3. Dekat?

1996 Words
Saat mengerjakan tugas pada mata kuliah Filsafat Kontemporer yang berkelompok dengan Elliot, Emma mendapatkan pengarahan dari sang senior agar mengetik materi-materi dari referensi yang sudah diringkas dan dianalisis oleh lelaki itu untuk menjadikannya makalah. Tentu saja dengan Elliot yang membantu membacakan agar lebih cepat, kadang-kadang mereka menyusun jadwal agar bisa mengerjakan bersama."Emma, untuk hari ini kita sudahi dulu. Hari telah senja." Elliot berbicara sambil menatap mentari yang kian menjingga. Gadis itu hanya menganggukkan kepala, kemudian ia pun menyimpan hasil kerjanya dengan Elliot dan langsung membereskan buku-buku di meja perpustakaan yang sering kali menjadi tempat pertemuan mereka. Keluar dari tempat itu, mereka melangkah berdampingan. Meski berjalan bersisihan, tetap saja tidak satupun di antara mereka yang menyuarakan pemikiran dan hanya saling diam. Namun, Elliot maupun Emma sadar, hampir seluruh orang yang mereka lewati selalu menatap dengan hiasan bisik-bisik di bibir masing-masing. Kali ini sang gadis hanya bisa menghela napas, entah gosip apa yang akan muncul nanti? Semoga saja semua itu tidak terjadi. Namun, Emma yang mendengar bisik-bisik itu merasa kesal karena kebanyakan dari orang-orang yang berdiri dan berbincang di koridor fakultas selalu terang-terangan membicarakan Elliot, tentu saja tentang hal yang jelek-jelek, seperti sifat sombong, misterius dan anti sosial. Salah satu yang paling terkenal adala Elliot adalah iblis perusak hati wanita. Mata-mata itu, mengawasi tiap gerik mereka. Sang Iblis dan si gadis yang akan segera dihancurkan haitnya. "Emma Royarnd digosipkan dekat dengan Sang Iblis!" *** Sore ini sehabis jam kuliah, Irene mengajak Emma dan Karin untuk pergi ke tempat mereka biasa berkumpul dan mengobrol. Irene yang sudah mengunggu mereka di cafe, lalu melambaikan tangannya ketika melihat Emma dan Karin yang berjalan ke arah sang gadis. "Lama sekali, sih?" tanya Irene dengan bibir merengut saat menatap kedua temannya malah tersenyum lebar. "Emma, nih! Dia lama banget ke perpus sama Elliot, nyari kesempatan pasti." Karin berkata dengan asal, ikutan kesal karena sedari tadi Emma menyuruhnya untuk menunggu di gerbang kampus, dan memang salah Emma yang lebih dari sejam di perpustakaan dan lupa mengabari Karin agar pergi terlebih dahulu ke kafe biasa untuk nongkrong. "Hehe... maaf, ya. Jangan mengada-ada, Karin. Aku kan harus mengerjakan tugas kelompok." Emma hanya bisa pasrah saat kedua orang temannya itu melototi dirinya, ia menghela napas dan berbicara, "Baiklah, sebagai permohonan maaf, kalian kuteraktir, ok!" seru sang gadis riang. "Ah, tidak perlu!" seru mereka serempak setelah kedua orang yang tadinya memelototi Emma. Emma menatap kekompakan temannya itu, kalau sudah begini, pasti ada hal yang mengerikan akan segera terjadi. Batin pun mulai resah. "Kau hanya kami maafkan kalau menceritakan apa yang kau lakukan di perpus dengan Elliot kesayanganku! Dan lagi, sejak kapan kau memanggilnya dengan nama depan? Mencurigakan!" Karin berucap sambil bersedekap dengan mata memicing curiga kepada Emma. "Apa? Sejak kapan Elliot-ku itu menjadi milikmu? Enak saja." Irene pun malah menanggapi sesuatu yang berbeda dari pertanyaan Karin. Dan mulailah perebutan Elliot oleh kedua gadis itu, sementara Emma hanya menatap teman-temannya dengan hela napas bosan.  Mereka ini. Batin sang gadis dengan hela napas yang kembali diembuskan. "Lihat saja! Aku tidak akan kalah dari Emma, aku akan mendekati Elliot dan menyatakan cinta kepadanya!" seru Irene bersemangat dengan dibarengi anggukan mantap dari Karin. Haahh... mereka ini. Kedua kalinya Emma mengucapkan kata yang sama di dalam batin. Namun, Emma tetap tersenyum, mendukung kedua sahabatnya untuk menyatakan cinta kepada lelaki sedingin es. Setidaknya walau rumor menyebar tentang betapa kejam dan dinginnya si lelaki, ia akan bersedia memberikan bahu jika kedua gadis itu menangisi cinta mereka yang tidak sampai. "Oh, ya, Emma! Kau sudah dengar gosip terbaru di kam—" "Irene, sudahlah! Aku tidak mau mendengar gosip aneh-aneh yang ada di kampus. Membosankan, Irene." Emma berucap malas. Gadis itu menyeruput segelas soda dengan potongan buah-buahan di dalam minumannya. Mengunyah pai s**u, Emma mengerutkan alis ketika Karin pun kembali berbicara tentang gosip yang tidak ingin ia dengar. "Emma, dengarkan saja dulu Irene, kuyakin kau juga belum tahu, kan?" "Karin, sekarang kau sama bersemangatnya dengan Irene kalau sudah berbicara tentang gosip. Kalian ini!" serunya dengan hela napas pasrah. Ia sudah dikeroyok oleh kedua gadis ini, bagaimana tidak mengalah saja? Jika penolakan Emma diteruskan, pasti kedua sahabatnya akan terus merongrong sampai rumah. "Tapi, kau pasti akan tertarik kalau yang sedang digosipkan adalah tentang Ell—" ucapan Irene terhenti karena Emma menyekat pembicaraan itu dengan omelannya. "Hentikan, Irene, aku sudah bosan karena kalian terus menggosipkan Elliot, jangan hanya mendengar kabar buruk tentangnya saj—" kalimat pun tidak sempurna dan Emma mendengkus karena sekarang Karin malah membekap mulutnya dengan gemas. Karin benar-benar ingin menjahit mulut sahabatnya itu karena tidak bisa diam dan hanya memotong pembicaraan Irene. "Dengarkan dulu, Emma Tersayang!" Emma menatap kedua gadis itu dengan malas. "Dengar! Ini menyangkut kau, tahu. Seluruh kampus tengah menggosipkan Emma Royarnd yang akhir-akhir ini dekat dengan Sang Iblis!" seru Irene sambil menggeram rendah, "Apa kau benar-benar tidak sadar, hah?" "Ck, masa bodoh! Biarkan saja. Aku tidak peduli dengan gosip-gosip itu." Emma berucap dengan berpura-pura tidak peduli. Wajahnya lantas kecut walau ia melahap semua potongan pai s**u di meja. Moodnya lantas rusak karena infomasi menjengkelkan ini, orang-orang kurang kerjaan itu masih bisa mengurusi hidup orang lain padahal banyak tugas yang harus dikerjakan. Emma benar-benar kesal, sudah ia duga hal seperti ini akan terjadi. Namun, ia sendiri tidak menyangka gosip ini tersebar sangat cepat bahkan sampai ke telinganya dan teman-temannya. *** Sudah hampir dua minggu Elliot dan Emma mengerjakan tugas mereka bersama-sama. Dan gosip-gosip itu semakin menggila saja di kampus mereka. Emma sangat risih mendengar ocehan mengenai dirinya dan Elliot, tetapi ketika melihat ketidakpedulian sang senior, Emma akhirnya menjadikan Elliot sebagai contoh untuk dirinya. Ia juga ikut-ikutan tidak mau ambil pusing mengenai omongan orang-orang tentang mereka. Elliot saja, tidak memedulikannya. Seharusnya aku belajar pengendalian diri dari Elliot. Mata emerald terus menatap Elliot yang saat ini tengah membaca serius buku-buku yang akan mereka jadikan sebagai penunjang dalam pengerjaan tugas. Alis lelaki itu kadang berkerut, ketika mencatat atau menggaris bawahi kalimat-kalimat penting untuk di catat di dalam laptop. "Ada apa?" tanya sang lelaki, tanpa mengalihkan tatapan kepada Emma yang memandanginya sedari tadi. Menahan napas karena ketahuan lagi, Emma merasakan bulu kuduk langsung meremang saat suara dalam lelaki itu seperti tepat di telinganya, padahal tidak. Walau Elliot duduk di samping Emma karena saat ini mereka sedang mengerjakan tugas dan Emma mengetik di laptop, sedangkan Elliot yang membaca—Emma jelas melihat lelaki itu tidak mengalihkan atensi dari buku. Kenapa bisa? Apa hanya perasaan Emma saja karena ia terlalu larut menatap wajah datar lelaki itu? "Hm, Emma?" Elliot menolehkan kepala, kemudian menaikkan sebelah alis karena heran. "Eh i-iya, tidak apa, Elliot. Kita lanjutkan.” Menganggukkan kepala kaku, Emma bertanya bagian mana lagi yang harus ia ketika dengan ekspresi gugup dan wajah memerah karena merasa malu. Melihat kegugupan gadis itu karena tertangkap basah olehnya lagi, Elliot pun mendengkus lucu diam-diam dengan senyuman tipis di bibir. *** Sepulang dari kelasnya, Emma terpaksa mengikuti kedua temannya yang menyeretnya ke tempat biasa mereka untuk mengobrol. Dengan wajah lelah, akhirnya Emma menduduki kursi yang sudah tersedia dengan minuman dan camilan itu. "Irene, kenapa kau memaksaku ke sini, aku sedang sangat lelah. Ada beberapa presentasi yang harus kusiapkan untuk besok dan besok lusa," ucanya sambil memijati bahunya yang pegal. "Aku mau memberikan kabar baik dan kabar buruk." Irene berkata dengan intonasi santai. Emma menatap Irene, dan kemudian menatap Karin yang kelihatan aneh di matanya. Menembuskan napas, ia pun menganggukkan kepala dengan ekspresi mengerutkan alis. Terlihat pasrah dengan kabar yang akan diinformasikan kepada diri Emma. "Aku... aku juga mau menceritakan sesuatu." Karin berucap lesu. Emma dan Irene sekarang menatap Karin intens, semakin mengerutkan alis karena wajah gadis yang biasa terlihat santai dengan senyuman ramah di bibir malah lesu seperti ini. "Karin, ada apa?" tanya Irene dan Emma mulai khawatir, sedangkan Karin segera berbicara kepada kedua sahabatnya. "Ini... ini tentang Elliot," ucap Karin memelankan suaranya. "Hiksss! Aku sudah berusaha mengungkapkan perasaanku padanya, tapi nyaliku langsung ciut saat berhadapan dengan Elliot. Irene, Emma... ayo bantu aku." Karin menatap kedua sahabatnya dengan pandangan mata memelas bak anak kucing yang minta di beri s**u, apalagi air mata menggenang di balik kacamata sang gadis. Irene menatap Karin perihatin dan langsung memeluk sahabat berambut kemerahan itu. Membelai punggung Karin yang masih mengisak sedih karena cintanya tidak kesampaian kepada sang pujaan hati. "Aku mengerti perasaanmu, Karin... itu sebabnya aku menyerah menyukainya dan memulai berpacaran dengan Tom.” Kedua mata Emma terbelalak karena mendengar kabar itu. "Apa? Kau sudah berpacaran dengan Tom?" tanya gadis itu dengan mata masih melebar dan tidak percaya. Irene hanya mengangguk, kemudian tersenyum bahagia sambil mengelus punggung Karin. "Itu kabar baiknya dan kabar buruknya aku tidak berani mendekati Elliot sama seperti Karin. Entahlah, dia terlalu mengerikan walau sangat kurang ajar tampan." Irene berucap sambil memeluk Karin sekali lagi. Dan kembali mengucapkan, “Aku mengerti perasaanmu, kita senasib, Karin.” Sempat mengira bahwa infomasi yang dibawa oleh Irene adalah gosip tentang dirinya dan Elliot, ia bernapas lega. Sekarang Emma menatap bingung kedua sahabatnya yang masih berpelukan erat, kemudian ia menyuarakan pendapat kepada kedua orang berbeda rambut itu. "Hey! Jangan terus-terusan menangisinya... sudahlah!" seru Emma sambil memegang pundak Karin. "Dia itu benar-benar seperti julukanya sang iblis! Aku menyerah saja... lebih baik menerima cintanya Lucas, daripada mengharapkan lelaki beraura iblis seperti dia” Karin terus mengeluh karena patah hati. "Karin, Elliot itu bukan iblis, jangan menyalahkan karena pribadinya yang tidak pintar bersosialisi. Dia bahkan tidak pernah menghidari kalian, dia hanya pendiam dan cuek, kalian sendiri yang takut kepadanya. Jujur saja, dulu aku juga merasa takut saat pertama bertemu dengan Elliot. Tapi ternyata Elliot itu orang yang cukup baik." Emma berucap dengan intonasi sedikit kesal karena sahabatnya mengatai Elliot, dan dia pun menjelaskan kepada kedua gadis itu bahwa Elliot tidak seburuk yang mereka kira. "Kau sepertinya sudah menjadi dekat dengannya, Emma. Kau pasti bisa membuatnya tertakhlukkan." Irene berucap dengan senyum yang mengembang di bibir, sebenarnya gadis itu tidak punya beban apa-apa karena sudah menjadi pacar Tom. Sekarang dia tidak akan mengejar-ngejar atau memberikan hati kepada cinta tak sampainya karena hatinya hanya milik sang kekasih. "Irene, kami hanya rekan satu kelompok." Gadis itu menghela napas, menatap Irene yang mengendikkan bahu acuh tak acuh. Jangan bilang Irene berharap yang tidak-tidak, menyangka bahwa ia bisa menakhlukkan lelaki seperti Elliot yang sudah terkenal ke sepenjuru kampus mereka. Menggelengkan kepala, ia berkata kepada teman-temannya agar mereka memesan camilan saja. Lagi pula, ini adalah hari yang cerah, berkata kepada Karin sebaiknya menikmati hari ini daripada menangisi laki-laki yang terlalu sulit digapai, lagipula ada Lucas yang menanti sahabat berambut kemerahannya itu. *** Hari sudah gelap saat Emma menggerakkan kaki menuju tempat tinggalnya. Hela napas dikeluarkan, ia memijat leher karena merasa pegal. Ia lelah sekali hari ini. Beberapa kata tidak jelas keluar dari bibir karena ia menggerutu. Jam di pergelangan tangan menunjukka pukul delapan tepat. Angin entah mengapa menjadi dingin, padahal malam ini langit kelihatan cerah. Jalanan yang dilaluinya pun masih ramai. Kedai-kedai makanan banyak kehadiran pelanggan. Membuat Emma ikut tersenyum kala melihat keluarga atau orang-orang yang makan dan saling bercengkerama di kedai-kedai makanan itu. Emma tidak memedulikan malam yang semakin larut, dirinya hanya berkeliling dan melihat-lihat di sebuah stan pasar malam yang ada di ujung jalan. Entah kenapa, ia merasa tertarik untuk mengunjungi tempat itu. Hingga ia baru tersadar jarum pendek pada jam yang tersemat di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh lewat. Ia terperangah dan kemudian menggerakkan kaki untuk langsung pulang. Untunglah, tempat tinggalnya tidak jauh dari sini. Hanya suara langkah sepatu yang terdengar oleh Emma, membuatnya merasa was-was dan takut. Blok yang ia lewati sudah sepi, ia menggeram karena merasa bulu kuduknya meremang. "KYAAAAAA!" lengkingan dari suara si gadis terdengar jelas dan memekakkan telinganya sendiri. Detak jantung meningkat drastis dan ia merasakan napasnya terengah dan menutup mata. "Emma!" suara bisikan terndengar di telinga sang gadis, kemudian sosok lelaki itu mendekatinya dalam sekejap dan menatap mata sang gadis yang tadi meneriakinya. Singgg! Dengingan kembali terdengar nyaring, membuat pandangan mendadak buram dan semakin gelap. Pusing tiba-tiba melanda kepala Emma. "Ukh!" rintih gadis itu, memegangi kepalanya yang berdenyut menyakitkan. "Emma, Emma Royarnd! Kau... kenapa?" "Eh?" tanya sang gadis dalam bisikan, emerald yang ada di matanya seketika terbelalak saat ia merasakan tubuh bagian belakang menyandar sepenuhnya ke d**a lelaki itu. Lelaki itu adalah Elliot Valley. Dan sekarang sosok tesebut tengah mendekap tubuhnya yang limbung. Tiba-tiba Emma merasakan dinginnya angin malam dan membuat bulu kuduknya merinding luar biasa. Yang ia lihat tadi bukanlah mimpi, kan? Dan sekarang kenapa tiba-tiba Elliot berada di belakang tubuhnya dan merengkuh Emma seperti ini? Apa benar semua itu karena Emma dalam keadaan tidak sehat dan hampir pingsan, hingga ia berhalusinasi? Apakah ia hanya kelelahan saja? Semua pertanyaan itu saling bersahutan di kepala Emma, membuat ia mendesis kembali karena merasakan pusing menghapiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD