Tepat saat pintu lift itu tertutup, aku terdiam membeku di sana. Berusaha memulihkan ingatanku, memulihkan apa yang aku lihat barusan. Benarkah itu Embun dan pria lain? Jelas-jelas kedua mata kami bertatapan, Embun menatapku, tapi mengapa dia tidak menggubris saat aku memanggilnya.
Aku yakin itu Embun, tapi kenapa penampilan dan gayanya tampak berbeda? Kenapa juga dia berpura-pura tidak mengenaliku dan mengabaikanku? Jadi ... selama 3 hari dia meninggalkan rumah, dia berselingkuh dengan pria lain? Apa benar begitu? Atau mungkin aku salah lihat dan wanita yang barusan hanya mirip saja dengan Embun?
"Apa gua gak salah lihat, Ed? Cewek yang barusan naik ke lift sama cowok ,itu istri gua kan?" tanyaku pada Edwin yang sudah berada disampingku. Aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi, karena Edwin yang ada di dekatku. Tapi yang jelas, aku harus memastikan wanita itu istriku atau bukan.
"Iya, itu istri lu. Walaupun penampilannya kelihatan beda dan lebih glowing, gua yakin itu si Embun sih." Jawaban Edwin membuat hatiku semakin sesak, dadaku bergemuruh oleh amarah menggebu.
Jika benar itu Embun, berarti Embun sudah berselingkuh dariku. Tega sekali dia melakukan ini kepadaku? Kurang apa aku padanya selama ini.
"Edwin! Reno! Kalian ngapain disitu? Ayo, kita harus segera ke kamar hotel untuk beristirahat dulu. Nanti siang, kita akan bertemu calon investor!" ujar pak Brata kepadaku dan Edwin.
"Baik Pak."
Niatku untuk menyusul Embun, harus ku tahan karena bosku sudah memanggilku. Aku, Pak Brata dan Edwin naik ke lift satunya lagi. Rencananya kami akan menginap di lantai 3 hotel ini.
Sesampainya di dalam kamar, aku kepikiran terus dengan Embun. Sampai aku tidak bisa beristirahat dengan baik. Usai membersihkan tubuhku, aku hanya termenung sambil memegang ponsel.
"Apa aku telpon Embun saja?" Ku lihat ponselku dan berniat menelpon Embun, tapi aku teringat sesuatu yang ku lupakan.
"BODOH! Embun kan nggak punya hp."
Suara Embun terngiang di kepalaku, kala ia meminta dibelikan ponsel padaku beberapa bulan yang lalu. Tapi aku tidak membelikannya.
"Mas, tolong beliin aku hp dong. Aku butuh buat komunikasi sama kamu, kalau ada apa-apa. Atau misal, kalau aku lagi diluar. Hp yang biasa aja, Mas. Asalkan bisa komunikasi sama kamu."
"Ck! Buat apa sih hp? Memangnya kamu mau keluar kemana? Kamu kan ada di rumah terus jagain anak-anak. Ngapain butuh hp? Toh kamu bisa pinjem hp sama ibu atau sama Vina, kalau ada apa-apa. Udah deh! Nggak usah minta sesuatu berlebihan, Bun. Aku pusing dengernya!"
Tiba-tiba saja aku teringat dengan kejadian itu, masih terbayang wajah Embun yang akan menangis saat aku menolak permintaannya. Kini aku merasa menyesal, kenapa aku tidak membelikannya hp saat itu? Sedangkan aku membelikan Vina dan ibu ponsel. Sekarang aku tidak bisa berkomunikasi dengan Embun. Apa lagi Embun adalah anak yatim piatu dan aku tidak tahu harus pada siapa aku menghubungi Embun.
Suara dering ponsel yang tiba-tiba, membuyarkan lamunanku tentang Embun. Kulihat nomor Vina yang menelponku. Aku pun mengangkat telepon dari Vina dan begitu aku mengangkatnya, terdengar suara tangisan kedua anakku di sana. Ribut sekali.
"Ada apa sih Vin?"
"Mas, ini Aisha sama Alif rewel terus. Tolong mas pulang sekarang juga, mas. Aku nggak bisa ngurus mereka sendiri," kata Vina mengadu padaku, dia terdengar kesulitan mengurus Aisha dan Alif. Tapi mana mungkin aku pulang sekarang di saat aku sedang melakukan perjalanan bisnis ke Bandung.
"Kamu nggak sendirian, kan ada ibu di sana. Ibu bisa bantu kamu jagain Aisha dan Alif."
"Ih ... Mas ... Ibu nggak ada di rumah. Pagi-pagi tadi, pas mas Rudi berangkat. Ibu udah pergi," tutur Vina dengan nada kesal.
"Terus ibu kemana? Pergi pagi-pagi?" tanyaku dengan malas. Kepalaku sudah pusing dari tadi, sekarang bertambah pusing lagi dengan aduan dari Vina.
"Ibu pergi arisan, mas. Mbak Mawar juga nggak ada di rumah, katanya dia mau casting. Aku kesulitan ngurus Aisha sama Alif disini, Mas. Aku nggak bisa ngapa-ngapain. Mereka aktif banget, Mas."
Aku menghela nafas mendengar semua ocehan Vina. "Mas nggak bisa pulang sekarang, Vin. Mas lagi di luar kota."
"Tapi Mas, aku—"
Aku menutup teleponnya, sebelum Vina menyelesaikan perkataan. Tidak sopan memang, tapi aku tidak mau lebih pusing lagi mendengarkan kata-kata adikku itu. Bahkan, Embun, tidak pernah mengeluh tentang kondisi anak-anak kami yang rewel dan ini itu. Kenapa begitu banyak yang diadukan oleh Vina kepadaku?
Tentang ibu ...
Ibu juga tidak bisa menghandel anak-anakku. Ibu malah sibuk sendiri dengan kegiatan sosialitanya, arisan dan lain-lain. Aku baru tahu kalau ibuku seperti itu. Pasti uang yang dia gunakan untuk arisan, juga dari uangku. Beberapa hal yang baru aku sadari, ketika Embun tidak ada di rumah. Rupanya ibu hanya berbelanja untuknya sendiri, dia tidak membelanjakan uangnya untuk keperluan rumah. Makanan untukku dan anak-anak, aku beli sendiri, dengan alasan ibu tidak enak badan dan tidak bisa memasak untuk kami.
Sekarang, aku mulai berpikir, apakah ibu memang tidak pernah memberikan uang gajiku kepada Embun seperti apa yang dikatakan oleh istriku itu? Ya Allah, aku tidak mau suudzan pada seorang wanita yang sudah melahirkanku ke dunia ini.
Tak lama setelah aku menerima telepon dari Vina, terlihat nomor tak dikenal menghubungiku. Aku langsung mengangkatnya, karena aku merasa Mungkin ada yang penting.
"Halo Pak, apa benar saya berbicara dengan pak Rudi Heryanto?" Suara seorang pria memanggil nama lengkapku. Dari nada bicaranya, terdengar serius.
"Iya, benar. Maaf ... ini dengan siapa ya?" tanyaku pada pria itu.
"Saya dari pihak kredit mobil, Mau mengabarkan ... kalau angsuran mobil bapak, dibayarkan selama 3 bulan. Ini sudah lewat jatuh tempo, mohon bapak untuk segera melunasi pembayarannya. Atau tidak, mobilnya terpaksa ditarik lagi oleh pihak leasing."
Deg!
Jantungku seakan berhenti berdetak, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh seseorang yang menelponku ini. Kredit mobil? Semua uang gajiku sudah kuserahkan kepada ibuku, termasuk untuk membayar uang cicilan mobil yang ku kendarai setiap hari. Jadi, mana mungkin aku sampai menunggak biaya cicilan, bahkan menunggaknya sampai 3 bulan? Ibuku bahkan selalu mengatakan, kalau dia sudah membayar semuanya setiap bulan.
"Pak, mohon maaf ... mungkin Bapak salah menagih orang. Ibu saya sudah membayarkan cicilan mobilnya. Coba, Bapak periksa lagi baik-baik! Ibu saya tidak mungkin berbohong!" ujarku dengan tegas pada seseorang yang berada di seberang sana.
Pria itu mengirimkan bukti-bukti bahwa aku belum membayar cicilan mobil selama 3 bulan. Ya Allah, lalu uangnya kemana? Ibu pakai untuk apa uangnya itu?
Kepalaku yang tadi sedikit pusing, kini semakin pusing, dari mana aku bisa mendapatkan uang selain dari gajiku? Sedangkan tanggal gajihan masih lama. Belum lagi kebutuhan s**u formula Alif, pampers dan makanan mereka.
Aku pun memutuskan untuk menelpon ibu, menanyakan semua hal ini padanya.
Bersambung...