1. Rumor, Sang Iblis!
Angin membelai pelan sisi wajah seorang gadis yang sedang asiknya bersantai di hamparan rerumputan hijau, tepat di bawah sebuah pohon mapel tua tinggi yang rimbun. Bola-bola cahaya sang raja yang masih gagah bersinar tampak menembus dari sela-sela dedaunan pohon mapel yang dengan rimbunnya berusaha menghalangi cahaya agar tak sampai kepada tubuh gadis bermata sewarna rerumputan itu.
Gadis itu sesekali merenggangkan tubuhnya yang kaku karena duduk cukup lama di hamparan karpet hijau buatan alam tersebut, kemudian mata kristalnya kembali menatap sebuah buku tebal yang masih menarik atensinya sedari tadi. Lembaran demi lembaran telah terbuka, buku yang memiliki sampul kecokelatan itu bertulis 'Filsafat Kontemporer' sebagai judul utamanya.
"Haaahhh... rumit." Helaan napas dan satu kata terucap dari bibir mungilnya.
Mata kuliah yang satu ini memang rumit. Sebagai mahasiswa jurusn Filsafat, gadis yang bernama Emma Royarnd itu cukup kesulitan dalam memahami mata kuliahnya. Apalagi dosen mata kuliah ini terkenal pelit nilai, tidak kille karena lumayan bersahabat dengan para mahasiswa dan mahasiswi, tapi tetap saja dosen mata kuliah yang satu ini harus tetap diwaspadai.
"Menyesal rasanya melakukan pengambilan mata kuliah ke semester atas, tapi jika tidak melakukan pengambilan, kan sayang karena Indeks Prestasi-ku di atas tiga," ujar Emma kembali menghela napasnya dan merutuki mata kuliah ini.
Mengerutkan alis, Emma kembali teringat dengan sesuatu.
"Dan kenapa aku harus di kelompok kedua untuk tugas makalah ini? Dan kenapa juga harus satu kelompok dengan dia? Pasti mereka sengaja karena aku satu-satunya junior yang melakukan pengambilan ke semester empat! Aku bahkan tidak berani menegurnya. Hahhhh."
Wajah kusut Emma tercetak jelas, ia menutup buku dan menyandarkan kepala ke batang pohoh. Kristal di mata memejam untuk beberapa saat, kemudian kelopak mata ia buka dan menyaksikan awan yang bergerak lambat. Membatin, enak sekali jika bisa terbang seperti burung-burung di langit sana.
Mengembuskan napas, Emma kembali membuka buku pelajaran dan berkonsentrasi.
“Ayo! Semangat, aku harus bisa.”
***
Hari ini adalah jadwal dari mata kuliah Filsafat Kontemporer, pukul dua siang nanti kelas akan dimulai dan ini adalah pertemuan kedua. Dosen yang bernama Prof Richard Willy itu selalu datang terlambat menurut para senior-senior yang sudah beberapa kali bertatap muka dalam mata kuliah di semester sebelumnya dengan sang dosen.
Emma sebagai satu-satunya junior yang melakukan pengambilan mata kuliah di kelas ini pun memutuskan untuk kembali membaca bukunya karena sang Dosen yang belum juga kelihatan batang hidungnya, padahal sekitar lima belas menit lagi pukul dua tepat.
Bosan. Itulah yang dirasakan Emma. Kemudian, ia mengambil sebuah buku catatannya dan melihat kembali judul tugas kelompoknya.
"Post Modernisme...." Emma berucap pelan, "bersama Elliot Valley. Hahhh." Kembali ia mendesah khawatir.
Emma menolehkan kepalanya ke arah belakang di kursi sudut kiri. Manik sehijau rerumputan itu menatap gugup rekan satu kelompoknya. Lelaki itu masih diam, tatapan matanya mengarah ke meja. Ia hanya menunduk dan wajahnya tidak kelihatan karena rambut hitam tersebut ikut menjulur seperti anak poni, belum lagi ekspresi dingin yang terkenal di kalangan anak-anak meski memiliki wajah rupawan di atas rata-rata.
Ada rumor aneh yang mengatakan kalau Elliot Valley dijuluki Sang Iblis. Tapi, kenapa? Dia memang misterius sih?
Isi hati Emma berbicara saat manik hijaunya menatap sang Valley. Entah karena cerita-cerita seram tentang lelaki itu yang sering terdengar, Emma merasa agak merinding sekarang. Ia mengembuskan napas dan mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba berdegub dua kali lipat.
Rasanya, dia kelihatan ... gelap!
DEG! Detak jantung Emma kembali berdebar, padahal ia telah menenangkan diri tadi.
"Ah!" bibir mungil Emma ternganga seketika karena tiba-tiba saja ang Intaian menatap tepat ke arah matanya.
Namun, terasa sangat aneh.
A-apa tadi itu? Ra-rasanya seperti ada panah kasat mata yang menusuk tubuhku. Batin Emma.
Emma merasa tubuhnya langsung merinding dan napasnya seperti tercekat. Ia secepat kilat membalikkan tubuh dan wajah dari hadapan pria yang masih menatapnya datar. Setelah kembali ke arah semula, Emma mengeluarkan sebuah air mineral dan langsung menenggak caira itu ke kerongkongan. Menghela napas kembali, Emma mengelus tengah d**a karena masih merasa merinding di tubuh. Mungkin ia hanya terkejut karena tiba-tiba tatapannya dibalas, membuat diri Emma menjadi tertangkap basah karena memperhatikan orang lain seperti tadi.
Elliot menyeringai ganjil dengan masih memandang punggung dan rambut belakang Emma. Tidak ada yang tahu bahwa Sang Iblis masih menatap Emma dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Beberapa detik berlalu setelah menenangkan diri, suara desingan nyaring terdengar di telinga Emma. Gadis itu mengerutkan alis dan memegangi kepala karena berdenyut. Telinganya seperti tuli, hanya suara ‘nging’ saja yang terdengar nyaring dan menyakitkan.
Emma merasa berkunang-kunang untuk beberapa detik setelah sakit kepala tiba-tiba saja menyerangnya.
"Ukh!" seru gadis itu dengan suara seperti bisikan.
"Hei, Emma! Kau baik-baik saja?" tanya seorang senior yang duduk di sebelah Emma menatap gadis itu dengan khawatir. Lelaki berambut pirang yang kemudian menghampiri meja Emma dan menyentuhkan jemarinya ke arah bahu sang gadis yang terlihat tidak berdaya.
"Aku tidak apa-apa. Thanks! Senior." tersenyum dengan wajah terlihat agak berkeringat, Emma mengambil tisu dan mengusap wajahnya.
"Oh, syukurlah! Tapi panggil aku Steve saja. Ah, jangan terlalu formal, Emma.” Sang lelaki tersenyum ramah, sepertinya tipe akrab dengan siapa pun.
Emma hanya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ia menanggapi pernyataan seniornya itu. Kemudian, ia pun tersenyum sekilas kepada Steve untuk membalas cengiran lelaki pirang di hadapannya.
Setelah Steve kembali ke kursinya, Emma dengan pelan mengusap-usap kepalanya.
Ada apa sebenarnya? Kenapa perasaanku resah? Batin Emma, mengambil ponsel dan melihat pantulan wajah yang agak pucat.
Si gadis tak tahu bahwa pemilik mata sehitam batu onyx itu masih memperhatikan gerak-gerik Emma dalam diam di sudut ruangan. Senyuman tipis tercipta di bibir lelaki itu, kemudian ia mengalihkan atensi kepada buku yang halamannya telah dibalik. Mungkin, sebesit di hatinya berkata bahwa gadis itu cukup menarik.
***
Tiga gadis yang menjadi teman, Irene, Karin dan Emma sedang bersantai di kafe dekat kampus mereka setelah mata kuliah terakhir usai. Di sana mereka memesan beberapa makanan ringan dan minuman untuk sekedar menjadi teman ngobrol dengan membicarakan hal-hal yang berkaitan tentang masalah gadis-gadis atau semacamnya. Tentu saja masalah kampus tercinta mereka juga tidak luput dari pembicaraan para gadis itu. Dan gosip-gosip ter-hot tentunya yang selalu dinanti oleh Irene untuk dibicarakan.
"Dosen menyebalkan! Seenaknya saja mengganti jadwal perkuliahan." Karin masih menggerutu sambil meyeruput jus lecinya. Wajah dibuat sebosan mungkin oleh gadis berambut kemerahan bak api itu, bahkan kaca matanya diturunkan sampai hidung karena kesal dalam mengingat perkuliahan tadi.
