Dalam diam, ia melangkahkan kakinya dengan santai di koridor fakultas. Tatapan mata yang selalu tajam bak elang yang tengah memburu mangsa, fokus dan lurus juga tidak sedikitpun memedulikan orang-orang di sekitarnya. Ia bagaikan magnet di tempat ini. Lirikan-lirikan dan sorot ketakutan atau apa pun itu terus mengikuti arahnya sampai ke ruang kelas. Setelah masuk pun, dirinya masih mendengar bisik-bisik ataupun ucapan para penghuni lorong jurusan yang tadi terus membicarakannya. Apalagi setelah ia tidak ada di sana, suara-suara itu terdengar makin jelas.Memandang sekilar rekan-rekan di dalam kelas, di luar dugaannya, mata oniks yang melukiskan tatapan dingin pun bisa menyadari bahwa seluruh rekan kelasnya langsung berpura-pura pada urusannya sendiri, seolah mereka tidak memedulikan atau tidak mau tertangkap basah sedang mengamati lelaki yang dijuluki Sang Iblis.
Sempat berhenti sejenak ketika, ia kembali melangkah dan duduk di kursi paling belakang sambil membuka buku dibawanya tadi.
“Semua sama saja,” bisik Elliot dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Ketika dosen telah datang maka mata kuliah pertama dimulai, presentasi kelompok kesekian pun terdengar. Waktu berjalan, setelah mereka selesai, satu demi satu pertanyaan berdatangan. Termasuk Elliot yang dikenal dengan pertanyaan dan adu argumentasi yang selalu terjadi jika telah mengacungkan jadi. Hingga, sering sekali kelompok yang berpresentasi terdiam karena kehabisan bahan untuk menjawab serentet cabang pertanyaan yang jarang berujung itu.
“Dia memang sekejam itu,” ujar beberapa rekan. Elliot terlihat tidak terlalu peduli.
Kelas telah selesai, Elliot lantas melangkah ke tempat paling ia suka. Di bawah pohon tempatnya duduk sekarang ini, suasana seketika menjadi hening. Angin mulai melambai dengan membawa udara lembab menyentuh kulit seputih salju itu. Tatapannya menjadi sayu saat melihat gumpalan awan kelabu yang berbondong-bondong menyerbu dan menyingkirkan langit cerah. Menelan matahari tanpa belas kasih sama sekali. Menyingkirkan dan meracuni sinarnya sehingga terik sang raja pun menghilang.
Mulut lelaki itu sesekali berkata lirih, menuangkan pikiran dan isi hatinya kepada sekuntum bunga liar yang mekar dan ada di sampingnya. Bunga itu tumbuh di tempat yang salah, sebab bunga liar tersebut tumbuh berjauhan dengan jenisnya yang tidak jauh di seberang Elliot.
Bunga itu... kelihatan kesepian dan tidak bahagia.
"Kau... tidak akan dipandang, jika tumbuh di bawah pohon yang mapel yang indah ini." Elliot berucap sambil menggerakkan tangannya, menyentuh kelopak bunga berwarna putih.
Tangan lelaki itu melakukan gerakan seperti ingin mencabut bunga. Setelah bunga itu ada di tangannya, ia pun berdiri dari rerumputan hijau yang menjadi permadani alam itu dan menggerakkan kaki.
***
Suara terengah-engah terdengar jelas, suara tapak kaki bersahutan seseorang yang berlari sekarang semakin dekat ke arah si lelaki.
Lelaki yang berjongkok di hadapan bunga-bunga liar, lantas mengerutkan alis dan menggerakkan tubuh, menolehkan kepala melihat siapa yang sedang menghampirinya dengan cara seperti ini? Sebelumnya, Elliot tidak pernah menjumpai ada seseorang yang ingin mendekatinya dengan tergesa-gesa seperti orang yang sedang terengah-engah di depannya sekarang. Kebanyakan dari rekan di kelas, senior maupun junior pasti selalu mendatangi dengan wajah takut atau gugup. Bahkan dirinya sering sekali melihat orang yang ingin berbicara kepadanya akan langsung kabur sebelum Elliot bertanya 'Ada apa?'.
"Syukurlah, astaga. Tadi, aku kira kamu akan per—" Emma yang tadinya tersenyum lega langsung terdiam ketika menyadari Elliot hanya menatapnya dengan mata setajam elang, "Ah, maaf, aku ta-tadi... itu ke-kelasnya belum selesai, Senior Elliot,” ucapnya gagap dengan takut-takut dan merasa bersalah karena tidak bisa datang tepat waktu. Salahkan dosennya yang menerangkan mata kuliah dengan berapi-api tanpa memikirkan waktu hingga ia benar-benar telat datang ke tempat yang telah dijanjikan.
