Chapter 9. Pindah Ke Luar Kota

1128 Words
Di kamar Hotel. Selepas pesta pernikahannya, sepanjang malam Burhan bersama Jihan di dalam kamar. Kendati begitu, tetap saja yang ada di dalam benaknya untuk saat ini hanya Intan, mantan istrinya. Ia memilih duduk di sofa bad sambil bermain ponsel untuk berselancar di sosial medianya. Jihan yang sudah mandi dan berganti busana dinas, alias busana malam pun tak diliriknya sama sekali. Ia sangat merindukan sentuhan Burhan, setelah tiga bulan berlalu tak merasakannya lagi. Hasratnya kian memuncak setelah resmi menjadi istrinya malam ini. “Mas….,” bisik Jihan dengan manja sambil merangkul pundak sang suami yang terus mengabaikannya dengan asik bermain ponsel. “Heem…,” gumam Burhan acuh tak acuh. “Simpan dulu ponselnya, Mas. Apa Mas Burhan tidak merindukanku, huem?” Jihan sengaja mengambil paksa ponsel dari tangan suaminya agar kedua mata Burhan melihat ke arahnya. Dan, apa yang diharapkan oleh Jihan pun terjadi, Burhan menatap ke arahnya. Namun, tatapan penuh kemarahan yang diterimanya. “Kembalikan ponselku, Jihan!” Burhan bangkit dari duduknya sambil menadahkan tangan ke arah Jihan. Akan tetapi Jihan malah menggeleng lirih sambil menyembunyikan ponsel Burhan di belakang punggungnya. “Nggak….” “Aarrg…., Jangan memancing emosiku, Jihan!” pekik Burhan dengan nyalang, memenuhi ruangan kamarnya. Andai tidak ada peredam suara dalam dinding kamarnya, mungkin suaranya akan terdengar sampai ke luar. Burhan sudah habis kesabaran menghadapi istri barunya yang telah membuat ia akhirnya seperti ini. Penyesalan pun menyelinap dalam ruang bathinnya ketika sadar rumah tangganya bersama wanita yang paling ia cintai, kedua anak kembarnya yang lucu dan mengemaskan sudah tak lagi bersamanya. Jihan cukup tersentak dengan bentakkan suaminya yang begitu marah, akan tetapi dia tetap kekeh tidak mau memberikan ponselnya kepada Burhan. “Nggak mau, Mas. Ini malam pertama pernikahan kita. Kenapa Mas Burhan malah sibuk bermain ponsel, hah? Seharusnya Mas Burhan melakukan kewajiban sebagai suami untuk pertama kalinya setelah menikah, bukan?” Burhan tercengang dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh istrinya. “What…., malam pertama katamu?” Burhan kemudian tertawa dengan sangat keras, seolah yang dikatakan oleh istrinya sebuah lelucon. “Sadar, Jihan. Apa kamu tidak melihat perutmu ini, hah? Lihat ke sana! Bagaimana kondisimu sekarang, hah? Kamu sedang hamil, entah anak siapa yang kamu kandung itu, kan?” Burhan memutar tubuh Jihan dan menunjuk ke arah cermin yang ada di hadapan mereka. Jleb! Jantung Jihan mencelos, serasa ada sebilah belati mengiris perih hatinya. Dia tidak menyangka pria yang paling dicintainya selalu berkata menyakitkan seperti itu, bahkan tega selalu menuduh darah dagingnya sendiri adalah anak orang lain. Padahal Jihan sudah pernah menjelaskan kepada Burhan kalau ia tidak pernah berhubungan b4dan dengan pria mana pun selain dengannya. “Kenapa, Jihan? Kamu masih tidak terima dengan apa yang aku katakan, hah? Apa kamu masih mau protes, seperti apa yang sebelum-sebelumnya kamu sangkal?” tanya Burhan setelah melihat mimic wajah istrinya yang nampak shock, lalu terdiam beberapa saat. Burhan mengulas senyuman jijik membayangkan jika istri yang ada di hadapannya saat ini tidak hanya pernah tidur dengannya, tapi juga tidur dengan laki-laki lain. Namun, dirinya yang terpaksa harus bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya, padahal ia sadar selalu menggunakan alat pengaman saat berhubungan b4dan dengan Jihan. Jihan menggeleng lirih dengan kedua bola matanya yang nampak berkaca-kaca. Ponsel Burhan yang ada di tangannya sampai terjatuh ke lantai dengan sendirinya, ketika jemarinya gemetar hebat. Ia sangat ingin melayangkan tamp4ran di wajah Burhan, ketika dirinya merasakan begitu sakit atas ucapan yang ke luar dari mulutnya. Namun, rasa cintanya lebih besar dari pada rasa amarahnya terhadap Burhan. Sementara Burhan semakin marah terhadap Jihan, ketika melihat ponselnya yang terjatuh ke lantai. Dengan cepat Burhan pun segera mengambil ponselnya sambil berjongkok, lalu memeriksa layar ponselnya apakah masih berfungsi dengan baik atau sebaliknya. “Syukurlah….,” ucap Burhan lega setelah mendapati ponselnya masih dengan kondisi baik. Tanpa kata, Burhan meninggalkan Jihan yang masih mematung di depan cermin. Ia mengambil satu bantal untuk alas kepalanya di sofa bad. “Jangan ganggu tidurku!” ucapnya sambil memejamkan kedua matanya membelakangi Jihan. Luruh juga air mata Jihan membasahi kedua pipi mulusnya. Tangisannya pecah memenuhi ruangan kamar hotel tersebut. Namun, Burhan menutup kedua telinganya dengan bantal agar tidak mendengar tangisan istrinya tersebut. Jihan bingung, harus dengan cara apa lagi untuk menjelaskan kepada suaminya itu kalau anak yang dikandungnya adalah darah dagingnya sendiri bukan seperti apa yang selalu dituduhkannya. *** Jihan terbangun dari tidurnya dengan kedua lingkar matanya yang sembab. Netranya mencari keberadaan sang suami yang tidur terpisah dengannya. “Ke mana, Mas Burhan?” Mendapati suaminya tidak ada di sofa bad, Jihan pun mencarinya ke kamar mandi. Barang kali suaminya sedang mandi, pikirnya. Namun, tidak ada di dalam kamar mandi alias nihil. “Mas Burhan…., kamu di mana? Kenapa kamu tega ninggalin aku sendiri di kamar hotel ini?” Jihan bertanya-tanya sambil mencari ponselnya untuk menghubungi nomor ponsel suaminya itu. Jam di ponsel sudah hampir menunjukkan angka sebelas siang, itu artinya di luar sudah sangat terik sekali. Jihan baru menyadari kalau dirinya benar-benar bangun kesiangan, ia pun tak tahu semalam ketiduran jam berapa setelah menangis sendirian yang ditinggal tidur oleh suaminya. Jihan tak mau membuang waktu berlama-lama di dalam kamar hotel seorang diri, dengan cepat ia mencari kontak panggilan suaminya. Setelah panggilannya tersambung untuk beberapa saat, suaminya tak kunjung mengangkatnya. Jihan pun kembali mengulangnya sampai beberapa kali, akan tetapi tetap tak diangkat oleh Burhan. “Arrrgh….,” teriak Jihan frustasi sambil membanting ponselnya ke atas kasur, saking kesalnya mendapati sang suami yang tak kunjung mengangkat panggilannya. *** Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Burhan baru saja memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah mantan mertuanya. Setelah itu, dia turun sambil membawa dua bungkus kotak besar yang berisi mainan berbeda jenis untuk kedua anak kembarnya. Tak lupa pula membawa sekotak cake untuk mantan mertua dan mantan istrinya. Dengan raut wajah senang dan ceria ketika sedang berdiri di depan pintu rumah mantan mertua, tangan kanannya segera mengetuk pintu rumah tersebut sambil mengucap salam. “Assalamu’alaikum….” Tak lama berselang, seorang wanita yang usianya lebih muda dari sang ibu mertua pun membukakan pintu rumah untuk Burhan, sambil menjawab salamnya. “Waalaikumu’salam….” “Yang punya rumah ada, Bik?” tanya Burhan dengan sopan, setelah melihat siapa yang ada di hadapannya. Ia berpikir wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah asisten rumah tangga mantan mertuanya yang baru. “Saya yang punya rumah, Nak. Anda mau mencari siapa?” tanya wanita itu bersikap layaknya pemilik rumah. “Saya mencari pemilik rumah ini yang bernama Ibu Widya dan putrinya bernama Intan,” sahutnya dengan cepat. “Oh, mereka sudah tidak lagi tinggal di sini, Nak. Mereka sudah pindah ke luar kota,” jelas wanita paruh baya tersebut dengan mengulas senyuman kecil. Haah? Burhan dibuat terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Jika pemilik rumah itu bukan mantan mertuanya lagi, lantas Intan dan kedua anak kembarnya sekarang tinggal di mana? Burhan pun berpikir keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD