Senara tidak menjawab. Matanya masih menatap ke arah yang kosong, tempat Renji tadi berjalan. “Dia bukan... seperti yang Abang kira.”
Muzaffar mencibir. “Mereka semua sama. Seragam itu... tangan mereka penuh darah.”
Senara menggigit bibir. Tapi ia tidak melepaskan pegangan di lengan kakaknya. Dunia mulai bergerak lagi. Suara pasar kembali muncul perlahan. Tapi udara masih dingin.
Muzaffar mendengus pelan, menepis tangan Senara, dan mengambil kembali barang belanjaan mereka.
“Kau benar. Aku memang tak pernah peduli pada perempuan.”
Senara mengerutkan dahi.
“Tapi aku jauh lebih benci pada lelaki yang membawa perang ke rumah kita.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Senara yang diam, menggenggam kain batiknya yang basah oleh embun dan keringat. Jantungnya masih berdegup kencang.
Tatapan itu...
Tatapan itu belum selesai bicara.
***”
Senara melangkah pelan di antara semak dan akar, keranjang anyaman rotan tersampir di lengannya, berisi akar pulut, daun senduduk, dan beberapa kulit kayu yang masih basah.
Langkahnya nyaris tanpa suara, tapi matanya waspada. Belakangan ini, makin banyak rombongan tentara Jepang yang lalu lalang ke kampung-kampung kecil. Konon, beberapa orang hilang. Tidak jelas apakah ditahan, atau... dibuang diam-diam.
Senara berjongkok di bawah pohon cempedak liar, tangannya meraba akar kecil yang menonjol dari tanah. Tapi sebelum sempat mencabutnya, suara yang paling ia benci muncul—serempak dan berat.
Langkah sepatu bot. Seragam militer.
Jantung Senara memukul keras dadanya. Ia berdiri cepat dengan wajah pucat.
Tiga serdadu Jepang muncul dari balik pohon besar. Salah satu dari mereka menunjuk ke arahnya, bicara dalam bahasa kasar yang ia tak mengerti—suaranya tinggi dan cepat, seperti orang sedang memaki.
Tapi ia paham arti tatapan itu. Curiga.
“Berhenti di situ,” perintah seorang pria lain. Kali ini dalam bahasa Melayu yang lancar namun beraksen kaku. Senara menoleh perlahan. Suara itu dikenalnya.
Renji muncul dari balik semak, topi militer miring, sabuk katana melingkar di pinggang. Wajahnya tenang, tapi tatapannya tajam—hanya sejenak, sebelum berubah datar lagi.
“Apa yang kau lakukan di hutan, Onna no ko?” tanyanya, nadanya tegas. Ia bicara bukan sebagai Renji... tapi sebagai komandan pasukan.
Senara menunduk pelan. “Mencari tanaman obat. Ada bayi yang demam di kampung seberang.”
Prajurit di belakang Renji bicara cepat dalam bahasa Jepang, tampaknya meminta izin untuk memeriksa keranjangnya. Renji mengangguk dingin. Salah satu dari mereka maju, membuka isi keranjang.
“Tanaman biasa,” gumam prajurit itu sambil mengembalikan keranjang dengan kasar. Senara nyaris kehilangan keseimbangan.
“Kau punya izin keluar kampung?” tanya Renji lagi, mata tajamnya menyipit.
Senara menggigit bibir. “Tidak... Tapi aku biasa ke sini. Semua orang tahu.”
Renji menatapnya lama. Kemudian ia mengangguk sekali pada dua bawahannya. “Kalian lanjut ke arah barat. Aku akan memeriksa bagian sini.”
Kedua prajurit itu tampak ragu, tapi akhirnya memberi hormat dan berlalu. Suara langkah mereka memudar di antara semak.
Kini hanya mereka berdua.
Hening.
Suara hutan kembali terdengar. Cicit burung kecil, desir angin, dan degup jantung yang tak mau tenang.
Renji mendekat. Ia bicara pelan, tapi suaranya tetap rendah. “Kau selalu berjalan sendirian ke hutan? Tidak takut dicurigai?”
Senara mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.
“Kalau aku takut... aku tak akan ke sini, Shōi,” ucapnya datar.
Renji menarik napas pelan, menoleh sebentar ke arah suara burung hantu yang entah kenapa belum juga pergi dari fajar. Lalu kembali menatapnya.
“Kalau kau ditangkap prajurit lain, aku tak selalu bisa melindungimu, Nara-chan,” katanya, nyaris seperti peringatan.
Senara mengepalkan jemari. “Kau pun bagian dari mereka. Kau datang membawa perang, membawa kematian. Tapi sekarang bicara seperti... penjaga.”
Renji menunduk pelan, lalu tertawa pendek. Dingin.
“Aku bukan penjaga. Aku hanya... orang yang terlalu sering melihat orang tak bersalah dibakar hidup-hidup.”
Senara bergeming. Matanya mulai memanas, tapi ia menahan air itu di balik pelupuk. “Kau tak tahu apa yang kalian ambil dari kami. Orang-orang kami, rumah kami... bahkan hak untuk menangis tanpa takut dilihat musuh.”
Renji menoleh ke arah keranjang. Tangan kanannya masuk ke dalam sakunya. Lalu tanpa bicara, ia menyelipkan sesuatu ke balik anyaman rotan.
Senara menunduk. Beberapa tablet obat demam dan penahan nyeri. Tulisan Jepang di permukaannya sudah pudar.
“Obat untuk pasien demam?” sindirnya, masih dengan nada tajam.
Renji tidak membalas.
Ia hanya menatap Senara sekali lagi—panjang, dalam, dan nyaris seperti ucapan maaf yang tak bisa diucapkan. Lalu ia membalikkan badan, melangkah pergi, membiarkan suara hutan menelan jejaknya.
Senara berdiri diam. Di antara akar pohon dan daun basah, ia menggenggam keranjangnya erat.
Dan baru saat itu, dadanya terasa sesak.
Tatapan itu... seolah ingin bicara lebih banyak, tapi kalah oleh seragam dan peperangan.
***”
Senja itu, udara di kampung terasa lebih dingin dari biasanya, seolah membawa firasat. Senara baru saja selesai mengoleskan ramuan daun sirih hutan—yang ia dapatkan berkat peringatan Renji dan sedikit obat yang diselipkan Renji ke keranjangnya—ke dahi seorang bayi yang masih demam di pondok warga.
Panas tubuh bayi itu mulai turun, napasnya lebih teratur. Senara menghela napas lega, meski hatinya masih dicekam cemas. Kabar tentang patroli Jepang yang makin sering menyisir kampung-kampung kecil, mencari “pemberontak”, membuat setiap warga hidup dalam ketakutan.
Ia melangkah keluar pondok, hendak mengambil air di sumur. Cahaya jingga matahari terbenam menyelimuti pepohonan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menipu. Tiba-tiba, sebuah tangan kasar membekap mulutnya dari belakang.
Senara meronta, matanya membelalak. Ia mencium bau keringat dan seragam militer. Tubuhnya ditarik paksa ke balik semak bambu yang lebat. Langkah tergesa, bisikan kasar berbahasa Jepang yang tak ia mengerti.
Ia sempat melihat sekilas wajah-wajah prajurit itu—bukan wajah yang ia kenal dari patroli Renji. Ini adalah prajurit-prajurit lain, yang tatapannya lebih buas.
“Diam, Onna!” bentak salah satu dari mereka, mencengkeram lengannya erat. “Kau dicurigai membantu pemberontak!”
Tuduhan itu terasa hampa. Senara tahu ini bukan soal pemberontak. Ini soal dirinya. Matanya menatap putus asa ke arah kampung yang mulai gelap, berharap ada yang melihat, ada yang menolong. Tapi tidak ada. Ia diseret, kakinya tersandung akar, tubuhnya terhuyung. Mereka membawanya menjauh dari kampung, menuju arah markas.
Di barak utama, Renji sedang meninjau laporan patroli malam. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Senara di hutan pagi tadi. Peringatan yang ia berikan, dan obat yang ia selipkan. Ia berharap gadis itu aman.
Tiba-tiba, pintu barak dibuka kasar. Seorang prajurit muda, Kopral Tanaka, yang selama ini terlihat loyal pada Renji dan dikenal sering membantu warga desa secara diam-diam, masuk dengan wajah pucat. Tanaka tahu, setiap kali ada penangkapan wanita seperti ini, tujuannya hampir selalu sama. Memuaskan nafsu para atasan, terutama Chūsa Takeyama yang terkenal kejam. Dan ia juga tahu, Letnan Renji, tak seperti kakaknya, membenci perlakuan semacam itu.
“Shōi!” Tanaka memberi hormat, napasnya terengah. “Ada... ada masalah.”
Renji menoleh, alisnya terangkat. “Ada apa, Tanaka? Bicara yang jelas.”
“Unit patroli Chūsa Takeyama... mereka baru saja membawa seorang wanita lokal, Shōi,” kata Tanaka, suaranya tercekat. “Dari kampung di dekat hutan... yang sering dicurigai sebagai sarang pemberontak.”
Jantung Renji serasa berhenti. Kampung di dekat hutan. Wanita lokal. Kecurigaan. Ia tahu persis siapa yang dimaksud.
“Siapa?” Suara Renji terdengar dingin, tapi tangannya mengepal erat di bawah meja.