Tanaka menunduk, menghindari tatapan Renji. “Mereka bilang... namanya Senara, Shōi. Adik dari Muzaffar.”
Dunia Renji runtuh. Senara. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Ia tahu apa yang akan dilakukan Chūsa Takeyama. Kakaknya itu tidak punya belas kasihan, apalagi terhadap wanita lokal yang dianggap ‘b***k’.
“Di mana dia sekarang?” tanya Renji, suaranya kini penuh perintah, menahan amarah yang membakar.
“Dibawa langsung ke barak Chūsa Takeyama, Shōi,” jawab Tanaka, tatapannya penuh simpati dan ketakutan. Ia tahu reputasi Chūsa Takeyama.
Renji tidak menunggu lagi. Ia bangkit, seragamnya berdesir. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah cepat keluar barak, meninggalkan Tanaka yang masih berdiri kaku. Setiap langkahnya adalah sumpah. Sumpah untuk menyelamatkan gadis itu, apa pun risikonya. Ia tidak akan membiarkan Senara menjadi korban dari kekejaman kakaknya. Tidak akan.
Napas malam terasa membakar paru-parunya saat Renji berlari menembus kegelapan barak. Setiap detik terasa seperti berjam-jam, dan setiap langkahnya diiringi bayangan wajah Senara yang ketakutan. Ia tahu di mana kakaknya biasa ‘menghibur diri’—sebuah barak terpencil yang sering diubah menjadi tempat pesta pora dan pelecehan.
Renji mempercepat langkah, jantungnya bergemuruh. Ia harus sampai di sana sebelum terlambat.
Sementara itu, di dalam barak Chūsa Takeyama...
“Buka mulutmu, Onna no ko!” Suara bentakan itu memecah keheningan malam yang pekat.
Senara merasakan tangan kasar mencengkeram rahangnya, memaksa kepalanya mendongak. Aroma arak dan tembakau dari napas tentara itu membuat perutnya mual. Ia baru saja ditarik paksa dari pondok warga yang sakit, tanpa penjelasan.
Tuduhan “membantu pemberontak” hanya topeng. Tatapan lapar mereka mengandung maksud yang lebih menjijikkan.
Ia diseret menembus kegelapan, melewati barak-barak militer yang sunyi, hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu. Samar-samar, Senara mendengar percakapan di dalam. Terdengar tawa serak, dan kalimat-kalimat berbahasa Jepang yang penuh nafsu. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ini bukan soal pemberontak. Ini soal dirinya.
Pintu terbuka. Ia didorong masuk dengan kasar.
Di dalam, sebuah lampu minyak redup menerangi ruangan sempit. Souta Takeyama baru saja menurunkan yukata-nya, membiarkan kain tipis itu terlepas hingga melorot ke lantai. Dengan gerakan malas, ia meraih seragam militer yang tergantung di sandaran kursi dan memakainya pelan-pelan, seolah sengaja membuat Senara menyaksikan setiap detiknya.
Wajah itu keras, angkuh. Ia memang dikenal bengis dan tanpa ampun.
Di sampingnya, beberapa botol arak kosong tergeletak berserakan. Souta menoleh, senyum puas terukir di bibirnya saat melihat Senara.
“Ah, ini dia. Atarashii onna,” gumam Souta, matanya menelanjangi Senara dari ujung rambut hingga kaki. “Gadis desa? Lumayan.”
Jantung Senara berdegup gila. Ia mundur selangkah, menabrak meja di belakangnya. Mata yang ketakutan itu mencari jalan keluar, tapi dua prajurit lain menahan tangannya erat.
“Cantik juga ternyata. Liar dan lembut... seperti kampung ini.”
Souta merapikan kerah seragamnya perlahan, lalu berjalan mendekat. Seolah ingin memperlihatkan pada Senara bahwa ia sedang berganti dari lelaki mabuk menjadi pemangsa yang sadar penuh.
Tatapannya menyapu tubuh Senara seperti hendak mencatat bagian mana yang akan dikoyak lebih dulu. “Onna no ko dari suku ini memang menyenangkan untuk dijinakkan.”
Di luar, langkah sepatu bot yang sangat familiar mendekat. Pintu diketuk dua kali.
“Masuk,” kata Souta, malas menoleh.
Renji melangkah masuk. Tatapannya datar, tapi rahangnya menegang. Langkahnya mantap meski perutnya terasa seperti dikerat dari dalam.
“Shōi,” sapa Souta tanpa melihat. “Datang untuk laporan atau ingin bergabung?”
Renji mendekat, menunduk ke arah Senara. Sorot mata Senara menangkap wajahnya sekilas. Ia tampak bingung. Takut. Terhina. Tapi juga... sedikit lega.
“Hentikan, Nii-san.” Suara Renji rendah, tapi punya getaran yang tajam. Ia mengucapkannya dalam bahasa Jepang.
Souta menoleh perlahan, rahangnya mengeras. “Apa ini, Renji? Mengganggu kesenanganku?”
Renji melangkah maju, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. Ia berhenti di dekat Senara, tubuhnya sedikit menutupi gadis itu dari pandangan Souta.
“Kalau kau ingin main, biar aku duluan,” suara Renji keluar begitu pahit, manipulatif, tapi dibuat sedingin mungkin. “Aku lebih paham selera pribumi. Lagipula, dia kelihatannya bukan tipemu, Nii-san.”
Souta menyipitkan mata. Senyum sinis perlahan muncul. “Heh... kau?” Ia mendekat, menepuk-nepuk pipi Senara dengan dua jari. “Kau tertarik pada gadis kampung, Renji? Sejak kapan adikku punya rasa ingin tahu seperti itu?”
Ada nada mengejek yang menusuk. Ia tahu saudaranya itu terlalu ‘manusiawi’ untuk standar mereka.
Souta mengangkat tangannya, meraih kerah baju kurung Senara yang sudah sedikit berantakan. Mata Renji menegang, fokus pada tangan Souta. Perlahan, dengan sengaja, Souta menarik kerah baju Senara.
Kain itu robek dengan suara koyakan kecil, memperlihatkan bahu dan sedikit bagian atas d**a Senara. Gadis itu terkesiap dan berteriak kecil. Rasa dingin menjalar di kulitnya, bukan karena udara, tapi karena terhina. Matanya membulat, menatap Souta dengan horor.
Renji tak bergerak. Wajahnya tetap sedingin batu, ekspresi hampa yang sempurna. Tapi matanya... mata itu bergetar. Sebuah kilatan kemarahan dan jijik melintas begitu cepat, nyaris tak terlihat.
Niat untuk mencabut katana dan menusuk jantung kakaknya membakar di dalam d**a. Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri, menahan diri.
Souta tertawa pendek, tawa yang penuh kemenangan. Ia menatap Renji, mencari celah di balik wajah adiknya yang beku. “Kau memang punya selera aneh, Renji. Gadis-gadis desa ini... mereka tidak sehalus itu.”
Renji tak membalas. Ia bergerak lebih dekat ke Senara, mengambil secuil keringat di pelipis Senara dengan ibu jari, lalu pura-pura menjilatnya. Sebuah sandiwara menjijikkan yang ia paksakan demi meyakinkan Souta. “Justru itu. Bau tanah dan keringat. Mereka lebih... liar. Aku suka tantangannya.”
Keheningan menggantung seperti tombak di udara.
Alis Souta terangkat. “Kalau benar kau mau... katakan dengan jelas,” tantang Souta, sambil melirik tajam.
Renji mendekatkan wajahnya. Lalu, dengan jari yang gemetar, ia pura-pura menyusuri garis bahu Senara, seperti seorang pria yang sedang memilih daging di pasar.
“Manis... cukup ramping. Kau terlalu kasar, Nii-san. Mereka akan cepat rusak kalau disentuh seperti binatang.”
Senara menahan napas. Ada air di matanya, tapi ia menolak membiarkannya jatuh. Mata itu menatap Renji. Mencari sesuatu yang bisa ia percaya.
Souta menyipitkan mata. “Kau sedang main sandiwara, Renji?”
“Tidak.” Renji menatap balik. “Kau boleh pilih yang lebih muda dari pasar belakang. Tapi yang ini... berikan padaku.”
Souta menatapnya lebih lama, mencoba membaca. Tapi Renji adalah tembok. Akhirnya, Souta mengangkat bahu, seolah bosan.
“Ambil saja. Tapi aku ingat wajahnya.” Suara pria itu berubah tajam, mengancam. “Kalau kau berbohong, Renji... kalau kau tidak ‘memakainya’ sesuai seleramu... aku akan mengambilnya kembali. Dan kau tahu, aku akan mengembalikan dia kepadamu... dalam bentuk yang jauh lebih rusak.”
Ancaman itu adalah sebuah janji. Renji tahu itu. Renji hanya mengangguk tipis, tanpa ekspresi. “Aku mengerti, Nii-san.”
Ia mencengkeram lengan Senara, sedikit kasar agar terlihat meyakinkan bagi Souta, dan menariknya keluar dari ruangan pengap itu. Senara tak melawan. Tubuhnya membeku.
"Ayo," bisik Renji pelan.
Mereka keluar tanpa menoleh. Souta tidak melihat mereka pergi. Tapi bayangan ancamannya menggantung di udara.