Wajah Leivh menunjukan betapa dia sangat kaget dengan apa yang baru saja aku katakan. Namun kekagetan itu perlahan berangsur berubah dengan terbitnya senyum manis diwajahnya. Aku tahu pasti jika pernyataannya padaku bukanlah sebuah omong kosong belaka. Dia kupercaya sebagai pria yang tak mungkin akan menghianati aku. Meski sebagian besar aku merasa bersalah padanya juga sebab membuatnya seolah menjadi pelarianku saja. Aku tahu jika aku baru saja mengatakan padanya sebuah pertanyaan gila. Tapi melihat betapa dia sangat bahagia dengan apa yang aku putuskan mau tak mau aku tersenyum padanya juga. “Aku.. aku berjanji akan menjadi pasangan yang baik untukmu. Dan jika benar kau mau menjadi istriku aku akan menjadi pria paling beruntung dan bahagia didunia ini.” Dia kemudian mengarahkan jari ke