Elliot hanya diam dan memperhatikan si gadis, wajah Emma yang sekarang terlihat sangant merasa bersalah itu tiba-tiba terkejut dan bingung, lalu mata sehijau rerumputan itu menatap tangan Elliot yang masih menggenggam sebuah bunga yang masih memiliki akar.
“Ya, tak masalah.” Ia hanya bergumam dan melanjutkan keinginannya yang sempat terhenti karena kehadiran gadis berambut cokelat itu.
Tatapan merasa bersalah lantas berubah menjadi penasaran. Emma mengerutkan alis karena menyadari apa yang sedang dilakukan seniornya, kemudian mengikuti sang lelaki untuk berjongkok dengan memamerkan senyum cerah yang terlukis di wajah tanpa disadari oleh pemiliknya sendiri, dan ia kemudian pun bersuara 'Wahhh!' dengan rasa kagum. Tentu saja Emma tidak pernah berpikir kalau orang seperti Elliot peduli dengan hal-hal kecil yang bahkan jarang terpikirkan oleh orang lain. Bahkan, mungkin tidak akan ada yang percaya kalau lelaki yang mereka sebut sebagai 'Sang Iblis' mau merepotkan dirinya dengan hal seperti ini.
Elliot hanya melirik dalam diam kepada si gadis, kemudian lelaki itu menyeringai tanpa sepengetahuan sosok ceria di sampingnya. Selama beberapa saat si pria terus mengerjakan sesuatu yang belum ia selesaikan. Dan kemudian, setelah selesai dari kegiatan kecil itu, bunga yang tadinya ada di bawah pohon mapel, sekarang sudah berpindah ke kumpulan bunga yang sejenis dengan bunga kesepian itu. Sang pria pun mengambil wadah air dari dalam tas dan menyiramnya untuk membuat sekuntum bunga liar tersebut menjadi segar.
"Wah, Senior Elliot, terima kasih." Emma berucap dengan tawa lembutnya dan menatap wajah Elliot yang masih juga berposisi sama seperti Emma. Mereka masih berjongkok dengan jarak yang terpisah oleh bunga yang baru dipindahkan Elliot. Mereka saling bertatapan semenjak ucapan sang gadis masuk ke pendengaran Elliot.
"Kenapa kau?" tanya lelaki itu, mata hitam nan tajam masih menyoroti emerald sang gadis.
"Aku wakilkan. Karena bunganya jadi kelihatan... bahagia." Sekarang terpatri senyum tulus yang tercipta tanpa sadar, saat pemilik wajah itu menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Senyum itu, membuat mata hijaunya menyipit dengan bulu mata lentik indah.
Emma kembali menatap bunga yang masih basah oleh tetesan air yang ada di kelopaknya. Entah kenapa? Tiba-tiba ia tidak merasa takut lagi karena begitu dekak dengan sosok lelaki yang memiliki julukan Sang Iblis, bahkan rasa bersalah itu pudar dengan sendirinya karena terpesona oleh hal kecil yang dilakukan lelaki yang masih menatapnya.
Tangan Emma bergerak dan dengan jari telunjuknya yang kurus, Emma menyentuhkan tetes-tetes air yang ada di kelopak bunga dengan perlahan. Sambil tersenyum.
Elliot kemudian berdiri dan memanggil Emma untuk mengikuti langkahnya. Langit sudah cerah saat mereka meninggal tempat itu. Dan sinar surya perlahan memancar ke arah bunga di belakang mereka.
"Hei!"
"Ya, Senior Elliot?”
Elliot menghela napasnya saat Emma kembali memanggilnya dengan embel-embel itu. Sejak tadi bahkan gadis itu terus saja memanggilnya begitu.
"Bukankah sudah kukatakan, kalau kau panggil saja nama depanku," ucapnya dengan agak malas. Menaikkan salah satu alis ketika memandang wajah kemerahan si gadis.
"Eh, i-iya... Elliot." Suara yang terbata-bata terdengar, Emma merutuki dirinya sendiri karena tiba-tiba gugup lagi.
Mendengar kegugupan gadis itu, Elliot hanya bisa mendengkus. Terserahlah.
"Tapi sebaiknya kamu juga panggil aku Emma saja, ok?" tanya Emma, senyum gugup kembali terpancar saat Elliot melirik ke arahnya.
"Ya." Anggukan terlihat, sedang Emma mengembuskan napas dan tersenyum canggung.
***
Sepasang anak Adan itu menuju ke arah perpustakaan, langkah mereka terkesan agak terburu karena Elliot mempercepat langkah. Emma jadi heran saat melihat Elliot seperti memasang tampang yang kelewat dingin dan aura seram bagai langsung mengelilingi lelaki yang berjalan cepat di depannya itu.
Tanpa sengaja, telinga sang gadis menerima bisik-bisik yang ditujukan kepada seniornya. Emma menatap para mahasiswa dan mahasiswi yang berdiri tidak jauh di samping, tatapan mereka beragam sekali terhadap Elliot. Dan itu membuat Emma paham kenapa lelaki yang sudah jauh di depannya berjalan cepat dan diselimuti aura mengerikan seperti sekarang ini.
"Dia anak Filsafat semester empat yang dijuluki 'Sang Iblis', kan? Hah, walau tampan, tapi dingin, jadi seram."
"Me-mengerikan, pantas sih banyak yang jauhi dia! Walaupun dia tampan."
"Marisa si model yang terkenal itu saja, yang anak Fakultas Seni, sampai menangis ketika berada di hadapan Sang Iblis, aku dengar Marisa ingin memberi surat cinta dan ditolak mentah-mentah."
"Cih, sombong sekali pecundang itu. Dasar Iblis."
"Aku benci Sang Iblis, dia perusak hati wanita."
"Si Iblis itu, benar-benar membuat masalah, Adikku sampai tidak mau ke kampus karena dipermalukan di depan umum. Berengsek."
"Aku heran, kenapa para gadis masih banyak yang mendekatinya?"
"Mungkin dia gay karena tidak perah akrab dengan wanita, hahahha."
"Sialan, pacarku bahkan coba mendekatinya. Iblis itu cari mati!"
"Sang Iblis—"
Dan Emma langsung lari menuju pintu perpustakaan karena tidak sanggup mendengar komentar dan pembicaraan mengerikan dari mahasiswa dan mahasiswi yang tadi Elliot lewati. Miris rasanya, banyak yang tidak suka padahal tidak tahu kejelasan yang terjadi itu seperti apa. Sebab yang Emma tahu, kebanyakan dari mereka hanya menerima kabar simpang siur dan rumor belaka.
Ia mengembuskan napas, memang jika nama seorang sudah dijuluki aneh-aneh, atau banyak yang ingin mendekati, tetapi Elliot tidak nyaman, mereka pasti akan membuat gosip aneh-aneh yang sangat merugikan Elliot.
Ketika pandangannya menyisir seisi perpustakaan, Emma melihat Elliot yang berdiri di rak dengan nomor seratus yang merupakan rak jalur khusus Filsafat Kontemporer. Dirinya pun langsung menggerakkan tubuh untuk menghapus jarak dari lelaki yang masih kelihatan sibuk dengan buku-buku di tangan untuk referensi tugas mereka.
"Post Modernisme, bukan?" ucap Emma kepada dirinya sendiri sambil melirik sang senior di dekatnya. BAB yang akan mereka bahas berjudul demikian.
Masing-masing mencari refresnsi, selama beberapa saat rekan satu tim itu berpisah ke rak berbeda dan mencari judul yang cocok untuk tugas mereka, kemudian mencari meja kosong dan mulai membaca dan mendiskusikannya.
Waktu terus bejalan, matahari telah mengeluarkan sinar jingga, artinya sudah beberapa jam mereka tinggal di perpustakaan. Maka dari itu, Emma mengembuskan napas dan berpikir untuk meminjam dua buku untuk ia baca di rumah nanti.
Duduk dengan jendela yang tepat berada di samping mereka, membuat wajah datar lelaki itu terlihat berbeda.
Tanpa sadar, Emma kehilangan fokusnya pada buku-buku di tangannya ketika emerald itu menemukan sesuatu yang tidak biasa dari sang senior. Dan kali ini, atensi Emma pun berpaling ke wajah lelaki yang dijuluki sang Iblis yang terlihat menatap jendela dengan mata hitamnya, juga tatapan sayu dengan latar terpaan jingga yang ada di samping mereka. Membuat Emma menyadari, betapa lelaki itu memiliki beban yang amat berat di balik wajah sendu yang kehilangan topeng sore ini.
Wajah sendu Elliot, membuat hati Emma merasa teriris.
Dia kelihatan sangat... kesepian.