Sosok yang Berbeda

1066 Words
“Aku tidak menyelundupkan apa pun,” gumam Senara, nyaris berbisik. Tapi matanya menatap Muzaffar dalam. Seolah ingin berkata, “Aku hanya menyelamatkan satu nyawa dari pihak musuh.” “Aku tidak menyangka kau bisa sekonyol ini,” lanjut Muzaffar, suaranya menurun tapi tetap menghentak hati. “Dulu kau tak pernah sembunyikan apa pun dariku. Sekarang... aku bahkan tak bisa menebak isi kepalamu.” Senara menatap kakaknya, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Cahaya sore mulai turun. Angin sore membawa bau tanah dan rumput lembap. Suara bambu bergesekan pelan. “Aku tidak menyimpan apa pun,” ulangnya. Muzaffar hanya berdiri di tempat. Menatap adiknya seolah melihat bayangan ibunya sendiri. Sosok perempuan kuat yang dulu bisa membuat seluruh kampung patuh hanya dengan satu isyarat tangan. Tapi berbeda dengan ibunya, Senara menyimpan terlalu banyak di balik diamnya. Termasuk, mungkin, sebuah nama Jepang yang tidak boleh disebutkan. Muzaffar menunduk. “Aku hanya ingin kau tetap hidup, Nara. Jangan sampai kau pilih cinta yang bisa menyeretmu ke neraka.” Senara tak menjawab. Tapi hatinya bergemuruh. Karena yang ia pilih bukan cinta. Tapi... rasa yang tak bisa ia hentikan. Sebuah simpati yang perlahan berubah jadi kesetiaan diam-diam. Pada seorang asing... yang kini terasa lebih nyata dari siapa pun di sekelilingnya. Muzaffar berbalik, melangkah keluar rumah tanpa sepatah kata lagi. *** Pinggiran Mandor, Jalan Tanah Menuju Desa Ninti Langit menggantung abu-abu. Awan tebal memeluk lembab udara dan meninggalkan aroma tanah basah yang pekat. Di jalan tanah yang memanjang di antara bukit kecil dan rerimbunan bambu, rombongan warga sipil berjalan pelan sambil memanggul logistik untuk dapur umum desa Junti. Di antara mereka, Senara tampak paling muda. Ia memeluk erat keranjang anyaman besar berisi ramuan, botol bambu, dan beberapa ikat daun kering. Hari ini, ia mengenakan kebaya sederhana warna gading yang masih bersih, dan kain batik yang sudah mulai lembap di ujungnya. Rambutnya disanggul setengah, beberapa helaian nakal menempel di pelipis karena keringat dan gerimis tipis yang turun sejak pagi. Wajahnya lelah, tapi matanya tajam. Ia berjalan di belakang, agak terpisah, memilih diam. Saat langkahnya mulai menyusul ke barisan depan— “BERHENTI!” Suara bentakan dari balik semak membuat semua warga tersentak. Empat tentara muda Jepang muncul dari balik belukar, senjata mereka teracung, dan wajah mereka keras. Salah satunya, berpakaian agak lusuh dan terlihat paling muda, maju ke depan. “Letakkan semua bawaan kalian! Tunjukkan isinya sekarang juga!” Warga gemetar. Beberapa buru-buru menurunkan pikulan. Satu wanita paruh baya langsung berlutut, ketakutan. Tapi Senara tetap berdiri, kedua tangannya memeluk keranjang erat. “Apa ini?!” bentak tentara muda itu, merampas keranjang dari tangan Senara. Ia membuka isinya kasar. Daun sembung, akar ilalang, minyak kayu putih, dan balutan kapas terlempar ke tanah. “Obat... untuk anak demam di desa Ninti,” ujar Senara pelan, mencoba menjaga nada. “Obat? Atau racun? Atau pesan dari pemberontak?” Tanpa peringatan, tangan kasar itu menarik pergelangan tangan Senara, menyentaknya hingga tubuh gadis itu hampir jatuh. Senara tersentak. Suaranya tercekat. “Berani kau menyelundupkan ini? Kau mata-mata, ya?” Warga lain mulai berseru pelan, memohon agar Senara dilepas. Tapi si tentara justru menaikkan tangannya, siap menampar. Suara mesin kendaraan militer mendekat. Lalu berhenti mendadak. Semua menoleh. Dari balik kabut tipis dan tanah merah, sebuah kendaraan militer ringan berhenti, dan dari dalamnya turun seorang pria berseragam bersih, lengkap dengan pedang dan emblem Shōi di kerahnya. Topi militer itu menaungi wajahnya yang tajam, rahangnya kuat, dan sorot matanya... beku. Renji Takeyama. Dan pandangannya langsung menabrak mata Senara. Waktu berhenti sejenak. Satu detik. Dua detik. Wajah gadis itu... meski sedikit kotor oleh debu, tampak cantik luar biasa di matanya. Rambut yang menempel di pelipis, mata besar yang membulat karena terkejut, bibir sedikit terbuka karena terengah, dan tangan kecil yang masih ditahan kasar oleh seorang prajurit. Renji seperti dihantam oleh dua kenyataan sekaligus. Ia tidak siap melihatnya... dan tidak rela melihatnya dalam posisi seperti itu. Langkah Renji mantap saat berjalan dari kendaraan militer kecil yang terparkir di sisi jalan tanah. Sepatu bot hitamnya menginjak lumpur, tapi seragamnya tetap rapi tak bercela. Warna abu-tua itu kontras dengan kulitnya yang sedikit kecokelatan karena medan, dan selempang katana yang menggantung di pinggangnya membuat lelaki itu tampak semakin tegas dan... mengintimidasi. Rambutnya sedikit basah oleh keringat dan udara panas sore hari, tapi tak mengurangi karismanya. Justru menambah kesan tangguh dan berbahaya. Senara menatapnya tanpa berkedip. Jantungnya nyaris meloncat keluar. Ya Tuhan... itu dia. Untuk sesaat dunia terasa hening. Ia nyaris tak percaya. Lelaki yang dulu ia rawat diam-diam, yang pernah ia temani di malam penuh luka dan ketakutan, kini berdiri di hadapannya. Dalam wujud yang begitu berbeda. Gagah. Dingin. Berwibawa. Seolah lelaki itu bukan lagi pemuda lemah yang dulu ia selimuti dalam dingin malam, melainkan seorang perwira militer yang bisa menghancurkan segalanya dalam satu aba-aba. Tubuh Senara beku. Tangannya masih menggenggam erat keranjang kecil berisi ramuan, tapi jari-jarinya mencengkram terlalu kuat hingga gemetar. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan wajah. Tapi ekor matanya... terus mencuri pandang. Renji sempat melirik ke arahnya. Sorot mata mereka bertemu sedetik. Hanya sedetik. Tapi cukup untuk membuat nafas Senara tercekat dan wajah gadis itu memanas. Renji menatap seperti sedang menahan sesuatu. Rahangnya mengeras, pandangan matanya tetap tajam, tapi ada sorotan yang berbeda... yang tak bisa diartikan siapa pun kecuali mereka berdua. Ia segera memalingkan wajah, kembali ke ekspresi dinginnya. Tapi jari tangannya mengepal pelan. Senara menunduk dalam-dalam. Dia pasti sudah lupa... Tapi kenapa jantungku seperti ini? “LEPASKAN!” Suara Renji menggelegar. Tentara muda itu refleks mundur. Tangannya yang terangkat menjauh dari Senara. “Shōi! Kami hanya... kami pikir dia mencurigakan! Kami mencurigai...” “Diam! Siapa komandan kalian?” “Kapten Morimoto, Shōi!” “Sampaikan pada Kaptenmu... jika satu warga lagi diperlakukan seperti ini tanpa bukti, kalian semua akan diseret ke pengadilan militer!” Semua diam. Hanya suara napas berat dan kaki-kaki yang bergeser panik. Tapi kemudian, Renji menoleh ke Senara. Tatapannya berubah. Bukan marah. Tapi... ketakutan. Takut kehilangan kontrol. Lalu... suaranya pelan, formal, kaku. “Pergilah. Tempatmu bukan di sini, Onna no ko. Ini bukan urusanmu.” Senara menunduk dalam. Tapi di ujung langkahnya menjauh, ia menoleh sekali. Sekilas. Tatapan mereka bertemu sesaat. Tatapan yang bicara lebih banyak dari kata apa pun. Renji berdiri diam seperti patung. Tatapannya masih menempel pada punggung indah itu. Salah satu prajurit yang melihat cara Renji memandang Senara, mencondongkan diri dan berkata lirih, “Shōi... gadis itu cantik. Kalau Anda ingin... saya bisa bantu. Banyak cara untuk... menculiknya diam-diam. Seperti yang biasa dilakukan pasukan kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD