Revaldi menatap sang tamu dengan matanya yang seolah siap menerkam dia kapan saja. Ketika ada bel berbunyi, dia tak menyangka ada seorang pemuda datang kekediamannya dengan wajah polos dan tersenyum hangat padanya yang berada dalam mood berkebalikan. Penampilannya terlihat keren. Ya, Revaldi mengakui itu. Tapi jika diperhatikan dia seperti pernah kenal dengan sosok itu sebelum pertemuan mereka ini. “Ada yang perlu dibantu ?” Revaldi tidak jago mengolah kata basa basi. Ekspresinya masih mengernyit dalam-dalam. Sebab dia disibukan mencari kepingan memori yang tertinggal disudut otaknya. Entahlah sejak keluar dari penjara dengan status bebas tanpa syarat dia bisa menghembuskan napas lega. Adiknya benar-benar luar biasa. Tapi sekarang yang lebih menganggunya adalah pemuda ini ? dia tersenyum

