Senara menegang. “Itu tidak benar. Aku tidak—”
“Aku tahu,” potong Renji cepat. “Itulah kenapa aku harus bertemu denganmu. Memperingatkanmu.”
Mata pemuda itu tajam, penuh kecemasan. “Sebagai tentara, aku tak boleh banyak bicara. Tapi sebagai manusia... aku tak bisa tinggal diam.”
Senara menatapnya. Ada sesuatu yang meletup dalam d**a. Hangat. Perih. Dan indah sekaligus.
“Kau akan celaka jika ketahuan terus bertemu denganku.”
“Aku tahu.”
Senara memandang kosong ke depan sebelum akhirnya berkata, "Kalau kau ingin menangkap kami... kau harus menatap mataku lebih dulu. Dan jangan berani berpaling."
Tatapan mereka terkunci. Tidak lagi canggung. Tapi keras. Tegang.
Namun fokus mereka terpecah saat menyadari bahwa para prajurit bawahan Renji telah selesai menurunkan semua barang.
“Terima kasih atas bantuannya, Tuan. Aku pergi dulu.” Senara menunduk sekali, langsung balik badan. Ia belum sempat melangkah, saat suara pelan terdengar.
"Onna no ko."
Senara menoleh. Renji masih berdiri di samping pintu, hanya menatap.
"Kau tidak takut padaku?"
Senara mengangkat dagu sedikit. "Aku lebih takut pada diriku sendiri."
Senara baru setengah berbalik, saat Renji kembali memanggilnya dengan sangat pelan. Pria itu memastikan suaranya hanya dapat didengar oleh Senara.
“Nara-chan...”
Senara menatap wajah Renji, menunggu kalimat yang akan keluar dari mulutnya.
“Berhati-hatilah.”
Dan dengan itu, Senara berbalik. Pergi. Tanpa menoleh lagi.
Renji masuk kembali ke dalam kendaraan. Prajurit yang duduk di depan mencuri pandang saat Renji memandangi punggung Senara yang semakin menjauh. Mulutnya menyeringai tipis.
Tatapan itu...
Bukan tatapan perwira pada warga sipil. Tapi tatapan yang… berbeda. Lebih lama. Lebih dalam. Dan ia tahu... Shōi Takeyama mulai jatuh pada sesuatu yang tak boleh ia sentuh.
"Shōi... gadis itu. Wajahnya seperti..."
"Satu kata lagi," potong Renji dingin, "Kau pulang jalan kaki ke markas."
Prajurit langsung diam. Menegang.
Kendaraan bergerak.
Sorot mata Renji lurus ke depan. Tapi di benaknya... wajah gadis itu terus tinggal. Wajah yang dulu menatapnya dengan iba, dan kini dengan keteguhan yang tak bisa ia abaikan.
Ia menutup mata sejenak.
Satu-satunya perempuan yang pernah menyentuh luka di tubuhnya... kini mulai menyayat pikirannya.
Dan ia tahu—ia tidak akan baik-baik saja setelah ini.
***
Matahari baru saja melewati pucuk-pucuk pohon karet saat Muzaffar melangkah menyusuri jalan setapak di pinggir sungai. Suara burung-burung pagi masih ramai, dan kabut tipis menggantung di antara batang pohon. Sungai Kapuas yang mengalir tenang memantulkan cahaya perak dari langit fajar.
Di kejauhan, Muzaffar melihat kerumunan perempuan di tepi sungai, mengisi kendi dan wadah air dari seng atau kaleng besi. Matanya tak sengaja menangkap satu sosok yang agak terpisah dari yang lain.
Sariya, putri sulung Pak Juhan, dukun kampung dan penyamak kulit.
Orang-orang bilang ia terlalu pendiam, terlalu sering bicara dengan tanaman, terlalu tak peduli pada lelaki. Tapi pagi itu, di antara cahaya matahari yang menari di permukaan air, Muzaffar tak bisa berpaling.
Sariya selalu punya aura yang berbeda. Tidak seberisik gadis-gadis lain, gerakannya tenang, dan selalu ada senyum tipis di bibirnya yang seolah menyimpan rahasia damai. Rambut panjangnya tergerai, dibiarkan basah oleh embun.
Sariya menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Muzaffar mengangguk sopan. “Airnya deras pagi ini, ya?”
Gadis itu diam sebentar, lalu mengangguk. “Lebih jernih dari kemarin. Hujan sudah reda.”
“Kau sering ke sini?” tanya Muzaffar pelan.
Sariya mengangguk. “Kalau pagi. Sebelum orang-orang ramai.”
“Aku juga,” kata Muzaffar. “Tapi mungkin aku datang terlalu pagi dari biasanya.”
Sariya tersenyum kecil. Ia kemudian berjongkok, tangannya sibuk mengisi wadah air besar. Gerakannya anggun, meskipun terlihat ada kesulitan saat mengangkat wadah yang sudah penuh itu. Muzaffar, tanpa berpikir panjang, melangkah maju dan menawarkan bantuan.
“Sini, biar kubantu,” suara Muzaffar datar, namun penuh ketulusan.
Sariya sedikit terlonjak. Senyum tipis itu kini melebar sedikit. “Ah, terima kasih. Berat sekali.”
Muzaffar tak banyak bicara. Ia mengangkat wadah itu dengan mudah, lalu membawanya. Tangannya sempat menyentuh punggung tangan Sariya yang lembap oleh air sungai. Sentuhan singkat itu entah mengapa terasa seperti sengatan hangat di kulitnya.
“Kau mau ke pasar?” tanya Muzaffar, sambil menggendong wadah miliknya sendiri di tangan satunya.
“Iya. Ibu menyuruhku membeli beberapa rempah dan kain,” jawab Sariya, langkahnya mengikuti Muzaffar. “Kau juga?”
Muzaffar mengangguk. “Mengantar hasil kebun.”
Percakapan mereka singkat, tidak lebih dari beberapa kalimat. Tapi selama perjalanan menuju kampung, keheningan di antara mereka terasa nyaman, tidak canggung. Muzaffar mencuri pandang beberapa kali. Rambut Sariya yang hitam legam basah di ujungnya, dan ada setitik air memantul di pipinya. Ia terlihat begitu... murni.
Di pasar yang mulai ramai oleh hiruk pikuk tawar-menawar, mereka berpisah. “Terima kasih banyak, Muzaffar,” ucap Sariya tulus. “Nanti kalau ke kampungku, mampirlah.”
Muzaffar hanya mengangguk lagi, bibirnya membentuk senyum tipis yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. “Aku akan mampir.”
Baru beberapa langkah setelah mereka berpisah, suara yang familiar menyapanya dari arah gerobak sayur.
“Baru pertama kali lihat kau bantu perempuan, Bang.”
Muzaffar mendengus pelan. “Jangan mulai, Nara.”
Senara berdiri di antara ikatan daun singkong dan keranjang penuh jahe. Tangannya cekatan memilih sayur, tapi matanya mengawasi Muzaffar penuh geli.
“Yang katanya tak butuh istri... sekarang angkut air buat anak dukun.”
Muzaffar menaruh wadah air di tanah sambil menatap adiknya. “Kau bicara seperti orang tua kampung. Apa salahnya menolong?”
Senara pura-pura berpikir. “Tak salah. Cuma... biasanya Abang lebih suka menolong ayam kesurupan daripada perempuan.”
Muzaffar tak menjawab. Ia hanya mengambil segenggam ketumbar dari tangan pedagang dan membayar tanpa menawar. Senara mengikutinya sambil terkikik pelan.
“Kau senang lihat aku kesal, ya?”
“Sedikit,” jawab Senara. “Tapi lebih senang lihat Abang akhirnya punya ekspresi selain marah.”
Tawa kecil itu terpotong tiba-tiba.
Bunyi derap sepatu bot.
Langkah-langkah teratur.
Pasar yang tadinya riuh mendadak hening. Beberapa orang buru-buru menyingkir dari jalan utama. Anak-anak ditarik ke balik lapak, para ibu menunduk. Seiring suara langkah yang semakin dekat, muncul iring-iringan seragam hijau. Pasukan Jepang.
Muzaffar menegang. Tangannya mengepal.
Barisan tentara itu tidak banyak, hanya lima atau enam orang. Tapi langkah mereka kaku dan dingin, menyapu pasar seolah tak menyadari ketakutan yang mereka tinggalkan di belakang.
Di antara barisan itu, ada satu wajah yang membuat Senara tak bisa berpaling.
Renji.
Shōi Takeyama Renji.
Ia berjalan di barisan depan, kepalanya sedikit menunduk, tatapannya menyapu pasar tanpa menunjukkan ekspresi. Tapi sesaat... hanya sesaat... matanya berhenti pada Senara.
Begitu pula Senara.
Dunia seakan membeku. Tak ada suara. Tak ada gerakan. Hanya mata mereka yang saling bertaut, penuh kejutan, rasa sakit, dan sesuatu yang belum sempat diucapkan.
Renji sedikit melambat. Tapi langkah pasukan di belakang memaksanya terus berjalan. Ia tak menoleh lagi. Tapi tubuhnya menegang, seolah ada bagian dari dirinya yang tertinggal di sana.
Senara diam. Tangannya gemetar di sisi tubuh.
Muzaffar menyadari perubahan wajah adiknya, lalu mengikuti arah tatapannya. Begitu melihat seragam itu... wajah itu... napas Muzaffar tersendat.
“Dia...” gumamnya.
Tanpa sadar, Muzaffar melangkah maju.
Namun Senara menahan lengannya. Kuat. “Jangan,” bisiknya.
Muzaffar menoleh. “Kau kenal dia?”