Zalya menutup buku catatannya dengan mata yang basah.
“Obaa-chan...” bisiknya, “... kalian akhirnya ketemu lagi, kan?”
Senara tersenyum. “Kalau tidak, aku tak akan pernah cerita semua ini.”
Zalya memeluk eyangnya. Hangat. Dan tahu, bahwa di balik luka yang disembunyikan eyangnya bertahun-tahun... ada cinta yang begitu dalam, lahir bukan dari tempat yang tepat, tapi dari keberanian memilih sisi manusia di atas peperangan.
Keheningan menggantung sebentar. Lalu Zalya mengangkat wajahnya, menatap Senara dengan kening berkerut.
“Tapi... gimana caranya Ojii-chan Renji bisa balik ke markasnya lagi? Maksudku... dia hilang sepuluh hari, kan?”
Senara mengangguk pelan. “Sepuluh hari. Kami pikir itu cukup untuk membuat mereka berhenti mencarinya.”
Zalya mencondongkan tubuh, penasaran. “Tapi kan pasukan Jepang disiplin banget. Kalau ada yang hilang, apalagi pangkatnya kayak Ojii-chan... pasti dicari terus, ya nggak?”
Senara tidak langsung menjawab. Tatapannya jauh, seperti menembus waktu.
“Benar. Dan kakaknya... Souta Takeyama, dia adalah pemimpin regu waktu itu. Mereka saudara. Tapi saat Renji kembali... dia tak langsung dipeluk atau disambut. Yang ada justru... curiga. Marah. Bingung. Kakaknya ingin tahu... kenapa adiknya bisa kembali, dan dengan luka yang sudah dirawat rapi. Seolah-olah... ada yang menyelamatkannya.”
Zalya menelan ludah. “Dan dia curiga... orang itu bukan dari pasukan mereka?”
Senara mengangguk. Ingatannya kembali melayang ke masa lalu yang begitu masih terekam jelas.
***
Barak Militer Kekaisaran Jepang – Desa Ninti, Kalimantan Barat
Langkah kaki berdebu memecah kesunyian. Seorang prajurit berjaga di pos depan mengangkat alisnya tajam, ragu dengan siluet yang mendekat perlahan di antara kabut tipis dan cahaya lampu minyak.
“Siapa di sana?!”
Renji terhuyung, bersandar sejenak di dinding kayu pos jaga. Seragamnya compang-camping, wajahnya pucat dan kurus, rambut sedikit panjang dari biasanya. Tapi lambang pasukan masih ada di lengan. Meski sudah pudar dan basah oleh lumpur dan darah kering.
“Aku... Letnan Dua Takeyama Renji.”
Penjaga itu terdiam sesaat. Lalu dengan suara tercekat, ia menoleh panik ke arah barak komando dan berteriak, “Taichō! Letnan Takeyama hidup! Dia kembali!”
Dan saat suara itu terdengar, Renji berdiri lebih tegak. Meski tubuhnya masih terasa sakit dan balutan di perutnya menekan keras, ia menahan dirinya untuk tidak tampak lemah.
“Takeyama Shōi?!”
Suara itu menembus percakapan. Dua prajurit muda berdiri cepat, nyaris tak percaya. Lelaki itu—Renji—masih hidup. Ada darah kering menempel di bagian bawah seragamnya. Tapi yang membuat semua terpaku adalah matanya. Jernih, namun penuh luka.
Seseorang segera memanggilkan satu nama.
“Takeyama-Chūsa!”
Gempar kecil terjadi di dalam markas malam itu. Beberapa prajurit bergegas keluar, menatap sosok Renji seolah melihat hantu. Ia sempat dinyatakan hilang setelah pertempuran besar dua minggu lalu. Tidak ada jejak, tidak ada jenazah. Semua mengira ia telah mati di hutan Kalimantan.
“Di mana Chūsa Takeyama?” suara Renji serak, namun tegas.
Beberapa orang langsung bergerak. Laporan mengenai kematian Takeyama Renji sudah dikirim ke pos utama lima hari lalu. Fakta bahwa ia kini berdiri di depan mereka adalah sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan cepat.
Tak lama, di sebuah ruangan kecil yang dipakai sebagai markas perwira, Takeyama Souta menghentikan tangannya yang sedang memegang peta operasi.
Pintu terbuka. Seorang prajurit memberi hormat.
“Chūsa! Chūsa Takeyama! Ini soal adik Anda! Dia... kembali—”
Belum selesai kalimat itu, Renji masuk ke dalam ruangan.
Tapi Souta hanya menatap Renji dari ujung kaki hingga kepala. "Namae wa?"
Renji terdiam sejenak, lalu menjawab tegas meski suaranya lemah. "Takeyama Renji. Shōi, Angkatan Darat Kekaisaran Jepang."
Souta menatap mata adiknya dalam-dalam. Beberapa detik berlalu tanpa satu kata pun. "Di mana kau selama sepuluh hari ini?"
Renji menarik napas, lalu menjawab sesuai naskah yang telah ia susun di kepala sejak malam sebelumnya.
"Aku terjebak dalam serangan mendadak dari pasukan gerilya lokal. Terluka dan jatuh ke jurang. Tak sadarkan diri beberapa hari. Bertahan hidup dengan meminum air hujan dan memakan tumbuhan liar."
"Kenapa balutanmu terlalu bersih untuk seorang yang bertahan di hutan tanpa bantuan?"
Pertanyaan itu menghantam tepat sasaran. Renji tak menjawab seketika. Ia tahu, kakaknya tidak akan mudah dibohongi.
"Aku... menemukan gubuk tua tak jauh dari jurang. Ada sisa kain dan alkohol. Aku... belajar dari pelatihan dasar medis."
Souta menyipitkan mata. "Kau pikir aku akan menelan cerita ini bulat-bulat, Renji? Kau adikku. Aku tahu caramu berbohong."
Suasana makin tegang. Renji tetap berdiri diam. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Souta melangkah cepat, langsung berdiri di hadapan adiknya.
“Kau... masih hidup,” gumamnya rendah. “Dōshite... bagaimana bisa kau bertahan di luar selama itu?”
Renji membungkuk sedikit, masih dengan napas berat. “Maaf, Chūsa. Aku tidak bisa kembali lebih cepat.”
Souta tak langsung membalas. Ia hanya melirik seragam Renji. Tidak lengkap, sepatu hilang sebelah, dan perban putih kotor yang membalut sisi tubuhnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Renji?”
Renji menatap lurus ke depan. “Seperti yang sudah aku laporkan, Chūsa.”
Souta mendesah. “Jangan panggil aku dengan pangkat saat kita hanya berdua. Kau tahu maksudku.”
Sunyi sejenak.
Souta berjalan pelan semakin mendekat ke arah Renji. Suaranya kali ini lebih rendah, bukan sebagai atasan, tapi sebagai kakak.
“Apa ada warga lokal yang menolongmu?”
Renji sempat terdiam. Namun kemudian ia menggeleng pelan.
“Apa kau tahu... seluruh regu telah mencarimu selama berhari-hari?! Kau hilang tanpa jejak. Kami mengira kau mati. Tapi tak semua orang percaya itu. Beberapa bilang kau kabur. Mereka ingin mencoret namamu... bukan sebagai pahlawan gugur, tapi sebagai pengkhianat.”
Renji tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit, memberi hormat formal.
“Sepertinya laporan kematianku dikirim terlalu cepat, Nii-san.”
Souta mendengus. “Kau—!” Tapi kemudian ia melihat luka di tubuh adiknya. Ekspresi lelaki itu sontak berubah.
“Luka sabetan? Bukan peluru?”
Renji mengangguk. “Kampak. Atau mungkin parang. Aku tidak sadar saat diserang dari belakang.”
“Bagaimana kau bisa bertahan sepuluh hari di luar perimeter? Kau seharusnya kehabisan darah dua hari setelah hilang.”
Renji terdiam. Sorot matanya menghindar, namun tak sepenuhnya gelisah.
“Sudah kubilang aku menemukan tempat perlindungan. Dekat jurang, di timur hutan.”
“Benar-benar sendirian?”
“...Cukup untuk bertahan.”
Souta memicingkan mata. Ia sudah mengenal adiknya terlalu lama untuk tidak tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi ia memilih menahan.
“Apa kau tahu, seluruh satuan siap menyatakanmu desersi?”
Renji menegakkan bahu. “Kalau begitu, tangkap aku sekarang.”
🍁🍁🍁
📌 Author's Note – Istilah yang Mungkin Perlu Kamu Tahu
Shōi
= Letnan Dua dalam struktur militer Jepang.
Chūsa
= Letnan Kolonel. Pangkat tinggi di militer Jepang, berada di atas Mayor (Shōsa) dan di bawah Kolonel (Taisa).
Taichō
= Komandan regu atau pemimpin unit. Bukan pangkat formal, tapi lebih ke jabatan dalam struktur organisasi.
Perimeter
= Batas luar area pertahanan atau pengawasan militer.
Dōshite
= Bahasa Jepang yang berarti "mengapa" atau "kenapa". Biasanya diucapkan dalam situasi penuh emosi atau kebingungan.
Nii-san
= Sapaan Jepang untuk "kakak laki-laki". Biasanya digunakan dalam hubungan yang cukup dekat dan emosional antara adik dan kakaknya.
Desersi
= Istilah militer yang berarti tindakan kabur atau meninggalkan tugas tanpa izin.