Bab 7. Pergi?

1294 Words
Sejak saat itu, Embun menjauh dariku. Menjaga jarak dan menghindariku. Sungguh, aku merasa tidak nyaman dan merasa tidak punya istri. Embun sudah tidak pernah melayaniku, secara batin maupun hal lainnya. Entah apa salahku pada Embun, sampai dia seperti ini kepadaku. Padahal aku hanya menegurnya, karena aku tak suka Embun berjualan gorengan. Dia pun sekarang suka bersikap tak sopan pada ibuku dan Mawar, tamu di rumah ini. Wajar kan, bila aku menegurnya untuk memberikan pengarahan pada istriku sendiri? Namun, Embun salah mengartikan itu dengan hal lain. Aku bahkan sudah jarang bermain dengan anak-anakku, karena anak-anakku juga sudah tak mau dekat denganku. Sudah pasti Embun yang mempengaruhinya, seperti apa yang dikatakan oleh ibu kepadaku. "Rud, anak-anakmu udah nggak mau main lagi sama kamu atau deket lagi sama kamu? Pasti karena istri kamu ngomong yang macam-macam sama Aisha sama Alif. Soalnya, Aisha sama Alif juga jadi jauhin ibu," ucap ibuku dengan wajah melas. Kedua bola matanya yang berwarna hitam itu terlihat berkaca-kaca. Ya, ibuku sepertinya akan menangis. Apa benar, Embun yang meminta anak-anakku untuk menjauh dariku, ibu dan Vina? Kalau benar begitu, Embun sangat keterlaluan. "Aku akan coba bicara sama Embun, malam ini." Hanya itulah yang bisa ku katakan kepada ibuku untuk menenangkannya. "Iya Rud. Maafin ibu ya ... bukannya ibu bermaksud untuk bicara yang tidak-tidak tentang, Embun. Ibu cuma mau kamu bisa mengendalikan Embun. Sikapnya sama Mawar juga tidak baik, Rud. Ibu sudah menasehatinya, tapi Embun nggak mau dengerin ibu. Dia selalu saja melawan ibu, Rud." Akhirnya, terdengar suara isak tangis dari bibir ibuku dan kulihat air matanya mengalir membasahi pipi. Dadaku sesak melihatnya menangis dan mengadukan perbuatan Embun padaku. "Tadinya ... ibu nggak mau ngomong kayak gini sama kamu, takut dikiranya ibu ngadu. Tapi, Ibu udah gak tahan lagi sama Embun. Untungnya ada Mawar yang selalu nenangin ibu, Mawar baik banget, Rud." Ku usap punggung ibuku dengan lembut, mendengarkan semua kata-katanya dengan baik. Ibu tidak mungkin berbohong padaku, tentang hal ini. Apa lagi, akhir-akhir ini Embun memang banyak berubah. Jadi, aku merasa kalau perkataan Ibu memang benar. *** Malam itu, ku lihat Embun baru saja selesai menyusui Alif. Alif sudah tertidur, di samping Aisha. Ku rasa, ini waktu yang tepat untukku berbicara dengannya. "Bun." Begitu ku panggil namanya, Embun langsung menoleh sekilas ke arahku, tapi ia kembali memalingkan wajahnya dariku. Aku kesal dengan sikapnya itu, tapi aku mencoba untuk menahannya. Aku menarik tangan Embun, memaksanya untuk bangun, karena aku kesal melihatnya diam terus. "Bun, Mas mau ngomong sama kamu. Ikut, Mas sebentar ke halaman belakang." Embun menepis tanganku, kemudian dia beranjak dari atas panjang dengan perlahan-lahan. Ia takut, kalau gerakannya akan membuat kedua anak kami bangun. Ia terlihat enggan mengikutiku ke halaman belakang, tempat di mana kami akan berbicara. Setibanya di sana, aku minta Embun untuk duduk di atas kursi yang bersampingan denganku. "Bun, aku nggak tahu apa yang membuat kamu berubah akhir-akhir ini. Tapi aku nggak bisa terus-terusan diam melihat kamu berubah, Bun. Kamu terus saja mengabaikan kewajiban kamu sebagai seorang istri. Kamu juga, membuat Mawar tidak nyaman tinggal di rumah ini. Padahal dia adalah tamu kita, sahabat kecilku, Bun." Embun berdecak malas mendengar perkataanku, sambil mengorek-ngorek telinganya sendiri. Menyebalkan sekali, padahal aku sudah mencoba untuk berbicara lembut dengannya. "Bun, kamu denger aku ngomong nggak sih?" keluhku. "Denger Mas. Lanjutin aja," jawab Embun datar, sedatar wajahnya. "Aku mau kamu melayaniku lagi dan bersikap baik sama ibu, Vina dan Mawar. Terus, kamu berhenti jualan." Akhirnya, aku mengatakan secara to the point, apa yang aku inginkan dari Embun. "Anak-anak kita nggak akan bisa makan, kalau aku gak jualan. Terus ... aku nggak bisa berbuat baik sama orang-orang yang berusaha untuk menindasku, Mas." Keningku berkerut tepat setelah Embun mengatakan hal yang menurutku tidak masuk akal. "Dari mananya mereka menindas kamu? Kamu mau memfitnah mereka lagi?" ucapku kesal, sehingga kulayangkan tatapan tajam pada istriku itu. "Aku tidak memfitnah, sejak awal aku berkata jujur sama kamu, Mas. Kamu nya saja yang tidak mau melihat kebenaran dan tidak mau memahami perasaanku!" ujar Embun kepadaku dengan menggebu. "Embun, cukup ya! Cukup kamu jelek-jelekin ibu, Vina dan Mawar. Kebenaran yang kamu maksud itu, nggak bisa aku pahami, Bun. Di rumah ini, semuanya akur. Tapi, kamu tidak bisa akur dengan ibu, Vina dan Mawar." "Jadi ... menurut kamu, di sini aku yang salah?" tanya Embun padaku, tapi aku sama sekali tidak mau melihat ke arahnya. Aku muak, melihat mata Embun yang berkaca-kaca. "Iya lah! Memangnya menurut kamu, yang salah di sini itu, ibu, Mawar dan Vina? Enggak, Bun. Mereka akur akur aja kan di sini? Sedangkan kamu ... kamu nggak bisa akur sama mereka. Itu artinya, masalahnya memang ada di kamu, Bun." Ku lihat embun melipat bibirnya sendiri, ia terdiam setelah mendengar ucapanku, lalu menundukkan kepalanya. Entah apa yang ia sembunyikan di wajahnya itu, karena aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. "Bun ..." Embun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baik, Mas. Aku yang salah di sini, memang aku." "Kamu udah selesai bicara, kan?" tanya Embun padaku, yang sepertinya ingin segera mengakhiri pembicaraan kami. "Iya, udah." "Aku akan minta maaf sama ibu, mbak Mawar dan Vina. Kamu akan puas, kan?" ucap Embun dengan nada bicara yang datar. "Iya." Aku menjawab singkat pertanyaan dari Embun. Ku lihat Embun melangkah pergi meninggalkanku lebih dulu dari halaman belakang. Sedangkan aku, masih melihatnya dari belakang. Baju daster yang dikenakan Embun terlihat lusuh, ia seperti tidak punya baju saja. Lalu dikemanakan uang yang selama ini ku berikan padanya, lewat ibu? Ia benar-benar tak becus dalam segala hal. *** Pagi itu, ku saksikan Embun meminta maaf pada seluruh keluargaku dan Mawar dengan datar. Ia seperti tidak ikhlas meminta maaf pada mereka. Tapi baik sekali ibu, Mawar dan Vina yang mau berbaik hati memaafkan kesalahan Embun. Meskipun Embun sudah memfitnah mereka. Aku pergi kerja seperti biasanya, ku habiskan waktuku di kantor. Hingga waktu sore pun tiba, sudah waktunya aku pulang ke rumah. Ku bergegas menyalakan mobilku yang cicilannya sisa 5 kali lagi ini. Setibanya di depan rumah, aku melihat Mawar tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah. Di depannya ada Embun, Vina dan Ibu. "Rud! Tolong! Istri kamu ... dia sudah gila Rud. Dia dorong Mawar sampai jatuh, sampai seperti ini!" seru Ibu yang membuatku melihat ke arah Embun yang terlihat pucat. "Mas, Mbak Embun jahat banget! Mbak Embun mau usir Mbak Mawar!" kata Vina kepadaku. Bergegas, aku menghampiri Mawar dan menggendongnya. Dia tampak mengenaskan, sepertinya kepalanya terluka cukup parah. "Bukan aku, Mas. Dia—" "Aku nggak nyangka, Bun. Kamu berani menyakiti, Mawar!" sentakku pada Embun, kan aku sudah benar-benar murka dan kecewa padanya. "Rud, ayo kita bawa mawar ke rumah sakit." Saran ibu dengan wajah paniknya. "Keluar kamu, dari rumahku, Bun! Aku nggak mau lihat kamu ada di rumah ini lagi, saat aku kembali ke rumah, kamu harus sudah pergi!" seruku pada Embun, kulihat lelehan air mata membasahi pipinya. Tapi ku tak peduli. Aku segera menggendong Mawar yang tidak sadarkan diri dan membawanya ke rumah sakit. Ibu ikut denganku, sementara Vina, anak-anak dan Embun ada di rumah. Aku sangat mengkhawatirkan Mawar dan apa yang akan aku katakan pada orang tuanya nanti, tentang Mawar yang disakiti oleh istriku. *** Syukurlah, Mawar tidak mengalami luka yang serius. Hanya gegar otak ringan karena benturan di kepalanya, tak ada yang berbahaya. Aku pun pulang ke rumah terlebih dahulu dan meninggalkan ibu di rumah sakit untuk menemani Mawar. Baru saja kepalaku sedikit lega dari rasa pusing, setibanya di rumah, aku malah disambut dengan tangisan kedua anakku yang suaranya memekikkan telinga. "Mama ... Mama ..huaahh." "Ada apa ini? Vin, kenapa Aisha sama Alif nangis? Ada diluar lagi?" tanyaku kepada Vina yang sedang duduk di atas sofa sambil menutup kedua telinganya dengan tangan. "Mbak Embun pergi, jadi anak-anak nangis." Aku terkejut mendengar perkataan Vina yang santai. "Hah? Embun pergi?" Kenapa Embun pergi? Kemana dia? Apa maksudnya pergi, malam-malam seperti ini? Ya Allah, hatiku jadi merasa tidak enak. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD