Hatiku tidak percaya, dengan apa yang baru saja kudengar dari ibu. Ibu mengingatkanku akan surga yang ada ditelapak kakinya. Aku tahu itu, surga di bawah telapak kaki ibu. Tapi haruskah ibu mengingatkannya? Ibu berbicara seolah-olah dia tidak ikhlas mengandung, melahirkan dan mengurusku selama ini. Sungguh, aku tahu surga itu. Tapi apa Ibu tidak mengerti dengan kondisiku saat ini? Aku sudah menikah, aku memiliki kewajiban terhadap istri dan anak-anakku. Saat ucapkan ijab kabul untuk meminang Embun, wanita itu menjadi tanggungjawabku. Aku sudah berjanji secara agama, negara, bahwa aku akan melindunginya, membahagiakannya, seumur hidupku. Tapi sekarang aku mengingkari janji itu pada Embun dengan ketidakpekaanku. Namun, aku tidak mau mengulangi kesalahanku lagi. "Aku tidak pernah lupa, kala

