Kecantikan yang Diawasi

990 Words
“Bodoh!” bentak Souta, nyaris memukul meja di dekatnya. “Kau tahu berapa banyak yang ingin melihat kita jatuh hanya karena kita bersaudara? Ini bukan Tokyo, Renji. Ini Kalimantan. Di sini, tak ada belas kasihan.” Renji masih diam. Tapi dari caranya berdiri, terlihat jelas bahwa tubuhnya hampir tak kuat lagi menopang beban hari-hari yang ia lalui. Souta akhirnya menarik napas panjang. “Aku akan laporkan kau selamat. Tapi kau tidak boleh keluar perimeter lagi. Dan mulai besok, kau kembali ke posisi semula.” “Wakarimashita, Chūsa.” Renji membungkuk dalam, sikap tubuhnya tegas. Ia berbicara bukan sebagai adik, tapi sebagai prajurit yang kembali dari batas antara hidup dan mati. Souta menatap Renji. Perlahan, nada suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih pribadi. “Apa kau benar-benar sendirian di luar sana, Renji?” Renji menahan napas. Lalu menjawab lirih, “Aku tidak akan membahayakan siapa pun.” “Bukan itu pertanyaanku.” Keduanya saling menatap. Lalu akhirnya, Renji memalingkan wajah. “Bukan saatnya membahas itu.” Souta terdiam. Lalu mengangguk. “Pergilah ke ruang medis. Setelah itu istirahat. Jangan pikir aku akan menyelamatkanmu dua kali jika kau hilang lagi.” Renji tersenyum tipis. “Aku tak akan membuatmu repot lagi, Nii-san.” Saat Renji keluar dari ruangan, Souta tetap berdiri di tempat. Pandangannya menatap pintu yang kini tertutup. Ada banyak yang ingin ia tanyakan. Tapi ia tahu... adiknya telah melewati sesuatu yang tak semua orang bisa mengerti. *** Di luar tenda medis, Renji menatap langit malam. Tak ada bintang, tapi udara lembap Kalimantan masih membawa aroma yang ia kenal. Ia menghela napas. Di balik semua luka dan dusta yang ia simpan... ada satu nama yang bergema di dalam hati. Nara. Sejak kembali ke barak, ia berharap suatu hari bisa kembali ke sisi gadis itu. Tidak sebagai shōi. Tapi sebagai lelaki biasa... yang pernah diselamatkan oleh cinta di tengah medan perang. *** “Kau pikir aku tak tahu, Nara? Sudah tiga kali aku lihat kau menyelinap keluar sebelum subuh.” Senara menghentikan gerak tangannya. Sayatan pada batang singkong hampir memotong ujung jarinya sendiri. Ia menoleh perlahan ke arah Muzaffar. “Abang menguntit aku?” tanyanya pelan, tapi nada di ujung suaranya nyaris seperti sindiran. Muzaffar tidak menjawab dengan senyum. Wajahnya keras, dagunya terangkat, dan matanya menyorot tajam seperti bilah mandau yang tergantung di dinding belakang rumah mereka. Mandau milik sang ayah, yang dulu dikenal sebagai penjaga hutan dan pembela kampung, sebelum lenyap dalam gelombang penangkapan besar-besaran oleh Jepang sekitar setahun yang lalu. “Aku melindungimu. Bukan menguntit. Jangan putar balik kata-kataku.” Senara menghela napas, meletakkan pisau dengan bunyi halus di atas nampan bambu. Jemarinya bergetar pelan. Bukan karena takut. Tapi karena lelah. “Aku hanya pergi ke belakang bukit. Duduk sebentar. Sendiri. Itu saja.” “Sendiri? Atau ditemani bayangan seseorang?” gumam Muzaffar sambil melipat lengan, berdiri tegak di depan pintu dapur. Hening menyelimuti ruangan kecil itu. Suara ayam di kejauhan, desir angin menerpa dinding anyaman bambu, dan... langkah kaki berat dari luar. “Assalamu’alaikum,” suara Salim terdengar disertai derak kayu dipijaknya. Ia menjinjing karung kecil di bahu. “Aku antar beras dari pos Jepang. Mereka butuh tambahan untuk logistik minggu ini.” Muzaffar berbalik dengan anggukan kecil. “Wa’alaikumussalam.” Salim menurunkan karung beras di dekat tumpukan kayu kering. Matanya langsung menangkap sosok Senara yang berdiri di ambang cahaya. Kulit putihnya tampak kontras dengan bayangan dapur, wajahnya tirus dengan garis pipi tajam khas darah campuran Dayak-Melayu. Rambut hitamnya dikepang satu, jatuh ke bahu dengan sedikit helai kusut menempel karena keringat. Wajahnya manis tapi tegas, dengan mata lebar dan tajam—warisan dari almarhumah ibu mereka yang keturunan Dayak Ahe. Tapi di wajah itu juga ada lekuk-lekuk lembut seperti alis melengkung dan dagu kecil, ciri Melayu Pontianak yang memancarkan keteduhan alami. “Rajin betul adikmu, Bang Zaffar. Cantik, cekatan, belum ada yang punya pula,” Salim berseloroh sambil menyengir. Tatapannya menelusuri lengan Senara yang basah oleh keringat. Ia sempat menelan ludah melihatnya. “Kalau bunga begini dibiarkan terlalu lama, nanti dipetik orang lain,” lanjutnya, setengah bercanda tapi penuh makna. Senara tak menyambut candaan itu. Ia hanya menoleh pelan dengan alis terangkat. Satu ekspresi yang sudah cukup untuk membuat pria yang lebih tua darinya itu sedikit salah tingkah. Ia kembali ke singkongnya, diam, tajam, dan penuh waspada. Muzaffar menarik napas panjang. Ia tahu Salim sudah berubah sejak jadi penghubung relawan dengan markas Jepang. Dulunya lelaki itu hanya penjaga lumbung desa. Kini, setelah dipercaya mengantar logistik, Salim merasa punya posisi. Termasuk hak untuk melihat adik orang lain dengan cara yang tidak menyenangkan. “Kau antar beras untuk Jepang atau mau jadi mak comblang, Lim?” nada suara Muzaffar rendah tapi dingin. “Bukan mak comblang, Bang. Aku Cuma jaga-jaga. Siapa tahu bunga setaman ini jatuh ke tangan yang tak pantas.” “Dan kau merasa paling pantas?” sela Senara, tanpa menoleh. Ucapannya tenang, tapi tiap katanya seperti irisan tipis di leher. Salim diam sejenak. Senyumnya luntur. Kemudian ia tertawa hambar dan mengangkat tangan. “Aku pamit, Bang. Assalamu’alaikum.” Muzaffar hanya membalas pelan. Setelah suara langkah Salim menjauh, suasana di dalam rumah kembali tegang. “Sudah banyak mata yang mengawasi,” ucap Muzaffar lirih tapi berat. “Kau pikir mereka tak tahu betapa seringnya kau keluar malam? Bahkan tadi pagi... Salim bilang beras dari gudang sempat tertunda, karena sebagian bahan obat-obatan dari warga hilang entah ke mana. Ada yang bilang... seorang perempuan muda menyelipkan racun dalam ramuannya.” Senara mendongak cepat. Wajahnya pucat. “Apa maksud Abang?” “Ada perang kecil semalam. Di perbatasan desa. Tiga warga mati. Dua dari pihak Jepang luka-luka. Kau tahu artinya, Nara? Sekarang mereka anggap setiap gerakan rakyat sebagai kemungkinan sabotase.” Senara menggigit bibir. Tangannya mencengkeram ujung nampan. Napasnya tercekat. “Salim membawa beras dari pos Jepang bukan karena kebaikan hati. Tapi karena mereka sekarang menghitung setiap butir bantuan. Bahkan satu karung kecil seperti itu... bisa jadi mata uang, bisa jadi jebakan. Mereka tahu siapa yang sering keluar masuk. Termasuk kau.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD