Kepedihan Seorang Anak Sulung
"Ibu punya 2 apel, seorang 1 ya," ujar ibu kala itu saat usiaku masih 8 tahun.
"Tapi apelnya besar satu kecil satu," protesku.
"Ya tentu saja adik yang paling besar," ujar Asyla yang usianya hanya beda tiga tahun denganku.
"Iya, Teteh ngalah aja kan udah besar," ujar Ibu sembari berbaring menyusui adik bungsu yang baru berusia satu tahun di kamar.
Aku menghela napas, lalu meraih apel yang paling kecil, sebagai anak sulung aku dituntut untuk selalu mengalah.
"Bu, apel adik busuk," ujar adik tiba-tiba sembari merengek.
"Teteeeeh ngalah, berikan apel punya Teteh." Terdengar suara ibu dari kamar tanpa beranjak dari tempat tidur, sepertinya ibu masih menyusui adik bungsu.
"Lalu mana apel untuk teteh?" tanyaku setelah memberikan apel yang baru kugigit sedikit pada Syla yang langsung melahapnya tanpa merasa bersalah.
"Teteh ngalah aja," ujar ibu.
Saat itu aku ingin menangis, tapi percuma saja, ibu malah akan terlihat memegangi kepala jika aku menangis, lalu setelah itu ia akan memukulku tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kuputuskan untuk melupakan apel tadi, aku sempat melirik ke arah Syla yang tampak menikmati apel yang seharusnya jadi milikku. Lalu aku beranjak keluar dari rumah, mengambil daun pisang lalu kulilitkan pada dahan singkong sepanjang 10 CM, setelah itu daun pisang tersebut kutusuk menggunakan lidi sehingga membentuk rambut. Iya, itulah bonekaku, karena sejak kecil aku tak pernah memiliki boneka barbie seperti anak kecil pada umumnya.
Sebenarnya pernah, tapi boneka milikku selalu direbut oleh adik, sementara miliknya ia hilangkan entah kemana.
"Teteh, adik mau boneka itu," rengek adikku saat melihat boneka dari batang singkong dan daun pisang yang tengah kumainkan.
"Nanti teteh buatkan ya."
"Gak mau, pengen itu," rengeknya sambil merebut boneka daun pisang tersebut dengan paksa.
"Ya sudah ambil saja." Kuputuskan untuk mengalah agar dia tidak menangis, karena setiap dia menangis pasti ibu akan marah tanpa bertanya siapa yang salah.
"Jelek!" ujarnya sembari melemparkan boneka tersebut ke selokan depan rumah.
Tangisku langsung pecah saat dia melakukannya, tapi ibu sama sekali tak memperdulikan tangisanku. Hatiku dipenuhi amarah, aku benar-benar merasa s**l karena memiliki adik sepertinya. Aku langsung bangkit lalu kudorong tubuhnya dengan kasar. Tubuh kurus itu terhempas lalu menangis sejadi-jadinya.
Tiba-tiba ibu keluar dari rumah, tanpa bertanya apa masalahnya ia langsung memukuliku dengan sapu lidi. Seluruh tubuh ini rasanya sakit, bahkan meninggalkan bekas, karena ibu memukuliku seperti orang kesurupan. Wajahnya terlihat merah dan penuh kebencian. Aku mengerang, mengaduh dan memohon ampun. Namun, ia tak juga berhenti memukuliku. Rasa sakit akibat pukulannya memang sakit, tapi luka yang berada di hatiku jauh lebih sakit dari itu. Bagaimana bisa wanita yang telah melahirkanku itu memperlakukanku berbeda. Ia sama sekali tak pernah membelaku. Hanya siksaan dan tuntutan agar aku selalu mengalah yang selalu kudapatkan.
Setelah puas menyiksaku. Ia langsung berhenti dengan napas yang bergemuruh.
"Ada apa Diah? Kenapa kamu memukuli anakmu yang masih berusia 8 tahun?" tanya seorang tetangga yang kebetulan lewat.
"Aku capek! Aku lelah! Mereka selalu saja bertengkar, padahal beban yang harus dihadapi begitu banyak!" teriak Ibu sambil menangis meraung-raung.
"Lihat luka di seluruh tubuh anakmu, apakah pantas kamu menyiksanya hanya karena dia bertengkar dengan adiknya?"
Tiba-tiba ibu memelukku dengan erat lalu menumpahkan air mata sambil meraung-raung setelah melihat bekas sapu lidi yang memenuhi seluruh tubuh ini.
"Maafkan ibu, Nak," bisiknya sembari mengajakku masuk.
Mungkin ia malu pada tetangga, makanya ia menunjukkan penyesalan. Mungkin jika tidak ada tetangga, ibu akan terus memukulku hingga aku mati.
"Nak, maafkan ibu ya, ibu mohon," ujarnya.
Aku tak menjawab ucapannya, aku hanya bisa diam sembari menumpahkan air mata, berharap seluruh rasa sakit di tubuh ini segera hilang. Untuk apa dia minta maaf, jika nanti dia akan kembali menyiksaku. Untuk apa dia minta maaf, jika setiap kali adik menangis, maka aku akan menjadi sasaran kemarahannya. Untuk apa dia minta maaf, karena apapun yang terjadi selalu aku yang salah.
Setelah itu ibu menyuruhku masuk kamar untuk beristirahat. Hingga tidak lama kemudian, terdengar suara suami ibu yang baru pulang dari sawah. Kepulangannya memang selalu disambut oleh kedua adikku, sikapnya selalu hangat jika kepada mereka. Namun, tidak kepadaku. Senyum itu seketika akan sirna dan berubah menjadi masam setiap kali melihat wajahku. Salahkah aku karena aku bukan anak kandungnya? Mengapa aku harus mendapatkan kebenciannya hanya karena dalam tubuhku tak mengalir darahnya?
"Wilda, makan dulu," ujar ibu beberapa waktu kemudian.
Aku langsung keluar dari kamar, lalu kulihat ayah tiri bersama kedua adikku tengah makan dengan telur dadar. Sementara kulihat di piring ibu hanya nasi dan tumis kangkung. Lalu kulihat ibu memberikan nasi beserta tumis kangkung padaku.
"Telor dadarnya gak ada lagi?" tanyaku sambil melirik kedua adikku juga ayahnya yang tengah makan telur dadar dengan lahapnya.
"Makan saja apa yang ada," ujarnya.
Aku melirik ke arah Syla, dia memiliki dua potong telur dadar, seperti biasa jatah untukku selalu diambil olehnya. Ibu tak pernah bisa tegas padanya, yang bisa ibu lakukan hanya menyuruhku untuk mengalah.
Suatu hari aku mendapat tugas untuk mengarang bebas. Tugas tersebut dijadikan sebagai tugas rumah yang harus dikumpulkan keesokan harinya. Menulis adalah hobbyku. Aku sangat menyukai menulis dan berimajinasi. Maka aku menulis sebuah karangan dengan judul berlibur ke kebun binatang bersama keluarga. Hal tersebut mungkin sudah biasa bagi anak lain, tetapi tidak bagiku. Karena bagiku hal tersebut adalah kisah fiksi yang entah kapan bisa kuwujudkan.
Saat tengah asyik menulis, tiba-tiba syla mengajakku untuk bermain bersamanya.
"Teteh lagi sibuk, Dik," jawabku sembari terus menulis tanpa menoleh ke arahnya.
Tiba-tiba ia menangis meraung-raung sembari memukuliku.
"Teteeeeh ngalaaaah!"teriak ibu yang tengah menyetrika pakaian milik tetangga.
"Aku harus ngalah gimana lagi, Bu? Aku sedang belajar tapi adik terus mengganggu!" jawabku setengah berteriak.
"Lanjutkan belajarnya nanti kalau adik sudah tidur siang," sahut ibu yang untuk kesekian kalinya selalu saja mengutamakan kepentingan Asyla.
"Gak mau, aku mau selesai sekarang," sahutku.
Tiba-tiba Asyla meraih buku dari tanganku dengan paksa lalu merobek-robeknya hingga menjadi beberapa bagian.
"Astaghfirullah! Apa yang kamu lakukan!" teriakku sembari merebut buku tersebut dari tangannya.
Namun, ia tetap bersikeras tak mau mengembalikannya, malah sisa sobekan itu ia semakin hancurkan dengan membabi buta. Tangisku seketika pecah, berharap ibu mau menghentikan apa yang dilakukan Asyla. Namun, setelah hampir 10 menit aku menangis, ibu tak juga datang untuk membela. Hatiku rasanya sangat sakit, karena aku merasa menjadi seseorang yang benar-benar tak berharga.
"Bu! Buku catatanku dirusak adik!" teriakku.
"Pakailah ini, untung ibu masih punya simpanan buku," ujarnya datar sembari memberikan buku baru tanpa sedikitpun menyalahkan apa yang Asyla lakukan.
"Tapi aku harus menulis ulang dari awal," protesku.
"Kan tadi ibu sudah bilang, kamu nulisnya kalau Asyla sudah tidur," ujarnya sembari bergegas kembali menyetrika.
Aku hanya bisa menghela napas lalu menaruh buku tersebut di tempat yang tidak bisa dijangkau adikku, lalu menunggunya tidur agar bisa mengerjakan tugas sekolah.
"Ayo, Teh, sekarang kita main," ujarnya tanpa merasa bersalah.
"Malas," sahutku lalu masuk kamar dan berbaring, berharap ia segera tidur siang agar aku bisa segera mengerjakan tugasku.
Namun, tanpa diduga Asyla malah menangis kejer gara-gara keinginannya tidak dipenuhi. Kubiarkan saja dia menangis, toh dia bukan Tuan Putri yang semua keinginannya harus dipenuhi. Tiba-tiba ayah tiri masuk kamar lalu mencengkram tubuhku dengan kuat.
"Hei anak pembawa s**l! Bisa gak sehari saja kamu tidak membuat masalah!" bentaknya sambil mencengkram bajuku dengan erat lalu kembali melepaskannya.
Dia mungkin tidak pernah menyiksaku seperti ibu. Namun, satu kata saja yang meluncur dari mulutnya sudah cukup membuat hatiku hancur berkeping-keping.
Bersambung.