Tumpangan

1068 Words
Renji tidak menjawab. “Tapi katanya... dia adik dari Muzaffar. Warga bilang dia tokoh bawah tanah. Katanya mengatur gerakan anti-kemiliteran. Jadi kita harus hati-hati.” Renji berbalik. Sorot matanya tajam, penuh amarah. “Satu kata lagi tentang itu... kau bukan hanya kehilangan tugas. Kau akan kehilangan lidahmu.” Tentara itu membeku. Lalu mundur cepat, menunduk dalam. Renji masuk kembali ke kendaraan. Tapi dari balik kaca kecil, ia tetap menatap jalan becek tempat Senara barusan berdiri. Dan di dadanya, dentuman tak bisa diredam. *** Roda kendaraan militer bergemuruh di jalan tanah. Renji duduk di kursi belakang, punggung tegak, mata tajam mengarah ke depan. Di sisi lain kaca jendela, pepohonan berderet cepat berlalu. Sunyi. Hanya suara mesin dan langkah sepatu tentara dari pos-pos kecil yang mereka lewati. “Shōi, kita hampir sampai ke perimeter barat markas,” kata pengemudi di depan. “Berhenti.” Perintah itu keluar cepat dan dingin. Prajurit yang mengemudi menginjak rem. Renji mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit. Di kejauhan, rombongan warga sipil terlihat berjalan membawa karung dan keranjang. Di antara mereka, seseorang membuat napasnya tercekat sesaat. "Itu rombongan dari Ninti," ujar prajurit pengemudi. "Logistik untuk dapur umum," tambah prajurit di sebelahnya. "Mereka dapat izin lewat dua hari lalu." Renji membuka pintu. Turun. Langkahnya mantap, berlapis karisma dan ketegasan. Ia berjalan ke arah rombongan. "Hentikan mereka. Periksa bawaannya." Prajurit langsung bergerak, menghadang rombongan. Warga mendadak tegang. Raut ketakutan menyebar, beberapa langsung menurunkan pikulan. Senara, yang ada di belakang, berhenti pelan. Ia belum melihat Renji, tapi detik berikutnya suara itu terdengar. "Barang-barang ini penting untuk penduduk, bukan?" Senara mendongak. Renji berdiri hanya beberapa langkah darinya. Sorot mata pria itu tajam, tapi nadanya... terkendali. "Kalau begitu, aku izinkan dibawa dalam kendaraan militer. Kami sedang menuju arah yang sama." Warga saling berpandangan. Seorang lelaki paruh baya ragu-ragu melangkah maju. "Tuan... kami tidak bermaksud melanggar aturan... kami bisa jalan sendiri, tidak usah merepotkan—" "Aku tidak menawarkan bantuan. Ini bagian dari patroli logistik." Suasana diam. Renji menoleh ke bawahannya. "Angkut barang-barang ini. Sisakan satu orang untuk mendampingi." Prajurit ragu. "Siapa, Shōi?" Warga lain cepat-cepat bicara. "Senara saja. Dia perawat. Dia tahu isi semua keranjang." Senara membeku. "Aku?" "Iya, Nara. Kau paling tahu tanaman obat-obatan itu, kan?" Alasan mereka terdengar logis. Tapi dari sorot mata beberapa orang, Senara tahu... mereka hanya tidak ingin ikut. Takut. Renji tetap tak bergerak. Tak menjawab. Hanya menatap Senara lama. "Cepat. Jangan buat aku mengulang perintah.” Senara menelan ludah. Ia melangkah pelan, naik kendaraan dan duduk di kursi belakang. Renji kembali ke kursi depan. Suasana dalam mobil hening, tapi terasa penuh. Ada sesuatu di udara, semacam ketegangan yang menyelinap lewat detak jantung. Renji melirik lewat kaca pandang di atas kepalanya. Senara sedang menunduk, jari-jarinya menggenggam ujung tas rotannya erat. Rambut panjang itu sedikit berantakan, menempel di pelipis karena gerimis. Wajahnya lelah. Tapi... tetap cantik. Terlalu cantik untuk dibiarkan hilang di antara lumpur dan konflik. Senara juga melihat sekilas ke kaca yang sama. Tatapan mereka berbenturan sepersekian detik. Lalu sama-sama menghindar. Tak ada percakapan. Tapi gelombang emosi kecil terasa bergerak di udara. Tangan Renji tak sadar menggenggam lututnya lebih kuat. Ada sesuatu yang tidak terkendali. Beberapa menit kemudian, kendaraan berhenti di tikungan dekat hutan kecil. “Kita sudah sampai di batas desa,” kata sopir. Dua tentara keluar, mulai menurunkan barang. Renji sempat melirik ke belakang sebelum turun. Kini ia berdiri di sisi kendaraan, setengah bersandar. “Onna no ko... turunlah. Aku ingin bicara.” Senara sempat diam sejenak. Tapi menurut. Ia turun perlahan, menyusul berdiri di sisi mobil, sedikit menjaga jarak. Renji tak langsung bicara. Ia menyentuh sarung katana di pinggangnya pelan, lalu menghela napas. “Kau tak berubah, masih seperti yang aku kenal.” Senara menatapnya lekat. “Tapi kau berubah.” Renji tak menjawab. “Kenapa bantu kami tadi?” Renji menoleh, wajahnya kembali seperti Shōi. “Karena jalur distribusi logistik itu penting, harus diawasi. Aku hanya pastikan warga sipil tidak menyelundupkan bahan berbahaya. Karena jika ada penyelundupan, aku yang bertanggung jawab.” “Dan karena itu kau harus tawarkan aku tumpangan?” Keheningan kembali mengambang di antara mereka. Renji melirik ke arah prajurit yang sedang sibuk. “Mereka tidak dengar. Tenang saja,” gumam Senara. Renji menghela napas pelan. “Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku tidak ingin kau lelah. Tidak ingin kau... hilang.” Senara menunduk. Renji menoleh. Tatapannya menusuk. “Di dunia ini, tak semua orang bisa selamat karena niat baik, Nara-chan.” Senara terdiam. Mendengar cara Renji memanggil namanya... membuat seluruh d**a gadis itu bergetar. Tapi ia pura-pura tak terpengaruh. “Kau...” gumam Renji. “Masih sering menolong orang?” “Masih,” jawab Senara, tenang. “Kalau aku bisa menyelamatkan satu nyawa lagi, itu cukup.” “Bahkan kalau itu musuh?” Senara tak menjawab langsung. Tapi tatapannya kuat. “Aku tidak pandang baju mereka. Aku pandang luka mereka.” Renji terdiam lama. Lalu akhirnya berkata, pelan, “Kau akan celaka kalau terus seperti itu.” “Biar kuputuskan sendiri apa yang berbahaya bagiku.” Renji tak tahan. Ia mendekat selangkah, suara tetap rendah. “Andai saja kau tahu apa yang bisa terjadi kalau rahasia waktu itu terbongkar—” “Makanya jangan diucapkan di tempat terbuka,” potong Senara tajam. Matanya melirik ke arah tentara yang masih sibuk mengangkat barang. Renji sadar. Ia langsung kembali ke sikap netral, mundur selangkah, kepala sedikit menoleh menjauh. “Maaf.” Senara sedikit tersenyum miris. “Kau tidak sedang bicara sebagai Shōi sekarang, kan?” “Aku bicara sebagai seseorang yang... pernah nyaris mati di bawah pohon tua.” Diam lagi. Lalu, perlahan, Renji bicara, kali ini dengan nada lebih rendah. "Nama kakak lelakimu... Muzaffar, benar?" Senara menegang. "Kenapa tanya sekarang?" "Ada laporan. Warga menyebut nama itu. Mengaitkannya dengan gerakan bawah tanah." "Jadi sekarang kau akan menangkap abangku?" "Kalau aku mau, aku tak akan biarkan kau naik ke mobil ini." Sunyi sejenak. Senara tampak menghela nafas berat. “Setelah hari itu, aku takut. Banyak mata yang mulai memperhatikanku. Bahkan Bang Zaffar tak lagi percaya padaku sepenuhnya.” Renji menatapnya. Membiarkan gadis itu terus bicara. “Kau seharusnya menjauh dariku, Renji. Hal yang seperti ini... bisa sangat membahayakan kita berdua.” Hening lagi. Lalu angin meniup lembut helaian rambut Senara yang lepas sedikit dari kunciran. Renji maju setengah langkah, tapi berhenti. Ia menggenggam sesuatu dari balik kantong bajunya. “Aku menemukan ini. Waktu salah satu tentara menjatuhkan. Surat warga… berisi nama-nama yang dicurigai simpatisan pemberontak. Namamu ada di situ.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD