tahu cara menyapu. dasar bodoh. umpat Daffin dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD