Sial! Aku lupa kalau sekarang Mawar ada di rumah ini juga dan dia mendengar pertengkaranku dan Embun secara tak sengaja. Ya, Mawar sudah lima hari tinggal di rumahku. Aku harap Mawar dan Ibu, tidak mendengar jelas apa yang aku perdebatkan dengan Embun.
"Ada apa ini Rud? Suara kamu sampai kedengeran ke dapur loh," tanya Ibu padaku.
"Iya Rud. Ada apa? Kalian bertengkar?" tanya Mawar seraya menatapku dan Embun bergantian.
"Iya, kami bertengkar. Ini semua gara-gara Ib—"
Ku pangkas kata-kata Embun dengan bentakan keras padanya. "BUN! CUKUP!"
Aku tidak akan membiarkan Embun berbicara kepada ibu, akan sesuatu yang akan menyakitinya. "Kita bicara di kamar, Bun!" kutarik tangan Embun dengan paksa, tapi Embun enggan pergi dari sana. Ya, dia masih berdiri ditempatnya dan tidak mempedulikan perkataanku. Wanita yang berstatus sebagai istriku itu terlihat marah.
"Lepas, Mas! Kita bicara disini aja, di depan ibu kamu dan selingkuhan kamu ini!" kata-kata Embun sungguh membuatku tak habis pikir.
Kulihat ibu dan Mawar juga terkejut dengan perkataan Embun, mereka menatap Embun dengan kedua mata mereka yang membola. Begitupun dengan aku, akulah yang paling terkejut di sini. Aku tak percaya, Embun bisa berbicara seperti ini. Aku tak tahan lagi!
"Embun. Cukup! Setelah kamu fitnah ibu dan Vina. Kamu juga fitnah Mawar? Siapa yang selingkuhan, hah?" ucapku pada Embun keras, sambil menarik tangannya dengan kasar. Ku tatap sepasang mata Embun yang memperlihatkan cairan bening di sana. Tapi hal itu, sama sekali tidak meluluhkan hatiku.
"Fitnah ibu dan Vina? Apa maksudnya ini, Rud?" Ibu tampak bingung.
"Kenapa aku juga dibawa-bawa?" tanya Mawar terlihat bingung. Wajar saja kalau dia bingung, karena dia tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini dan Embun malah memfitnahnya sebagai selingkuhanku. Dari mananya aku selingkuh? Mawar hanya sahabatku, bahkan seperti keluarga untukku dan keluarga kami. Tanpa sebab, Embun menuduhku seperti itu.
"Jangan pura-pura nggak tahu, Bu. Ibu senang kan lihat aku sama Mas Rudi bertengkar?" ucap Embun sambil mengangkat dagunya di depan ibuku. Berani sekali, dia menantang ibuku.
"Embun!" teriakku pada Embun, tapi wanita itu terus saja mengabaikanku.
"Ayo Bu, jujur. Jujur sama Mas Rudi. Apa selama ini Ibu pernah kasih uang gaji, Mas Rudi sama aku? Pernah nggak, Bu? Ibu jangan bohong lagi. Karena aku udah muak dengan kebohongan ibu, aku udah muak karena diam terus selama ini."
"Astaghfirullahaladzim. Embun, kenapa kamu tega sama ibu, Nak? Selama ini, ibu selalu memberikan uang gaji Rudi sama kamu untuk kamu dan cucu-cucu kesayangan ibu. Tapi, kamu tega sekali memfitnah Ibu seperti ini, Bun?"
"Iya ... Ibu tahu memang sejak dulu kamu itu nggak suka sama ibu. Tapi, kenapa harus sampai memfitnah seperti ini?" ucap ibuku dengan berurai air mata. Oh tidak! Surgaku itu menangis dan aku paling tidak tahan melihat yang menangis.
"Ibu jangan banyak drama deh. Nggak usah nangis-nangis kayak gitu bu, aku udah muak," desis Embun sinis. Kulihat dia melirik Embun
"Dan ibu juga, ibu juga ... yang udah suruh si Mawar berduri ini buat tinggal di sini. Biar si Mawar bisa godain suami aku. Ibu benar-benar—"
Tak tahan lagi dengan perkataan Embun, ku tampar pipi istriku itu sekaligus membungkam mulutnya yang sudah terlalu lancang dan menurutku tak bisa dimaafkan.
Aku terdiam setelah melihat Embun memegang pipi kirinya yang baru saja ku tampar. Rasa bersalah ada di hatiku, setelah aku memukul pipinya. Tapi di sisi lain, amarahku juga tidak bisa mentolerir lagi sifat buruknya. Embun tampak terkejut dengan tindakanku, kulihat dia sampai terdiam sesaat dan menatap ku dengan kilatan kemarahan.
"Bun, a-aku."
Aku tergagap, saat akan mengucapkan kata maaf. Kata itu tertahan di lidahku, entah kenapa bisa begini.
"Rud, kamu tidak seharusnya seperti itu. Embun itu istri kamu," tegur Mawar padaku dengan lemah lembut. Dia baik sekali, meskipun Embun sudah memfitnahnya, tapi dia masih membela istriku itu.
"Dasar munafik!" desis Embun dengan sinis dan aku tahu ucapan itu tertuju pada Mawar.
Melihat bagaimana sikap Embun, penyesalan dan rasa bersalah di hatiku langsung musnah. Embun sungguh membuatku pusing.
"Embun, cukup! Aku nggak mau semakin emosi sama kamu. Lebih baik, kamu minta maaf sama Ibu dan Mawar. Ibu nangis gara-gara kamu," ucapku tegas pada Embun, aku suruh dia meminta maaf kepada ibuku dan juga sahabatku.
"Sampai mati pun aku tidak akan pernah, minta maaf kepada ibu kamu dan selingkuhan kamu ini, Mas." Embun benar-benar keras kepala.
"EMBUN!"
"Sudah cukup Mas! Terserah, kalau kamu memang lebih membela ibu kamu dan wanita ini. Mulai sekarang, terserah padamu!" bentak Embun kepadaku.
"Aku tidak tahan lagi denganmu," ucapnya lagi yang membuat hatiku terusik mendengarnya. Apa maksudnya Embun akan mengakhiri ini.
Kulihat Embun berlari dari sana dan pergi menuju ke kamarnya. Ku dengar suara pintu yang sangat keras dan bisa ku tebak kalau Embun membanting pintunya.
"Lihat kelakuan istri kamu, Rud. Selama ini, Embun memang suka seperti itu. Tapi Ibu mendiamkannya selama ini. Ibu cuma nggak nyangka ... kalau dia berani memfitnah Ibu. Inilah sebabnya, dulu ibu melarang kamu menikah dengannya, Rud."
Ku tatap ibuku yang masih menangis di dalam pelukan Mawar. Mendengar perkataan ibuku, ternyata selama ini Embun berperilaku tidak baik kepada ibu. Tapi, aku harus memastikan bahwa ibu memang tidak berbohong.
"Ibu nggak bohong kan, sama aku? Embun, selalu seperti ini sama Ibu?" tanyaku.
"Ibu nggak mungkin bohong sama kamu, Nak. Ya, terserah sih kalau kamu masih mau percaya sama ibu atau sama istrimu. Pokoknya ibu sakit hati. Padahal selama ini, ibu dan Vina tinggal di sini demi membantu kamu dan Embun, juga mengasuh dua anak kalian. Tapi ..." Ibu berbicara dengan suara yang parau, kulihat air matanya masih terus mengalir. Hatiku sebagai seorang anak, jadi sedih. Aku merasa berdosa karena sudah meragukan ibuku sendiri.
"Ibu, maaf. Rudi cuma nanya aja sama Ibu. Rudi nggak bermaksud untuk menyakiti Ibu."
Namun, ibuku tak mau mendengar perkataanku dan memilih pergi begitu saja dalam keadaan menangis. Ibuku pergi ke kamarnya dan membanting pintu, sama seperti yang dilakukan Embun.
Astaghfirullah, ya Allah ...
Aku sudah membuat ibuku menangis gara-gara Embun. Mungkin, memang keputusan yang keliru sejak awal, membuat ibu dan Embun berada dalam satu rumah. Kalau saja Embun tidak boros, aku juga tidak akan melakukan ini.
***
Keesokan harinya, keadaan masih sama. Bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Embun mendiamkan ku, malah ibu, Vina dan Mawar yang berbicara denganku saat sarapan. Sementara Embun dan kedua anakkku tak kelihatan.
Saat aku akan berangkat ke kantor dan pergi bersama Mawar, kulihat Embun berjalan keluar rumah sambil membawa wadah berisi gorengan dan membawa kedua anak kami juga bersamanya.
"Kamu mau kemana, Bun? Mau bikin aku malu dengan bawa anak-anak jualan gorengan lagi?" tanyaku seraya menatap Embun dengan tajam. Embun mengabaikanku lagi.
"Apa harus Mawar dan ibu yang melayani aku saat sarapan pagi, sebelum aku berangkat bekerja? Kamu Istriku, Bun!" Ku cecar dia dengan mengeluarkan keluhanku pada Embun. "Kamu nggak takut kalau aku selingkuh, gara-gara sifat kamu ini, Bun?"
Kulihat bibir Embun menyunggingkan senyuman sinis dan tatapannya kosong. Seperti tak ada rasa lagi padaku. "Silahkan Mas. Kalau kamu mau selingkuh. Sama si Mawar? Bagus lah, itu memang yang kamu inginkan, kan? Biarkan saja si Mawar melayani kamu."
"Tapi kamu istriku, Embun! Kamu yang seharusnya melayani aku!" bentak ku lagi pada Embun.
"Aku istrimu? Haaa... lagipula kamu bukan alasan aku untuk tetap bertahan di rumah ini, Mas. Bukan kamu."
Jantungku kontan saja berhenti saat mendengar kata-kata Embun yang menembus ke dalam sana. Sakit hatiku, Embun berkata begini. Dia seperti sudah menyerah pada pernikahan kami.
Bersambung ...