Julian berdiri, lalu bergerak ke belakang kursi kebesarannya. Ia menunjuk ke kursi itu. "Duduklah, Vanya." Vanya patuh, duduk di singgasana kulit hitam yang masih hangat dari tubuh Julian. Kursi itu begitu besar, membuatnya tampak kecil dan rentan, namun pada saat yang sama, memberikan rasa kekuasaan yang asing. Julian membungkuk, mencondongkan tubuhnya ke Vanya. Tangannya diletakkan di sandaran lengan kursi, mengurungnya dalam posisi dominan. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Vanya. “Kau tidak terlihat takut, Vanya,” bisik Julian, suaranya serak dan intim. “Kau menjalankan peranmu dengan sempurna, Nyonya Alistair. Kau menggunakan kebaikanmu, senyummu, air matamu. Semua yang membuatmu murni, untuk mengirim seorang pria pada ke hancurannya.” Mata Julian menatap ke dalam m