"Hahahha! Astaga! Karin, wajahmu aneh sekali dengan kaca mata seperti itu. Kau kelihatan seperti Doktor Belland kalau sedang membaca makalah mahasiswanya." Irene tertawa lepas karena melihat wajah sebal Karin. Dan tentu saja karena perkataan Irene tadi membuat gadis berkaca mata itu juga ikutan tertawa, begitu pula dengan Emma.
"Sudahlah, kalian! Nanti kita ditendang dari sini karena sangat berisik." Emma berbicara sambil berusaha menghentikan tawanya.
"Iya! Iya!”
Mereka menghela napas, menyeruput jus masing-masing atau mengunyah camilan yang tersaji di meja.
Karin yang tadinya sibuk menghapus imajinasinya tentang dosen killer itu, lalu memperbaiki posisinya yang tadinya bosan dan kesal menjadi duduk tegak dan dengan kaca mata yang sudah kembali ke posisi semulanya.
"Eh, Emma! Bagaimana pengambilan mata kuliahmu tadi? Aku dengar kau mengambil kelas yang sama dengan Elliot, ya?" tanya Karin penasaran.
Irene pun ikut menatap ke arah Emma sekarang. Kedua gadis itu sangat tahu rumor tepanas di kampus mereka, siapa lagi kalau bukan tentang pemuda tampat dan misterius juga menyeramkan itu.
"Emm ... iya, aku sekelas dengannya. Haah ... lumayan susah sih, tapi aku tetap akan berusaha di kelas." Emma mengerutkan alis, mengingat pristiwa memalukan beberapa saat lalu. Kenapa bisa sampai tertangkap basah seperti itu. Ia kembali menghela karbon dioksida.
"Wahhh ... bagaimana dia? Apa kau mendapatkan nomor ponselnya?" tanya Karin dan Irene sontak bertanya hal yang sama kepada gadis bermata emerald yang masih menyeruput jus ceri.
Alis semakin berkerut, berpikir kenapa topik ini yang mereka pilih, ia kira akan lebih baik membahas mata kuliah yang mata pelajarannya ia ambil di semester atas.
"Kalian ini, kalau ingin tahu kenapa kalian tidak melakukan pengambilan mata kuliah denganku? Lagipula, IP kalian kan cukup!" seru Emma melototi kedua orang yang sedang nyengir kuda di hadapannya itu.
"Ah, aku tidak mau menambah-nambah jumlah mata kuliah lagi." Karin berucap, beranggapan semua itu akan menyusahkannya, dengan mata kuliah yang sekarang saja ia kelimpungan. Apalagi harus melakukan pengambilan mata kuliah di semester atas.
"Iya, biarlah berjalan pada waktunya, Emma." Irene menyahuti Karin dan menatap Emma dengan lirikan mengejek main-main.
"Huh ... kalian ini," ucap Emma mengembungkan pipinya kesal melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
Sambil memainkan garpu yang piring yang telah kosong, Emma menatap kedua sahabatnya yang sekarang tertawa kecil dengan dua jari membentuk v, dengan pesan tersirah bahwa mereka harus berdamai.
"Hehe ... eh, tapi kau tahu tidak, Emma? Rumornya, Elliot itu mendapat julukan Sang Iblis. Katanya dia selalu mematahkan hati para gadis, juga banyak kabar burung yang bilang dia itu seperti memiliki sesuatu yang misterius pada dirinya atau apa, begitu? Banyak gadis kampus kita yang selalu menangis karena tidak bisa menyatakan cinta kepadanya, dia sangat membuat bulu kudung merinding dan selalu berekspresi datar sedingin es, tapi tetap saja keren. Kyaaa!" Irene berbicara panjang lebar dan entah dari mana ia tahu tentang rumor-rumor senior mereka itu. Setelah berbicara, gadis mirip Barbie itu berteriak seperti seorang fangirl dari Elliot.
"Waw! Irene kau benar-benar pencari informasi yang terbaik." Karin terpesona karena kemampuan temannya dalam mengumpulkan gosip-gosip ter-hot di kampus mereka. Gadis yang menggunakan kacamata itu mengacungkan jempol dengan tawa kecil.
Melihat tingkah kedua sahabatnya, Emma hanya bisa memutar kedua bola mata.
"Hei, sejak kapan kalian berdua memanggil Senior dengan akrab begitu? Dan Irene, itu baru rumor ... jangan terlalu dipercaya, deh!" Emma memicingkan matanya curiga melihat kedua orang berbeda warna rambut itu yang sedang ber-fansgirling ria.
"Ah!Emma tersayang, tapi Elliot itu memang keren." Irene masih bersikeras.
Mengambil ponsel dan menunjukkan potret sang lelaki yang terlihat tengah menggunakan headphone dan tengah membaca buku di taman yang sepi.
"Yaaaa! Aku merasa terjerat aura jahatnya." Karin semakin menimpali dan membuat Emma harus menepuk jidatnya yang lebar.
"Dasar, kalian ini stalker, ya? Mengambil foto orang tanpa itu ilegal."
Kedua gadis itu tidak terlalu mendengarkan, malah asyik menatap foto dan mengagumi betapa tanpa dan misteriusnya sosok Elliot yang sedang membaca buku dengan serius.
"Hei, kalian! Aku punya ide yang bagus."
Emma dan Karin menatap Irene yang bicara dengan pancaran mata berbinar.
"Apa?" serempak Emma dan Karin bertanya kepada gadis itu.
"Ayo, kita taklukkan Sang Iblis!" seru Irene dengan penuh percaya diri.
Karin menyahutinya dengan semangat yang sama dengan Irene, tetapi Emma hanya menatap dengan ngeri kedua sahabatnya itu.
Mereka ini, apa sebenarnya yang kalian pikirkan? Haaahhh ... ada-ada saja, dasar.
Menggelengkan kepala, ia hanya membiarkan kedua sahabatnya melakukan apa yang diinginkan. Namun, jika nanti mereka patah hati karena ditolak laki-laki yang sudah terkenal sangat dingin di penjuru kampus, ia akan siap memberikan pundak untuk mereka berkeluh kesalh. Hela napas dikeluarkan, Emma menyeruput jusnya hingga tak bersisa.
***
Tes ... tes ... tes.
Suara air terdengar di telinga Emma, rasanya sangat dekat hingga ia mengerutkan alisnya.
Kelopak mata yang menampakkan manik seteduh dedaunan hutan itu terbuka seketika saat telinganya menangkap suara tersebut berulang-ulang. Terang, bahkan terlalu terang sampai yang dilihatnya hanya cahaya putih yang menyilaukan mata. Mengerjabkan kelopak berulang kali untuk menetralkan bias cahaya yang masuk ke dalam pupil, tetapi tetap saja yang terlihat hanya keputihan cahaya yang menyilaukan itu.
NGINGGGG!
Suara denging masuk ke pendengaran sang dara. Dengan segera ia langsung saja menggerakkan kedua tangannya untuk menutup indera pendengarannya.
"Ukhh ... apa yang terjadi? Dan ... di mana ini?" tanya Emma, setelah semuanya terasa lebih baik.
Angin bertiup, membuat bulu kuduknya berdiri, ia menatap sekitar dan mencoba mencari tahu di mana dirinya sekarang.
Ia berada di ruangan kosong putih dan tiba-tiba di ruangan kosong bercahaya putih menyilaukan itu berembus angin dingin yang membuat gaun putih Emma tertiup, sehingga terangkat sampai setengah paha. Rambutnya yang panjang sebahu itu berkibar karena angin membelai indah tiap helai cokelat gelapnya.
Emma merapikan gaun dan rambutnya, kemudian berjalan berkeliling tempat putih itu. Mencari tahu sebenarnya ia ada di mana. Keringat mulai mengalir, alis Emma berkerut karena ia merasakan kejanggalan di tempat ini.
Panik mulai dirasakan ketika tak menemukan ujung dari ruangan serba putih yang menjadi pijakannya.
"Apa-apaan ini? Aku di mana? Seseorang tolong aku!" seru Emma dengan suara yang yang agak kuat, keringat dingin mulai membanjiri wajah dan tubuhnya.
"Hahhh! Hah!” suara napas gadis itu bahkan terdengar di telinga Emma sendiri, dan mulai tak beraturan.
Ia merasa genangan di mata, kemudian mengalir di pipi. Menangis dan bersandar di tembok karena tidak menemukan ujung dari tempat ini. tidak ada pintu, hanya ada dinding beruangan putih dan cahaya.
“Royarnd! Emma Royarnd!”
Suara asing terdengar, memanggil nama Emma berkali-kali dengan suara dalam dan cukup tenang.
Mata gadis itu kini tertutup karena merasakan ketakutan, dan beberapa saat kemudian ia merasakan ada yang menyentuh pelan sisi wajahnya. Berulang-ulang.
***
Emerald itu terbuka dengan pandangan mata panik juga terkejut, napasnya masih terengah dengan sedikit isakkan yang keluar melalui bibir kemerahan. Ia membelalakkan mata saat yang tertangkap di indera penglihatannya adalah seseorang yang berjarak begitu dekat dengan Emma, tepat di hadapan dirinya. Ia dapat merasakan tangan itu masih menyentuh sisi wajah dan terlihat sepasang mata hitam memandang dengan alis berkerut.
Emma pun mendudukkan diri, kemudian memandangi sekeliling dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Emma Royarnd!" Suara itu menyadarkan Sang Gadis dari keterkejutan sesaatnya.
"Ke-kenapa? Senior Valley!” seru Emma, menatap lelaki itu dengan air mata yang menggenang.
"Hm, kau bermimpi buruk?" tanya si lelaki, mengambil sapu tangan dan memberikannya kepada Emma, kemudian ia berkata untuk membersihkan air mata di pipi gadis itu.
"Eh, mimpi?"
Jadi yang tadi itu mimpi.
Memejamkan mata sejenak untuk merutuki dirinya sendiri, Emma mengambil napas dan mengembuskannya perlahan. Bukan main, mimpi yang mengerikan karena ia berada di ruangan serba putih. Sempat ia mengira bahwa itu alam baka, jangan-jangan tadi ia sempat mati suri?
Emma menatap wajah Elliot dan melihat lelaki itu menyeringai kecil. Emma lalu ikut berdiri ketika sang lelaki pun menegakkan tubuhnya yang tinggi.
"Ah, kalau begitu terima kasih, Senior.” Emma mengembangkan senyuman untuk berterima kasih kepada pemuda di depannya itu.
"Ya.” Anggukan terlihat sebagai jawaban.
"Emm ... itu, ba-bagaimana dengan tugas kelompok kita, Senior?"
"Elliot saja." Si pria memberikan imbauan agar jangan memanggilnya senior, dan menggunakan nama depan saja.
"Eh?" Emma bingung saat lelaki itu malah menatapnya dan menyahuti tentang hal lain yang berbeda dari pertanyaannya. “Baik, Elliot.” Rasanya agak aneh ketika ia memanggil nama sang lelaki tanpa embel-embel senior. Apalagi jadi terkesan akrab seperti ini, sebenarnya Emma agak segan.
"Kau kapan ada waktu?" tanya Elliot, tatapan mata lelaki itu terlihat misterius, sedangkah wajahnya bak es yang dingin.
Emma tidak berani menatap wajah maupun bertatapan langsung dengan lawan bicaranya. Apalagi orang yang berdiri di hadapan Emma ini, terlihat misterius dan benar-benar seperti julukannya. Ah, apa yang ia pikirkan? Omongan Irene dan Karin pasti sudah membuat Emma demikian rupa.
"Ba-bagaimana kalau besok saja? Aku hanya ada sa-satu mata kuliah." Apa-apaan dirimu, Emma? Kenapa menjadi gagap seperti ini?
"Baiklah. Besok kita berjumpa di sini," ucap Elliot sambil berlalu dan meninggalkan Emma sendirian di bawah pohon mapel di sore hari.
Emma masih menatap kepergian lelaki misterius yang memiliki berbagai rumor yang tersebar di kampus mereka, dan salah satu rumor yang paling terkenal adalah Elliot merupakan seorang lelaki yang dijuluki Sang Iblis karena aura suramnya juga parasnya yang sedingin es.
Gadis itu kemudian menghela napas karena merasa lega saat Elliot sudah tidak dapat dijangkau penglihatannya lagi. Sungguh, ia serasa ingin meleleh saking gugup ketika berbicara dengan lelaki itu, apalagi dengan tatapan mata yang tajam bak elang. Emma kembali duduk di bawah pohon untuk menenangkan diri sejenak. Jantung pun masih berdetak sangat kencang karena ulah lelaki di hadapannya tadi. Tidak bisa dipungkiri oleh gadis bermata emerald itu bahwa Elliot memiliki aura suram terasa sangat menakutkan.
Rumor itu sepertinya benar, ternyata sangat mengerikan jika berhadapan langsung dengan Sang Iblis!
.
.
.
Bersambung