“Apa yang kamu pikirkan ?” Suara baritone itu membuat lamunanku buyar seketika, kulirik Leivh berdiri didepan pintu. Wajahnya terlihat cemas, membiarkannya disana tanpa menyahut. “Aghta..” Suaranya terdengar lagi, kali ini lebih rendah lagi. Aku melirik kearahnya, menatapnya sebentar namun tetap mengabaikannya. Entahlah.. bagiku terlalu menakjubkan. Meski aku sudah menganggap apa yang terjadi diantara kami telah beres, tapi sikapku padanya tak bisa kembali ketitik dimana kedekatan kami pernah terjalin. Dikecewakan adalah trauma. Dan sialnya aku mendapatkannya dari dua orang ini. darah yang sama meski aku tak tahu sejarah yang terjadi diantara mereka. “Aghta.. maaf..” Dia memanggilku lagi, suaranya lebih memilukan dan sepertinya ampuh untuk membuat simpatiku padanya naik secara cepat.

