Seperkian detik keduanya pun nampak shock dengan apa yang mereka dapati. Pertemuan mereka selalu di luar dugaan, seperti yang sebelumnya terjadi. Sorot mata Dirga, layaknya sebuah elang yang siap memburu mangsa-nya dengan sekali koyak akan musn4h. Andai saja waktu bisa kembali, Intan akan menarik permintaan mutasi ke Semarang. Intan juga tidak akan datang ke pesta pernikahan mantan suami dan sahabat-nya. Gara-gara hal itu, ia jadi terkena masalah dengan pria yang saat ini sedang menatapnya penuh kemarahan. “M-maaf, P-pak…., eh.., bukan. M-maksud saya, Tuan,” ucap Intan kikuk dengan wajah tegang. Intan teringat dengan pria di hadapannya sekarang, yang tidak suka dipanggil dengan sebutan Bapak. Dirga mengulum senyum, sambil menatap wajah wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu begitu

