Di Restoran. Aryan dan Dirga sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu di sebuah restoran cukup ternama di kota Semarang. Namun, Intan belum juga nampak batang hidungnya. Dengan kesabaran yang setipis tisu, Dirga terus menggerutu sambil melirik arloji di tangannya. “Harus berapa lama lagi kita menunggunya, Aryan? Aku tidak suka menunggu terlalu lama. Apakah kamu sudah memastikan, kalau wanita itu menyetujui pertemuan ini?” Brondong pertanyaan Dirga nampak kesal. Aryan menggeleng dan mengangguk lirih, sebenarnya malas untuk menjawab semua pertanyaan bos-nya tersebut. Kendati begitu, ia sangat hafal dengan sifat Dirga yang akan terus bertanya kalau sampai ia belum mendapatkan jawabannya. “Saya tidak tahu pasti harus berapa lama menunggu Ibu Intan datang, Tuan. Saya sudah memastikannya,

