Dirgantara Basuki, seorang pria yang sudah berumur kepala tiga lebih, tampan, mapan dan telah memiliki segalanya, namun hingga detik ini ia belum juga berumah tangga. Bukan karena ia tidak normal atau pun tidak ada yang mau, akan tetapi ia masih belum mau memikirkan ke arah sana saja. Tak tahu sebabnya yang pasti, alasan yang selalu ia lontarkan jika ia belum menemukan wanita yang cocok. “Sarapan dulu, Nak!” seruan seorang wanita lansia yang duduk di atas sebuah kursi roda sambil membaca sebuah buku. Dirga menoleh sekilas dengan senyuman tipis sambil merapihkan dasinya. “Dirga sudah telah, Omah. Nanti saja sarapannya di kantor,” sahutnya beralasan. “By…,” pamit Dirga sambil melambaikan tangannya ke arah sang nenek. “Tunggu sebentar, Nak! Jangan pergi dulu, Omah mau bicara,” tahan wanita

