Ektra Chap: Ditaklukkan Sang Iblis?

1034 Words
Waktu itu aku bermimpi, sendirian di suatu tempat kosong yang semuanya putih. Ke mana pun aku berlari, yang terlihat hanya dinding putih yang sangat menyilaukan. Suara dengung di mana-mana dan tetesan air yang ikut berirama. Aku benar-benar ketakutan saat itu. Seperti tidak bisa keluar dari alam mimpi yang membingungkan bagiku. Namun, beberapa saat setelahnya aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku. Dan sentuhan yang kurasa di pundak dapat membangunkanku dari alam mimpi. Dia Elliot Valley, seniorku di kampus.Setelah mimpi itu, aku dan dia berada di kelompok yang sama untuk tugas kami di kampus, pelahan-lahan karena menjadi akrab, di suatu hari kami pun menjadi sepasang kekasih secara tiba-tiba karena Elliot mengajak kencan di malam aku melihatnya meloncati pagar area pemakaman. Walau banyak rumor yang beredar tentang dirinya, aku tidak terlalu memperdulikan hal itu. Bagiku, Elliot adalah lelaki yang baik, tetapi sangat susah untuk bergaul. Bukan mudah untuk memadu kasih dengan sang iblis, banyak yang iri kepadaku dan selalu mencari cara untuk memisahkan kami. Namun, sampai sekarang hubungan ini tetap bisa bertahan. Aku bahagia. Meski di tengah memadu kasih, aku kehilangan sahabat yang sangat kusayangi, Irene dan Karin. Berkat Elliot, aku bisa kembali tegar dan bangkit dari kesedihan mendalam. "Elliot! Kalau kupikir-pikir, wujud setengah iblismu itu memiliki semacam sayap, kan? Apa kau benar-benar bisa terbang?" tanyaku menatap tepat ke arah wajahnya. Ya, sudah kubilang kalau hubungan kami ini baik-baik saja. Dan sekarang kami sudah memadu kasih selama hampir lima bulan. Walau saat Elliot pertama kali menampakkan wujudnya yang mengerikan itu dan responku langsung berteriak ketakutan, tetapi Elliot langsung bisa menenangkanku beberapa saat setelahnya. Dia juga meyakinkanku kalau perasaannya benar-benar tulus. Ia merasa sangat bahagia karena aku menerimanya dengan segala kekurangan sebagai setengah iblis. Dan ia bahkan membelikanku cincin berlian sebagai pengikat antara aku dan dirinya. Kami jadi seperti sudah bertunangan saja. Lalu, belakangan ini aku juga sering bermimpi tentang Elliot. Aku juga pernah bermimpi tersesat di dunia serba putih seperti waktu itu, bedanya saat aku sudah ketakutan karena sulit keluar dari mimpiku, aku langsung melihat sosok Elliot dan dia menggenggam tanganku sambil membimbing untuk keluar dari tempat aneh itu. Aku pun lalu menatap Elliot. Lelaki yang duduk di halaman rumahnya itu dan sedang mengupas apel, lalu memindahkan antesnsinya kepadaku. Ia menatap mataku dengan manik semerah darahnya. Entah kenapa, semenjak aku tahu ia memiliki darah iblis dan mempunyai wujud yang lain, aku merasa tidak terlalu takut dengan hal-hal berbau hantu lagi. Mungkin, karena wujud Elliot itu seperti moster tampan? Dan aku juga sangat suka ketika ia sudah merubah warna matanya seperti sekarang ini, terlihat seksi menurutku. Ok, hentikan pikiran laknat ini. "Ya, aku bisa," ucapnya datar dan memberiku apel yang telah dipotong. Aku terbelalak karena mendengar pengakuannya. Demi Tuhan, Elliot bisa terbang. Ini sangat menakjubkan. Andai aku juga punya sayap seperti dirinya. "Benarkah! Coba kau lakukan, Elliot!" Aku berseru sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Kulihat Elliot menghela napas dan warna matanya sudah kembali menjadi sehitam malam. "Jika sampai ada yang melihat, bisa bahaya." Sinis, aku bersumpah saat ini lelaki yang kucintai benar-benar menyebalkan. "Pelit, tidak cinta." Bibirku langsung berkerucut karena menatap wajahnya yang datar, kemudian tiba-tiba tersenyum dan mengelus-elus kepalaku. Dia kira aku kucing apa? Dia lalu hanya ber 'hm' saja dan memulai kegiatannya yang tadi, mengupas apel. Aku bahkan tidak tahu apakah ia mau memperlihatkannya atau malah menolak permintaanku. Kembali kupikirkan, kami yang sifatnya sangat berbeda bagai siang dan malam, malah bisa saling berkekasih dan mencintai. 'Taklukkan Sang Iblis' aku jadi mengingat taruhan itu. Walau aku tidak ikut, tetapi karena mendengar Irene dan Karin yang selalu menggosipkan Elliot, membuatku cukup tertarik untuk tahu seperti apa sih sebenarnya sang iblis itu. Dan karena menjadi junior di kelas Filsafat semester empat, aku jadi satu kelompok dengan Elliot untuk bekerja sama, mengingat satu kelas tidak ada yang sanggup berhadapan lama dengan lelaki yang dijuluki sang iblis. "Ayo, Emma. Bantu aku membuat sari apelnya." Ia menggenggam tanganku dan kami pun saling bergandengan tangan saat masuk dan menuju dapur Elliot. Aku sangat bersyukur karena rumah Elliot sekarang ini menjadi sangat indah dan bersih. Tidak ada rumah hantu seperti di film-film horor lagi yang selalu membuat bulu kudukku meremang. Taklukkan sang iblis, ya. Namun, mungkin lebih cocok aku yang telah ditaklukkan oleh sang iblis. *** Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan Elliot tiba-tiba saja mengajakku untuk menuju ke halaman belakangnya. Halaman belakang rumah Elliot ini lebih luas dari halaman depan. Suasanan agak dingin karena aku hanya memakai piyama sederhana. Elliot pun memelukku dari belakang dan menyamankan kepalanya di bahuku. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa ia membawaku ke taman belakang rumahnya ini. Dan saat aku menghela napas karena Elliot mulai mengecup pelan leherku seperti kebiasaannya, aku merasakan kalau rambut Elliot seperti lebih panjang dari rambutku. Dari cahaya bulan, dapat kulihat bayangan Elliot menjadi lebih tinggi beberapa centi meter dari yang tadi. Mata kami saling bertemu, aku melihat mata merahnya dan bibir hitam yang dihiasi taring. Wujud asli sang iblis telah diperlihatkannya dan aku sama sekali tidak takut sekarang ini. Elliot pun membalikkan tubuhku, kita sekarang saling berhadapan satu sama lain. Sontak, aku langsung memerah karena Elliot mulai membuka kancing-kancing yang ada di piyamanya itu dan aku semakin terperangah saat ia sudah melepaskan baju tidurnya. Sial, wajahku memerah sempurna karena melihat ia yang meyeringai ke arahku. Memangnya apa yang akan ia lakukan dengan tubuh seperti itu. "Ada apa denganmu, eh?" Ia mendekat dan aku waspada. "K-kau, apa yang kau inginkan?" Ia pun mengeluarkan sayapnya setelah melangkah mundur kembali untuk membuat jarak. Jarak kami pun menjadi berjauhan lagi. Sayap itu terlihat agak menyeramkan. Seperti sayap kalelawar, tetapi ada puluhan telapak tangan di setiap lapisan kulit, seperti sisik mungkin? Aku menatap takjub sosoknya yang mulai mengepakkan sayapnya. Ia pun mulai terangkat dan tidak memijak bumi lagi. Keren. "Lihat, ini berguna, kan?" Seringai angkuh itu terpampang di wajah menyebalkannya. Cih. Ia semakin menjauhkan jaraknya dari tanah dan semakin tinggi. Aku sampai mendongakkan kepalaku. Lalu ia kembali menapak di dekatku. Ia langsung menarik tanganku ke dalam pelukannya. Tubuhnya yang menjadi lebih tinggi dan besar, membuatku hanya setinggi dadanya saja. Ia lalu menggedongku dengan menyelipkan tangannya di antara perpotongan lutut dan di punggungku. Aku pun memeluk lehernya erat karena tidak ingin terjatuh. Dia kembali mengepak sayapnya dan aku mengerti apa yang akan ia lakukan. "Elliot? Huaaaa!" Aku berteriak karena dibawa terbang, sedangkan dia tengah menyeringai senang sambil menatapku yang terlihat ketakutan. Aku dan dia benar-benar bahagia sekarang, cinta kami saling bersambut walau memiliki cukup banyak rintangan. . . . Ekstra Chapter End
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD