Rasa ini sangat kuat, namun kau mematahkan nya dengan kata kata yang tak ingin aku dengar.
.
.
.
Safira tidak bisa tidur malam ini, hatinya resah fikirannya kacau. Di tangannya masih memegang kartu nama dari Alexa dan sebuah dompet yang ia temukan tadi siang.
Safira masih bingung harus bagaimana? Kembalikan saja dan itu ada harapan untuk bisa bertemu lagi, atau biarkan dompetnya tidak di kembalikan seolah tidak ada apa-apa.
Safira benar-benar frustasi. Apalagi dengan setiap kata kata yang diucapkan oleh Alexa. Selalu terngiang ditelinganya. Hatinya mengatakan iya namun fikirannya menolak.
Berhari-hari, Safira berfikir tentang masalah dompet itu, mungkin sederhana namun baginya sangat rumit, membuatnya pusing tujuh keliling.
Dan akhirnya, Safira memutuskan untuk mengembalikan dompet itu pada pemiliknya.
"Baiklah, besok siang." ucapnya pada diri sendiri, lalu menhembuskan nafas panjang seolah tengah mengumpulkam kekuatan.
...
Akhirnya, hari itu tiba.
Seperti yang sudah direncanakan, siang ini Safira akan pergi ke Kantor Daffin, setelahnya baru berangkat ke cafe untuk bekerja.
Safira sudah siap dengan penampilan seperti biasanya, dengan Dress berwarna Peach panjang, dan gaya rambutnya yang khas di biarkan tergerai indah.
Sudah sampai di tempat yang dituju. Safira turun dari taksi on-line, ia meminta sang supir untuk menunggunya, tak ada niatan untuk berlama-lama di tempat ini.
Di lihatnya kembali kartu Nama milik Daffin. Memastikan apakah benar ini adalah Alamat Kantor nya.
Terlihat gedung tinggi menjulang ke atas yang sangat Mewah nan Besar bagai pencakar langit, bertuliskan D-FAAZ Company Group.
Sekarang Daffin menjadi orang yang berbeda, sudah banyak berubah. Menjadi laki-laki sukses diusia 30 tahun, itu adalah pencapaian yang sangat bagus. pencapain lebih dari sekedar mimpinya.
Safira tidak berani untuk melangkah maju, apalagi masuk kedalam Gedung. Karena merasa tidak percaya diri, membuat ia mengurungkan niatnya, padahal tinggal satu langkah lagi. Setelah menimbang-nimbang, Safira hanya berikan dompet itu pada seorang satpam yang sedang berjaga di depan tanpa harus bertemu langsung dengan pemilik dompet ini.
"Maaf Pak Satpam, saya titip ini untuk Pak Daffin!" Ucap Safira memberikan sebuah paperbag kecil pada salah satu Satpam.
"Maaf Mbak, tidak bisa sembarang orang memberikan barang untuk Pak Daffin, harus ada konfirmasi terlebih dahulu, Mbak dengan siapa?" ucap Satpam tegas yang bernama Supriatna terlihat dari kartu identitas yang menggantung di lehernya.
"Saya cuma mau mengembalikan barang milik Pak Daffin yang saya temukan di toko" ucap Safira santai dengan sebuah senyuman di bibirnya, tanpa menunggu jawaban lagi, Safira bergegas pergi.
...
Seorang pria tampan dan muda berpakaian lengkap jas berwarna hitam berjalan dengan gagah. Ia membawa sebuah 2 paperbag di tangannya menuju lift. Setelah berada di dalam, Ia menekan angka 10, yang ternyata itu adalah ruang utama CEO D-FAAZ Company Building, lengkap dengan papan nama DAFFIN FAAZ.
Sebelum masuk pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu. Tak perlu menunggu lama, pria itu membuka handle pintu dan segera melangkah ke dalam ketika mendengar perintah masuk dari atasannya.
Kesan pertama, ruangan yang sangat luas dengan designe interior modern, di d******i oleh warna abu-abu dan hitam, di ujung tengah ruangan terdapat sebuah meja besar dan kursi mewah sebagai tempat Daffin kerja. Di depannya ada sofa bed satu set besar, berjajar rak-rak yang di penuhi oleh berbagai macam buku, dan penghargaan. Di tambah, ada sebuah jendela besar nan tinggi memenuhi satu tembok, menampilkan pemandangan yang sangat indah kota metropolitan dengan kesibukannya, dan dari sisi lain ada sebuah pintu khusus ruangan private boss.
Terlihat Daffin sangat sibuk dengan I-pad nya, tanpa menoleh sedikitpun ia sudah tau yang datang adalah siapa. Daffin duduk di kursi kebesarannya dengan santai ala Bos Besar.
Rupanya, pria yang datang itu adalah ssisten pribadi Daffin yang bernama Deri Permana.
Deri sudah di depan meja atasannya, dari salah satu paperbag yang Ia bawa, Deri mengeluarkan sekotak makanan dengan menu komplit sehat, dan sebotol air hangat beserta kotak obat 3 macam.
"Seperti biasa, Pak Daffin harus mimun dulu obat ini sebelum makan." Deri langsung menyodorkan satu kotak obat kepada Daffin.
Daffin yang sibuk langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Deri dengan tatapan tajam.
"Aku hanya ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri, bahwa Pak Daffin meminum obatnya." Tak ada rasa takut dengan tatapan tajam itu, Deri malah memaksa agar atasannya mau menurut.
Sedang malas untuk berdebat, Daffin menerima obat itu dengan pasrah, dan segera meminum obatnya.
Deri tersenyum. "Kalau begitu, selamat menikmati makan siangnya! dan jangan lupa untuk meminum obat sesudah makan." Deri langsung menyodorkan 2 macam obat dalam kotak kecil.
Daffin berdecak kesal sembari menatap obat itu dengan malas.
Deri tidak perduli sama sekali, ini adalah salah satu tugasnya. Bahkan, Deri tidak akan pernah bosan untuk selalu mengingatkan atasannya, karema itu semua demi kesehatannya.
"Dan satu lagi, ada kiriman dari seorang wanita, katanya dia menemukan ini saat di toko. " Kemudian, Deri memberikan satu paperbag lagi berukuran kecil dan di simpan di atas meja.
Daffin bereaksi diam dalam kebingungan.
"Satu lagi, meeting dengan Pemilik Hotel Royal, Pak Hari Hadiwijaya di percepat jadi Sore ini, masih melanjutakn pembahasan dan sekaligus keputusan yang sempat tertunda minggu kemarin." lanjut Deri.
"Siapkan semua berkas nya, Saya tidak ingin ada kekurangan sekali pun." Ucap Daffin tegas.
Deri menjawab dengan anggukan, tak lama pamit undur, segera meninggalkan ruangan atasannya.
Sejak tadi mata Daffin tertuju pada paperbag kecil, Ia begutu sangat penasaran dengan isi paperbag itu. Daffin mengambil dan segera membukanya, yang ternyata adalah Dompet miliknya. Ia membuka dan memeriksa untuk memastikan tidak ada yang hilang, namun nyatanya ada satu yang tidak ada. Ekspresi wajahnya berubah lebih serius dan terlihat dingin, Daffin mengetahui sesuatu. Karena insting nya tak pernah salah.
...
Safira berada di ruang khusus karyawan, sedang duduk istirahat sembari mendengarkan musik memakai handsfree , selalu menjadi kebiasaanya jika sebelum memulai manggung, sekalian untuk melatih vokal suaranya.
"Aaaaa... Mimpi apa kamu semalam, Safira?" Sinta datang tiba-tiba dengan berteriak histeris yang pastinya mengagetkan Safira, seolah gendang telinganya akan pecah.
Safira menghentikan kegiatannya sejenak, mencopot kedua handsfree, keningnya berkerut bingung dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Mimpi apa loe semalam Safira? Di cariin sama Pangeran tampan nan kece badai se-jagat raya, gue baru lihat ada laki-laki yang begitu sempurna dan seksi, Aww... Tuhan sisain buat gue satu kaya gitu dong... Aamiin." ucap Sinta dengan segala kehebohannya.
Safira semakin dibuat bingung. Pangeran tampan hanya ada di negri dongeng. Seakan tak peduli, Safira kembali melanjutkan latihan vokalnya.
"Ayo cepetan, Dia nungguin di ruangan VVIP, jangan kelamaan, takut di buru orang, ayo gercep safira, bangun." Sinta mencopot kembali handsfree itu lalu membangunkan Safira dari duduknya dan mendorong ke arah luar.
Safira masih dengan kebingungannya. Seingat dirinya hari ini tidak punya janji untuk bertemu siapapun. Dengan langkah malas Ia menuju tempat yang di sebutkan Sinta.
...
Safira melangkah dengan santai, lalu masuk ke ruang VVIP yang di maksud, Ia menyapu keseluruh ruangan mencari sosok yang Sinta maksud.
Tampak sepi, dalam ruangan ini hanya berdua saja, Safira dengan seorang pria yang tengah berdiri di ujung dekat jendela, tampak dari belakang saja memang sudah terlihat gagah, ditambah sorotan sinar cahaya matahari sore, Wow.
Pria itu membalikan badannya, seketika Safira diam membeku.
"Daffin." Safira merasa sedang mimpi. Sialnya mata ini terpesona oleh wajah Daffin yang sangat tampan rupawan.
Memang sudah tmpan dari dulu, ketampanannya semakin bertambah tampan dengan ketampanan yang berkali lipat, kini sangat tampan dengan versi wajah dewasanya.
Wajah yang selalu memenuhi bayangan di fikiran Safira, kini tampak nyata. Safira terpana.
Sorotan mata yang tajam dan tegas berwarna coklat terlihat berbeda hari ini, sangat Syahdu, hidung mancung dan Bibir tipisnya berwarna merah sungguh membuat Safira semakin rindu, Sungguh maha karya Tuhan yang paling indah.
Kedua insan itu sama-sama tenggelam dalam tatapan yang menghanyutkan, suatu momen langka.
Namun, Safira segera tersadar, ia menarik nafas pelan seolah tengah mengumpulkan keberanian diri untuk semakin dekat ke arah Daffin.
Safira sengaja memberi jarak yang tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh.
"Safira... " panggil Daffin dengan lembut, mengawali pembicaraan lebih dulu.
"Apa sebaiknya kita duduk dulu? " Safira berusaha untuk bersikap biasa, padahal hatinya berdetak kencang, seperti genderang mau perang.
"Tidak perlu." tolak Daffin cepat, suaranya mulai berubah datar, "Aku tidak akan lama." suaranya kini terdengar dingin dan tegas.
Hanya dalam seperkian detik, Daffin bisa berubah dengan cepat.
"Baiklah, ada keperluan apa mencariku? Dan bagaimana kamu bisa tau kalau aku kerja disini?" Tanya Safira ke inti permbicaraan.
"Jangan merasa besar hati. Aku tidak sedang mencari mu. Tempat kau bekerja, Aku tau dari Mahendra?" Jawab Daffin masih dengan nada dingin. "Aku tidak banyak waktu, aku sangat sibuk. Keintinya saja, kamu sudah mengembalikan dompetku, tapi ada sesuatu yang hilang." lanjutnya.
"Apa? apa yang hilang?" tanya Safira merasa tak mengambil apapun dari dompet Daffin.
"Kamu tidak usah berpura pura. Bagaimana bisa kamu tau kalau ini dompet milikku. Jadi, tolong kembalikan sekarang juga." Pinta Daffin secara paksa.
"Aku tidak berpura-pura, aku beneran nggak ngerti maksud kamu, Daffin." Safira mengelak. Sebenarnya, Ia tahu betul yang di maksud Daffin apa.
"Jangan berdebat denganku, Safira. Kau tau siapa saya?" Kini, Daffin mengubah panggilan Aku dengan saya. "Dengan cepat. Saya bisa mengahancurkan semua hidup anda." ancamnya sadis.
Safira terdiam saat mendengar ancaman Daffin. Bukan karena takut, melainkan sedang berfikir bahwa Daffin mengapa banyak berubah. Dengan berani, Safira menjawab segalanya, " Aku hanya mengambil apa yang menjadi milik ku Daffin." dengan tatapan penuh.